PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
44.


__ADS_3

...~•~ ...



...~•~ ...


Yeri dan Altez akhirnya tidur dalam satu ranjang yang sama meskipun di pisahkan oleh guling sebagai pembatasnya.


"Hhhhh.... Nasib nasib! Sudahlah semua yang dia minta saya kasih, masih saja tidak percaya." Altez berseru berkeluh kesah sebelum memejamkan matanya.


Telinga Yeri seperti tersentil saat mendengarnya bicara. "Apa maksudmu?"


"Kamu, sudah minta separuh saham ku. Semuanya sudah aku kasih, masih saja cuma mau tidur sambil memeluk istri saja tidak boleh. Kamu tahu yang seperti itu dosanya buesarrrrrrr sekali!" Altez berbicara dengan menekankan kata besar dengan tangannya yang bergerak membentuk lingkaran besar di udara.


Yeri mendengus dan memutar bola matanya malas. "Hhhhhh.....! Iya.... iya udah enggak usah ceramah. Sini tidur!" Ucap Yeri malas.


Altez seketika menjadi berbinar-binar, ia begitu bahagia kala mendengar Yeri yang mengijinkannya untuk memeluknya. Tangan Altez sudah bergerak melingkar di atas perut rata Yeri dan seketika berhenti mengusap kala kalimat imbuhan dari istrinya menyusul.


"Tapi malam ini saja." Ucap Yeri menginterupsi.


"Yer, sayang! Sepruh sahamku sudah berpindah tangan dan aku hanya boleh memelukmu malam ini saja? Bukankah itu keterlaluan?" Altez mengajukan protesnya. "Istriku, Ayolah... bagaimana jika di dalam sini benihku sudah mulai tubuh dan dia ingin dibelai oleh Ayahnya yang tampan ini?" Altez mulai bercicit ria.


Yeri tertawa mendengar celotehan suaminya. " Hahahah! sekali tanam langsung tumbuh? tidak mungkin." Ia menampiknya.


"Ouh....., Sayang. Ayolah! Kasihan anak kita dia juga ingin sentuhan Ayahnya." Altez merengek, ia membulatkan matanya berharap Yeri akan luluh.


"Belum jadi! sudahlah jangan pegang perutku lagi Za, geli!!" Yeri menggeliat dan terkekeh-kekeh.


"Oh, kamu geli? begini? begini?" Altez semakin menggelitik Yeri.


Keduanya tertawa dan saling tindih, Altez berada di atas Yeri. Ia mengungkungnya. Tanpa mereka sadari sebenarnya, perlahan mereka menjadi semakin dekat dan terbiasa kaan kehadiran satu sama lain. Rasa trauma yang di alami Yeri pun perlahan memudar berganti dengan rasa nyaman bersama pelaku pembullyan.


Hingga, tatapan mata mereka saling beradu. Altez merasakan kebahagiaan di hatinya meskipun istrinya belum sepenuhnya percaya dan mau menerimanya.


Pun, dengan Yeri yang menatap teduh sang suami. Yeri tersipu saat tangan Altez dengan perlahan-lahan mengusap rambutnya seolah ia sangat menyayangi istrinya.


"Mulai saat ini, kita saling belajar untuk menjadi suami istri yang baik ya?"


"Apa kamu sungguh-sungguh?" Tanya Yeri.

__ADS_1


Altez mengangguk kemudian memberikan kecupan di kening sang istri. "Sudah ayo tidur, ini sudah malam. Besok harus kerja kan?"


Rasa canggung itu hadir kala Altez melepaskan Yeri dari Kungkungannya. Keduanya terlelap dengan begitu nyamannya hingga alarm yang berbunyi di pagi hari pun tiada yang mendengarnya.


Suara ketukan pintu yang bertalu-talu di pintu utama membangunkan keduanya yang saling berpelukan dengan kepala Yeri yang berhadapan dengan dada bidang sang suami.


"Eungh....!" Yeri menggeliat.


"Jam berapa ini?" Altez mengucek matanya tangannya meraih ponselnya. "Apa jam 9?" Altez memekik dan membuat Yeri ikut terkejut.


"Jam 9?" Pekik Yeri.


Altez mengangguk dengan wajahnya yang kusut.


"Aku duluan!" Yeri segera meloncat dari tempat tidurnya dan berlari menuju ke kamar mandi.


"Aku dulu! sumpah Yeri, hari ini ada rapat penting. tinggal 30 menit lagi." Kata Altez.


"Aku juga harus ketemu sama Bisma ada pergantian tema untuk iklan yang investor mau." Ucap Yeri menahan pintu agar Altez tak bisa masuk.


"Kita mandi bersama bagaimana?" Usul Altez.


Altez berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Ia bukan mandi, lebih tepatnya hanya cuci muka dan gosok gigi. Begitupun dengan Yeri. Terbukti keduanya keluar dari kamar dan siap berangkat dalam waktu yang bersamaan.


"Dih! pasti tidak mandi." Cibir Yeri.


Altez mencium pipi Yeri. " Kamu juga kan sayang? sangking nyenyaknya tidur di pelukanku sampai tidak dengar bunyi alarm." Sindir Altez.


Apa benar begitu ya? Tapi memang aku merasakan lebih tenang semalam. Batin Yeri meraba apa yang tengah ia rasakan.


"Cih!" Yeri berdecih. Hanya itu dan dia membuka pintu dengan segera.


Matanya terbelalak dengan seketika kala Nella tiba-tiba masuk dan memeluk Altez yang ada di samping Yeri.


"Al...!" Nella merengek dan menangis dalam pelukan Altez.


Altez hanya mematung dengan wajah bingung. Ia menggeleng menatap sang istri seolah berkata Aku sama sekali tidak tahu apa-apa.


"Al aku hamil!" Ucap Nella yang berbicara dalam tangisnya tapi sangat jelas di telinga Yeri.

__ADS_1


What? Hami? Baru bilang mau berubah dan sekarang pacarnya bilang dia hamil? Wah ini benar-benar kejutan. Batin Yeri yang menatap Altez dengan sejuta tanya.


"A... apa?" Altez seolah menjadi tuli dalam sekali waktu. Ia menjauhkan Nella dari tubuhnya memberikan jarak sepanjang tangannya.


"Aku hamil!" Seru Nella yang memekik dan menghentakkan kakinya.


"Za, urus saja dia. Aku pergi." Kata Yeri yang merasa sudah cukup menyaksikan telenovela pagi-pagi.


"Yeri tunggu!" Altez menyingkirkan Nella dan mengejar Yeri namun Nella juga tengah mencekalnya.


"Yer!" Teriak Altez memanggil Yeri yang sudah masuk kedalam mobilnya.


Yeri membuka kaca mobilnya. "Kamu urus saja dia."


"Tapi belum tentu juga itu anakku!" Sahut Altez dengan emosi yang tertahan.


"Za, bisa bisanya kamu bicara seperti itu. Dia bukan orang gila yang akan menuduh dan meminta pertanggungjawaban dengan orang yang tidak melakukan apapun padanya. Tolong Za, jangan melemparkan kesalahan. Urus semuanya sendiri, kamu sudah dewasa!" Yeri memekik sebelum akhirnya ia meninggalkan suami dan selingkuhannya.


Di dalam perjalanan, Yeri menangis dan menepuk-nepuk dadanya. Ia merasakan sesak yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Kenapa rasanya sakit sekali?


Di kediaman Yeri dan Altez.


"Al, kamu harus bertanggungjawab!" Nella memekik setelah Altez mangkir dari tanggungjawabnya.


"Nella! sebulan yang lalu kamu pergi saat mengetahui aku berselingkuh dengan Vivi. Dan sekarang kamu datang bilang kamu hamil? Bukankah selama kita melakukannya selalu memakai pengamanan?"


Nella menunduk dan terisak-isak. "Aku berhenti memakai alat kontrasepsi 6 bulan lalu tanpa sepengetahuanmu. Aku tidak bisa memakai obat kontrasepsi lagi Al, aku punya kanker!" Nella bersimpuh di lantai, tubuhnya melemas saat mengatakan hal buruk tentang kesehatannya yang selama ini ai tutupi dari Altez.


"Nella! jangan mengada-ada!" Altez masih menampiknya.


Nella mengambil sebuah surat yang menyatakan tentang rekam medisnya. "Aku tidak berbohong Za, aku terkena kanker tulang."


"Tolong Za, tolong! setidaknya jika aku mati nanti dia punya Ayah yang akan merawatnya. Apa kamu tidak kasihan dengan darah dagingmu sendiri?"


Aktez mengerang frustasi, dia sampai menjambak rambutnya dengan keras.


"Mengapa semuanya jadi begini?" Ia memekik merutuki kesialan nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2