
"Yer, ayo dong jangan marah. Aku begini kan juga karena kamu," kata Altez yang membuntuti Yeri yang tengah berjalan cepat lantaran kesal akan sikap Altez yang kekanakan.
"Karena aku katamu? Apa aku yang nyuruh kamu buat berantem? Nggak 'kan?" tandas Yeri yang kemudian berjalan lagi dengan cepat. "Apa tidak bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik? Apa gunanya mulut?"
Yeri mengomel sepanjang jalan menuju kembali ke flat mereka. Ia sangat marah, bagaimana bisa dua orang lelaki dewasa menyelesaikan sesuatu dengan cara anak-anak seperti itu untuk membahas sesuatu yang sudah bertahun-tahun berlalu. Seharusnya semuanya bisa selesai dengan baik-baik.
"Yer, ayolah. Aku marah dengannya bukan karena masalah lalu. Aku marah karena dia mengakui kalau dia menyukai istriku. Bagaimana bisa aku diam saja?" Altez menjelaskan dengan nada emosional dan mimik muka yang memerah menahan luapan amarah.
Seketika pergerakan Yeri terhenti. Ia yang tengah mengambil kotak obat terdiam dengan matanya yang memanas dan berkaca-kaca. Ia tidak tahu mengapa, tetapi hatinya menghangat dan emosinya memudar kala snag suami mengatakan yang sebenarnya.
Rupanya dia berkelahi karena mempertahankan harkat keluarganya. Aku salah mengira, ku pikir dia berkelahi karena masalah yang sudah beberapa tahun berlalu itu. Ku pikir dia berkelahi karena membahas soal wanita lain. Batin Yura yang kemudian menyembunyikan raut wajah harunya.
"Ya tapi 'kan setidaknya tidak usah berkelahi Za, lagian aku juga 'kan tidak ada rasa apa-apa sama dia," kata Yeri yang seolah tidak terpengaruh pada apa yang Altez ucapkan padahal sebenarnya hatinya telah terenyuh.
Altez terduduk di sofa dengan wajah lesu, ia merasa kecewa karena respon sang istri yang meleset jauh dari harapannya. Seharusnya bila suaminya tengah membela harkat dan martabat keluarganya, sang istri harusnya memberikan dukungan bukannya malah tanpa alasan. Altez ingin marah dengan Yeri pun percuma sebab ia juga tahu bagaimana sikap Yeri dari awal terhadapnya.
"Bahkan aku yang tengah membela harkat dan martabat rumah tangga kita pun salah di matamu Yer," ucap Altez yang diikuti dengan dia yang berdiri dan mencoba untuk pergi namun terhenti kala sang istri mencekal pergelangan tangannya.
"Mau ke mana? Duduk dulu, sini aku obati lukanya, hidungmu masih berdarah,"
"Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri," tolak Altez yang masih merasakan kekesalan yang luar biasa.
"Jangan keras kepala, bibirmu juga berdarah." Yeri menarik tangan Altez lalu kembali mendudukkannya di sofa. Mereka saling berhadapan dan bertukar pandang.
Terlihat jelas, wajah tampan itu kini dihiasi dengan luka dan lebam yang bertebaran. Yeri perlahan meletakkan tangannya di pipi sebelah kanan Altez dan menggerakkan jarinya perlahan. Altez terdiam merasakan setiap sentuhan yang Yeri berikan.
__ADS_1
"Seharusnya kamu lebih bisa bersikap dewasa tadi, aku hanya takut terjadi sesuatu yang fatal akibat perkelahian ini," ucap Yeri yang kemudian menunduk dan menatap perutnya yang rata.
Ada debaran aneh di jantung Altez, sesuatu yang membuatnya menghangat dan ingin memeluk wanita yang berada di hadapannya. Ia teramat senang kala sang istri yang semula acuh kini mengungkapkan kekhawatiran. Altez mengulum senyumnya kemudian membawa wanitanya yang tengah berbadan dua itu masuk ke dalam dekapan.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Altez dengan mata berbinar.
"Tentu saja, bagaimanapun anakku ini membutuhkan sosok Ayahnya, bagaimana kalau sampai kamu," ucapan Yeri terhenti kala jari Altez mendarat di atas bibirnya.
"Husst!" Altez mendesis mengisyaratkan agar sang istri diam. "Aku tidak apa-apa, tangan lembeknya itu tidak bisa melukaiku lebih dari ini," ucapnya dengan anda sombong membanggakan diri.
"Tidak apa-apa? Tidak apa-apa tapi babak belur," tepis Yeri yang kemudian mulai mengambil kapas yang di basahi dengan alkohol dan dram pun dimulai.
Usapan pertama tepat mengenai luka di sudut bibir Altez. "Aduh!" Altez berteriak tanpa rasa malunya. Suaranya menggema memenuhi ruangan.
"Ini yang katanya kuat dan tidak apa-apa? Ini?" Yeri sengaja menekan luka lebih dalam dan sensasi sakit bercampur perih kembali hadir.
"Tidak untuk membuat jera kamu Za, rasakan ini," Yeri lagi-lagi menekan luka Altez. Ia sengaja melakukannya untuk meluapkan kekesalannya.
"Ampun sayang, Dedek! bantu Papa," Altez mengadukan rasa sakitnya kepada si janin yang belum bisa merespon apa-apa.
"Tidak usah Dek, biar kapok Papamu ini," Yeri menimpali dan ikut bergabung dalam percakapan yang direkayasa itu.
"Oh, kalau bergerak terus, ayo kita ke dokter saja sekarang," kata Yeri menghardik Altez.
"Aduh!" Altez menjerit kesakitan sebelum akhirnya diam dan hanya meringis menahan sakitnya. "Iya, aku diam tapi kamu pelan-pelan," pintanya seperti anak balita yang berunding dengan ibunya.
__ADS_1
"Tapi,"
"Tapi apa lagi?" ketus Yeri yang hampir kehilangan kesabarannya. Ia bertanya dengan wajah garangnya.
"Tapi tidak usah ke dokter ya?" pinta Altez mengajukan syarat.
"Hem!" jawab Yeri yang hanya berdehem dan kemudian mengobati dengan perlahan. Lebih halus dan lembut menggunakan perasan tidak seperti di awalan yang tak berperasaan.
Selesai dengan mengobati luka suaminya Yeri memutuskan untuk membuat makan malam. Hanya telur ceplok mat sapi dan sambal tomat dengan kerupuk. Menu sederhana yang sering Altez jumpai ketika telah bersama dengan Yeri.
"Za, makan dulu Yuk. Kamu ngapain dari tadi diam di sana?" tanya Yeri dengan tangan yang sibuk menata piring di meja, sedangkan matanya sibuk memperhatikan suaminya yang sedang berbalas pesan.
"Sebentar, aku balas email dulu," jawab Altez tanpa menatap Yeri.
Yeri menyiapkan dua piring di meja, siapa sangka jika Altez kini justru duduk menempel sangat dekat dengan istrinya hingga Yeri menatapnya aneh. Yeri tidak mengerti mengapa Altez malah menempel padanya dengan lekat. Ia hanya mencoba merenggangkan tangan sang suami yang melingkar di perut ratanya dengan sesekali mengusap lembut.
"Kamu mau makan atau mau apa?" tanya Yeri tau jika sang suami tengah tersenyum di ceruk lehernya.
"Mau makan, tapi kamu suapi ya?" ucapnya bernada manja.
Yeri hanya merasa risih akan sikap manja sang suami. Namun ia bisa apa di saat keadaan mulai membaik tidak mungkin akan merusaknya sendiri. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah memberikan kesempatan pada sang buaya untuk bertobat.
Yeri mengambil satu sendok nasi nasi lengkap dengan lauknya, menyodorkannya di depan mulut Altez, namun lelaki yang babak belur itu menggeleng. Altez membuat Yeri kebingungan akan kemauannya. Apa sebenarnya yang Altez mau?
"Terus maunya gimana, katanya mau di suapi?"
__ADS_1
"Mau, tapi pakai tangan kamu ya?" pinta Altez dengan memberikan senyuman manisnya.
Apa dia selalu bersikap manja terhadap setiap wanitanya? batin Yeri penuh tanya.