
...π»π»π»...
Entah mengapa aku begitu tak memperdulikan suamiku sendiri. Terserah, dia mau pulang atau tak pernah kembali selamanya. Aku sangat membencinya terlebih setelah kejadian di Mall waktu itu. Dia yang enak enakan dengan wanita, aku yang kena semprot pacarnya yang satunya.
Apa benar kata Wiwin, aku harus kembali menjadi Yeri? Tapi...., jika itu ku lakukan di hadapannya, aku sudah bisa menebak apa akhirnya.
Ah! entahlah aku harus apa. Dan sialnya sekarang mobilku mogok di jalan. Sudah hampir satu jam aku menunggu montir untuk datang. Tapi belum juga datang, aku hanya bisa pasrah berjemur diri di terik matahari di pinggir jalan.
Jalanan begitu ramai, tapi aku tak bisa meninggalkan mobilku sebelum montir datang. Daerah disini juga terkenal rawan. Saat masih menunggu, seseorang yang begitu akrab denganku datang menghampiriku.
Dia Pak Reza, guru olahraga di sekolah tempatku mengajar. Kulihat dia memakai helm bawaan motor dia sosok lelaki yang sederhana dan rendah hati. Dia juga murah senyum. Tapi jangan remehkan sikapnya yang lemah lembut. Dia juga mengajar pencak silat dimana ilmu kebal sudah menjadi keharusan.
Beling dan bara api pun bisa di genggamnya tanpa menyisakan luka.
"Bu, Yaya?" Tanyanya padaku sambil mendekat lalu menyetandarkan motornya.
"Eh, Pak Reza?" Sahutku sembari membenarkan kaca mataku. "Bapak...?" Tanyaku yang belum selesai dan dia sudah mengerti akan maksudku.
Satu lagi, dia memiliki ilmu kebatinan. Aku sebenarnya paling malu jika harus ngobrol berdua begini dengannya. Kan tidak lucu jika aku membatin dan dia tahu.
"Iya, saya sendiri Bu. Sedang mau beli pulsa di konter sana." Dia menunjuk salah satu konter HP yang memang tak jauh dari mobilku mogok.
"Oh..." Sungkan dan takut ketahuan, itulah aku yang selalu menjaga lisan di saat berbincang dengannya.
"Jangan kaku begitu Bu, biasa saja. Wong kita setiap hari juga bertemu kan?"
Tuh kan dia selalu tahu kalau aku membatin tentang dirinya... hemh, susah nih kalau ketemunya orang yang begini. Tidak asik...
"Ah, iya Pak. Tapi kan saya... em.... jujur nih Pak, tidak enak kan Bapak bisa melihat, maksud saya menerawang saya." Kataku yang sedikit malu-malu.
Pak Reza lalu melihatku sekilas dan menunduk kemudian. Wah, perasaanku sangat tidak enak nih, aku takut jika dia menerawang ku jauh ke masa depan dan masa lalu.
"Ibu, punya dendam ke siapa?" Ucapnya begitu saja.
DEGH!!
What the hell? Tuh kan ga enak nih. Dia pasti tau. Apa sekalian saja aku bertanya semuanya ya? Ah, tapi malu... sumpah.
"Tanya saja jika ada yang mengganjal dan ingin ditanyakan, saya akan menjawab seperlunya meskipun saya bisa melihat semuanya."
Aku ragu sih, tapi mau... ah gimana ini? Ah tanya saja lah, kapan lagi ada kesempatan begini. Daripada harus bayar ke orang pinter ya kan? Mayan bisa buat beli bakso.
"Jodoh?" Tanyaku dengan penuh kecemasan. Bagaimanapun juga aku ini wanita normal, aku ingin memiliki jodoh yang baik dunia akhirat, bukan seperti Altez yang playboy.
Pak Reza menunduk dan memejamkan mata sesaat. "Anda ini akan menikah 2 kali, dan yang kedua itu yang lebih baik segalanya dari yang pertama."
Wah, apa ini?
mendengar dia berbicara begini, membuatku ingin cepat-cepat cerai dari Altez dan memburu jodohku selanjutnya. Berpikiran seperti ini, dosa tidak ya?
"Ya dosa lah Bu. Ibu sudah bersuami tapi cita-cita kok cerai biar bisa menikah lagi." Pak Reza menyela ditengah lamunanku lalu tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya.
Aku mati gaya dan tak bisa berkata-kata. Tanpa bicara pun dia tahu semuanya.
"Bu, jangan mendendam. Sesungguhnya dendam itu hanya akan merugikan diri sendiri. Dendam itu menggerogoti jiwa suci kita segera perlahan." Tukasnya sambil memeriksa mobilku.
__ADS_1
JLEB!!
π° matilah aku, semua kartuku dia tahu. Kamera mana kamera? ini ku lambaikan tangan dan ku kibarkan bendera merah, eh salah putih.
"Ah, iya Pak. Tapi saya..."
"Iya, saya tahu Bu. Maslah ini rumit karena ibu menikah dengan musuh ibu kan? Hadapi, hadapi saja seperti apa yang ibu pikirkan. Percaya, baik dan buruk tak akan bisa terjadi tanpa ridho ilahi."
Ah, kata katanya sungguh adem seperti AC di dalam ruangan ATM. Mak nyesss!
"I... iya pak." Jawabku yang tak tau harus bilang apa lagi.
"Bu, ini terakhir ganti oli kapan? pantas saja mogok orang olinya saja hampir kering." Ucapnya setelah memeriksa mesin mobilku.
"Hehehe, begitu ya pak? Saya jarang servis sih belum sempet." Jawabku yang meringis malu.
Tak lama montir datang dan membawa aku juga mobilku ke bengkel dan aku berpisah dengan pak Reza.
...Malam harinya....
Aku baru saja menginjakkan kakiku di rumah, seperti biasa, tak ada yang berubah semuanya masih rapi dan berada pada tempatnya.
Aku duduk di kursi yang ada di dapur, lalu membuka kulkas. Sesaat menikmati hawa dingin dari tempat penyimpanan makanan itu membuat otakku ikut segar.
"Heh! pulang malem!" Ujar seseorang yang berdiri di sampingku entah kapan datangnya dan itu sukses membuatku terlonjak kaget dan membenturkan kepalaku dengan dagunya.
"Auh... sakit!" Ucapnya mengaduh kesakitan sambil memegangi bibirnya yang berdarah karena tergigit akibat kejadian tadi.
"Kamu sih mas, ngagetin. Tiba-tiba aja muncul di belakangku kan jadi begini deh." Ucapku dengan tutur kata yang ku buat selembut mungkin agar dia tak melotot dan meninggikan suaranya.
Dia terdiam, dan entah ekspresi apa itu aku tak bisa mengartikannya. Dia hanya diam dan kemudian menatapku sendu. "Ternyata kamu lebih terlihat manis jika berbicara dengan lembut begini." Ujarnya.
"Tapi kalau udah marah-marah itu, woah...! seperti nenek sihir." Imbuhnya lagi yang sebenarnya membuatku ingin membantingnya lagi.
Dia memang begini, selalu ceplas-ceplos terhadapku. Aku heran saja, mengapa ada saja wanita yang mau sama dia. Apa yang mereka lihat dari Altezza Basman ini?
Tidurnya? Oh, Jangan tertipu dengan wajahnya yang tampan. Jika kalian tahu mesin penggiling padi, nah itulah dengkurannya saat tertidur.
Dan kebiasaan buruknya yang selalu membuatku bangun pagi dan ingin menendang bokongnya adalah, dia selalu buang angin di jam 4 pagi. Aku menyaksikan hal itu semua saat mertuaku menginap disini.
Lalu apanya yang indah dari dia? mulutnya yang suka asal berbicara? Ah entahlah, tapi para gadis itu sangat menggilai suamiku.
Suamiku? iya dia suamiku, tapi aku sama sekali tak.... Ah, Entah aku hanya tidak suka saja jika tak di hargai olehnya dan di remehkan oleh Nella.
"Apasih Mas, maaf... aku minta maaf ya. Duduklah biar ku obati lukamu. Apa sakit?" Aku mulai mengambil plester dan kuberikan padanya.
"Apa? katanya mau mengobati?" Tanyanya dengan nada yang mulai memicu peperangan ditambah dengan matanya yang mulai menyorot tajam.
"Katanya, tidak boleh saling mencampuri urusan satu sama lain? itu termasuk menyentuh dan membantu bukan sih?" Kataku yang sengaja menyindir pasal surat perjanjian kami.
Dia melenggang pergi dan kupikir dia marah. Terserah, aku tidak peduli. Ku lanjutkan lagi membuka kulkas dan menikmati udara dinginnya.
"Ini!" Suara baritonnya mengagetkanku. Dia berbicara tiba-tiba dan menepuk pundak ku membuatku terperanjat dan kemudian. Lagi-lagi kepalaku terantuk dengan dagunya.
"Aduh!!" Dia mengerang kesakitan kali ini lidahnya yang tergigit.
__ADS_1
Aku panik, sumpah. Kali ini lumayan banyak darah yang keluar dari mulutnya.
"Wa....! darah....?" Aku memekik sejadi-jadinya dan spontan menyentuhnya lalu mengajaknya ke wastafel untuk berkumur.
"Coba A...." Kataku yang ingin melihat luka di mulutnya.
Dan benar saja, lidahnya tergigit untungnya tidak seperti yang ku bayangkan.
"Bisa tidak sih, sekali saja tidak membuatku celaka? Aku merasa selalu sial jika di dekatmu." Celetuknya tanpa filter.
Sukses, ucapanya sukses membuatku terluka. Aku pembawa sia*l.
"Maaf, aku kan tidak sengaja." Ucapku lirih dan menunduk lesu.
Dia kemudian duduk di kursi ruang makan dan aku memberikannya segelas air sebagai penebus kesalahanku. Selama hampir satu bulan menjadi istrinya, tak pernah sekalipun aku melayaninya terkecuali saat ada Mama. Dan itupun, penuh dengan rekayasa.
"Ini, surat perjanjian itu." Dia menjinjing surat perjanjian kami.
Aku melihatnya dengan seksama, memperhatikannya tanpa ada satu jeda.
KREK...!
Dia merobek kertas perjanjian kami. Apa aku mimpi? apa ini merupakan bagian dari strategi marketing? oh tidak maksudku strategi perang?
"Kenapa disobek?" Tanyaku yang tidak mengerti apa maksud dari penyobekan kertas itu.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi perjanjian." Ucapnya.
Seharusnya aku senang, tapi mengapa aku sedih? kata pak Reza, jodohku yang kedua akan lebih baik segalanya dari yang pertama? Dan kalau dia merobek kertas ini, itu artinya kita tidak akan segera bercerai dong?
"Kita jalani rumah tangga ini selayaknya rumah tangga pada umumnya." Ucapnya dengan senyumnya yang mengembang.
Sumpah, aku merasa ada yang tidak beres dari tindakannya ini. Tapi apa?
...~~~ ...
Meskipun tadi kami sudah membicarakan soal penghapusan perjanjian, tapi kami masih tidur di kamar yang terpisah. Aku tidak mau lengah dan menyebabkan kerugian pada diriku sendiri. Lelah beraktivitas membuatku cepat terlelap.
...Pagi harinya....
Hari ini, sesuai dari anjuran pemerintah, kelas hanya dilaksanakan melalui sambungan internet via online. Aku masih dengan warna kulit palsuku yaitu sawo matang yang hampir busuk, tengah sibuk membacakan beberapa tugas siswa dan siswi. Mereka begitu riuh.
Ada yang masih mengenakan piyama, ada sembari menyuapi makanan pada adiknya, ada yang tengah membantu mengupas bawang ibunya. Kegiatan seperti ini aku suka.
Mengapa aku sangat suka menjadi guru? Karena guru adalah profesi yang paling di hargai di seluruh penjuru dunia. Tak perduli bagaimana rupanya, guru tetaplah guru yang harus di hormati.
Dan, saat menjadi guru, aku bisa memberikan edukasi tentang buruknya perilaku bullying. Aku ingin menghapuskan bullying dari muka bumi ini. Jika bisaπ.
Saat aku tengah asyik mendengarkan mereka membacakan puisi, seseorang dengan penampilan berantakan duduk tepat di depanku dan tersenyum manis. Dia menatapku seolah tatapan itu begitu tulus dan lembut.
"Minta ya?" Tanyanya dengan menjinjing cangkir kopi ku.
Aku menatapnya heran, perubahan ini terlalu drastis. "Itu pahit." Jawabku jujur.
"Tidak apa-apa, aku akan belajar menyukai sesuatu yang istriku suka." Ucapnya begitu lembut.
__ADS_1
Astaga...! dia terjangkit virus apa? apa varian baru lagi, yang membuat orang yang terjangkit menjadi hilang akal begini?