
360° mungkin itu yang tepat disandingkan dengan Altez saat ini. Lelaki yang dahulu sangat suka bergonta ganti wanita, kini lebih suka berada di sekitar satu wanita. Satu pawangnya yaitu Yania Iswari.
Semenjak ikrarnya untuk merubah diri, Yeri tak lagi mengembalikan apapun pemberian suaminya termasuk segala fasilitas dan juga uangnya. Yeri menerimanya dan menggunakannya seperlunya.
Altez juga menggunakan rumahnya yang lama tidak ia tempati untuk memboyong istrinya. dari h tersebut yeri banyak mengalami perubahan, ia sudah dinyatakan sembuh oleh Silvi. Kepercayaan dirinya telah kembali.
"Gue seneng akhirnya dengan adanya Dedek di dalam perut lu bisa merubah segalanya terutama pemikiran laki lu," kata Silvi yang sengaja diundang oleh Yeri untuk datang ke kantornya.
"Em, gue juga ga nyangka banget kalau lu bisa jadi pawang handal buat tuh orang," sambung Joana.
"Tapi gue masih heran tahu, dia sama adiknya beda jauh. Adiknya itu lebih dewasa dan bertanggung jawab sama keluarga," ujar Yeri yang justru mengagumi sikap Albi.
"Beda manusia beda karakter dan pola pikirnya Yeri," cetus Silvi. "Ngomong-ngomong siapa nama adiknya? Siapa tahu gue kenal," tanya Silvi sembari menengguk jus strawberry.
"Namanya Albian Basman," jawab Yeri.
"A-Albian Basman?" ulang Silvi memastikan jika orang yang yeri sebutkan tadi adalah juga salah satu nama pasiennya yang bertahun-tahun menjalani perawatan dan bimbingan mental dengannya.
"Iya, kenapa? Muka lu langsung berubah seperti itu saat aku menyebut namanya. Apa lu kenal?" Yeri melihat kejanggalan di wajah Silvi.
"Kenal sangat kenal, dan aku juga bertahun-tahun memberikan terapi padanya. Sekarang adalah terapi terakhir yang harus dia jalani, dia harus mulai mempercayai apa itu komitmen pernikahan."
"Ma-maksud lu adik ipar gue punya kesenjangan menolak pernikahan begitu?"
Silvi mengangguk. "Apa dia g*y?" tanya Yeri khawatir.
"Astaga! Tidak, dia anak baik. Dia tidak g*y, hanya saja melihat bagaimana kerasnya hidup sang ibu yang terlunta-lunta dia dan juga kakaknya. Dia menjadi sosok yang memiliki pemikiran bahwa pernikahan adalah hal terbodoh di muka Bumi. Pernikahan hanya akal-akalan pria untuk mengekang wanita," terang Silvi.
"Oh Tuhan, dia sampai pada pemikiran seperti itu?" Yeri tercengang.
"Ya, oleh sebab itu, aku memintanya untuk berpacaran atau mencari teman dekat wanita agar perlahan semua kebenciannya memudar."
"Yer, bagaimana kalau adik ipar lu buat gue aja?" celetuk Joana sambil nyengir kuda.
"Si*lan! Ogah lah gue, kalau gue sampai besanan ama elu yang ada gue bisa darah tinggi tiap hari. Lu tau kan bagaimana suami gue sikapnya sama Bisma? Sedangkan Bisma itu siapa? sepupu elu!" ucap Yeri penuh penekanan.
__ADS_1
"Ogah gue ngadepin suami gue yang pencemburu itu tiap hari ngancurin barang. Bisa tekor gue," cibir Yeri. "Daripada ama elu, mending sama Silvi," kata Yeri yang menunjuk Silvi yang tengah minum dengan dagunya.
"Uhuk! uhuk!" Silvi terbatuk. "Please ya, ga usah ngarang deh," ujarnya kesal. "Bukannya gue ga mau iparan Ama lu Yer. Cuman gue ga mau ya tiap hari copot jantung karena punya suami yang hobinya ekstrim. Dia itu hobinya berbahaya semua, dia suka sesuatu yang memicu adrenalin. Motor cross lah, lompat tinggi, terjun payung, pokoknya hobi yang horor dia pasti berangkat."
Silvi menghela nafasnya sebelum kembali berbicara. "Coba kalian bayangkan kalau gue sama dia, terus dia ada apa-apa. Belum siap gue jadi janda muda," keluh Silvi yang mengkhawatirkan segala sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Ngayal lu ketinggian Sil!" ketus Joana melemparkan bantal ke wajah Silvi.
"Giamana lah Jo, gue tau semua hobi dia, gue tau gimana karakter dia. Udah 3 tahun gue nanganin dia."
"Bagus dong, itu artinya lu udah ga butuh bimbingan buat deket Ama Albi," kata Yeri.
"Ogah Yeri, lu gila apa gimana sih? Maksa amat, gue ini tua 4 tahun dari dia."
"4 tahun doang. Kemarin gue liat di TV nenek-nenek 60 tahun nikah sama brondong 20 tahun," kata Joana.
"Ish! Enak aja lu samain gue sama nenek-nenek," cibir Silvi disertai degan bantal yang melayang ke arah joana namun berhasil ditangkap oleh sang target.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi bu, ada bapak di depan." kata asisten.
"Bapak? Maksudnya Ayah Ardi?"
"Bukan Bu, tapi suami Ibu."
"Suami saya?"
"Iya," jawab si asisten.
"Ya sudah suruh masuk," jawab Yeri yang kemudian beralih duduk di sofa.
__ADS_1
"Kita pamit dulu ya, ga enak mengganggu pengantin baru," ucap Joana sambil terkikik.
"Pengantin baru bagaimana? Apa lu lupa, gue sama dia nikah udah hampir satu tahun," sanggah Yeri.
"Ya baru lah, kan lu berdua baru baikan. Dulu mana ada masa pengantin baru dan honeymoon?" tanya Silvi.
'Iya, mungkin dia benar, dahulu kami hanya sibuk bertengkar,' batin Yeri menggumam.
"Sore sayang!" sapa Altez yang baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang kerja sang istri.
"Eh, kalian. Apa kabar?" tanya Altez dengan ramahnya dan senyuman manis yang melekat di kedua sudut bibirnya.
"Kami baik, tapi maaf ya kami harus segera pergi jam kerja sudah habis soalnya," kata Silvi yang sudah bisa bersikap lebih ramah pada Altez.
"Wah, terima kasih banyak ya karena sudah datang dan mau menemani istriku. Maaf jika merepotkan," ucap Altez yang mendapatkan tatapan heran dari sahabat istrinya.
'Dapat dari mana dia ilham seperti ini?' batin Joana.
"
'Keajaiban Dunia,' batin Silvi.
"Ah, tidak apa-apa di kan sahabat baik kami. Ini bukanlah suatu hal yang merepotkan." jawab Silvi yang kemudian menarik Joana untuk segera keluar.
"Sudah selesai semua?" tanya Altez pada sang istri yang tengah bersiap dan membereskan barang-barangnya.
"Belum, sebentar lagi," jawab Yeri tanpa melihat keberadaan sang pemberi pertanyaan.
Tiba-tiba saja, Altez memeluk yeri dari belakang an menghujani tengkuk sang istri yang terekspose dengan ciumannya. Yeri hanya bisa menggeliat dan pasrah. Ia merasakan hangat bibir sang suami yang menyusuri setiap centi kulitnya.
Gelanyar mulai hadir membuai jiwa yang tengah hangat-hangatnya di mabuk cinta. Meski satu sisi yang lainya selalu memasang gengsi dan menampiknya. Namun, sikapnya yang pasrah membuat sang suami yakin bila cintanya telah diterima.
Yeri berbalik badan dan membalas ******* yang Altez berikan. Ia juga terjebak dalam hangatnya cinta yang mulai membara. "Za, jangan di sini," ucapnya di sela-sela ciuman panas itu berlangsung.
"Lalu di mana? Di sini?" tangan Altez bersilaturahmi dengan dua benda penghasil ASI.
__ADS_1
"Iya, tapi di rumah," bisik Yeri yang membuat Altez kian bersemangat. Ia segera melepas pagutannya dan merapikan diri juga penampilan sang istri yang dibuat berantakan olehnya.
"Yups, kita baby moon di rumah baru ya?" pintanya sambil tersenyum menggoda dan hanya diangguki oleh Yeri namun cukup membuat Altez serasa menjadi ironman.