
...------🌹🌹------...
Dalam ruang kerjanya, Joana sedang membahas sesuatu yang penting bersama orang suruhan ayah Ardi. Lebih tepatnya orang tersebut adalah detektif yang ia tugaskan untuk
mencari kebenaran pasal rumor yang beredar.
Detektif itu berbicara dengan menyuguhkan beberapa bukti pada Joana. "Ini semua yang saya kumpulkan selama 3 hari terakhir," ucapnya.
Joana mengamati setiap gambar dan video yang diberikan padanya. "Em... baiklah, aku sudah paham sekarang. Ini perintah pak Ardi, kita kan menggunakan pengacara dan akan mengusut ini melalui jalur hukum. Keluarga pak Ardi ingin mengembalikan nama baiknya."
Detektif itu mengangguk setuju. "Baik, saya akan membantu sampai semua kasus ini selesai," ucapnya dengan diakhiri jabatan tangan.
"Nella, kamu ingin main-main dengan keluarga Ardi? maka lihatlah kehancuranmu yang sesungguhnya." Joana menerawang jauh ke depan. Ia menatap tinggi bangunan yang menjulang disejauh mata memandang.
"Yeri, kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Aku tidak akan membiarkan suatu hal buruk menimpamu," Joana menggumam menatap hamparan awan putih yang melayang..
Sementara itu, Nella tengah memikirkan cara sadis untuk menghabisi nyawa Yeri dan Altez. Ia tengah berada di pasar hewan peliharaan untuk membeli sesuatu. Apa yang ia beli kali ini mungkin saja akan membuat segala misi pembalasan sakit hatinya terwujud rapi.
Nella membeli beberapa ekor ular kobra. Ia memang Psycho. Ia ingin Altez dan Yeri juga menderita hidupnya. Mungkin saja rencana yang terbilang klasik dan sering orang jahat lakukan pada jaman Majapahit itu bisa sukses diera modern seperti sekarang.
"Apa aku tidak berharga bagimu?" Tanya Altez sambil menunduk lesu. Ia tengah kecewa pada pawangnya yang berniat ingin memberikan dirinya secara cuma-cuma kepada wanita lain.
Yeri kembali duduk disebelah Altez. "Berharga sih, tapi tidak terlalu. Karena ada yang lebih berharga dari itu," jawabnya rancu.
Dia bilang aku berharga. Tetapi, ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Ia lebih terkesan mirip dengan orang yang hendak membuang anakan kucing di jalanan. Batin Altez kala melihat reaksi istrinya.
"Besok-besok lagi jangan membuat keributan di dalam rumahku. Aku tidak tahan mendengarkannya," Yeri berbicara dengan santai sambil menyalakan TV seolah tidak ada suatu hal menyakitkan hati yang baru saja terjadi.
"Apa ketenanganmu lebih berharga daripada aku, suamimu yang tengah memperjuangkan rumah tangga kita ini?"
"Itu tau!" Ketus Yeri dengan gayanya yang acuh.
Altez mengepal kesal. "Oh, ayolah...! Yeri, wanita lain sedang berusaha merusak dan merebut suamimu. Inikah sikapmu?" Altez kesal bukan main. Dia yang terbiasa diperebutkan kini harus teronggok tanpa penghormatan.
"Aku malas berebut Za, jadi ya terserah kamu. Kalau kamu mau bertahan ya silahkan, tidak ya terserah. Aku tidak suka memaksa ataupun dipaksa," Yeri berbicara dengan santai tanpa memperdulikan Altez yang hampir merengek seperti anak TK.
"Argh! harusnya aku pergi saja dari sini," ucapnya kesal.
"Silahkan, siapa juga yang memaksa kamu tetap di sini?" Yeri menyahuti dengan cueknya.
"Aku pergi!" Altez berteriak dan lekas berdiri. Dia berharap Yeri akan termakan kecohannya lalu memohon-mohon kepadanya untuk tetap tinggal.
__ADS_1
"Satu!" Altez menghitung.
"Dua!" Ia melirik Yeri.
"Tiga!" Ia berdiri mendekat kepada Yeri yang tetap asyik bermain ponselnya.
"Kamu belajar berhitung? pergilah!" Yeri menggerakkan tangannya seolah mengusir.
"Yer, aku suamimu!" Altez sungguh ingin dihentikan niatnya untuk pergi.
Yeri tertawa dan asyik dengan ponselnya. "Siapa bilang kamu sopirku? Sudah pergilah kalau mau pergi. Kalau mobilmu ada masalah pakai saja mobilku. Aku bisa beli lagi." Ucapnya dengan sombong.
Altez mengerang frustasi. "Argh😤😤😤!" Ia kembali mendekat dan langsung menubruk Yeri yang tengah berbaring santai di sofa.
"Kenapa masih disini? itu kunci mobilnya. Apa uangmu habis?" Ia bertanya pada suaminya yang tengah mengerang kesal dengan menyembunyikan wajahnya di dekat lengannya.
"Yeri!" Altez berteriak keras meluapkan kemarahannya. Namun suaranya sama sekali tidak bisa menembus tebalnya sofa yang mereka tempati.
"Sebentar aku ambilkan uang, em... ditransfer saja ya?"
"Aku tidak mau pergi! Aku mau di sini saja!" Ia berteriak tapi tertahan lengan Yeri. "Aku ingin menggigitmu!" Teriaknya lagi.
Yeri menahan tawanya. Inilah cara yang ia ambil untuk menghadapi Altez. Altez adalah tipe orang yang berprinsip larangan adalah perintah. Jadi, Yeri menggunakan perintah untuk melarang Altez. Hanya saja caranya ini memang memiliki resiko besar. Siapa yang bisa menduga jika mungkin suaminya suatu saat nanti akan menjalankan perintahnya.
"Argh.... 😤!" Altez hanya bisa pasrah dan tunduk pada pawangnya ini.
Kenapa aku malah tidak bisa meninggalkannya meski dia mengusirku? Kenapa? Tidak pernah aku sampai seperti ini kepada wanita. Tapi dengannya, aku kehilangan semua keahlian ku.
"Awas! aku mau pergi," kata Yeri setelah membaca pesan masuk dari ponselnya.
"Kemana?" Altez mendongakkan wajahnya.
Yeri melihat ujung mata Altez yang basah. "Kamu menangis?" Yeri tidak percaya dengan penglihatannya.
"Tidak, aku hanya menguap saja tadi. Aku mengantuk," Altez berkilah dan segera mengusap air matanya kasar. "Mau pergi kemana, aku ikut ya?"
Yeri menatapnya datar. "Tidak usah, aku malas jika kamu ikut, pasti rewel. Aku hanya mengambil barang yang sudah lama ku pesan saja," Ia berbohong.
"Ikut!" Altez berseru.
"Ih, pemaksa. Aku hanya sebentar saja Za. Lebih baik kamu di rumah dan membereskan semua keributan ini." Yeri menunjuk meja makan dan meja ruang tamu.
__ADS_1
"Akan ku bereskan asalkan aku yang mengantarmu pergi."
"Hanya mengantar dan tidak usah masuk. Jika kamu melanggarnya maka aku akan mengurus perceraian kita."
"Tidak akan bisa," Kata Altez.
"Kata siapa? Sangat mudah untuk mengurusnya. Apalagi penyebabnya adalah orang ketiga. Hakim tidak akan berlama-lama untuk mengetukkan palunya."
"Aku tidak akan tandatangan!" Altez mengancam.
"Ter-se-rah! kamu pikir disinetron? tanpa tanda tangan persetujuan dari kamu perceraian akan tetap sah, aku bisa memakai jasa pengacara Za. Kamu pikir aku bodoh?"
Iya, Altez lupa. Yeri yang sekarang, bukanlah Yeri yang dulu yang mudah ia tindas dan ia bully. Yeri yang sekarang telah mengubah takdirnya menjadi wanita mandiri.
Pada akhirnya perdebatan tetap dimenangkan oleh Yeri. "Baiklah aku hanya akan mengantar saja."
"Oke, begitu kan bagus?" Cetus Yeri dengan menempelkan jempolnya di hidung Altez sambil tertawa merayakan kemenangan kecilnya.
Yeri dan Altez meninggalkan rumah. Altez yang katanya hanya sebatas mengantar, nyatanya dia sampai menunggu istrinya selama mengadakan rapat bersama Joana. Rapat yang diadakan untuk membahas soal siapa yang menjadi dalang dari kasus beberapa hari yang hampir saja membuat reputasi perusahaannya hancur.
Sementara itu di rumahnya. Seseorang tengah mengendap-endap dan melepaskan beberapa ekor ular kedalam pagar rumah Yeri dengan tujuan agar si pemilik rumah meninggal karena patukan Ular
Keadaan yang gelap dan Nella yang ketakutan karena harus melakukan hal yang berhubungan dengan ular, hewan yang paling ia takuti di Dunia ini, membuat Nella lupa menutup pintu mobilnya.
Brugh...! Ular-ular itu jatuh di dalam area halaman rumah Yeri. Nella tersenyum senang. Ia sangat senang dan merayakan kemenangan diawal permainan. Siapa sangka jika ada salah satu ular kobra kecil yang menyelinap masuk kedalam mobilnya disaat Nella sedang menunggu teriakan dari dalam hunian.
Setengah jam menunggu, hingga ia digigit nyamuk. Tetap saja tidak ada reaksi. "Si4l!!" Ia mengumpat sejadi-jadinya.
Nella memutuskan untuk kembali masuk kedalam mobilnya dan bergegas pulang. Awalnya semuanya baik-baik saja, hingga saat ia menginjak kopling dalam-dalam, ia merasakan sesuatu mematuk kakinya. Hanya patukan kecil dan ia hanya menganggapnya seperti gigitan serangga.
"Auh...!" Nella mengaduh kesakitan lalu menepikan mobilnya. "Apa yang menggigitku? serangga atau apa?"
Ia kemudian melihat mata kakinya yang memiliki bekas gigitan dengan 4 lubang. Ia mengernyitkan dahinya. "Ini seperti gigitan..."
"Pstt....! pstt....!" Ular kecil itu mendesis tepat diantara pedal kopling dan rem.
Bisa ular kobra yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kematian. Neurotoxin melumpuhkan saraf, cardiotoxin menyerang jantung, sedangkan cytotoxin merusak sel. Hal yang menyebabkan kematian pada manusia adalah kandungan cardiotoxin dan juga neurotoxin.
Durasi waktu bisa ular dapat menyebabkan kematian ini bisa berbeda, tergantung dari jumlah bisa yang masuk ke dalam badan manusia.Jika jumlah cardiotoxin dan neurotoxin banyak maka orang yang digigit ular dapat meninggal dalam beberapa menit hingga hitungan jam.The Quarterly Journal of Medicine pernah melansir kalau bisa ular bisa kobra mematikan dalam waktu 30 menit jika tidak mendapatkan pertolongan.
Nella yang panik, seketika berlari meninggalkan mobilnya dengan kakinya yang mulai terasa nyeri.Tahukah kalian jika racun dari gigitan ular kobra akan semakin cepat menjalar pada tubuh kita saat kita melakukan banyak pergerakan? Ya, racun yang masuk menyebar melalui pembuluh getah bening. Semakin banyak bergerak, menekan luka, atau mengeluarkan darah dari bekas gigitan, itu sama saja dengan mempercepat racun menyebar hingga menyebabkan kematian.
__ADS_1
Nella terduduk di bawah pohon dan menekan lukanya. Ia mengikuti apa yang pernah ditontonnya dalam film India dimana darah dari bekas patukan ular berusaha untuk dikeluarkan. Nella berakhir mengenaskan setelah satu jam ia berjuang untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Inilah yang dimaksud senjata makan tuan? ataukah karma?