
"Kenapa hanya mencium saja tidak boleh, sedangkan semalaman kamu tidur dalam pelukanku dengan aku yang memegang semua anggota tubuhmu saja tidak apa-apa!" seru Altez yang kesal lantaran Yeri mengamuk di pagi hari.
"Emang iya?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, kamu semalaman tidak mengijinkan aku untuk turun dari ranjang dan terus memelukku. Lupa?" tanyanya kesal.
"Kamu bohong 'kan?" Yeri memicingkan matanya.
"Tidak Yeri," jawab Altez tegas.
"Kamu semalam itu ...." Altez menceritakan kejadian semalam.
Flashback on.
Berada dalam balutan selimut yang sama, Yeri tertidur pulas dengan tangannya yang melingkar memeluk Altez dengan eratnya. Altez sedikit bergerak saja, Yeri sudah langsung menariknya agar masuk kembali ke dalam dekapannya. Ia seperti anak balita yang tidak mengijinkan ayahnya pergi ke mana pun.
Kalau dia begini terus, besok pagi aku bisa terkena kencing batu. Batin Altez.
"Yer, Yeri," lirih Altez memanggilnya.
"Hem?" jawab Yeri.
"Aku ke kamar mandi sebentar ya?" tanyanya meminta ijin.
"Aku ikut," ucap Yeri dengan kesadaran yang belum terkumpul dan Altez paham akan hal itu dimana frekuensi kerja otak Yeri belum sepenuhnya kembali.
"Ke kamar mandi, kamu mau ikut?" ucap Altez mengulang lagi.
Yeri menggeleng sambil mengucek matanya. "Jangan lama-lama," ucapnya.
Altez turun dengan perlahan dan menuju ke kamar mandi. Tidak lama hanya beberapa menit saja sampai Altez selesai menunaikan misinya. Tetapi, saat ia keluar dari kamar mandi, wajah muram dan bibir manyun Yeti sudah menyambutnya.
__ADS_1
"Cepat sini!" Yeri melambaikan tangannya lalu menepuk tempat di mana Altez tadi berbaring.
Altez menggeleng perlahan dan kembali menaiki ranjang dengan perlahan. Ia melihat istrinya dengan wajah ketakutan. Altez tidak tahu apa yang membuat Yeri sangat ketakutan, padahal sekarang mereka sudah berada di tempat yang aman.
"Kamu takut sekali?" tanyanya.
Yeri mengangguk, "iya, aku pernah di gigit ular dulu sewaktu kecil." Yeri bercerita.
Altez mendekat lalu kembali mendekap Yeri dengan satu tangannya yang menepuk-nepuk lengan Yeri. Ia hanya ingin memberikan rasa nyaman agar Yeri mau bercerita lebih panjang lagi. Entah ada hal apa, tetapi Altez merasa bahwa ia harus mengetahui kisah itu.
"Ceritakan padaku, kenapa kamu sampai bisa digigit ular," pinta Altez.
"Aku sebenarnya benci jika mengingat hal ini. Dulu saat aku sedang berlibur di kampung nenek, aku ikut bermain petak umpet. Mereka sama sepertimu, menghinaku dan pada awalnya tidak memperbolehkan aku untuk ikut bermain." Yeri menarik nafasnya perlahan.
"Kemudian entah mengapa mereka lalu memperbolehkan aku untuk ikut setelah aku menangis karena ejekan mereka. Kami bermain, tapi, sampai malam menjelang, mereka tidak mencariku. Dan, bodohnya aku, tetap menunggu mereka menemukanku." Yeri terlihat berusaha menahan perasaan sedihnya. Ia menggigit bibir bawahnya sesekali.
"Sampai malam tiba dan aku dipatuk ular. Barulah aku keluar dari persembunyian sambil berlarian. Aku hampir meninggal waktu itu. Dari saat itu aku sangat membenci ular," ucap Yeri sembari menyeka air matanya.
Altez mengangguk paham, rupanya istrinya ini adalah sosok gadis kecil yang selalu terasingkan dari lingkaran pertemanan. Altez juga merasa bersalah karena pernah melakukan hal yang sama padanya. Ia kemudian mengusap pucuk kepala Yeri.
"Jangan modus ya?" celetuknya dengan tatapan yang menyipit.
"Iya, kita cuma tidur aja Yer, tidak melakukan apapun," jawab Altez tanpa ragu.
"Awas, kamu kalau memanfaatkan kesempatan!" Yeri mewanti-wanti.
Altez perlahan mengulum senyumnya, ia merasa lucu saja saat wanita yang ngeyel berada dalam dekapannya ini malah berbalik mengancamnya. Sedangkan pada awal mula, ia sendiri yang mulai memeluk erat tubuh Altez. Sungguh gila bukan? dia yang meminta, dia juga yang mengancam.
Flashback off.
"Sudah ingat sekarang?" tanya Altez dengan mengusap bibirnya yang terasa panas akibat ulah Yeri.
__ADS_1
Apa iya begitu kejadiannya? tapi aku sama sekali tidak merasakan yang seperti dia ceritakan. Batin Yeri dengan kedua alisnya yang menukik tajam penuh selidik.
"Tidak percaya ya sudah." Altez kemudian meraih remote control yang berada di atas nakas di sebelah ranjang.
Altez menyalakan TV dan hal pertama yang tersiar seolah membuat hatinya koyak. Altez merasakan panas di kedua matanya hingga tanpa aba-aba, air mata itu luruh begitu saja. Suasana yang sungguh tidak pernah ia sangkakan sebelumnya.
Orang yang bertahun-tahun pernah mengisi cerita hidupnya, pernah menghangatkan ranjangnya, kini terbujur kaku membiru di pinggir jalan. Yeri yang juga melihat hal itu hanya bisa terdiam. Ia juga sama sekali tidak menyangka jika orang yang akhir-akhir ini membuat keributan di dalam hidupnya, secepat ini berpulang. Yeri menatap tak percaya layar kaca dan siaran berita.
Altez segera bangkit dan meraih kunci mobilnya. Ia sama sekali tidak berucap apa-apa. Seolah tertampar dengan keadaan, Yeri hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian suaminya.
"Salahku yang hampir saja menyandarkan hatiku padanya, salahku yang mulai mempercayainya. Dia, tidak sepenuhnya benar untuk berusaha berubah maupun melupakan kekasihnya itu," ucap Yeri perlahan dengan mata yang berkaca-kaca.
Apa? apa yang sebenarnya sedang ia harapkan? jika selama ini dia sendiri selalu menolak berinteraksi dengan intens, lalu mengapa harus merasakan kesedihan saat Altez memang masih menghiraukan Nella. Seperti apa sebenarnya perasaan Yeri? Apa yang dia inginkan?
Terasa sakit dan menusuk saat melihat Altez dengan begitu cemasnya pergi. Tentu saja sudah dapat di pastikan kemana arah perginya, terbukti dengan beberapa saat berlalu, wajah Altez kemudian tampil di layar kaca. ia sedang berada di rumah duka bersama dengan keluarga dan kerabat Nella.
"Kamu, memang tidak pernah bisa berubah Za," gumam Yeri.
Yeri masih ketakutan di atas ranjang, ia terduduk dengan memeluk lututnya. Beberapa saat kemudian, Joana datang setelah tadi ia tak sengaja berpapasan dengan Altez. Joana duduk di tepi ranjang sambil menatap intens Yeri.
"Kamu masih takut?" tanya Joana dengan mengusap punggung Yeri.
"Ia Jo, bagaimana ini. Apa aku membutuhkan hipnoterapi?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca menatap kedua manik Joana.
"Aku akan panggil Silvi kemari," kata Joana.
Yeri mengangguk, "Suruh dia kemari dan melakukannya Jo. Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Jo, Vito belum berangkat 'kan?"
Ada apa ini? apa ia ingin membalaskan perbuatan Altez atau bagaimana? kenapa malah mencari keberadaan Vito? Kemungkinan besarnya adalah, Yeri sedang membutuhkan sosok untuk mengobati rasa tidak nyaman dalam dirinya. Dan, hal itu nyaris saja ia lakukan dengan mempercayakan hal itu kepada Altez yang ia anggap memang telah berubah. Tapi nyatanya?
"Belum, Vito belum berangkat," jawan Joana.
__ADS_1
"Siapkan hotel, aku ingin menemuinya sebelum ia benar-benar pergi."
"Untuk apa?" tanya Joana yang terheran-heran.