
...-----**----- ...
...-----**-----...
Hai semuanya!
Everybody....! I love you πππ.
Mimi is back. Annyeong!!
Adegan di atas, masuk kedalam salah satu sin ya. Jangan bapereu, baca aja ya, kira-kira ada uh ah uh ah nya kah? atau.....
Check this out π.
...πππ ...
Dalam hening rumah Yeri & Altez, keduanya tengah sibuk dengan ritual masing-masing. Altez sedang mandi sedangkan Yeri tengah memasak di dapur.
Serangkaian kegiatan banyak yang Yeri tunda demi mengurus suaminya. Altez pun begitu, karena kejadian ini, ia kehilangan banyak tender. Entah berapa jumlah kerugian yang ia derita, tapi Altez tidak mempermasalahkannya.
Altez keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih setengah basah. Ia berjalan pincang mendekati sang istri yang tengah menggoreng telur.
"Masak apa?" Tanyanya tiba-tiba yang membuat Yeri terlonjak kaget dan hampir saja spatula mengetuk kepala Altez.
"Jangan mengagetkanku bisa tidak? Selalu saja membuatku terkejut." Yeri berkicau kesal dengan bibir manyunnya.
Altez lalu menyingkir dan duduk di meja makan. Masih dengan ia yang berjalan pincang dan Yeri juga memperhatikan hal itu.
"Ini, minumlah dulu." Yeri memberikan lemon tea yang memang sengaja ia simpan dalam lemari pendingin. "Kakimu masih sakit? nanti aku obati." Ucap Yeri yang seolah bertanya padahal ia memerintahkan.
Altez hanya mengulum senyumnya dan memperhatikan sang istri dengan kesibukannya. Yeri memasak tanpa menggunakan celemek. Ia hanya menggunakan kemeja kerjanya yang tadi ia pakai saat ke kantor dan juga celana pendek yang nyaris hilang tertutup ujung kemeja.
Perpaduan antara Yeri yang serius dengan rambutnya yang terikat asal, memunculkan visual yang membuat Altez memiliki gelanyar dalam dirinya. Gelanyar yang tumbuh secara alami dan membuatnya menelan Saliva secara perlahan, seolah tak tau tempat dan kondisi. Adik kecil miliknya berdemo ria di dalam celana.
Bebaskan aku.....!!
Bebaskan diriku....!!
Begitulah kira-kira si dedek kecil menyuarakan keinginannya π€.
Semenjak hari bersejarah Minggu lalu, memang keduanya sama sekali belum pernah melakukannya lagi. Yeri yang menarik jarak, dan Altez yang menjaga harga diri diantara gengsi.
"Ini, hanya telur sambal dan tumis kangkung. Daging dan Ayam kita habis. Sejak keributan dan kedatangan Buna, aku belum sempat belanja." Yeri berbicara sambil meletakkan piring di meja.
__ADS_1
Altez menerima uluran piring dan mulai menyendokkan nasi kedalam piringnya lalu berganti ke piring Yeri. "Aku bisa sendiri." Kata Yeri.
"Tidak apa-apa kan melayani istri sendiri?" Altez bertanya dengan kedua alisnya yang naik dan menukik cantik.
Kenapa dalam sudut seperti ini aku baru sadar jika dia tampan? Oh.... No...! No...! Andwe...! Andwe...! Tidak boleh terjadi, aku tidak boleh mencintai musuh ku sendiri. Ini tidak benar. Yeri menggeleng berkali-kali, mengusir pemikirannya yang nakal.
"Kamu kalau tidak suka dengan menu ini, tidak usah makan. Beli saja aku pesankan." Yeri berbicara sudah dengan tangannya yang mengutak-atik ponselnya.
Tangan Altez terulur dan menekan turun ponsel Yeri hingga tangan mereka tergeletak di meja. "Tidak, ini saja sudah cukup." Jawabnya. "Simpan ponselnya saat makan." Ucapnya seolah tengah menasehati sang istri.
Yeri melongo di buatnya. Perlakuan Altez begitu hangat dan lembut. Ini berbeda dari biasanya.
Yeri menurut dam meletakkan ponselnya. Mereka makan dalam hening suasana. Hanya suara piring dan sendok yang saling berdenting beradu.
Selesai dengan makan, Yeri membereskan meja makan, tapi lagi-lagi Altez mencegahnya dan kali ini ia memaksa untuk mencuci sendiri piringnya.
Tidak pernah sekalipun seorang Altez sampai mau melakukan hal seperti itu jika tidak saat ini, saat ia bersama Yeri. Dahulu ia selalu berkata jika urusan terumit di dunia adalah segala hal yang berkaitan dengan dapur. Bau dan berantakan seolah berjibaku untuk membuatnya lelah. Tapi ini apa? dia sendiri yang memaksa untuk mencuci piring.
"Ya sudah kalau dia yang cuci. Aku memotong buah saja." Yeri bermonolog di depan lemari pendingin lalu mengambil mangga dan pepaya.
Di saat ia selesai dengan mengupas kedua buah tersebut lalu meletakkannya di meja, Altez berdiri mematung menatapnya dari wastafel. Tatapan itu menyatakan kekaguman pada sang istri.
Yeri menatapnya heran. Ia bahkan sempat memantas dirinya dari bawah ke atas untuk memastikan tidak ada yang salah dalam penampilannya. Shhh... apanya yang salah denganku? semuanya baik-baik saja. Batinnya.
Selesai mencuci tangan, Yeri berniat mengambil tisu yang berada di belakang Altez yang bersandar di tepi wastafel.
Altez memberikan tatapan teduhnya. "Lap di sini saja."
Altez mengangkat tubuh Yeri dan mendudukkannya di atas kitchen set. "Lap di bajuku saja, tanganmu bersih kan?"
Yeri mengangguk dengan pipinya yang merona, terlihat pink dan semakin menggemaskan.
"Em.... sebaiknya kita makan buah dulu..." Yeri berucap dengan ragu-ragu. Ia tak berani menatap Altez yang telah mengunci pergerakannya.
"Buah ku ada di sini." Ucap Altez dengan menyertakan kecupan singkat di bibir sang istri.
Tangan Yeri berusaha menahan Altez agar tak semakin mendekat ke wajahnya. Jarak itu semakin terkikis dan menipis, tidak menyisakan ruang lagi hingga pucuk hidung mereka saling bersentuhan. Nafas mereka menderu dan membelai lembut kulit masing-masing yang memberikan sensasi sengatan yang membuat keduanya merasakan hawa panas di sekitarnya.
Semakin dekat,
kian dekat,
danβ¦β¦
__ADS_1
Tokβ¦!
Tokβ¦!
Tingβ¦!
Tungβ¦!
Terdengar rusuh dan sangat tidak sabaran. Membuat Altez mengerang kesal dan Yeri menahan tawanya.
"Aku saja yang buka, kakimu masih sakit." Kata Yeri yang menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari suaminya yang lengah.
Selamat.... selamat.... Fiuh! untung saja. Nyaris saja aku tergoda. Yeri berbicara dengan hatinya sendiri.
"Siapa?" Tanya Yeri sebelum membuka pintu.
"Kami!" Jawab dua orang pria dari balik pintu.
"Kami, siapa kami?" Yeri menggumam dengan tangannya yang sudah memegang handle pintu.
Altez berlari meski dengan keadaan pincang. "Tunggu! jangan dibuka!" Ia melarang Yeri membuka pintu.
"Kenapa Za? ada tamu kok tidak boleh membuka pintu? Aneh!"
"Kamu masuk saja dan ganti pakaianmu. Jangan seperti ini, pokoknya kamu harus tampil jelek."
"Iya tapi kenapa? ada apa?"
"Ini teman-temanku sayang. Mata mereka jelalatan, aku tidak mau istriku menjadi bahan halusinasi mereka. Ayolah menurut padaku."
"Ke... kenapa bajuku sopan kok, ini kemeja panjang." Yeri memantas dirinya.
Altez membalikkan tubuh Yeri lalu mendorong pundaknya perlahan menuju ke kamar. "Bajunya panjang tapi pahamu itu. Aku tidak mau istriku di lirik orang lain. Cepat ganti celanamu atau tidak usah keluar dari kamar juga tidak apa-apa. Kamu di kamar saja." Altez bertingkah posesif.
Beginikah sifat aslinya? Posesif? Oh~~~, aku akan mengorek hal aneh ini dengan teman-temannya. Yeri mengangguk-angguk perlahan.
"Iya aku ganti celana." Jawabnya menurut.
Bapak Altez, kalau sudah dengan miliknya yang sah begitu ya... Coba kalau sama selingkuhannya, mau pakai baju bahan sisa sejengkal juga tidak apa-apa katanya.
wawancara.
π§ Author : "Bapak Altez, itu kenapa kalau sama istri sikap anda terlalu berlebih-lebihan dalam penampilan. Tapi kalau sama selingkuhan kok biasa saja, malah tidak ada larangan, bisa di jelaskan?"
π (Altezza Basman, playboy yang tampan tak manusiawi) : " Ya, gimana ya Thor namanya juga selingkuhan. Dia sebatas simpanan dan bukan aset yang patut di pertahankan, jadi ya terserah dia mau rusak ya bodo amat, yang penting saya sudah pakai, saya sudah bayar. Tapi kalau istri itu aset, anak, dan keluarga itu semua aset yang perlu saya jaga ketat."
__ADS_1
π§ (Author yang mengkezel): " Iya deh iya terserah kamu lah. As long as you happy. It's no what what lah!"