
...🌼🌼🌼...
...Apa yang memperkuat suatu hubungan?...
...jawabannya adalah,...
...Kepercayaan....
Selama dalam perjalanan, Yeri hanya bisa merenungi apa yang sebenarnya menimpanya. Ia yang berniat menyembuhkan luka jiwanya kini malah terseret kedalam arus suatu hubungan yang membuatnya kesulitan untuk mencerna segala yang sedang melingkupinya.
Tanpa Yeri sadari, semenjak ia menikah hingga saat ini. Kepercayaan dirinya sudah kembali. Seperti saat ini, ia berani pergi sendiri dan tidak membawa kacamata hitamnya lagi. Entah kapan itu, yang jelas ia sudah tidak terlalu bergantung kepada orang maupun benda-benda yang menyelamatkannya dari suatu keadaan tertentu.
"Selamat pagi Bu!" Sapa si Udin dengan membungkukkan badannya.
Yeri membalas senyumannya. "Pagi!" Jawabnya terdengar ramah.
"Tumben, biasanya hanya menunduk saja." Gumam si Udin.
Yeri berjalan masuk kedalam ruangannya dan selama ia berjalan menuju ke sana, semua karyawan yang menyapanya seperti biasa dibuat terkejut olehnya. Yeri membalas salam dan tak lagi menundukkan wajahnya. Ia terlihat lebih percaya diri sekarang.
"Bu, maaf di dalam ruangan ibu sudah ada bapak Bisma." Kata salah seorang resepsionis
Biasanya Yeri akan marah jika ada orang lain yang menunggunya di dalam ruangan kerjanya tanpa seijin darinya tapi kali ini ia hanya mengangguk lalu tersenyum.
Ada yang aneh, ibu Yeri terlihat sangat bahagia.. Batin resepsionis yang terheran-heran.
"Yer, selamat pagi!" Bisma menyapa dengan berdiri dan menjabat tangan Yeri yang baru saja datang.
Yeri tersenyum manis. "Pagi." Jawabnya yang membuat Bisma semakin heran.
Ada masalah dalam rumah tangganya seharusnya ia menangis atau paling tidak terlihat bad mood seperti kemarin kan? tapi ini kok...?
"Ada apa, pagi-pagi sudah datang kesini?" Tanya Yeri.
Bisma mendekat lalu menarik kursi yang ada di depan meja kerja Yeri. Mereka duduk berhadapan. "Em... pemeran wanita dalam iklan produk baru kita mengalami kecelakaan kemarin. Aku sudah akan memberitahukan ini padamu tapi, kemarin.." Bisma menggantungkan ucapannya.
Yeri terdiam lalu membuka ponselnya. "Iya, aku juga melihatnya kemarin. Maaf juga kemarin aku sedang banyak masalah."
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Ucap Bisma.
"Lalu bagaimana, kita tidak punya banyak waktu. Jujur saja ini sangat tidak di duga. Pemeran wanita benar-benar tidak bisa kita paksakan. Ia mengalami patah tulang." Kata Bisma memperjelas keadaan.
Yeri mengangguk. "Menurutmu apa aku ini cantik?" Yeri bertanya dengan tiba-tiba.
Iya kamu sangat cantik. "Kamu cantik Yer, kalau tidak mana suamimu mau." Jawab Bisma asal.
"Jangan sebut suami di sini.." Ucap Yeri yang kemudian membuat Bisma bungkam karena salah sebut. "Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan pemeran wanita itu?" Tanyanya meminta pendapat Bisma.
"Bisa, bisa! sangat bisa!" Bisma menjawab dengan penuh semangat.
Masih berbincang, tanpa di duga pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba, menampilkan sosok lelaki yang datang dengan tersengal-sengal.
"Hhhhh...., Yer. Ikut aku sekarang. Ayo ikut aku!" Altez menarik tangan Yeri dengan segera.
"Tunggu kita masih rapat." Bisma mencegahnya dan tatapan kebencian itu kembali hadir.
Yeri tercenung dengan kehadiran Altez yang begitu mendadak. "Ada apa?" Tanyanya.
Yeri mengamati penampilan suaminya yang nampaknya Baru selesai mandi dan dengan rambutnya yang setengah basah ia panik dan menariknya. "Ayo sayang." Ucapnya memohon.
"Bis, kita bicarakan lain kali saja, atau kita tunda saja dulu. Aku sedang ada urusan penting. Kamu bisa mendiskusikannya dengan Joana, itu sama saja." Ucap Yeri yang kemudian ikut mengimbangi langkah kaki Altez yang tergesa-gesa dan tanpa membalut lukanya.
Altez terlihat sangat cemas dan kabut kesedihan mengelilinginya.
"Biar aku saja yang mengemudikan mobilnya." Yeri berbicara dengan tangannya yang dengan cepat merebut kunci mobil yang baru saja di rogoh Altez.
"Iya, ayo cepat kita ke rumah sakit xxxxxxxx." Altez menyebutkan alamat yang akan mereka tuju.
Beberapa detik Yeri terdiam, kata Rumah sakit yang mampir di telinganya membuatnya juga merasakan kecemasan.
"Mama, sakit jantungnya kambuh. Keadaannya kritis Yer." Altez berbicara dengan bibir yang bergetar dan pelupuk matanya yang tak kuasa menahan air matanya.
Buliran bening itu tumpah dan terjun bebas membasahi pipinya. Altez, lelaki yang biasanya selalu menggoda Yeri kini tergumam dalam diam.
"Berdoa saja yang terbaik Za." Yeri berbicara dengan satu tangannya yang mengusap lengan Altez sementara yang lainnya mengemudikan mobil.
__ADS_1
Altez kini sedang terguncang jiwanya. Ia kembali merasakan bagaimana rasa sakit itu kembali hadir saat dahulu Ayahnya pergi meninggalkannya.
"Sabar." Yeri menguatkan dengan sesekali menyertakan ucapan dalam setiap sentuhan.
Altez menatapnya nanar. "Dia ingin bertemu denganmu Yer, bukan denganku. Aku tau selama ini aku hanya selalu membuat masalah dan menyulitkannya. Bahkan aku sampai tidak tahu jika Mamaku sedang berjuang melawan sakitnya."
"Za..." Secuil kata di ujung nama Yeri sebutkan dengan jemari lentiknya yang mengusap lembut pipi sang suami. "Jangan salahkan dirimu, baik buruk tidak akan bisa terjadi tanpa kehendaknya. Jangan Bersedih, apapun itu kita hadapi bersama. Aku akan menemanimu."
Altez hanya bisa menunduk sambil terus berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh lagi. Ia diam, ia bungkam.
Di ruang ICU.
Albian masih berdiri di depan pintu ruang ICU. Ia terus melihat sang Mama yang terbaring lemah tak berdaya dengan seabrek alat kesehatan yang menempel untuk menunjang hidupnya.
Altez berlari dengan kaki yang kembali mengeluarkan darah, ia sampai tak merasakan sakit di kakinya. Di kepalanya kini hanya di penuhi dengan keadaan snag Mama.
"Kenapa kamu kesini hah?" Albi langsung mendekatinya dan mencengkeram kerah baju kakaknya. Ia berbicara dengan suara yang tertahan dan rahang yang mengetat. "Kamu yang menyebabkan Mama jadi seperti ini!"
Albian benar-benar emosi. Pasalnya Mama Alda koleps setelah melihat berita yang beredar tentang kehamilan Nella. Skandal itu sukses membuat aliran darah di tubuh Mama Alda berhenti beberapa saat dan ia jatuh tersungkur tepat dihadapan Albian.
"Albi, Kakak hanya ingin melihat Mama. Kakak tidak melakukan apa yang ada di berita itu." Altez menjelaskan tentang kejadian yang menimpanya.
Sementara kakak adik itu sedang beradu argumentasi, Yeri baru saja sampai di ruang ICU.
"Dasar pembuat maslah! kenapa harus Mama yang disana? Kenapa tidak kamu saja dan segera pergi menyusul Papa! Kelakuan kalian sama saja, selalu membuat kami terluka!!" Albi berbicara tanpa berteriak, tapi ia sungguh memancarkan afeksi yang menghujam.
Altez mematung dengan air mata yang kembali tumpah. "Maaf kan Kakak Albi, Maafkan." Altez berlutut di hadapan Albian.
"Za..." Yeri mendekat dan membantu Altez untuk bangun, tapi Altez bergeming.
"Albi, ayolah dek, jangan seperti ini. Kalian bersaudara, Mama juga tidak akan suka jika melihat kalian bertengkar seperti ini." Yeri kembali berdiri dan memeluk Albian yang masih menahan amarahnya dengan rahangnya yang mengetat jelas. Kedua tangannya mengepal dengan buku-buku tangan yang memutih.
Albian menangis di pelukan Yeri. "Aku membencinya! dia selalu membuat masalah dan membuat Mama lelah. Aku muak dengan tingkahnya! kenapa tidak dia yang terbaring di sana?" Albi meluapkan kekesalannya dan berbicara di perpotongan leher Yeri.
"Husstt.... jangan berbicara yang tidak-tidak sayang. Sudahlah, tenangkan dulu hati dan pikiranmu. Kita berdoa untuk kesembuhan Mama. Kamu adik yang baik, jika dia begitu brengsek, maka kamu yang harus selalu ada untuk menjaga Mama." Yeri menguatkan dengan tangannya yang perlahan mengusap kepala Albian yang bertumpu di lehernya.
Sementara itu, Altez masih berlutut sambil menangis menatap lantai keramik rumah sakit.
__ADS_1