PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
75. Minggu depan


__ADS_3

"Ah, si*l!" Bisma mengumpat sembari berjalan keluar dari cafe, kebiasaan buruknya saat sedang marah, ia akan menendang atau melemparkan sesuatu ke udara.


"Bisa-bisanya belum apa-apa malah sudah hamil dengan Altez. kalau mereka sudah punya anak, bakal susah untuk bercerai. Aku harus apa?" Bisma meremas rambutnya frustasi dengan kakinya yang bergerak menendang batu kerikil kecil.


Pletak!


"Aduuuh!" seru Wiwin memegangi kacamata minusnya yang retak terkena tendangan batu dari Bisma. "Yah, retak," ucapnya sedih setelah melihat kacamatanya retak bergaris.


Tepat, dan pas, Bisma berdiri di hadapan Wiwin masih dengan meremas rambutnya. Wiwin menyipitkan matanya menatap Bisma. Ia terlihat geram dan semakin mendekat dengan mengepalkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan tubuhnya.


"Kamu!" serunya dengan telunjuk yang menunjuk dagu Bisma karena tinggi mereka yang berbeda. "Tanggung jawab! kamu yang menendang batu tadi 'kan?" desak Wiwin dengan raut wajah masam menahan kesal di dada.


"Berapa sih harga kaca mata jelekmu itu? Begitu saja ribut, ini aku ganti," kata Bisma yang bukannya mengakui kesalahannya tapi malah justru lebih garang daripada korbannya yaitu Wiwin.


Bisma merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya. "Katakan, berapa nomor rekeningmu," ucapnya dengan fokus yang tertuju pada layar ponsel.


Wiwin masih berupaya untuk menahan emosinya, dia hanya menhan geram atas sikap congkak Bisma. Wiwin yang kesal kemudian pergi begitu saja tapa banyak bicara apapun. Ia meninggalkan Bisma dalam kebingungan.


"Hey! aku mau ganti kaca matamu!" seru Bisma yang mengekor di belakang Wiwin.


"Aku tidak butuh uangmu," jawab Wiwin yang mengacuhkan Bisma ia terus saja berjalan menuju ke dalam cafe tanpa menggunakan kacamatanya.


Penglihatan Wiwin tanpa kacamata, layaknya tayangan berita sat menayangkan wajah tersangka. Blur, dan kabur. Beberapa kali terlihat Wiwin salah berpijak dan hal itu membuat Bisma mengejarnya lalu meraih lengannya.


"Hey, tunggu. Aku minta maaf, aku akan mengganti kacamatamu," kata Bisma yang terdengar sedikit lebih bersahabat ketimbang saat pertama tadi. "Kamu, temannya Yeri 'kan, yang waktu itu ku antar naik ke lantai kantornya?" kata Bisma kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

__ADS_1


"Iya, aku sahabatnya Yeri, kenapa memangnya?" tandas Wiwin masih dengan rasa kesal yang menguasai.


Bisma tersenyum ramah dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Ada rasa canggung yang menyelimuti mereka saat ini. "Tidak apa-apa, aku hanya tidak mau salah mengenali orang saja."


Wiwin mendengus lalu kembali melangkahkan kakinya. Ia merasa tidak ada gunanya juga berbicara dengan mahluk yang congkak dan sombong ini. Ia lebih memilih untuk segera pergi menuju ke tempat yang ingin ia tuju sebelumnya.


Siapa sangka saat Bisma yang kembali memegang tangan Wiwin untuk menghentikan langkahnya justru tertangkap basah oleh Mama Ayu, ibu-Bisma. Bisma menjadi gelagapan dan dengan segera melepaskan genggaman tangannya. Sebisa mungkin, ia menetralkan lagi mimik wajahnya yang tegang lantaran tertangkap basah.


"Bisma!" seru Mama Ayu yang dengan ceria mendekati si bungsu. "Bibi, kamu sama siapa? pacar kamu ya?" cetus Mama Ayu tanpa filter membuat Wiwin yang masih mengenakan seragam kerja mengernyitkan dahinya.


"Em, ma-maaf," ucap Wiwin yang terpotong oleh Bisma yang menyambarnya secepat sambaran api pada bensin.


"Ma, kok ada di sini? Jadi ketahuan deh, kenalkan dia," Bisma berhenti sejenak lalu melihat tag nama di dada Wiwin. "Dia Wiwin, pacar Bisma," ucap Bisma dengan mudahnya tanpa mempertimbangkan kemungkinan akan rumitnya suatu hal baru.


Winda mengernyitkan keningnya. "Maaf, saya tidak punya waktu untuk bermain-main. Sampai jumpa Tante, saya harus permisi, ada rapat penting," pamit Wiwin yang tidak mau menjadi bagian dari kebohongan yang Bisma rangkai.


"Iya, Mama paham sayang, kalian masih mud memang masih labil. Sudah sana kejar pacarmu, nanti tambah ngambek lagi," kata Mama Ayu yang lebih mudah memahami dan tinggi toleransi terhadap sikap Wiwin.


"Hey!" Bisma menarik lengan Wiwin kuat dia berniat untuk mengajak Wiwin bicara dan meminta maaf soal kacamatanya yang retak tadi. Namun, Wiwin sudah telanjur hilang mood dan semangatnya hingga ia lebih memilih untuk memperbaikinya sendiri tanpa bantuan si pelaku yang dalam kasus ini adalah Bisma.


"Ayolah Bu Guru, jangan marah seperti ini, ini membuatku jadi tidak enak hati," kata Bisma mengungkapkan kejujuran.


"Tidak enak hati? setelah tadi kamu dengan congkaknya memamerkan uang adalah segalanya sekarang kamu bilang tidak enak hati?" tandas Wiwin.


"Cih!" ia berdecih dengan menengadahkan kepalanya saat mengomeli Bisma yang tingginya berbeda 20cm darinya. "Enteng kali muncung kau," ucapnya dengan logat khas batak.

__ADS_1


"Sudahlah, aku juga punya uang. Aku juga bisa beli sendiri. Anggap saja kita tidak pernah bertemu." Final, Wiwin berbicara dengan tegas dan kemudian pergi begitu saja.


Bisma hanya bisa terdiam di tempatnya menatap kepergian Wiwin menggunakan taksi yang berhenti di depan cafe. Ia tidak mengerti mengapa Wiwin malah menolak uangnya sementara jika itu terjadi pada wanita lain, mereka akan dengan senang hati menulis jumlah nominal. Bisma kembali berbalik badan dan ternyata sang Mama masih memantaunya dari kejauhan.


"Ma, ngapain di tungguin sih?" tanya Bisma yang sudah bersama sang Mama duduk sembari menikmati kopi di cafe yang bertemakan outdoor.


"Ya, Mama seneng aja lihat kamu akhirnya punya pacar," jawab Mama Ayu.


"Ya, tapi Bisma minta maaf ya Ma, kita malah ketemu pas lagi berantem," elak Bisma yang kembali merekayasa adegan.


Mama Ayu menyesap kopinya lalu mengulum senyumnya. "Tidak apa-apa Mama bisa mengerti kok. Dulu, Mama dan Papamu juga bertemu dalam sebuah keributan sampai akhirnya jatuh cinta sampai ada kamu dan kedua kakakmu."


"Itu adalah hal biasa dalam sebuah hubungan," imbuhnya lagi yang kemudian kembali melanjutkan obrolan.


Dari lamanya obrolan dapat disimpulkan jika Mama Ayu sma sekali tidak keberatan dengan profesi, ataupun fisik Wiwin yang terbilang tidak ideal. Wiwin bertubuh gembil berisi dengan kulit putih dan juga mata sipit, tingginya hanya 155cm sementara Bisma memiliki tinggi 175cm.


"Minggu depan Mama harap kalian sudah baikan," kata Mama Ayu sebelum beranjak pergi.


"Mi-minggu depan?" Bisma tergagap. "Memangnya ada acara apa Ma?" tanyanya yang sama sekali belum mengetahui tentang agenda Minggu depan.


"Minggu depan, Mama dapat undangan makan malam dari Tante Yusmi. Dia ingin agar kamu juga datang, sebab kamu juga teman Yeri. Mama harap, kamu sudah bisa meluluhkan pacarmu dalam seminggu ini," ucap Mama Ayu.


"Jangan buat Mama kecewa sayang, Mama sudah cukup lelah dengan tudingan miring sekitar kita yang mengatakan bahwa kamu ini adalah kaum pelangi. Kamu paham kan apa maksud Mama?" tandas Mama Ayu penuh pengharapan.


"Iya Ma," jawab Bisma terpaksa mengiyakan.

__ADS_1


*Minggu depan? A*pa dia tadi, Ah iya Dia Winda mau membantuku? Kenapa juga lidahku malah menyebutnya sebagai pacar?


__ADS_2