
... Kita adalah kapal besi. Semuanya akan selamat selama kapal tak terisi air. Umpamakan kapal sebagai dirimu dan air sebagai kicauan orang-orang yang tak menyukaimu. Maka, kamu akan mengerti apa maksudku. ...
...By: Mimi lita....
...-------πΌπΌ------ ...
Nella berteriak histeris dan menghancurkan sebuah foto yang terpajang dinding. Foto yang dahulu pernah dibanggakannya, foto yang dahulu pernah menjadi saksi cinta mereka. Kini semuanya berlalu dan berganti kenangan pahit dan peperangan batin yang bergejolak.
"Aku membencimu! kenapa kamu masih hidup?" Nella memaki gambar wajah Altez dan menusukkan pisau. "Kenapa kamu masih selamat?"
Semuanya, semua yang terjadi dan menimpa Altez merupakan serentetan kejadian yang telah Nella rencanakan. Bahkan juga seorang teman lama yang mengalihkan perhatian Altez adalah orang suruhan Nella.
Karir yang hancur membuatnya menjadi frustasi. Ia kini hanya hidup dengan mengandalkan aset-aset miliknya yang mungkin jika dikalkulasikan hanya sebesar 30% dari total keseluruhan harta miliknya yang di mana 70%-nya habis untuk membayar pinalti.
"Wanita bodoh! Aku sudah mengatakan jika suamimu itu adalah selingkuhan ku! tapi mengapa.... mengapa kamu masih mau berada disisinya? Kenapa?" Nella mengamuk sejadi-jadinya dan menengguk minuman keras langsung dari botolnya.
Wanita mantan ratu iklan itu kini frustasi dan depresi. Ia kehilangan semuanya dalam sekejap mata. Orang yang selama ini ia kuras harta dan waktunya, yang ia anggap sebagai miliknya seutuhnya, nyatanya mempermainkannya jauh lebih sadis dari apa yang ia kira.
Di suatu tempat yang lain.
Altez dan Yeri pagi-pagi sudah berdebat soal minyak telon. Tanpa sepengetahuan Yeri, Altez mengoleskan minyak telon di atas perutnya saat ia tengah tertidur.
Altez lalu memeluknya erat dengan menempatkan wajahnya sejajar dengan perut Yeri dan itu membuat Yeri terusik tidurnya.
"Za ah, awas!" Yeri mendorong kasar wajah Altez.
"Yer, sebentar lagi. Aku kangen sama dia~~~" Altez merengek.
"Awas!" Kali ini Yeri menendang Altez tapi tidak kena dan itu bukan tendangan mematikan. Ia hanya melakukannya dengan perlahan.
"Baby, lihat kelakuan mami kamu. Jangan kamu tiru dia ya. Kamu harus jadi anak manis papi." Altez berbicara dengan perut rata Yeri dan seolah memang sudah ada janin di dalam rahim Yeri.
Yeri menjauhkan wajah Altez dengan tangannya.
__ADS_1
"Aduh!" Altez mengaduh dan memegang bekas luka di kepalanya. "Saki tau Yer! kenapa sih melarangku untuk mendekati calon anakku? Aku yang berinvestasi benih disini. Kita punya hak yang sama.!"
"Za! jangan gila ya! Aku bahkan belum memeriksakannya!"
"Ya sudah periksa!" Altez tak kalah lantang. Kali ini nada bicaranya naik. Mungkinkah Altez akan melawan pawangnya?
"Buat apa? aku belum telat datang bulan. Buat apa periksa? buang-buang uang saja."
"Dasar pelit! apa susahnya beli alat tes kehamilan? harganya tidak semahal rumah ini." Altez membalasnya.
Yeri tetap pada opini dan pendiriannya yang hemat dan sederhana. "Ya buat apa membeli sesuatu yang belum kita butuhkan? Buat apa?" Ia berbicara dengan menggerak-gerakkan tangannya. Raut mukanya pun ikut menegang seiring dengan perdebatan. "Jangan katakan aku pelit, selama ini aku yang memenuhi kebutuhan rumah ini." Yeri mengungkit apa yang ia berikan untuk kebutuhan bersama mereka.
"Cih!" Altez berdecih. "Itu karena kamu yang sok kaya! sampai tidak mau menerima jatah uang dari suami." Altez menyindir Yeri sesuai dengan fakta.
Yeri menyunggingkan senyumnya. "Buat apa? biar kamu bisa mengungkitnya suatu saat nanti? tanpa uangmu, aku pun masih bisa hidup lebih dari layak!" Ketusnya.
Astaga, biasanya para wanita di luaran sana akan sangat senang jika lelakinya memberikan mereka uang. Tapi lihat pasangan yang tidak jelas ini. Si lelaki memaksa, sedangkan si wanita menolaknya.
"Bukan begitu konsep di dalam pernikahan! Aku sebagai lelaki merasa terhina jika kamu terus begini. Ibarat kata aku benalu!" Altez mulai nge-gas.
"Yer, cobalah sekali saja anggap aku ini suamimu yang sebenarnya, apa susahnya?"
"Apa susahnya? tentu susah. Apa menurutmu kamu masih bisa percaya padaku jika aku hamil dengan lelaki lain?" Ucap Yeri.
"What? cari mati ya kamu. Biar kutebas leher kalian berdua kalau sampai itu terjadi." Ucapnya yang tanpa sadar bahwa apa yang Yeri katakan sebenarnya hanyalah penggambaran dari kelakuannya.
"Tuh kan? egois! kamu itu egois! mana bisa aku percaya dan menjadikan kamu sebagai pijakan, panutan dalam hidup?" Yeri menatap Altez remeh.
"Kamu saja yang melakukan kesalahan besar itu dengan menghamili wanita lain disaat kita masih terikat pernikahan saja aku masih berbesar hati untuk memberikan kamu kesempatan. Sedangkan kamu? Jika kamu sudah menyelesaikan semuanya, mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk percaya denganmu dan menganggapmu sebagai suamiku yang sebenarnya." Kata Yeri.
Kamu tidak akan sanggup Za, Kamu dan Nella sering melakukannya, aku percaya jika yang ada di dalam rahim Nella adalah anakmu. Batin Yeri.
"Oh, jadi kamu menuntut aku untuk berubah dan menjadi sosok Ayah dan suami yang sempurna?"
__ADS_1
"That's right π!" Yeri memberikan jempolnya dan menempelkannya di pucuk hidung Altez.
"Ok π! Aku akan membuktikannya." Ucap Altez yang juga membalas Yeri dengan hal yang sama terhadapnya.
Sementara itu di kamar tamu.
Joana sedang melaporkan sesuatu kejadian yang baru saja menimpa Yeri..
Joana: "Hallo pak!"
Ayah Ardi: "Iya hallo! Jo, apa benar yang saya lihat di berita itu? Apa mereka baik-baik saja?"
Joana: "Baik Pak, ini saja mereka malah masih berada di dalam kamar berdua."
Ayah Ardi: "Apa anak saya dan si kunyuk itu berduaan di kamar? Wah, tidak bisa dibiarkan!"
Apanya yang tidak bisa dibiarkan? Apanya yang salah? mereka kan suami istri. Joana hanya mampu membatin.
Joana: "Iya pak, mereka terlihat seperti tidak ada masalah. Apa saya boleh pulang?"
Ayah Ardi: "Boleh pulang, boleh pulang, hei! Tugas kamu banyak, kamu harus segera menemukan bukti tentang kehamilan Nella. Saya tidak akan membiarkan anak saya disakiti seperti itu."
Joana: "Siap pak! Tapi saya minta keringanan untuk hal ini. Bagaimana kalau saya pindah ke flat dekat Nella untuk memata-matainya? Kalau hanya dari jauh saya rasa akan memakan waktu lama."
Ayah Ardi:" Itu ide bagus, tapi saya dengan tegas menolaknya. Kalau hanya untuk urusan itu saya sudah mengutus seorang detektif. Apa kamu pikir saya sudah jatuh miskin, sampai tidak bisa membayar detektif?"
Elah, siapa juga yang ngatain dia miskin. Orang miskin mana yang memberikan hadiah mobil kepada teman berbayar anaknya? di Dunia ini kurasa hanya dia orangnya. Batin Joana dengan tangannya yang memainkan ujung bantal.
Joana: "Maaf pak, saya sudah salah bicara."
Ayah Ardi: " Ya memang begitu kamu! Bawahan selalu salah dan...."
Joana: " Atasan selalu benar." Imbuh Joana melengkapi kalimat yang menggantung dari atasannya.
__ADS_1
Panggilan pun akhirnya terputus dengan Joana yang hanya berserah diri kepada sang pembagi rejeki dan pemilik hati agar menguatkan hatinya terhadap sikap Bos Ardi.