
...~•~...
...~•~...
Dalam hening malam, Altez masih terdiam menatap langit-langit kamarnya. Setelah tadi teman-temannya pulang, kini ia hanya sendiri berada di kamar dan merenungkan kembali semua yang telah terjadi.
Selama ini, aku tidak tahu jika Mama selalu menutupi kesalahanku meskipun saat dahulu bersama Nella, aku selalu menyisihkan Mama dan mengabaikannya. Aku anak tertua dan aku juga sudah berkeluarga. Seharusnya aku menyadari kebodohanku ini sedari lama. Bercermin pada Yeri, dia anak semata wayang, seharusnya ia manja. Tapi, tidak ia begitu mandiri dan perlahan mengubah cara berpikirku.
Altez meraba sendiri perasaannya.
Saat Altez tengah tenggelam dalam pikirannya, ia mendengar suara pintu terbuka diikuti dengan suara nyala kompor. Ia tahu jika itu adalah istrinya yang terbangun malam hari. Mungkin karena lapar.
Altez menyusul dan benar saya Yeri tengah memasak sesuatu di panci kecil.
"Yer, lapar?" Altez mendekat dengan wajah penasaran.
"Em..." Yeri mengangguk. "Dari siang belum sempat makan." Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Dari siang?" Altez terkejut berarti sedari pulang tadi bukan hanya dia yang kelaparan tapi istrinya juga. Bukankah seharusnya tadi Altez mengajaknya untuk makan bersama?
Altez justru tidak memanggil Yeri untuk makan karena tidak mau jika Diko melihat Yeri dengan mata genitnya. "Ini ada lauk, hangatkan saja dulu dan makanlah." Katanya.
Altez mengambil ayam goreng yang tadi sengaja ia sisihkan untuk Yeri. Yeri menerimanya meski dengan wajah datar. "Terimakasih." Ucapnya dengan fokus mata yang hanya tertuju pada ayam goreng tepung itu.
Yeri lalu menyimpan lagi ayam goreng tersebut kedalam lemari makan. Ia kembali membuat susu. Altez semakin tak paham dibuatnya. Jika lapar bukankah seharusnya ia makan? tapi mengapa lauknya malah kembali di simpan?
"Kenapa malah disimpan? kamu tidak jadi makan?"
"Tidak walaupun lapar, aku takut jika nanti aku gendut maka orang orang akan menjauhiku bahkan ada yang mengatakan aku seperti kerbau." Ucap Yeri yang sengaja menyinggung tentang pembullyan yang dahulu pernah Altez lakukan terhadapnya.
__ADS_1
Altez lalu memeluknya dari belakang, ia melingkarkan tangannya di perut Yeri seolah tengah mengunci pergerakan Yeri agar tak bisa kabur. Yeri hanya terdiam di tempatnya dengan tangan yang terus mengaduk susu almond buatannya.
"Yer, aku minta maaf. Itu semua hanya kenakalanku di masa kecil. Aku harap sekarang kita jadi teman yang baik ya?" Altez berbicara dengan nada memohon.
"Teman? apa ada teman yang memeluk sampai seperti ini?" Ucapnya acuh.
Altez semakin mengeratkan pelukannya. Ia berbicara dengan bibir yang menempel di leher Yeri. "Kita partner sampai tua. Sekarang makanlah, jangan menyiksa dirimu seperti itu."
"Berhenti sok perduli padaku. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Iya, aku tahu kamu itu sangat mandiri. Tapi aku juga suamimu yang berhak dan bertanggungjawab atas kamu." Kata Altez dengan lembutnya.
Begini rupanya jika buaya sedang beraksi? Batin Yeri dengan tangan yang berusaha melepaskan pelukan Altez yang melingkar di perutnya.
Yeri yang jengah hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia menghela nafasnya sebelum berbicara. "Za, udah deh enggak usah berlebihan seperti ini. Setelah keadaan perusahaan kalian membaik maka aku akan tetap mengajukan gugatan cerai." Kata Yeri tiba-tiba membuat Altez dengan segera memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan.
"Yeri! jaga bicara kamu ya!" Altez membentak Yeri. Telinganya panas setelah mendengar kata cerai dari bibir istrinya yang belum genap sebulan menikah dengannya. "Aku sudah katakan, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Hanya kematian yang akan memisahkan kita." Ucap Altez berapi-api.
"A.... apa maksudmu?" Altez menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku, mau menikah denganmu karena ingin menyembuhkan traumaku. Hanya itu dan tidak ada yang lain lagi." Kata Yeri yang begitu menusuk di telinga dan hati Altez.
Yeri berharap dengan dia yang berkata seperti itu akan menjauhkan Altez darinya dan membuat Altez menceraikannya.
Ayolah, kamu pasti jengkel dan ingin mengamuk sekarang. Marahlah! Batin Yeri yang merindukan rasa puas saat merusak mood Altez.
"Apapun, apapun alasan yang mendasari pernikahan kita, aku tetap tidak akan menceraikanmu." Ucap Altez dengan lembutnya di iringi dengan kecupan lembut di kening sang istri. "Maaf, tadi sudah membentak mu. Kamu makan ya, biar ku panaskan lauknya."
What? Dia tidak marah sama sekali? Kenapa? Kenapa malah aku yang jadi jengkel karena tidak berhasil membuatnya marah?
"Tidak usah, tidak bagus jika karbohidrat di panaskan berkali-kali." Yeri berbicara dengan tangan yang mengambil piring dari tangan Altez.
__ADS_1
Seharusnya dia mengamuk lalu membanting sesuatu. Tapi...., mengapa malah mencium keningku dan berbicara dengan lembut?
Altez menemani Yeri makan dia memperhatikan sang istri seolah sangat mencintai sepenuh hati. "Pelan pelan saja makannya, aku tidak akan minta." Altez berbicara layaknya seorang Ayah pada putri kecilnya.
Yeri tertegun, ia menatap teduh Altez. "Jujur padaku apa yang membuatmu jadi aneh seperti ini. Kamu bukan Altez yang ku kenal di awal pernikahan."
Altez terkikik geli melihat wajah Yeri yang kebingungan. "Aku adalah suami yang sangat mencintai istrinya." Jawabnya dengan tangan yang lagi-lagi terulur mengusap pucuk kepala Yeri.
Tidak ini bukan Altez. Batin Yeri menaruh curiga.
Selesai makan pun, Altez tetap mengekor di belakang Yeri. Karena terus di buntuti, Yeri merasa sangat risih. Ia menoleh dan menyipitkan matanya menatap Altez lalu menangkup wajahnya dan mengamati dari segala sisi. Depan, samping kanan, samping kiri, dan mata semuanya Yeri tatap lekat.
"Yer, aku Altez kamu pikir siapa? Lupa sama suami sendiri?"
Yeri melepaskan tangkupannya secara kasar. "Ku pikir kamu suatu mahluk yang menjelma." Dengan acuhnya Yeri menjawab.
Mereka kembali berjalan dengan Altez yang mengekor di belakang Yeri. "Kenapa ngikutin? aku mau tidur Za, besok harus kerja pagi-pagi."
"Iya tau." Altez menjawab dengan santainya. Ia lalu mendahului Yeri dan masuk kedalam kamar utama.
Tangan Altez bergerak menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya. " Sini bobok!"
"Kamar kamu kan di sana, awas Za....!" Yeri menarik tangan Altez dan berniat untuk mengusirnya.
"Istriku disini, aku hanya akan tidur ditempat di mana istriku berada." Jawabnya santai yang kemudian berbaring dengan tangan yang menopang kepalanya.
Yeri malas, sungguh malas. Meski sudah pernah melakukannya, bukan berarti ia akan rela untuk mengulanginya lagi. Yeri masih berfikir seribu kali untuk melakukan hal tersebut tanpa pengaruh apapun.
"Tidur saja, aku hanya akan tidur di sampingmu. Tidak akan melakukan apa-apa." Altez berbicara dengan lembut seolah tau isi kepala Yeri.
Cih! mustahil..., mana mungkin tangannya yang suka meraba itu pensiun?
__ADS_1