
...~•~ ...
...~•~ ...
Altez meninggalkan rumah demi mencari sesuap nasi. Sungguh malang nasibnya kala istrinya sendiri tidak memperhatikan lapar atau kenyang perut perutnya.
Ia mengendarai mobilnya untuk menuju ke suatu restoran. Di tengah jalan ponselnya berdering menunjukkan panggilan masuk dari sahabatnya Diko dan Fredi.
Dia mengangkatnya.
"Hai Bro! mau kemana Lu?" Tanya Fredi.
"Mau cari makan gue, laper." JAwab Altez sekenanya.
"Enggak di masakin sama istri cantik lu ya? Lagi minggat lu ya?" Celetuk Diko sambil tertawa mengejek Altez.
"Eh, mulut lu ya" Altez mencibir perkataan Diko dia tak suka sahabatnya mengatakan yang tidak tidak.
"Halah jujur aja kenapa ama kita. Gue tau sekarang lu masih ada di lampu merah kan?" Cetus Fredi.
Altez melongok dan melihat melalui kaca spion dengan matanya yang menyipit menajamkan pandangan.
"Si4l! pantes aja lu pda tau gue dimana." Altez menyerah dan menepikan mobilnya.
Diurungkannya niatnya untuk menuju ke restoran dan berakhir di mamang nasi goreng pinggir jalan.
"Hei, whats up bro?" Diko turun dari mobilnya dan langsung dengan serta merta memeluk Altez. Bukan pelukan menenangkan melainkan pelukan mengolok sahabatnya.
"Si4l! ngeledek gue lu?" Altez menepuk kuat legan Diko.
Fredi hanya berdiri dan tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya.
Mereka memesan nasi goreng dan duduk bertiga di bawah pohon. Ketiga sudah tau akan berita yang beredar. Bahkan sat ini Altez nekat keluar dengan menggunakan hoodie sweater tanpa melepas penutup kepala dan memakai kacamata agar tak begitu di kenali orang orang sekitar.
"Nella buat ulah lagi?" tanya Diko.
"Iya, dia datang ke rumah dan ngaku kalau dia lagi hamil anak gue." Kata Altez sambil terus memakan makanannya dan tentunya mereka berbicara seperti agen rahasia yang berbisik-bisik.
__ADS_1
"Lah, emang lu yang suka naikin dia kan? ya terus kalau enggak ke elu ke siapa? ke gue? Dih, ogah banget gue puny bini kyk dia. Biang rusuh." Celetuk Diko tanpa filtrasi membuat Altez menepak kepalanya kesal.
"Ya tapi setau gue selama ini dia pakai kontrasepsi. Masa iya bisa hamil?" Kata Altez yang masih menolak apa yang sedang menimpanya.
Fredi tertawa terbahak bahak. "Ini nih orang kalau g pernah liat sinetron ikan terbang. Kesalahan itu selalu bisa terjadi. Lu kira gue tercipta dalam rangka apa?"
"Apa emangnya?" Tanya Diko.
"Dalam rangka gagal KB nyokap gue. puas Lu!" Diko memekik sambil meluapkan kekesalannya. "Lu pikir gue bakalan ada kalau ga karena gagal produk." Fredi memutar bola matanya malas pasalnya sekarang kedua temannya sedang menertawainya.
"Tapi feeling gue bilang kalau dia itu enggak hamil." Altez masih mengelak. " Lu berdua bantu gue ya?"
Diko dan Fredi sama sama bingung dengan maksud Altez. Dalam hal ini apa yang bisa di bantu?
"Lu berdua selidiki fakta yang sebenarnya. Apa Nella beneran hamil atau enggak." Kata Altez.
"Al, Nella itu licik. Gue udah bilang berkali kali kan sama elu dulu. Jauhi dia, tapi elunya ngeyel. Elu sampek musuhan sama nyokap elu gara gara dia. itu udah indikasi kalau dia itu bukan cewe yang baik." Ucap Fredi.
"Terus sekarang gimana?' Altez pusing bukan main.
"Ya gimana lah, Lu cinta enggak sama bini lu?" Tanya Diko menodongnya.
Altez meletakkan piringnya yang tela kosong dan menghabiskan minumnya. "Gue sendiri enggak tau gimana perasaan gue sama bini gue. tapi, gue juga ga mau pisah sama dia. Dia itu idaman banget di mata nyokap gue." Altez menjeda perkataanya. ia menarik nafas sebelum akhirnya kemabli melanjutkan perkataanya.
"FIx. Elu jatuh cinta beneran sama dia." Kata Fredi.
"Pertahankan kalau lu beneran cinta ama bini lu. Apapun caranya." Diko meyemangati.
Altez terdiam beberapa detik. dari perbincangan remeh ini dia menyadari sesuatu jika benih cinta itu memang telah tumbuh di hatinya.
"Mertua lu gimana?" Tanya Diko dengan wajah yang penasaran menanti jawaban.
"Ngamuk lah gil4! Gue udah bikin anaknya nangis." Jawabnya jujur.
"Ya begitu rasanya punya babe. Untung untung enggak di tebas leher lu." seloroh Diko. "Eh tapi lu enggak di usir kan?"
Altez menggeleng. "Enggak, bini gue.... enggak tau gue gimana pikiran dan hati dia. Dia kayak mti rasa ke gue." Ucapnya meraba tindakan Yeri terhadapnya saat perdebatan tadi terjadi.
"Dia nangis kan kata elu?" Tanya Fredi.
__ADS_1
Altez mengangguk dengan polosnya. Matanya membola dengan kesedihan yang melingkupinya.
"Bego! dia jelas ada rasa sama elu. kalo enggak ngapain nangis segala?" Celetuk Diko dengan tangan yang menoyor kepala Altez. "Perasaan lu sering main cewek, tapi beginian aja ga tau?"
"Ya gue selama ini kan cuma maen doang Dik. mana gue mau serius sama mereka yang udah ga kesegel rapi. Mana gue tau yang serius itu seperti apa?" jawab Altez dengan entengnya membuat Fredi menggeleng dan menahan tawanya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan dua sahabatnya yang sering dan suka mempermainkan wanita ini.
"Udah, mending sekarang lu balik. Biar kita berdua yang urus Nella. Percaya sama kita." Ucap Fredi yang kemudian menepuk pundak Altez.
Altez menurut dan meninggalkan tempat tongkrongan barunya tersebut. "Gue balik! lu bayarin. Gue lupa bawa dompet!" Altez berseru sebelum memasuki mobilnya.
Fredi hanya mendesah pasrah. Kali ini dia lagi yang membayar semuanya setelah melihat Diko yang juga menggerakkan bibirnya tanpa suara. Gue juga bayarin yang diikuti dengan cengiran di ujugnya.
...~•~ ...
Altez kembali menapaki rumahnya dan semua lampu sudah padam. Ia sangat terkejut kala memasuki kamar tamu. rupanya di sana sudah ditempati oleh Joana.
Altez yang belum mengambil selimut dan juga bantal akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar utama.
Tok...!
Tok...!
Tok...!
JEGLEK!!!
Pintu terbuka dan memperlihatkan Yeri yang kusut dengan wajah bengkak dan rambut yang berantakan. terlihat pipinya juga masih basah oleh air mata.
Dia menangis lagi? Apa dia juga memiliki perasaan terhadapku? Mengapa dia terlihat terpukul tas kejadian ini jika memang tak ada rasa seharusnya tak separah ini kesedihannya.
Yeri hanya diam dan membiarkan Altez masuk. Ia hanya terdiam dan kembali masuk kedalam balutan selimut. Altez yang melihat itu hany bisa menelan ludahnya getir.
Sekarang untuk bertanya dimana keberadaan selimut cadangan saja Altez sampai tidak berani. Ia kemudian memutuskan untuk duduk di tepi ranjang yang dekat dengan kaki Yeri lalu mengusapnya perlahan.
"Maaf, aku sudah membuatmu menangis." Kata Altez yang terdengar tulus.
Yeri bergeming. " Aku tidak menangis karena maslah ini. Aku menangis kaena telah merelakan keperawananku pada seorang sepertimu." Kata Yeri.
"Jadi kamu menyesal telah memberikan yang seharusnya pada suamimu?"
__ADS_1
"Iya! seharusnya ku berikan pada orang yang memang satu satunya milikku. Bukan seperti kmu yang brengsek dan memiliki banyak wanita!" Yeri memancarkan afeksinya dengan matanya yang kembali basah.
Altez tak marah, iya kemudian pergi begitu saja setelah mendengarkan perkataan jujur dari istrinya. Kemanakah Altez pergi? apakah ia menuju ke rumah Nella?