PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
65.


__ADS_3

"Ada apa?" Altez berlari dan segera membuka pintu utama tanpa tau apa yang sedang terjadi.


"Pssttt....!" Ular kobra seketika menyemburkan bisanya ke arah Altez yang berlari masuk. Tapi untungnya Altez bergerak cepat dan bisa menghindar.


Sementara itu, Yeri berdiri di atas meja makan dengan membawa garam, dengan Joana yang terlihat memegang sebuah sapu yang ia gunakan untuk memukul ular kobra. Altez tanpa takut sama sekali ia langsung meraih kepala ular itu dan membinasakannya. Segera ia mengarahkan tangannya pada Yeri seolah ingin menggendongnya untuk turun.


Yeri yang masih ketakutan menurut begitu saja, sedangkan Joana mengusap dadanya lega setelah melihat aksi heroik Altez. Entah bagaimana jadinya mereka berdua kalau Altez tidak segera datang. Altez kini bak penyelamat bagi keduanya.


"Ayo turun, cepat aku gendong," ucap Altez dengan tangannya yang masih menunggu sang istri.


Yeri masih ketakutan dan mengamati sekitar. "Aku takut," ucapnya mengadu dengan mimik ketakutan yang luar biasa.


"Sudah sini, ada aku. Ayo turun," Altez membujuk Yeri yang masih ketakutan. Altez pikir Yeri menolak bantuannya, perlahan-lahan, tangan Altez kian merendah dan hampir sejajar dengan paha.


"Kakiku lemas Za, aku tidak bisa bergerak," kata Yeri dengan wajah yang sudah siap menangis.


"Kenapa, apa kamu tergigit?" Altez mengamati kaki mulus istrinya dengan lekat.


Yeri menggeleng. "Tidak, tapi takut," adunya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Cup-cup, sudah ayo sini," Altez kembali mengulurkan tangannya.


"Nanti kalau ada lagi bagaimana?" Yeri benar-benar ketakutan. Kakinya sampai mencengkeram pada meja marmer tempat mereka makan.


"Iya ayo sini, aku gendong." Altez membujuk tanpa kenal menyerah.


"Jo! malam ini kita menginap di hotel, jangan tidur di rumah dulu. Besok akan ku panggil pawang ular untuk memastikan. Siapa tahu masih ada," Altez memberikan perintah.


Joana mengangguk dan memutar badannya. "Tunggu! periksa sekitar mobil dulu sebelum masuk. Kamu juga harus berhati-hati, periksa juga dalam mobilnya," tutur Altez memberikan perintah.


Menunggu Joana melakukan pekerjaannya, Altez terus saja membujuk Yeri yang sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Ia masih berdiri dengan wajah ketakutan dan tangan yang memegang erat wadah garam. Altez meraih pinggangnya, ia mengusap lembut berusaha untuk menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Sudah, jangan takut Yer." Altez mengusap bagian pinggang paha samping Yeri. "Ada aku, kita jangan di sini dulu ya. Ayo turun," kata Altez dengan lembutnya.


"Aku takut Za, sepertinya ada banyak ularnya." Yeri mengamati sekeliling, ia bahkan seolah mati rasa kala Altez menyentuh pahanya perlahan.


Joana kembali masuk. "Aman, ayo kita segera pergi." Joana berdiri di ambang pintu.


"Ayo cepat!" Altez kembali mengulurkan tangannya.


Kali ini Yeri segera meraihnya dan ia menempatkan dirinya seperti Koala. Yeri bergelayut di leher suaminya dengan Altez yang menggendong seperti indukannya. Joana mengulum senyumnya saat melihat tingkah Yeri.


Altez hendak meletakkan Yeri di bangku tengah, ia hendak mendudukkan istrinya di sana. Raut ketakutan itu kembali dan membuat Yeri semakin mengeratkan pelukannya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat.


"Enggak mau Za, kamu pangku aku ya? Aku takut kalau di bawah atau di sekitar sini ada ular lagi," Yeri merengek.


"Aman kok, aku sudah memeriksanya," Joana menyahut untuk menenangkan Yeri.


"Enggak Jo! aku takut!" Yeri tetap pada pendiriannya.


Altez tertawa, lalu mengusap surai sang istri. "Iya sudah ayo, aku pangku," ujarnya dengan sabar. "Jo, kamu yang mengemudikan mobil ya, tolong," Imbuhnya lagi.


Dengan posisi dimana Yeri duduk saat ini, dia yang terus bergerak gelisah bercampur ketakutan, secara tak sengaja menggesek-gesekkan pantatnya pada sesuatu yang teramat berharga milik suaminya. Hal ini membuat konsentrasi Altez terpecah belah, ia sebisa mungkin menahannya.


"Yer, kalau mau dipangku jangan bergerak terus. Gerakanmu membuat ularku bangun, nanti kalau dia ngamuk dan mematukmu bagaimana?" Altez berbisik di telinga Yeri.


Yeri membulatkan matanya. "Awas saja kalau kamu berani!" Ancamnya dengan bisikan pula.


"Kamu aneh Yer, takut sama Ular tapi tidak takut sama Buaya," celetuk Joana yang tersenyum mengamati keduanya dari spion dalam.


"Buaya itu besar, mereka tidak menggelikan, pergerakannya masih bisa terbaca. Kalau Ular? licin, licik, pergerakan sulit ditebak dan berbisa." Yeri menatap Joana sekilas.


"Iya, apalagi ularku ya? dipatuk sekali bisa bengkak 9 bulan kamu," Altez berbisik di telinga istrinya yang kemudian merauk bibirnya.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa diam, ku jambak ya bibir kamu Za!" Ancam Yeri dengan tatapan mata horor.


Joana hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat perdebatan yang kedua penumpangnya lakukan dengan bisikan. Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka terlihat beradu argumentasi kecil, juga dengan adegan menjambak juga mencekik leher lawan bicaranya. Joana hanya memikirkan satu hal, tanpa teman dan Atasannya sadari, mentalnya telah kembali. Yeri sudah bisa percaya kepada orang lain selain orang-orang suruhan ayahnya.


"Jambak saja, nih, nih, nih!" Altez memajukan bibirnya mengira Yeri tidak akan melakukannya.


"Rasakan!" Yeri menjambak bibir Altez yang sedang mencibir.


"Yer, kok beneran? sudah sana turun!" Altez memegang pinggang Yeri dan hendak mengangkatnya.


Yeri menggeleng. "Enggak mau, iya maaf, maaf, makanya jangan banyak bicara."


"Biar saja, dzolim sama suami, aku sumpahin kamu hamil anakku!"


"Tidak! kalau sampai itu terjadi aku cekik kamu!" Yeri mencekik gemas Altez. Tentunya bukan cekikikan yang sesungguhnya, ia hanya memegang leher Altez lalu mengguncangnya.


"Biar! biar kualat kamu berani sama suami yang tampan nan rupawan, baik hati serta Budiman akhlak dan kelakuan ini." Altez membanggakan diri, ia menggunakan majas hiperbola dalam kalimatnya.


"Huwek!" Yeri berlagak mual.


"Kami dengar itu Jo? Buaya ini sedang mengasah ilmunya."


"Ya, aku dengar. Tapi kata-katanya juga ada benarnya Yer. Nanti kalau kamu kualat bagaimana? Soalnya racunnya dia sudah terlanjur masuk ke dalam tubuhmu," sahut Joana yang tetap fokus mengemudi.


"Tidak akan!" Yeri menampiknya penuh percaya diri.


"Akan! everything is can be possible baby." Altez mengusap perut Yeri.


"Yak! hentikan!" Yeri memukul tangan Altez. "Tidak akan terjadi, aku punya obat penawarnya," Yeri berbohong.


Altez terdiam beberapa saat dan menatapnya. "Apa kamu meminum pil kontrasepsi?" Tanyanya.

__ADS_1


"…" Yeri terdiam. "Jo, cepat ya. Aku sudah mengantuk." ia berpura-pura menguap. Ia mengalihkan pembicaraan.


"Yeri, jawab aku, apa kamu sengaja mengonsumsi sesuatu setelah kita melakukannya? kamu tega membuangnya?" Altez menatap Yeri penuh tanya. "Katakan Yeri, katakan!" Ia mengguncang bahu Yeri yang berada di atas pengakuannya.


__ADS_2