
"Astaga, Mas! Mana ada sih istri yang senang melihat suaminya kesakitan? Ya enggak lah." Yania mengusap perlahan punggung Altez yang masih menyembunyikan wajahnya di samping paha sang istri.
Dasar iblis sok suci. Dia yang membantingku, dia juga yang sok iba. Cih!!
"Argh....! Pak, sakit.....!" Lagi Altez mengerang kesakitan. Tapi Yania tertawa senang dalam hatinya.
Ini baru awalanya saja Altez. Batinnya merayakan.
Altez mencengkeram kuat tangan Yania hingga memerah dan kukunya melukai kulit Yania. Namun Yania hanya bisa menahannya karena masih ada siterapis di depannya. Yania tak mau semua misinya gagal karena terbuka niatnya.
Setelah menjalani terapi selama hampir satu jam, akhirnya, kegiatan menyakitkan itu selesai dan Altez bisa bernafas lega sekarang.
"Lepas, ini sakit." Yania berusaha untuk melepaskan cengkraman Altez pada pergelangan tangannya.
Altez dengan mata yang menyipit tajam lalu mencengkeram kuat rahang Yania dia begitu marah sekarang.
"Kamu! kamu rupanya sangat senang melihatku kesakitan kan?"
"Si... siapa bilang?" Yania menjadi tergagap saat menjawabnya.
"Tak usah menunggu ada yang bilang. Semua itu terpancar jelas dari matamu. Katakan, apa yang kamu inginkan dariku?"
Yania hanya menggeleng. Dia seperti kehilangan nyalinya saat ini. Tatapan Altez sungguh menghujam tajam, seolah ingin menikam Yania tanpa kelonggaran.
"Tidak ada, aku sudah katakan kemarin kan, aku tidak sengaja melakukannya." Yania menunduk tanpa mau menatap balik Altez yang semakin mendekatinya.
"Altez! berhenti! Mama tidak suka ya kamu seperti itu dengan istrimu." Mama Alda datang dan membentak keras Altez yang masih mencengkeram kuat rahang Yania.
"Sini Nak, sama Mama." Ucap Mama Alda yang kemudian menarik Yania dan membawanya pergi.
Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Yania mengerling lalu memberikan senyuman terbaiknya ke udara lalu menjulurkan lidahnya. Dia mengejek Altez yang mengepal menahan kesal.
Argh...! Dasar ratu akting..! Si**an!! Awas kamu ya. Batin Altez bergemuruh.
Tertangkap basah melakukan kekerasan terhadap perempuan dan di saksikan oleh Mamanya sendiri? Altez dia benar-benar marah sekarang, sikap Yania sangat berbanding terbalik ketika di hadapan mertuanya.
Di hadapan Mama Alda, dia akan tampil sebagai istri lugu yang penurut. Tapi di hadapan suaminya, dia adalah sosok jelek yang menjengkelkan.
Ingat Altez, roda itu selalu berputar. Dahulu kamu menghinaku, dan Ayahku dia lebih memilih untuk memindahkan sekolahku daripada harus berurusan dengan keluarga kaya seperti kalian. Tapi lihat sekarang, Bahkan kekayaan keluargamu hanya tinggal 30% dari kekayaan keluargaku. Dan sekarang, aku yang berkuasa atas kelangsungan bisnis mu. Yania merayakan kemenangannya tanpa gangguan.
"Ya ampun, sayang. Altes mencengkerammu sampai begini?" Mama Alda melihat luka bekas tancapan kuku Altez, Dia lalu bergegas bangkit. " Sebentar, Mama ambilkan obat ya." Ucapnya yang kemudian pergi mengambilkan obati.
Dengan telaten dan hati-hati, Mama Alda mengobati luka Yania dan mulutnya terus saja meminta maaf atas kelakuan putranya. "Maafkan Altez ya sayang. Sebenarnya dia itu anak yang baik. Hanya saja mungkin sedang ada masalah di kantor, jadi dia banyak pikiran."
__ADS_1
"Ma, ini bukan salah Mas Eza. Tadi Yaya yang tidak sengaja menyenggol pinggangnya dan dia kesakitan lalu marah sama Yaya, dan itu wajar Ma. Yaya tidak apa-apa. Percaya deh sama Yaya." Ujarnya meyakinkan sang ibu mertua.
Mama Alda lalu memeluk Yania dan mengusap punggungnya. "Yaya, Mama serahkan Eza sama kamu ya. Kamu harus lebih kuat jika menghadapinya. Dia itu seperti Almarhum Ayahnya. Pria yang ceroboh dan gampang terbawa emosi. Tapi sebenarnya dia itu baik, sangat baik sayang."
Terasa hangat dan basah di pundak Yania. Ibu mertuanya sedang menangis mengenang almarhum suaminya. Yania kali ini hanya bisa menjadi penyimak yang baik.
"Nanti, jika putraku menyakitimu. Bilang padaku, biar aku yang memberikan dia pelajaran. Yania, apapun yang terjadi nanti, jangan berpisah dengan Altez ya Nak." Ucapnya sendu.
Yania menjadi merinding kala mendengar perkataan ibu mertuanya. Tidakkah ini terkesan seperti pesan terselubung sebelum kepergian? "Ma, Yania tidak bisa berjanji. Semua garis takdir sudah ada yang mengatur. Jika Yania bisa, maka Yania akan bertahan selama Yania mampu Ma." Yania merenggangkan pelukannya dan menatap sendu wajah Mama Alda.
"Ma, Yania bukan pemaksa. Yania hanya akan membiarkan Mas Eza semaunya. Selama dia mau berada di sisi Yaya, maka Yaya selama itu juga akan mempertahankan hubungan kami. Tapi jika tidak... Yania tidak mau memaksakan hati seseorang." Ucap Yania.
Mereka tidak bicara hanya berdua, Rupanya Altez mendengarkan semua percakapan mereka dari lantai atas. Cih! Pembohong!! Oke, jika itu ucapanmu. Kita lihat sejauh mana kamu sanggup bertahan dalam hubungan kita ini? Batin Altez yang kemudian kembali masuk ke kamarnya.
...~~~...
Makan malam.
Mama Alda masih berada di kamarnya, sedangkan Yania dan Mbak Yuyun sudah sibuk mempersiapkan hidangan di meja makan.
"Hhhh siap. Mbak, aku panggil Mama dan Mas Eza dulu ya." Ucap Yania yang kemudian berjalan menuju ke kamarnya di lantai atas.
Yania terlebih dahulu menghampiri ibu mertuanya. " Ma, makan malamnya sudah siap." Ucap Yania yang hanya berdiri di ambang pintu.
"Tidak Sayang, Mama hanya sedih karena kembali teringat dengan Almarhum Ayahmu." Ucapnya tersedu.
"Sudahlah Ma, maaf ya tadi karena Yania, Mama jadi kembali teringat Almarhum Ayah."
"Tidak sayang, memang Mama bengini. Bisa sangat emosional jika sudah mengingatnya." Mama Alda mengusap air matanya lalu menatap Yania. "Panggilah suamimu, kita makan bersama ya."
"Iya ma. Mama jangan menangis lagi ya." Ucap Yania yang segera meninggalkannya.
Apa yang kutangisi bukan sesuatu yang Indah Yania. Aku menangisi watak putraku yang sama persis dengan Ayahnya. Mengapa dia harus memiliki sifat yang sama? Suamiku ditemukan meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama dengan selingkuhannya saat aku tengah mengandung Altez. Aku ketakutan, aku takut hal itu juga akan menurun, sifat buruknya yang suka bermain wanita. Aku harap kamu bisa mengubahnya Yania.
Setelah pertengkaran tadi, Yania sama sekali tidak memasuki kamarnya. Dia begitu malas melihat wajah Altez. Disini di rumah mertuanya sudah tentu Yania tidak bisa leluasa mengobrak-abrik mood Altez, dia harus bersikap baik meskipun hanya berpura-pura.
"Mas, Makan yuk. Ini sudah waktunya makan malam." Ucap Yania perlahan dia tau sedari tadi ada yang memantaunya dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Mama mertuanya.
Altez yang masih menyimpan amarahnya hanya diam dan malas menanggapi. Dia lebih memilih fokus pada ponselnya.
"Mas, ayok makan dulu. Nanti lagi main ponselnya." Kata Yania dengan lembutnya.
Altes meliriknya tajam. " Mas Mes, Mas Mes! aku bukan Mas mu ya!" Bentak Altez. " Ga usah sok lugu deh, aku tahu kamu sebenarnya begitu licik." Altez menuding Yania dengan segala tuduhannya.
__ADS_1
Yania segera berjongkok di hadapan Altez lalu menengadah menatap wajahnya. " Lihat ke pintu, ada Mama disana. Kamu mau kena marah lagi?" Ucap Yania dengan matanya yang sesekali melirik ke pintu.
Alrez yang tak bisa menangkap sinyal dari Istrinya justru semakin menambah volume suaranya. " Apa sih?" Bentaknya. Tapi sesaat kemudian mata Altez meredup dan menurunkan volume suaranya.
"Sayang, maaf ya tadi aku tidak sengaja. Abisnya kamu, tau aku sakit malah di senggol gitu aja." Ucap Altez berakting sok manja lalu mencubit gemas pipi Yania.
Yania menahan sakit di pipinya. Pipinya sampai memerah membekas cubitan.
"Aku juga minta maafya Mas, Sumpah aku ga sengaja. Kamu maafin aku kan?" Tanya Yania dengan dia yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Altez dan mencubit punggung Altez lalu memelintirnya.
Altez meringis menahan sakitnya. "Awas kamu Yaya." Bisik Altez.
Yania mengurai pelukannya dan menjulurkan lidahnya. " Ga takut!" Balasnya.
Mama Alda tersenyum mengira semuanya sudah dalam keadaan baik-baik saja. Dia lalu meninggalkan dua sejoli yang masih saling tatap tapi saling menghina dalam pandangan.
Yania membantu memapah Altez untuk berjalan menuruni tangga. "Kalau aku mendorongmu dari sini, kira-kira aku langsung bisa jadi janda kaya tidak ya?" Celetuk Yania sambil berbisik di telinga Altez.
"Woah!! Kamu ini ya. Kamu tau durhaka? Ish, sial sekali aku punya istri yang jelek rupa dan akhlak seperti kamu." Ujar Altez membalasnya.
Jelek ya? kamu juga mengatakan itu 15 tahun yang lalu Eza. Dan itu membuatku terluka sampai berbulan-bulan lamanya. Sekarang aku sudah sembuh dan ingin membalasmu.
"Sini cepat makan. nanti keburu dingin sayang." Mama Alda menarik lengan Yania dengan lembutnya.
" iya Ma." Jawab Yania yang menurut dan duduk anteng tanpa banyak ini itu lagi.
Mereka mulai makan dengan di awali doa yang di pimpin oleh Altez. Yania sempat tertegun kala melihat sosok lain dalam diri suaminya. Jika biasanya tampak menyebalkan, maka kali ini Altez tampak mengagumkan.
"Ma, Soal rumah dari Ayah bagaimana?" Yania mulai membuka omongan mengenai hunian yang di dapatkannya.
"Oh, iya. Soal rumah itu, kapan kalian mau menempatinya? Tadi sewaktu Mama pergi, Mama kembali memeriksanya. Semuanya sudah siap, perabotan juga sudah Mama isi." Ucap Mama Alda.
"Besok Ma, besok Eza sudah mulai masuk kantor dan Yaya juga sudah mulai aktif mengajar. Jadi sebaiknya kami segera menempatinya karena jaraknya dekat dengan kantor juga sekolah Yaya." Altez berbicara.
"Em, baiklah. Sering-sering mampir kemari ya. Mama sendirian disini."
"Iya, Ma. Nanti Yaya akan sering mengunjungi Mama. Iya kan Mas?"
"I.. iya. Tentunya." Ucap Altez terpaksa.
*Omonganmu akan terbukti setelah kamu menempati rumah baru itu. Kita lihat sekuat apa hatimu menghadapi ku. Aku sudah tidak sabar untuk membuatmu menceraikanku. Jika aku yang menceraikanmu maka aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi jika kamu yang menuntut dahulu, tentu kamu juga yang harus kehilangan 10% dari hartamu.
Apakah kamu sudah siap Yaya*?
__ADS_1