
...~~~...
Yania memberontak sebisanya saat Altez membekapnya dari belakang. Dia sangat terkejut dan hampir saja menendang aset berharga Altez. Merasa dirinya tak lagi aman, Altez memilih untuk melepaskan Yania dan menginstruksikan agar Yania menutup mulutnya.
"Ssstt....! Jangan teriak, di dalam ada Mama." Ujar Altez memberitahukan kepada Yania tanpa suara. Dia hanya mendesis dan berbicara perlahan.
Yania membulatkan matanya, dia lalu melepaskan earphone yang masih menyumpal telinganya.
"Apa?" Tanyanya yang tadi sama sekali tak mendengar Altez berbicara.
"Ih, Budeg...! Ada Mama..., itu de dalam ada Mama." Ujar Altez yang berbicara dengan perlahan dan berjalan pincang untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon.
"Ada Mama? kamu serius?" Tania membulatkan matanya lalu duduk di bangku di samping Altez.
"Oh, selain jelek ternyata kamu itu juga Budeg dan lemot ya? kan udah ku bilang barusan ada Mama. Masih juga belum paham." Ucap Altez menggerutu.
Altez mencomot omelette yang ada di meja milik Yania dan serta merta menampik tangan Altez. Yania begitu tak tega jika makanannya tersentuh oleh Altez.
"Kenapa sih pelit banget sama suami sendiri?" Altez mencibikkan bibirnya tanda protes yang mulai di layangkannya.
Yania tak perduli dan tetap melanjutkan makannya bahkan sampai mulutnya penuh. Dia sama sekali tidak mengindahkan keberadaan lelaki yang telah menjadi suaminya itu menatap jijik kepadanya.
"Kenapa, jijik ya? mau muntah?" Tanyanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Astaga! tak salah aku menuruti bisikan hatiku untuk menolakmu. ternyata memang begini tabiatmu. Apa tidak pernah di ajari untuk bersopan santun?"
Kesalahan besar jika Altez sudah menyinggung soal sopan santun. Sebab, dia belum sepenuhnya mengenal siapa itu Yania. Mendengar kalimat sindiran yang lebih tepatnya Altez tujukan kepada kedua orang tuanya, Yania meradang.
"Jangan bawa bawa orang tua dalam pertengkaran kita Za." Ucap Yania yang nada suaranya sudah berubah dan terdengar serius.
Altez terbahak bahak melihat reaksi Yania yang sok galak itu. Baginya lucu saja melihat Yania marah seperti itu juga sekaligus menyenangkan baginya. Ingin rasanya Yania menjambak dan kembali membanting suaminya ini, tapi.... tak bisa dilakukannya sebab ada ibu mertua yang telah menunggunya di luar kamar.
"Za.....!" Mama Alda berseru memanggil putranya. Dia sudah lumayan lama menunggu di ruang tamu.
"Ya Ma! sebentar, aku sedang merayu menantumu Ma, dia masih merajuk!" Altez berbicara setengah berseru pada sang Mama.
"Dengar kan? Mama sudah menunggu. Ayo lah! jangan lelet seperti siput begitu." Lagi dan lagi Altez selalu bisa menghina, mengejek, dan mengomentari segala apa yang di lakukan oleh istrinya. Yani menghentakkan kakinya lalu mulai melangkah.
"Kakimu berdarah...!" Ucap Yania ketika melihat kaki Altez yang mengeluarkan darah.
Karena tadi dia melompati pagar dan mendarat dengan kaki yang terluka, jadilah luka itu kembali mengeluarkan darah segar. Yania bukanlah wanita yang tak berperasaan hingga membiarkan seseorang terluka.
"Duduk dulu aku obati lukamu ya," Ucapnya yang tanpa menunggu persetujuan lantas mengambil obat-obatan.
Sambil mengambil obat Yania sedikit berseru di depan pintu. "Sebentar Ma, Yaya masih mau ganti baju." Bohongnya yang kemudian mendapatkan sahutan Iya dari Mama mertua.
__ADS_1
Dengan telaten, Yania mengobati luka di kaki Altez. "Kenapa mau mengobati aku? Sudah mulai jatuh cinta ya?" Ucapnya sangat percaya diri.
"Iya, aku jatuh cinta kepadamu suamiku. Apakah itu salah?" Yania mendongak menatap Altez dengan begitu teduh dan sendu.
Sepersekian detik, Altez di buat membeku olehnya. "Wajib kan bagi istri untuk menyayangi suaminya? Aku pun ingi mencari pahala." Kata Yania yang terdengar begitu manis dan menghangatkan jiwa. Altez tertegun menatapnya.
"Tapi bo'ong!" Sambung Yania yang kemudian berdiri dan meninggalkan Altez.
Yania keluar dari kamar dan langsung menemui ibu mertuanya. Dia bertakzim lalu memeluknya seolah begitu merindukan dan menyayangi sosok paruh baya ini. Altez terdiam di ambang pintu kamar dang mengamati keduanya yang terlihat begitu akrab.
"Ya, bisa buatkan aku kopi dan sarapan? Aku lapar sayang. Maaf soal cangkir kesayanganmu itu, nanti Aku akan menggantinya." Ujar Altez yang mulai berakting di hadapan sang Mama.
Yania merasakan ingin muntah ketika Altez menyebutnya dengan panggilan sayang. Babinya kata kata itu tak ubahnya makanan dengan pemanis buatan yang akan membuatnya terkena penyakit gula di hari tua.
"Iya mas tidak apa apa, aku tidak marah karena cangkir itu pecah, melainkan karena aku khawatir dengan kakimu yang terluka. Mengapa kau begitu ceroboh?"
Kompak lh sudah seperti para pemenang piala oscar, keduanya saling beradu akting terbaik di hadapan sang Mama. Seharian mereka beres beres dan Altez memanfaatkan kakinya yanng terluka untuk duduk manis ungkang kaki dan memerintah Yania untuk apapun kebutuhannya.
Menolak? tidak, tentu tidak. Yania hanya tunduk patuh daan mengalah selama Mama mertuanya berada di sana.
Hingga malam harinya, tibalah waktu makan malam, Mereka berkumpul di ruang makan yang berada di dekat pentry. Kesempatan ini tak di buang begitu saja oleh Altez dia menjadi raja dalam sehari, dan yania adalah pelayannya.
"Terimakasih ya Ma, Mama telah memilihkan istri yang tepat buat Eza." Altez menjilat sang Mama demi kentungan yang ingin di raihnya setelah ini.
"Sudah, jangan banyak bicara Za, segera habiskan makanmu dan tidurlah." Sahut sang Mama yang malas menanggapi sikap anaknya.
"Yaya, malam ini Mama menginap disini ya? Besok Mama ada acara di dekat sini pagi pagi, jadi sekalian berangkat dari sini biar menghemat waktu."
"Iya Ma,"
Tentu Yania akan berkata iya. Mana mungkin dia akan menolak sang mertua?
Saat selesai makan malam, Mama Alda segera menuju ke teras samping menyusul Altez yang tengah menyesap rokoknya. Sementara Yania, Dia sibuk membereskan meja makan.
Altez tengah menghisap tembakau filter miliknya dengan sesekali mengepulkan asapnya ke udara.
Dia begitu menikmati tiap sesapan yang ada. Hingga sang Mama hadir dan duduk di sebelahnya.
"Za, Mama sudah memperingatkanmu berulang kali. Perbaiki sikapmu terhadap wanita Za, jangan seperti Papamu. Sakit Za rasanya di campakkan dan di duakan. Mama dulu di campakkan oleh Almarhum Ayahmu ketika tengah mengandungmu. Dan, Mama tak sangka jika kau akan menuruni sifat jeleknya itu." Ucap Mama Alda yang sudah berurai air mata.
"Sudah lah Ma, jangan bicarakan ini. Aku juga tidak tahu mengapa aku begitu sulit untuk menghentikan semua ini. Eza berjanji Ma, Eza akan berhenti setelah nanti Eza menemukan wanita yang tepat, yang benar benar bisa mengendalikan Eza."
Altez menjawab tanpa keraguan dan tulus yang seketika membuat Mama Alda mengusap punggungnya dengan begitu lembut, seolah sedang berkata Mama pegang janjimu ini anakku. Suatu saat Mama akan menagihnya.
Yania ternyata tengah menguping pembicaraan tersebut di balik dinding dengan menempelkan telinganya di dinding. Saat Altez bangkit, Yania melihat ujung rambutnya dari jendela dapur dan dia segera berlari memasuki kamarnya. Tak etis saja jika dia tertangkap sedang menguping pembicaraan mertua bersama suaminya.
__ADS_1
Yania berlari memasuki kamarnya dan langsung menarik selimutnya hingga menutupi ujung kepalanya. Tak lama setelahnya Altez masuk ke kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Tanpa membuka selimutnya Yania bakan tahu jika Altez sudah berbaring di sebelahnya.
Oh, sial sekali harus melihat mahluk jelek ini sebelum tidur! Batinnya yang kemudian mulai memainkan benda pipihnya.
Masih tergeletak di atas nakas earphone milik Yania dan Altez memakainya tanpa permisi. Tentu ini bukan apa apa bagi orang yang saling mencintai. Tapi bagi mereka berdua?
1jam,
2 jam,
3 jam.
TET!!!!
Kesabaran Yania habis, Pasalnya Altez malah asik bersenda gurau dengan para kekasihnya secara bergantian melalui sambungan telepon.
"Bisa diam tidak?" Yania melotot menatap Altez.
Altez sama sekali tak menghiraukannya. Dia terus saja bercanda ria dengan Nella. Merasa taj di anggap, Yania kemudian mengambil ponsel Altez dan melepaskan earphone nya dengan paksa.
"Jangan ganggu suamiku. Ini waktunya kami beristirahat!!" Yania memekik kesal tapi hanya mendapatkan tawa remeh dari Altez juga Nella yang berada di seberang sana.
"Haahahaha! Suami katamu? Tanyakan apa dia mencintaimu dasar jelek!" Kata Nella sarat akan artian merendahkan kedudukan Yania sebagai istri.
Altez mengulum tawanya kala sayup sayup rungunya menangkap kata kata yang merendahkan istrinya. Dia sangat senang akhirnya ada juga sekutu untuknya.
"OK, Kalau kalian memang benar saling cinta, akan ku uji sekuat mana cinta kalian bertahan. Mulai malam ini Aku sebagai istri sahnya memberikanmu surat terbuka. Kita bersaing dan kita lihat" siapa yang akan tetap bertahan hingga akhir?"
Altez sungguh berbangga hati sekarang dimana para wanita tengah meperebutkannya.
"Jika cintanya padamu kuat maka akan mudah baginya menentukan pilihan untuk membuangmu, atau membuangku?" Kini Yania yang tersenyum sinis sementara Altez tak menyangka istrinya akan begini berani menantang.
"Tanyakan saja pada pacarmu ini yang sedang berada di atas ranjang denganku."
Ternyata ini sikapnya yang asli? dia akan mempertahankan teritorialnya, Tak mengijinkan orang asing atau siapapun mengganggu daerah kekuasaanya dan itu aku.
"Berani sekali kau berkata seperti itu dengan pacarku!' Altez nyaris berteriak dan membuat kegaduhan di malam hari. Bila saja dia tak ingat jika sang Mama sedang berada di kamar tamu sudah pasti perang dunia ketiga akan terjadi saat itu juga.
Altez berbicara dengan tanga kanannya yang sudah mengangkat ke udara.
PLAK!!
Satu tamparan mendarat di pipi Yania. "Sudah ku katakan jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadiku. Aku tidak suka!" Ucap Altez dengan wajahnya yang merah padam. Dia benar benar marah dengan Yania sekarang.
Yania menangis dalam hatinya. Tapi anehnya air matanya enggan untuk menampakkan diri. Seolah kering dan tak memiliki sumber lagi. Terasa getir da perih kala lelaki yang berpredikat suami seharusnya melindungi, justru membuatnya terluka fisik dan hati.
__ADS_1
Entah bagaimana besok Yania harus menyembunyikan lebam membiru itu ketika masuk ke sekolah?