
Sedari tadi Silvi dalam rumah Yeri, ia terus saja mencuri pandang pada Albi. Sosok dingin dan pendiam yang lebih banyak fokus pada benda pipihnya. Entah mengapa tetapi sepertinya Albi sudah mampu menyihir Silvi dalam sekali jumpa. Pesonanya membuat pipi Silvi selalu merona saat melihatnya.
"Sil, sekalian makan malam di sini ya? Kamu sudah sangat lama tidak makan denganku," kata Yeri setelah konsultasi selesai.
"Iya, sekalian juga anggap sebagai perayaan atas rumah baru kita. jangan menolak!" kata Altez yang terdengar seperti diktator yang pemaksa.
"Iya, baiklah. Aku akan makan malam di sini."
'Tidak ada ruginya aku maka malam di sini bukan? setidaknya aku bisa leih lama melihat wajah tampannya. Sayangnya setelah tadi, dia sama sekali tidak pernah mengajakku berbicara.' batin Silvi.
Ayolah, Albi bukanlah Altrz. Dia tidak suka mencari perhatian dari lingkungan sekitar. Albi lebih menyukai ketenangan dan kesendiriannya.Dia akan bersikap masa bodoh dengan sekitarnya.
Namun, soal nurani, iba, dan kasihan, Albi juaranya. Meskipun jarang bicara, tetapi dia sangat peduli pada sekitarnya. Albi lebih suka memberikan aksi dari pada sekedar ber-narasi.
"Bantu aku menata makanannya ya," ucap Yeri sembari mengulurkan semangkuk sup ayam pada Silvi.
"Em, Yer kayaknya sesi konsultasi udah selesai deh. Bisa kan kita pakai bahasa biasa saja, bukan bahasa formal? Gue kangen sama elu tau!" cetus Silvi yang menahan rindu pada Yeri yang selama beberapa bulan tidak bertemu lantaran kesibukan dan juga kondisi psikis Yeri yang terpantau aman.
"Oke, iya juga ya. Dari tadi kita pakai bahas formal banget," kata Yeri sembari memamerkan jajaran giginya yang [putih. Ia meringis merasa geli saja sedari ti berbahasa formal dengan teman dekatnya.
"Eh, Sil."
"Em?" sahut Silvi sembari menata piring.
"Lu kemarin ga tau ada kabar bahagia,"
"Kabar apa?" tanya Silvi memberikan perhatiannya pada Yeri. Ia menarik kursi lalu duduk dan menunggu Yeri untuk bercerita.
"Bisma sama Wiwin mereka bertunangan," kata yeri yang membuat Silvi menatapnya heran sekaligus tidak percaya.
"Wah, cepat sekali. Lalu kapan mereka menikah?"
__ADS_1
"Entahlah belum ada kabar lagi. Gue nggak nyangka jika orang yang tadinya naksir gue kini malah menjadi calon suami sahabat gue."
"Cih! Gue benar-benar iri dengarnya. Mereka cepat sekali. Sedangkan gue?" gumam Silvi yang menatap hampa piring-piring kosong di hadapannya.
"Lu mau gue kenalin sama laki-laki yang baik, perhatian, penyayang dan bertanggung jawab?" tanya Yeri dengan tatapan matanya yang menatap lurus Silvi.
"Tuh!" Yeri menujuk Albi yang tengah tertidur di sofa.
'Mau! Mau banget Yer! Kenapa ngga dari lama? Oh, nggak gue harus terlihat jaim dan jual mahal,'
"Udah, gue combangin lu sama adek gue gimana? Mulai sekarang lu harus lebih soapn sama gue, latihan panggil gue Kakak ipar." Altez berbicara dengan nada congkaknya. Ia tertawa melihat ekspresi bingung Silvi.
"Eh, belum jelas jadi atau nggak ya. Jadi gue ga harus latihan buat panggil lu Kakak ipar," tolak Silvi sembari memutar bola matanya malas.
"Ye! Mau gue bantu nggak?" Altez memprotes perkataan Silvi. "Kalau mau gue bantu, harus sopan dan baik lu sama gue," ketus Altez.
Silvi diam saja. Ayolah, Silvi sangat jaim, tidak mungkin dia akan bilang. 'Oke, aku sangat mau menjadi istri adikmu!' Tidak, itu bukan tipe Silvi. Dia akan berlagak jaim di hadapan Altez. Tapi di hadapan Yeri?
"Ya, mau sih. Ta-tapi...."
"Albi! dokter Silvi naksir sama lu!" teriak Altez sambil tertawa yang kemudian mendapatkan cubitan dari Yeri.
Sedangkan Silvi reflek melemparkan sendok yang secara otomatis berhasil ditangkap oleh Altez. Wajah Silvi sontak menjadi merah padam. Ia sangat malu karena sikap jahil Altez membuatnya hilang harga diri.
"Kakak jahanam lu!" desis Silvi dengan matanya yang melotot menatap Altez.
"Yer, tolong ya suami lu dikondisikan. Malu tau gue!" keluh Silvi yang kemudian menunduk menatap pahanya sendiri.
Hilang muka sudah dokter yang selama beberapa tahun terakhir itu merawat Yeri. Tanpa ia dug, Albi juga menarik bangku yang berada di samping Silvi ia duduk dan dengan cueknya segera menikmati makanan yang ada di meja. Silvi semakin menundukkan wajahhnya, ia sama sekali tidak berani menatap Albi. Tangannya pun sampai berkeringat dingin menahan malu.
"Ada apaan sih, rame banget?" tanya Albi pada Silvi yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
'Apa, jadi dia beneran tidur? Dia nggak tau gitu tadi Gue ngeributin apa? Huft! syukurlah!'
"Tidak, tidak ada. Hanya sedang bercanda hal yang tidak penting saja. Maaf sudah mengganggu tidurmu," kata Silvi dengan malu-malu.
Altez kemudian ikut duduk dan menatap keduanya sambil tersenyum aneh terutama Silvi. Altez sengaja menggoda Silvi dan senang melihat dokter yang tadinya bersikap dingin terhadapnya karena kelakuannya pada Yeri. Altez melayani sang istri, ia mengambilkan beberapa makanan yang Yeri mau.
"Ehem!" Altez berdehem. "Jangan terlalu sok manis Sil, entar di kerubungin semut lu," cibir Altez sambil manhan tawanya. Terihat sekali wajah yang menyebalkan itu memiliki kerutan di sekitar matanya arena menahan tawa.
"Em, tadi ke sini naik apa Sil?" tanya Yeri yang Silvi pikir adalah sebagai bentuk pengalihan topik pembicaraan.
Dengan yakin Silvi menjawabnya, sama sekali tidak menaruh curiga. "Naik taksi Yer, mobil gue di bengkel," jawabnya yang kemudian melanjutkan makannya.
"Oh," Yeri ber Oh ria kemudian mengangguk beberapa kali. "Albi," panggil Yeri dengan lembutnya pada adik iparnya.
"Ya kak?" Albi mendongak dan memberikan atensinya pada Yeri.
"Kamu bawa mobil 'kan?" tanya Yeri.
"Iya," Albi mengangguk dengan santainya.
Perasaan Silvi mulai tidak enak akan ucapan Yeri selanjutnya. "Sekalian antarkan teman Kakak ini ya? Dia tidak bawa mobil. Kamu juga bukannya kemarin minta Kakak carikan calon istri?"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Albi tersedak dan terbatuk. Refleks, Silvi dengan cekatan mengambilkan minuman dan memberikannya pada Albi.
"Hati-hati, pelan-pelan saja," ujarnya dengan lembut dan tak senagaja tangan mereka saling bersentuhan dengan mata yang saling bersitatap.
"Sayang lihat, mereka terlihat serasi." Altez berbisik di telinga Yeri.
"Iya, semoga mereka berjodoh." Yeri mengusap lembut paha Altez.
"Em, tidak usah. Aku masih ada janji lain setelah ini. Tidak enak merepotkan," tolak Silvi karena malu yang luar biasa. Lebih tepatnya ia sedang merutuki tingkah teman dan suaminya yang durjana ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kebetulan aku senggang. Aku tidak keberatan untuk mengantarkanmu."
'What? Dia mau?'