
...~•~...
...~•~...
"Tuan Bisma, di ruangan anda sudah menunggu Ibu Joana." Kata sekretaris Bisma.
Lelaki berperawakan tinggi gagah itu berjalan santai sambil memainkan ponselnya dan menyeringai kala mendengar nama Joana. "Joan? lalu Yeri?" Tanyanya pada si sekretaris.
"Hari ini aku tidak melihatnya hanya Ibu Joana yang saya lihat tadi." Jawab si sekretaris.
Bisma mengangguk paham dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Satu jarinya ia jentikkan untuk memberi aba-aba pada si sekretaris untuk pergi.
JEGLEK!
"Halo! Jo! Apa kabar?" Bisma menyambut Joana dengan ramahnya dia begitu senang bertemu dengan mitra yang acap kali bekerja secara baik dan profesional ini.
"Baik, Pak." Jawab Joana yang lugas tanpa berbasa-basi disertai dengan senyuman alakadarnya.
"Pak Bisma juga terlihat semakin bugar sekarang." Kata Joana yang memuji perubahan fisik Bisma yang terlihat lebih kekar dari sebelumnya.
Bisma tertawa dengan suara baritonnya yang menggelegar memenuhi ruangan. "Hahahaha, anda sungguh pintar memuji dan membuat saya senang Joan." Ujarnya sambil tertawa. "Em.. apa kabar Yeri?"
"Oh ya silahkan duduk!" Katanya yang kemudian duduk dan menuangkan minuman dingin ke gelas di meja yang telah tersedia.
Bisma menenggak minumannya dan Joana mengatakan sesuatu yang membuat Bisma tersedak. "Nona Yeri masih sibuk merawat suaminya yang sedang sakit." Jawab Joana yang sukses membuat Bisma tersedak.
"Uhuk! Uhuk! a... apa? Yeri.... suami? kapan dia menikah? kenapa tidak ada yang memberitahukan kepada saya?" Bisma terperanjat.
Pasalnya dia sama sekali tidak mendengar kabar apapun mengenai Yeri selama dia berada di Florida Amerika serikat.
"Anda akan semakin terkejut jika tau siapa suami dari Nona Yeri." Kata Joana yang sengaja memercikkan sedikit api perselisihan.
"Dengan siapa, katakan Jo!" Bisma menjadi tidak sabaran bahkan Dia sampai mendekatkan duduknya di samping Joana.
Joana terkikik geli dan merapikan jasnya sebelum berbicara. "Biasa saja dan jangan berlebih-lebihan." Kata Joana menginterupsi.
"Altezza Basman." Kata Joana yang sukses membuat Bisma tercengang.
Satu nama itu adalah nama yang membuat Bisma meradang. Altez dan Bisma pernah berselisih dalam urusan bisnis dan juga wanita sebelumnya. Dan sekarang, Altez malah sudah mencuri start dengan menikahi Yeri.
Yeri dan Bisma memang merupakan partner bisnis yang baik. Diam diam Bisma menaruh rasa dan Yeri sama sekali tidak mengetahuinya. Kabar tentang pernikahan Yeri dan Altez ini sungguh membuat Bisma terpukul.
"Kok mau, Nona mu itu menikah dengan buaya seperti Altez? masih banyak lelaki di dunia ini Jo! kenapa harus Altez? tidak bisakah dia melihatku? aku juga sangat bisa dan mau menjadi suaminya Jo." Bisma berterus-terang kepada Joana.
"Ah, sudahlah aku lelah bersikap formal Bis, Aku kesini sebagai adik sepupumu." Joana bersandar di sofa.
Joana dan Bisma memang masih bersaudara dan itu pun tanpa diketahui oleh Yania Iswari dan keluarganya. Keluarga Yania hanya melihat kinerja Joana tanpa memperdulikan siapa kerabatnya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Bisma yang juga tidak seformal sebelumnya. Dia melepaskan kancing jasnya.
"Aku juga baru tahu kemarin sewaktu Tuan Ardi mengatakan jika menantunya membuat ulah." Ujar Joana.
"Si4l!! Bisa bisanya Altez memiliki wanita yang selama ini aku incar?" Umpat Bisma.
"Kamu juga sih Bis, kalah cepat. Makanya yang gesit!" Omel Joana sambil meminum minumannya.
Bisma terlihat frustrasi dan meremas rambutnya. Dia kembali duduk di kursi kebesarannya dan mengetuk ngetukkan jarinya ke meja kerja. Pandangannya tertuju pada sebuah foto dimana ada gambar Yeri disana. Sebuah foto kecil yang dia simpan di laci mejanya.
"Jo, apa aku masih memiliki kesempatan?" Tanyanya.
__ADS_1
Joana menatapnya datar. "Kesempatan selalu ada Bis. tidak ada kata terlambat!" Katanya. "Yang ada hanya ketinggalan. Hahahaha!" Joana tertawa dan mendapatkan hadiah berupa lemparan pena yang tepat mendarat di kepalanya.
"Sakit Bis!" Keluhnya.
"Lebih sakit aku Jo!" Sahut Bisma yang menepuk nepuk dadanya dengan tangan yang mengepal mengisyaratkan jika hatinya tengah terluka tapi tak berdarah.
Joana lalu bangkit dan berdiri serta merapikan tampilannya. "Udah ah, aku permisi dulu Bis mau kerja." Kata Joana.
"Hah? terus ngapain kamu datang kesini sekarang?" Bisma mengerutkan keningnya.
Joana terkikik kecil. " Mau memberikan kabar yang membuatmu galau, seneng aja aku liat kamu galau Bis. Hohohoho!" Ujarnya yang kemudian berlari kecil menghindari lemparan pena yang bertubi-tubi dari Bisma.
"Gila!!" Umpat Bisma yang kesal bukan main.
...~•~...
"Pagi...!" Sapa Altez pada sang istri yang masih mengelap lemari TV.
"Hem!" Sahut Yeri acuh.
"Pagi ...!" Lagi Altez mengulangnya dengan berdiri di ambang pintu kamarnya dengan penampilan yang berantakan.
"Iya!" sahut Yeri lagi dan membuat Altez semakin gemas lalu mendekat ke arahnya. "Kalau di ajak ngomong suami itu jawabnya yang bener geh." Protesnya Setelah mendaratkan bokongnya di sofa dan kembali berbaring disana dengan memasang wajah malas bekerja.
"Oh, iya.. Pagi suamiku. Bapak Altezza Basman yang tampan rupawan." Kata Yeri melebih-lebihkan dan membuat Altez tersenyum ceria.
Tapi ...
"Hoek...! Mandi saja belum mana ada tampan rupawan." Cicit Yeri mencibir penampilan Altez yang berantakan.
"Aku tidak mandi ya, kepalaku pusing sekali Yer. Badanku panas." Kata Altez dengan suara seraknya.
Iya Dia demam. Batin Yeri saat memegangnya.
"Kamu kenapa demam?"
"Ya mana aku tahu, memangnya aku dokter?" Celetuk Altez yang dalam sekejap membuat Yeri geram.
Yeri meninggalkannya begitu saja dan pergi ke dapur. Rupanya Yeri tetap tak tega saat melihat suaminya yang tertelungkup dengan satu tangannya yang terkulai lemas memainkan bulu bulu karpet di lantai terlihat seperti anak TK yang tak di ajak bermain dengan teman-temannya.
"Ini, makan dulu dan minum obatmu." Kata Yeri sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk sederhana hanya nugget ayam dengan capcay sayuran.
"Kapan kamu masaknya?" Tanya Altez dengan matanya yang nanar dan berkaca-kaca.
Matanya berkaca-kaca bukan karena ingin menangis, tapi lebih tepatnya matanya juga merasakan efek panas dari demamnya yang tinggi.
"Tadi, waktu kamu tidur. Udah sini cepat dimakan. Aku mau mandi dulu." Kata Yeri.
"Suapi~~~!" Altez merengek dengan manjanya sambil mencekal pergelangan tangan Yeri.
Astaga, manja sekali Dia. Batin Yeri gemas akan sikap Altez yang begitu manja.
"Makan sendiri saja, aku sibuk. satu jam lagi aku harus berangkat." Kata Yeri yang malas melayani Altez.
Altez menatap nanar tanpa berkedip. " Apa kamu sama sekali tidak kasihan kepadaku? Aku ini suamimu mau kamu terima atau tidak, kamu akui atau tidak tapi hubungan kita jelas dimata Tuhan."
DEG!
Ah, sudah ceramah saja pagi pagi. Batin Yeri yang malas mendengarkan ocehan Altez. Dengan terpaksa Dia lalu kembali duduk di lantai dan menyuapi Altez.
Sekeras kepalanya seorang Yeri, Dia akan tetap tunduk dan patuh pada peraturan agama. Istilahnya sebusuk busuknya Dia dia tidak akan meninggalkan kewajibanya dalam beragama.
__ADS_1
"Ya sudah sini aku suapi." Yeri mulai menyuapi Altez. "Apa kita perlu ke Dokter?" Tanya Yeri yang sibuk melihat nasi di piring dan tak memperhatikan wajah suaminya yang terus saja menatapnya.
"Tidak, aku hanya perlu istriku saja." Jawab Altez.
Yeri mencibikkan bibirnya. " Memangnya aku bisa menyembuhkanmu? Aku bukan Dokter?"
"Aku hanya butuh beristirahat dan ditemani." Ucapnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Saat masih sibuk menyuapi Altez, ponsel Yeri berdering dan itu merupakan panggilan dari Mama Alda, ibu mertuanya.
"Mama telfon." Kata Yeri dengan membelalakkan matanya.
Altez tak kalah bingung. "Angkat saja! ada apa Mama menelfon."
"Entah." Yeri menggidikan bahunya kemudian mengangkat panggilan.
"Halo! Yaya!"
"Iya Ma, Hallo!"
"Ya, kamu ada dimana?"
"Sedang di rumah Ma, baru mau berangkat kerja ada rapat di sekolah." Kata Yeri.
"Bagaimana keadaan Altez?" Tanyanya dan Yeri segera mengarahkan kamera kepada Altez.
"Iya Ma, ada apa?"
"Kamu sudah sehat?"
"Sudah Ma, aku sudah tidak apa-apa. Sudah sembuh." Bohongnya.
Yania menautkan alisnya bagaimana bisa berkata bisa berkata baik baik saja sedangkan tubuhnya saja panas sekali?
Ibu dan anak itu saling berbincang lama dan Yeri memilih kembali ke kamarnya untuk mandi lantaran waktunya yang semakin menipis dan di haruskan hadir ke sekolah untuk rapat menjelang ulangan semester.
Panggilan sudah selesai dan tangan lincah Altez membuka galeri dari ponsel Yeri. Matanya terbelalak kala melihat ada salah satu foto dimana Yeri bersama seorang pria yang tersenyum menghadap kamera dengan background kapal pesiar.
"Apa mereka pernah ada hubungan sebelumnya?" Altez menggumam dan mengerutkan keningnya.
"Za, Masih mau makan lagi atau tidak?" Tanya Yeri yang kini berpenampilan layaknya Yeri dan bukan sebagai ibu guru Yania lagi.
Altez memicingkan matanya kala menatap Yeri yang berbeda penampilannya untuk pergi ke sekolah.
"Kenapa dandananmu seperti itu?" Tanya Altez yang merasa heran.
Yeri melihat penampilannya. "Aku di pecat dari sekolah." Kata Yeri dengan jujur.
"Dipecat? tapi kenapa?" Altez mendudukkan tubuhnya dengan susah payah.
"Tapi bohong! Hahahaha!" Yeri tertawa di hadapan Altez.
"Aku tidak di pecat, tapi akan mengundurkan diri. Aku harus mengutamakan kesehatanku kan? Dokter kulit sudah memberikanku peringatan untuk tidak menggunakan pewarna kulit lagi. atau aku bisa terkena penyakit kulit suatu hari nanti." Jawabnya
"A....!" Yeri menyuapkan makanan ke mulut Altez dan Altez membuka mulutnya layaknya sang anak yang di suapi oleh ibunya.
"Aku sudah sampai pada titik ini, dimana aku harus memilih salah satu karirku." Kata Yeri sambil menunduk.
Tangan Altez bergerak lalu menggenggam tangannya. " Apapun yang kamu pilih Yer, percayalah pada dirimu, percayalah pada kemampuanmu. Mulai saat ini aku yang akan selalu mendukungmu."
Apa ini? mengapa dia menjadi begitu terlihat perduli padaku? Yeri membatin dengan pandangan yang saling beradu dengan Altez.
__ADS_1