PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
31.


__ADS_3

...~•~ ...



...~•~ ...


Duduklah dua orang paruh baya yang tengah menikmati teh hangat dengan menonton siaran TV.


"Ih, lucunya." Buna Yusmi mengomentari iklan TV yang menayangkan anak bayi sebagai bintang iklannya.


Ayah Ardi hanya melirik dan pura-pura tidak mendengarnya. Dia tau apa yang selanjutnya akan meluncur dari bibir istrinya.


"Yah~~~, kira kira Yaya sudah isi belum ya?" Tanyanya pada sang suami yang berlagak fokus melihat siaran.


Ayah Ardi hanya menoleh sebentar lalu mengusap punggung sang istri dan kembali fokus pada TV. "Entahlah Buna, jangan terlalu diburu-buru, santai saja. Mereka menikah bukan berternak anak."


"Ih, Ayah. Buna kan juga mau cepat punya cucu. Buna mau punya cucu yang banyak Ayah." Ucapnya sebagai pengharapan.


Ayah Ardi menghela nafasnya. Ia tahu mengapa sang istri begitu mendambakan memiliki banyak cucu. Itu karena dulu mereka kesusahan untuk memiliki anak. Bahkan Yania pun, mereka dapatkan dengan banyak perjuangan.


"Sabar saja Buna." Ayah Ardi meredakan kemauan sang istri.


"Em... Ayah, bagaimana kalau kita berkunjung kesana?" Buna Yusmi sungguh memancarkan hawa kegembiraan. Dia berbicara seolah ada lampu yang menyala diatas kepalanya.


Ayah Ardi memberikan atensinya. "Kesana? menginap begitu?"


"Iya." Buna Yusmi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mereka.


Mau apa lagi dia itu? Ada ada saja kemauannya. Mau menginap disana, Ayah masih merasakan penghianatan dari Yeri kemarin, bisa bisanya dia bilang walau bagaimanapun Altez adalah suaminya. Apa jangan-jangan anak itu mulai mencintai si buaya buntung itu? Ah .., ini sama sekali tidak bisa di biarkan.


"Ayo! Buna sudah siap!" Kata Buna Yusmi berseri-seri.


Ayah Ardi terkejut, istrinya tampil dengan baju tidur dan segala perlengkapannya juga dengan rol rambut yang sudah siap menempel di kepala. "Buna, jangan pakai rol rambut segala. Kita tidak sedang ingin menghadiri pesta kostum."


"Ah, tidak apa-apa. Besok pagi-pagi sekali kita pulang sekalian jalan-jalan pagi berdua. Sudah lama kan Yah kita tidak pernah jalan-jalan pagi."


"Ah, iya. Aslakan Buna senang." Pasrah Ayah Ardi yang hanya menuruti kemauan sang istri.


Sementara itu di tempat lain.


"Yer, ini sudah kuperbaiki, kamu jangan marah lagi." Kata Altez yang menunggu sang istri keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Mana?" Ketus Yeri yang berbicara lalu merebut dengan kasar spatula yang tadi di penyokkan ujungnya oleh Altez.


Yania memicingkan matanya seolah sedang mewanti-wanti. "Awas kamu Za kalau berani pakai ini lagi."


"Iya... iya... Maaf." Ucap Altez pasrah.


"Bagaimana tadi meetingnya?" Altez bertanya sembari mengekor di belakang Yeri yang berjalan dan berhenti di ruang tamu.


"Kenapa tanya tanya? rusuh semuanya gara gara kamu. Apa apaan tadi pakai acara nabrak mobil segala?"


"Ya abisnya kamu pakai mobil pria lain. Kan ada aku suamimu, kenapa juga harus dijemput pria lain? Aku bisa mengantarmu Yeri."


Dia berbicara seperti ini seolah-olah aku ini sangat berharga baginya. Ah... tapi tidak, dia ini tidak bisa dipercaya soal wanita. Baru beberapa hari, dia pasti hanya sedang mencari lubang baru. No..! tidak akan aku termakan gombalanmu itu Za.


"Tapi ini urusan kerja Za, bukan pergi main.." Yeri kembali mengutarakan apa yang sebenarnya tengah ia lakukan tadi.


Altez duduk di sofa dan menarik pergelangan tangan Yeri. "Duduklah!"


Yeri mendengus dan pasrah, ia terduduk tanpa memberikan perlawanan. " Ada apa?"


"Buka telingamu." Altez menyelipkan anak rambut Yeri dan mengusap lembut pucuk kepala Yeri seolah dia sangat mengasihi Yeri.


"Dengarkan aku. Aku ini suamimu. Aku tidak suka melihat istriku diantar jemput oleh pria lain. kamu dengar?"


"Dengar. Tapikan Za..., em..... tidak usah seperti ini aku tahu kamu hanya berpura-pura baik padaku. Jika saja aku dengan rupaku yang jelek, mana mau kamu bersikap baik seperti ini?"


DEGH!


Apa iya, aku mau bersikap baik hanya karena rupa? Tapi tidak... aku juga sudah lama mencari kamu Yeri. Aku sudah lama ingin meminta maaf atas kebodohanku dimasa lalu. Tapi..., jujur saja sebagai lelaki aku mengagumi kecantikanmu.


Altez hanya diam. Dia masih meraba sendiri perasaannya.


"Aku tahu, kamu mau bersikap baik seperti ini hanya karena fisikku saja tidak lebih. Tidak ada ketulusan hati didalamnya. Maka dari itu, mulai saat ini, berhentilah mengurusi urusan masing-masing. Tetaplah seperti awal saat kita baru menikah." Yeri memalingkan wajahnya seolah ada beban berat yang mencuat saat dia berbicara.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. 5 menit saja biarkan seperti ini." Altez memeluk Yeri dari belakang dan menempatkan bibirnya di leher Yeri yang terekspos karena ia mengikat asal rambutnya.


"Apa tidak ada kesempatan bagiku? Apa benar kita tetap akan bercerai setelah ini?"


Cerai? mengapa mendengar kata itu muncul perasaan aneh pada diriku. Terasa pahit dan getir, apa aku...


"Entahlah, aku tidak bisa mendahului takdir. Tapi jangan pernah paksa aku untuk bisa percaya denganmu. Mataku dan telingaku sudah sering melihat dan mendengar berbagai macam kasus mu dengan wanita. Jika kamu jadi aku, apa bisa rasa percaya itu ada?"

__ADS_1


Yeri membalikkan keadaan dan membuat Altez terdiam menerawang.


Tidak ada yang salah dari ucapannya. Sebegini susahnya kah meluluhkan hati istri?


Yeri, aku tidak tau sejak kapan aku mulai menyukaimu. Tapi, melihatmu seperti tadi, bersama lelaki lain walaupun itu tidak terbukti, sudah sangat melukaiku. Ku harap suatu saat nanti pintu hatimu akan terbuka untukku.


Tok...!


Tok....!


"Asalamulikum!" Seru seseorang dengan penuh semangat di balik pintu.


Yeri dan Altez saling tatap. "Apa kamu mengundang seseorang?" Tanya Yeri.


"Tidak!" Altez menggeleng.


"Tapi suaranya seperti...., Buna?" Ucap Yeri yang kemudian berlari menuju ke pintu utama dan membukakan pintu.


"Buna!" Seru Yeri yang kemudian memeluk senang sang Ibu. "Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" Tanyanya.


"Ayah." Yeri langsung memeluk dan mencium pipi sang Ayah.


"Buna mu malam malam mengajak menginap disini. Apa boleh?"


Yeri dan Altez saling tatap hingga Altez segera bertakzim pada kedua mertuanya.


"Apa kabar Ayah, Buna?" Altez berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Beruntung saja Dia, saat ini luka bekas bogem mentah dari suami Vivi yang ada di wajahnya sudah menghilang.


"Baik." Jawab Ayah Ardi sekedarnya. Jika saja bukan karena paksaan sang istri, Dia sudah pasti tidak akan mau harus bersalaman dengan menantunya.


"Al, gimana lukanya? udah baikan?" Tanya Buna Yusmi yang kemudian mendekati satu satunya menantu dalam keluarganya.


"Su...sudah Buna." Jawab Altez yang tergugup kare merasa di perhatikan.


"Syukurlah, besok besok lagi jangan di ulang ya? Kamu ini sudah memiliki istri dan tanggung jawab. Buna tidak masalah seperti apa kisah cinta kamu saat bujang. Tapi..m, semuanya harus berubah ketika kamu telah menikah. Kamu paham kan apa maksud Buna?" Buna Yusmi berbicara dengan lembut sembari berjalan menuntun menantunya untuk duduk di sofa.


"Paham Buna. Terimakasih Buna sudah mau memaafkan Altez. Al janji Buna, tidak akan menyakiti atau mengulanginya lagi." Ucapnya dengan tulus.


"Benar? kamu janji sama Buna? yang kemarin itu yang terakhir?" Buna Yusmi menunggu jawaban dari menantunya.


Halah, janji apa. Paling paling satu bulan lagi juga sudah buat onar. Sudah bikin malu lagi. Batin Ayah Ardi yang hanya diam tanpa berkomentar.

__ADS_1


__ADS_2