PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
40.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Dengan langkah tergesa, Yeri menaiki tangga menuju atap.


"Huh ...! huh....!" Dia terengah-engah setelah" terburu-buru berjalan.


BRAK!


Pintu kaca terbuka dengan kasarnya. "Sorry aku lupa kamu disini." Ucapnya sambil terengah-engah.


Sementara Altez dia sedang asik menikmati camilan dan minuman juga dengan drama yang ia tonton.


Berasa udah kayak di hotel ya Za? ga tau apa istrinya sampai kalang kabut menyusulnya.


Altez menatapnya heran. "Kenapa sampe ngos-ngosan begitu? ini minum dulu." Altez menyodorkan minuman miliknya dan Yeri meraihnya tanpa protes lalu meminumnya.


Pertama kalinya, mereka minum dari wadah yang sama dan keduanya sama sekali tidak menyadarinya.


"Duduk sini!" Altez menepuk sisi ayunan yang kosong di sebelahnya.


"Bobotmu berapa?" Tanya Yeri sebelum ia duduk dan siaga berdiri di samping ayunan.


"70kg." Jawab Altez.


Dia 70 dan aku 55 seharusnya sih kuat. Ah tapi tidak sayang kalau ayunanku rusak. Batin Yeri menghitung jumlah beban yang bisa ditanggung ayunannya.


"Bangun, gantian!" Yeri menarik paksa Altez hingga Altez berdiri dan ia dengan segera duduk dan setengah berbaring dengan kaki yang menjuntai ke lantai. "Ada apa datang ke kantor?" Tanya Yeri acuh.


"Sopan sekali sikap istriku ini pada suaminya... Waow....! aku sangat bersyukur memilikinya." Altez menyindir sikap Yeri yang Acuh dan ketus padanya dengan kata-kata yang empuk seperti kue bolu.

__ADS_1


"Apasih? udah deh ga usah bertele-tele, langsung pada intinya. Ada apa?" Yeri menodongnya.


"Hemmh....!" Altez mendesah sebelum berbicara, ia kemudian berbalik badan dan menempatkan tanganya di belakang pinggangnya. "Aku ini punya perusahaan besar yang bergerak di bidang periklanan sudah sangat lama. Mereka semua percaya dan mengakui bahwa perusahaan ku yang terbaik diantara yang lainnya. Lalu..., istriku sendiri malah memakai jasa periklanan milik orang lain. Bisa kamu jelaskan apa maksudnya?"


"Hhhhh.....!" Yeri mendesah dan menutupi kedua matanya dengan lengannya. "Tidak usah mendramatisir keadaan, bisnis ya bisnis, jangan campur adukkan dengan urusan pribadi." Ucapnya yang malas berdebat.


"Terlambat!" Kata Altez yang kemudian duduk di lantai dekat dengan kaki Yeri. "Semuanya sudah terlambat dan bercampur aduk sekarang. Semenjak kamu menjadi istriku dan menunjukkan keaslianmu padaku, semuanya sudah bercampur menjadi satu. Apa kamu paham itu?"


"Hhhh....!" Yeri mendesah malas. "Itu hanya ada pada kamus mereka yang menikah karena saling percaya dan mencintai, sementara kita tidak sama sekali. Dan... kamu jangan lupa, besok aku minta kamu memberikan surat kuasa bahwa kamu telah memberikan sebagian sahammu kepadaku. Aku ingin mengakuisisi separuh sahammu sesuai perjanjian kita."


Altez melotot tak percaya. "Apa perjanjian itu masih berlaku?"


"Tentu! perjanjian itu semakin kuat saat tadi, kamu baru saja mengatakan jika semuanya sudah bercampur aduk sekarang. Apa kamu pernah mendengar tentang Uang suami adalah uang istri dan uang istri tetaplah uang istri. Kamu tahu apa artinya itu? seharusnya kamu paham sebelum mengatakan semuanya bercampur aduk."


Altez memalingkan wajahnya dan memaki dirinya sendiri atas kebodohannya dalam berbicara. Bodohnya aku... bodoh! bodoh!


"Apa menyesal, telah berpura-pura menjadi suami yang baik? Suami yang baik itu yang memprioritaskan kebutuhan istrinya bahkan dia menggadaikan masa tuanya untuk tetap bersama dan berbahagia dengan istrinya. Kalau kamu sih... aku ragu. Cuman sudah terbukti sih betapa royalnya kamu sama pacar pacarmu itu."


"Aish..!" Altez terprovokasi dengan ucapan Yeri. "Yak! mereka itu mendedikasikan hidupnya untuk istrinya sebab istrinya melayaninya dengan baik. Kalau kamu apa? mana? mau melayaniku saja harus menunggu Buna pakai obat perangsang."


Sindiran Altez mampu membuat Yeri mati kutu, mati gaya, mati kata. Seolah mendapatkan sindiran keras, Yeri hanya bisa menelan ludahnya perlahan. Memang begitu faktanya, sudah hampir satu bulan menikah dan masih berbeda kamar. Bukankah itu suatu dosa besar?


"Ya.... ya .. itukan karena aku memang dari awal tidak mencintaimu."


Tiba-tiba Altez memeluk kaki Yeri. "Terus, mau kapan cintanya kalau kamu selalu cuek sama aku?" Katanya dengan nada bicaranya yang manja.


Yeri menelan ludahnya perlahan. Dia merasakan hawa panas Sekarang, pipihnya mulai memerah dan ada sesuatu yang membuatnya merasakan sengatan kala Altez menempatkan kepalanya di atas pahanya.


"Yer, tolong berikan aku kesempatan. Aku ingin memperbaiki semuanya. Hubungan kita, kepribadian dan sikapku, juga hubunganku dengan Mama. Kamu mau membantuku kan? Aku yakin kamu itu orang baik." Ucapnya dengan tulus dan sedikit mengiba.


Aih....! apa ini? Ini pasti jurus buaya buntung miliknya. Kamu pikir aku akan luluh dan tunduk padamu? J A N G A N H A R A P !!


"Aku tidak yakin sama kamu Za, kamu saja baru putus sama mantan mantan kamu itu bahkan belum ada sebulan. Mana bisa aku percaya kamu mau berubah gitu aja? Sudahlah sebaiknya kamu pulang." Yeri berdiri dengan Altez yang masih memeluk kakinya.

__ADS_1


"Lepas Za, aku harus berangkat sekarang. Besok aku harus menghadiri peresmian outlet baru di luar kota." Yeri mendorong bahu Altez untuk bergeser dan tak memeluknya lagi.


Altez berdiri dan memeluknya tanpa ijin. " Kamu mau pergi? sekarang?" Tanyanya dengan tetap memeluk sang istri.


Yeri diam.


"Apa aku boleh ikut? Bukankah akan terlihat baik jika kita pergi bersama?" Ucapnya dengan menatap lekat wajah Yeri.


Ih.. sok manis sekali dia ini. Batin Yeri.


"Aku hanya akan pergi bekerja, tidak akan melakukan apapun Za. Kamu tidak usah ikut." Tolak Yeri yang sebenarnya tidak akan pergi bekerja melainkan hanya ingin menenangkan diri setelah kejadian ramuan cinta buatan Buna tempo hari.


"Pokoknya aku ikut! T I T I K!" Altez memaksa.


"Tidak usah." Tolak Yeri.


"Ikut~~~!" Altez merengek


"Astaga! Za, kamu sudah besar. Kenapa jadi nempel begini sih? Lepas atau aku banting?" Ucap Yeri yang jengah dengan sikap manja Altez.


"Suami yang baik adalah suami yang mendukung setiap kegiatan positif istrinya. Aku mau belajar untuk jadi suami yang baik Yer. Boleh ya? Ya.... ya ... ya....?" Altez mengedipkan matanya berkali-kali.


Tuhan....! Kenapa secepat ini Kau jadikan dia lem cina? Dia sangat ingin menempel padaku aku hanya ingin sedikit bernafas lega tanpa melihat atau berkomunikasi dengan dia sehari saja, Please 🥺🥺!


Yeri, dan Altez belum menyadari apa itu kekuatan dari ikatan suci pernikahan. Sebuah janji yang mengikat jiwa dan raga yang disaksikan oleh ribuan malaikat saat akad dan ijabnya. Sebuah janji yang tertulis secara istimewa dalam garis hidup setiap manusia.


Keistimewaan itu yang akan berlangsung hingga ke surga atau cukup hanya di Dunia. Lalu, setiap mereka akan di uji dengan imbalan yang setimpal di ujung kisahnya. Antara bertahan atau menyerah begitu saja. Dan sekarang ini, mereka tengah di uji dengan perasaan mereka yang belum bertaut dan saling bertentangan.


Altez yang ingin memperbaiki dan Yeri yang ingin lari dan mengakhiri.


"Jangan sok imut begitu!" Yeri mencibikkan bibirnya.


CUP!

__ADS_1


Hayoh loh, Cup apa itu?


__ADS_2