PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
92. Kedatangan Silvi


__ADS_3

"Sudah, jangan marah-marah terus Za," ucap Yeri dengan lembutnya. Tak lupa tangannya juga bergerak mengusap lengan Altez yang masih tegang lantaran tengah mengemudi.


Altez mendengus kesal dan melonggarkan dasinya. "Bagaimana bisa tidak marah Yer, aku adalah suamimu. Dan dia adalah mantan orang pernah mencintaimu dan hampir merebutmu dariku. Aku masih sangat itu semua bagaimana dia mengatakan isi hatinya, bagaimana dia berkata jika istriku adalah wanita idamannya."


"Za, itu semua sudah berlalu. Anggap saja itu juga merupakan suatu bentuk balasan dari sikapmu yang terdahulu."


"Sikapku? Sikap yang bagaimana?" tanya Altez dengan nada bicara yang terdengar menekankan seluruh katanya.


Yeri tertawa terbahak-bahak. Lucu saja baginya melihat bagaimana Altez marah dan lupa akan sikap brengseknya yang dulu. Mungkin bagi Altez, sikapnya yang dahulu bukanlah sikap seorang pria brengsek, melainkan hanya sekedar sikap normal dimana lelaki menyeleksi calon betinanya.


"Sudahlah lupakan aku rasa kamu tahu yang sebenarnya. Sayang, lihatlah Papamu ini. Jangan kamu tiru ya?" kata Yeri degan tatapan lembut mengarah pada perut buncitnya.


Altez menginjak rem tepat di lampu merah. Ia kemudian menarik perlahan lengan sang istri lalu mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Sebuah kecupan yang mengisyaratkan cintanya yang mendalam. Altez tersenyum setelahnya lalu mengusap dengan sayang rambut panjang sang istri.


"Kamu selalu bisa membuatku mati kutu sayang," tutur Altez kemudian sembari tersenyum manis.


Rumah tangga mereka kini sedang berada pada masa terbaiknya. Altez yang memutuskan untuk memusatkan hidup dan dunianya untuk keluarga kecilnya dan Yeri yang perlahan menerima dengan lapang dada serta memaafkan kesalahan sang suami.


"Hari ini jadwal konsultasi dengan Silvi 'kan?"


"Iya, dia akan datang dua jam lagi." Yeri melihat penanda waktu yang menempel di pergelangan tangannya.


"Hem, aku juga mengundang Albi untuk membicarakan beberapa urusan perusahaan." Altez kembali memusatkan fokusnya ke jalanan.


"Sayang, kenapa kau tidak mau menerima pelimpahan perusahaanku?" tanya Altez dengan sesekali melirik.


"Hhhhh!" Yeri mendesah. "Entahlah, aku seperti kehilangan minat pada hartamu. Padahal awal kita menikah aku memang memiliki pemikiran licik itu. Aku ingin menguasai semua milikmu dan membuatmu jatuh miskin lalu menderita."


"Wah, iyakah?" Altez melongo tak percaya. Bahkan rahangnya sampai terbuka dan menganga.

__ADS_1


"Em!" Yeri mengangguk yakin. "Iya, tapi semkin ke sini, aku semakin tidak tertarik pada harta bendamu. Aku hanya tertarik pada anakku. Jadi aku memutuskan untuk fokus padanya dan bila sesuatu terjadi ke depannya, kau tidak akan memiliki hak untuk mengungkit apapun sebab aku membiayainya seorang diri."


"Kau sampai berpikir sejauh itu" Altez berdecak tak percaya.


'Baiklah, aku rasa kau memang harus lebih banyak bertemu dengan Silvi. Aku rasa masih ada sesuatu yang lain yang belum selesai dalam dirimu,' batin Altez memikirkan sesuatu.


***


Sore hari di kediaman Altez. Yeri tengah memasak dan Altez tengah berbincang dengan Albi. Keduanya tengah sibuk membicarakan persoalan bisnis keluarga mereka dengan tanggung jawab baru Albi yaitu perusahaan sang Mama.


"Kakak percaya kau pasti bisa," kata Altez menyemangati adiknya.


"Hhhh, bukannya aku ingin sombong Kak, soal itu aku yakin bisa. Tapi, sebenarnya ada hal lain yang mengganggu pikiranku," ucap Albi dengan memainkan biskuit yang sedang di pegangnya. Ia memutar-mutar biskuit tersebut seolah adalah mainan.


"Hal lain apa?"


"Mama, keadaannya semakin membaik setelah kau berubah ditambah lagi dengan kabar kehamilan Kak Yeri." Albi berhenti dan dia menatap sekilas Kakak iparnya.


Albi mengamati wajah Altez lalu tersenyum. "Benar memang cinta bisa merubah segalanya menjadi lebih indah." Albi menyatakan kekagumannya.


"Dahulu ku pikir kau akan selamanya menjadi manusia brengsek seperti Papa. Ternyata tidak, Kak Yeri mampu menaklukkan lelaki buaya sepertimu."


"Aish!" Altez mendesis kesal sambil menggigit bibir bawahnya tanda emosi. "Aku tidak sebrengsek Papa, aku bergonta-ganti wanita karena haus kasih sayang saja. Dan perlahan aku bertemu dengan wanita spesial yang lama ku cari. Dia melimpahkan kasih sayangnya dan membuatku merasa cukup. Aku tidak kehausan lagi," ucap Altez dengan tatapan mendamba pada sang istri yang terlihat sedang sibuk memasak.


Merasa gemas pada istri yang sangat dicintainya, Altez tanpa pikir panjang kemudian menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ia mengabaikan satu sosok manusia yang tengah duduk dan menatap iri padanya. Sementara itu Yeri hanya bisa pasrah menerima perlakuan manis suaminya.


Yeri tahu, Altez adalah sosok yang tidak bisa mendengarkan penolakan jika ia mau melakukan sesuatu. Dan, Yeri pun selalu memberikan toleransi dan kelonggaran selagi hal tersebut tidak merugikan. Ia masih bisa mengontrol Altez untuk bersikap baik.


"Za, jangan peluk begini. Ada Albi," desis Yeri yang pipinya sudah memerah karena ulah suaminya itu. Ia menahan malu di hadapan adik iparnya.

__ADS_1


Altez menciumi leher Yeri. "Tidak apa-apa, dia sudah tahu bagaimana aku sayang."


Yeri menghela nafasnya, pasalnya saat memeluknya dari belakang, tangan sang suami selalu berpusat pada sesuatu di dekat paha lalu mengusapnya dengan lembut. "Za, kondisikan tanganmu," ujar Yeri dengan mata yang melotot tajam.


"Kenapa?" tanyanya sok polos dan kembali menciumi leher sang istri.


Oh astaga! Apa Altez sangat bodoh? tidak tahukah dia libido seorang wanita hamil itu mengalami peningkatan selama masa kehamilan karena pengaruh hormon? Yeri menggeliat dan memutar badannya dan kemudian menjewer telinga Altez.


"Auh! kenapa malah di jewer?" desis Altez sembari memegangi telinganya yang terasa memanas.


"Ini teguran buat kamu Za, harusnya kamu lebih tau cara bersikap di hadapan orang lain, nanti kalau anakmu ini sudah lahir dan kamu masih begini mau bagaimana dia? Mencontoh lalu mempraktekan pada anak seusianya?" tanya Yeri dengan tangan yang terus menjinjing daun telinga Altez.


Sementara itu, Albi terkekeh melihat bagaimana kakaknya yang memberikan contoh buruk itu mendapatkan pelajaran. "Bagus Kak, memang dia itu bandel dan butuh istri yang tegas sepertimu. Aku mendukungmu Kak!"


Masih dalam keseruan Altez yang merengek dan yeri yang terus mengoceh menasehatinya, bel pintu berbunyi.


"Lanjutkan saja kak, biar aku yang buka!" seru Albi sambil tertawa.


Albi membukakan pintu, dan betapa terkejutnya dia ketika wanita yang berdiri di depan pintu merupakan sesosok wanita cantik dengan balutan seragam putihnya. Silvi datang selepas jam kerja di salah satu rumah sakit.


"Apa Yeri ada?" tanya Silvi.


"Ada, Anda?" tanya Albi.


"Saya dokter psikolog-nya. Perkenalkan nama saya,"


"Silvi. Nama kamu Silvi 'kan?" ucap Albi tanpa ragu. "Tidak usah terkejut, aku tahu dari tag nama kamu." Albi kemudian mempersilahkan masuk dengan pergerakan tangannya.


'Apa ini adalah adik Altez yang sering Yeri ceritakan?' batin Silvi sambil berjalan masuk dan melihat gagahnya tubuh Albi dari bagian belakang.

__ADS_1


'Dia tampan, dan tidak jelalatan. dari cara bicaranya memang dia berbeda dari Kakaknya. Dia bukan lelaki penggoda. Em, manis dan tampan. Apa dia masih sendiri?' puji Silvi.


__ADS_2