
...------**------...
...Rasa sakit yang akan mengajarkanmu untuk bersikap dewasa. Rasa senang akan mengajarkanmu bahwa hal kecil pun bisa begitu bermakna....
...Mimi lita....
...------**------...
Salah satu sin dalam bab ini.
Tungguin ya....😘.
Masih dalam hening dan sepi. Setelah perkelahian antara kakak beradik itu, Altez mengalah, ia memutuskan menyingkir dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya.
Selama dalam perjalanan dan kembali ke kediaman, Altez hanya diam. Dan sekarang ia tengah terduduk di lantai dengan wajah yang sedari tadi menunduk menatap lantai yang dingin.
Baju yang lusuh dan kaki yang berdarah, juga dengan wajahnya yang babak belur setelah perkelahiannya dengan Albian.
...flashback on....
"Ikut aku!" Albian menyeret kerah baju Altez yang masih berlutut di lantai.
"Albi, jangan seperti ini!" Yeri berseru memohon agar perkelahian tidak sampai terjadi.
Tapi...., apa dayanya? Dia hanyalah wanita yang tengah lemah karena keadaan yang membelitnya. Sedangkan dua kakak beradik ini mereka sudah terbakar emosi. Si adik yang terus menyalahkan kakak yang menjadi penyebab akan tumbangnya sang Mama.
"Biar kami selesaikan masalah kami Kak, sudah lama aku memendam rasa ini. Aku sudah muak dengan tingkahnya!" Albi menepis tangan Yeri yang yang menghalanginya dengan kasar sampai Yeri mundur beberapa langkah.
"Jangan kasar pada istriku!" Altez berteriak. "Apa maumu? ayo! kalau mau beradu!" Ujarnya dengan nafas yang memburu dan suara yang meninggi.
Altez bangkit dan berjalan dengan langkah lebarnya.
"Za, jangan berkelahi za. Aku mohon!" Yeri menahan keduanya dengan meraih tangan Altez dan berusaha untuk menghentikannya.
"Jangan hentikan aku. Biarkan dia puas dengan caranya sekalipun aku mati." Kata Altez yang terdengar cukup menyayat hati.
Bagaimana bisa kakak beradik saling menyalahkan dan berniat adu jotos begini? Di sini, bukan sang kakak yang membimbing adiknya, tapi adik yang sudah merasa muak dengan segala tingkah kakaknya.
Yeri menangis, untuk pertama kalinya ia menangisi seorang Altez saat keadaan buruk menimpanya. Bukankah jika dendam itu ada, seharusnya saat ini ia tertawa merasakannya?
__ADS_1
"Altez! Albi!" Yeri memanggil keduanya tapi sia-sia.
Pertengkaran itu terjadi. Albian terus saja menghajar Altez kakaknya tanpa ampun meskipun sama sekali Altez tidak mau membalasnya. Altez hanya diam dan mengikuti kemana arah tangan sang adik menghadiahinya dengan bogeman mentah bertubi-tubi.
"Argh...! kenapa kamu tidak membalas huh? Kenapa!!" Albi sangat marah, ia berteriak di depan Altez yang sudah meringkuk menahan sakitnya.
Yeri berlari sambil menangis dan melerai keduanya. "Albi! sudah dek..., sudah."
"Kamu kakak yang tidak berguna! Aku membencimu! kamu selalu membuat Mama dalam kesulitan!" Albi berteriak dengan kembali mencengkeram kerah baju kakaknya.
Yeri hanya menggeleng sambil menangis melihat kejadian ini. Dia yang anak semata wayang tidak pernah tau jika perkelahian sedarah itu lebih mengerikan.
"Apa kamu sudah puas? sudah puas kamu!" Altez berseru "Ayo pukul aku! pukul aku lagi!!" Altez menantangnya dengan afeksi yang terpancar dari sorot matanya.
"Sudah! hentikan!"
PLAK!
PLAK!
Yeri yang marah kemudian menampar keduanya lalu menatap tajam secara bergantian.
Yeri pergi sebentar dan kembali membawa dua botol bekas miras.
PYAR!
Ia memecahkan kedua botol itu, lalu yang tersisa hanyalah sisi runcing dari tiap botolnya.
"Ayo, selesaikan! biar aku yang jadi promotor kalian." Yeri menggenggamkan mereka masing-masing satu botol dengan sisi lancip yang bisa digunakan untuk menusuk dan menyebabkan kematian.
"Ayo! tunggu apalagi?" Yeri membentak keduanya. "Kenapa masih takut mati? tidak akan, kalian masih bisa cepat tertolong, rumah sakit begitu dekat." Yeri berbicara seolah kematian adalah hal yang sangat remeh baginya.
Albian melemparkan botol runcing tadi ke semak-semak. Begitupun dengan Altez yang membuangnya ke kotak sampah dan keduanya pergi secara terpisah tanpa banyak beradu kata lagi.
...flashback off....
Rambut yang kotor, sudut bibir, dan kaki yang berdarah membuat Altez terlihat mengenaskan. Ia hanya bisa tertunduk menikmati nasibnya.
Yeri mendekat dengan membawa baskom berisi air dingin dan juga kotak P3K untuk mengobati luka suaminya.
"Sini aku obati!" Yeri memegang dagu Altez untuk melhat lukanya. "Bibirmu berdarah Za." Yeri berucap dengan tangan yang terus bergerak merapikan rambut Altez. Membersihkan rumput yang bertengger di sana sisa perkelahian tadi.
__ADS_1
Yeri mengobatinya dengan telaten, sementara itu, Altez hanya diam. Yeri menatapnya nanar lalu beralih pada baju Altez yang kusut, Yeri menepuk-nepuknya untuk menghilangkan kotoran yang menempel.
Yeri terkejut dan memundurkan tubuhnya tapi, Altez menahannya. "Sebentar saja, kasihani aku." Altez berucap lirih dengan menumpukan keningnya di dada Yeri.
"Apa aku begitu tidak berguna berada di dunia ini? Apa benar yang adikku katakan tadi? Jawab Yeri!" Altez menodongnya dengan keputusasaan yang tengah menenggelamkannya dalam lautan kesedihan.
Yeri menepuk bagian belakang Altez lalu mengusapnya perlahan, jarinya bergerak tenang seolah menari dan menularkan rasa nyaman. "Tidak, jangan bicara seperti itu. Dia hanya sedang kesal saja. Dia seperti itu karena menyayangimu Za. Dia sayang sama kakaknya yang bandel ini."
Yeri kemudian menggunakan satu tangannya lagi untuk menepuk-nepuk punggung Altez seolah Altez adalah anak kecil. "Tidak melulu rasa sayang ditunjukkan dengan kehangatan. Dia marah denganmu karena berharap kakaknya lebih baik darinya, bisa membimbingnya, dan mengayomi keluarganya."
Altez semakin terisak dalam dekapan hangat sang istri. Beberapa lama waktu berlalu, hampir setengah jam Altez menangis di posisi seperti itu. Hingga Yeri berkata sesuatu.
"Sudah belum menangisnya? kakiku kram." Ucapnya jujur.
Altez menarik jarak sepanjang tangannya, lalu melepaskan Yeri. Ia mengusap sendiri air matanya.
"Su..." Keduanya bertanya bersamaan.
"Kamu duluan." Kata Yeri.
"Kamu dulu saja." Kata Altez.
Yeri tersenyum. "Sudah lebih baik?" Keduanya bertanya hal yang sama secara bersamaan.
Mereka tertawa kecil bersama. "Sudah lebih baik eoh?" Tangan Yeri tanpa sadar mengusap pipi Altez.
Bagaimanapun dulu kejadian pembullyan itu terjadi, hati Yeri tetaplah tak bisa berbohong. Hati yang lembut itu tetap mengasihani keadaan seseorang yang sedang terpuruk meskipun itu orang yang ia benci.
"Mau makan? kamu pasti belum makan." Kata Yeri mengalihkan topik pembicaraan agar suasana tidak menjadi canggung.
Altez menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya ingin tidur." Ucapnya.
"Tidur? dengan perut kosong?" Yeri bertanya dengan lembutnya. "Tidak, makan dulu, sedikit saja ya?" Ia membujuk Altez dengan suara lembutnya.
"Boleh aku memelukmu lagi?" Altez bertanya penuh pengharapan setelah mendapatkan perlakuan lembut dari sang istri.
Bagaimanapun juga, dilihat dari sisi mana, aku tetaplah istrimu saat ini. Aku..., bukan manusia jahat yang tega menghabisi musuh yang tak berdaya. Jadilah kuat, setidaknya agar kamu bisa membalas perlakuanku. Batin Yeri saat memeluk Altez.
Aku, bisa merasakan kebaikan dan ketulusanmu meskipun, selama ini kamu selalu menutupinya dengan kebencian dan sikap acuhmu padaku. Terimakasih istriku telah menguatkanku disaat aku lemah. Batin Altez sendu.
__ADS_1