PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
55.


__ADS_3

...🍀🍀🍀...



...🍀🍀🍀...


Hai!


Annyeong!!


Spoiler dikit ya, untuk bab ini, dimana Altez begitu posesif terhadap istrinya. Dia yang Playboy ini, bertekuk lutut pada seorang Yeri wanita yang dahulu di caci makinya habis-habisan. Sampai mengalami gangguan psikis.


Nah, sekarang takdir menunjukkan aksinya. Yeri bangkit dan merubah takdirnya. Dia menjadi lebih percaya diri setelah apa yang ia lalui selama ini.


Udah ah, kita lanjutkan saja ceritanya besti!!!


...Sanguinis....


Sanguinis adalah kepribadian yang Altez miliki. 'Si kreatif dan populer', begitulah julukan untuk orang-orang yang berkepribadian sanguinis. Tipe kepribadian ini di pengaruhi oleh senyawa yang disebut dopamin. Pengaruh senyawa ini adalah meningkatkan rasa keingintahuan dan kreativitas.


•Orang yang kreatif.


•Ceria dan aktif.


• Rasa ingin tahu yang tinggi.


•Energik, spontan dan impulsif.


•Populer


•Optimis


•Mudah bergaul dan bersosialisasi.


•Banyak bicara tapi tidak bertanggungjawab.


•Sering telat dan lupa.


•Suka menolong, tapi tidak bisa dijadikan sebagai pijakan.


•Mudah bosan.


Selesai dengan drama pangku memangku, Yeri mendapatkan panggilan mendadak dari kantor tentang ada beberapa orang yang mengajukan komplain atas produk mereka. Orang-orang tersebut mengaku sebagai pembeli yang wajahnya mengalami kerusakan setelah memakai produk dari perusahaan Yeri.


"Kamu mau kemana?" Altez seketika berdiri saat melihat Yeri yang dengan segera berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.


Yeri sangat tergesa-gesa dan hanya menjawab seadanya. "Ada urusan di kantor."


Altez yang masih ingin bertanya pun ia abaikan begitu saja sambil berlari dan segera melesat pergi.


"Ada apa sih? selalu saja setiap mau manja sedikit aja, pasti ada masalahnya." Altez berjalan pincang dan kembali duduk di sofa. Ia kemudian mulai berselancar di dunia maya.


Matanya yang jeli mulai melihat satu siaran langsung dimana tempat itu sangatlah tidak begitu asing baginya. "Ini di kantor Yeri kan?" Ia mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya. "Iya ini di kantor istriku." Ucapnya dengan terus menyimak apa yang sedang terjadi.


Terlihat di dalam siaran sekelebat mobil Yeri lewat dan langsung menuju ke belakang gedung. Sedangkan para pendemo berdiri di depan lobi gedung dan dihadang oleh satpam.


"Pokoknya saya mau tuntut perusahaan kalian!" Salah seorang pendemo berteriak..


"Gara-gara produk kalian wajah kami jadi rusak!" Ibu ibu itu kompak berteriak layaknya kumpulan lebah yang sedang bermigrasi.

__ADS_1


"Iya, kami meminta tanggung jawab dari bos kalian. Mana Bos kalian?"


"Ibu ibu sabar semuanya, semuanya kita bisa bicarakan dengan baik-baik. Ibu-ibu harap tenang."


Preet..., Terguran Udin sama sekali tidak mereka hiraukan. Mereka masih terus saja berteriak meminta keadilan. Begitu anggapan mereka.


Yeri masuk kedalam kantornya. "Ada apa ini?" Tanyanya pada manager pemasaran.


"Mereka berdemo membawa para wartawan bu, mereka meminta ganti rugi atas produk kita. Mereka bilang produk kita merusak wajah mereka." Jawab Si manager pemasaran.


"Panggil manager produksi kemari, suruh langsung ke ruangan saya!" Yeri segera bergegas masuk kedalam ruang kerjanya.


"Kenapa bisa sampai ada kejadian seperti ini. Ini sama sekali tidak pernah terjadi semenjak perusahaan ini berdiri. Ada apa sebenarnya?" Yeri terus memikirkan sebab terjadinya kerusuhan ini.


"Kemana Joana?" Gumamnya yang telah sampai di ruangannya.


Tak lama Joana, manager pemasaran dan manajer penjualan, serta manager produksi, semuanya berkumpul mengadakan rapat dadakan.


"Bu, apa perlu kita panggil pengacara dan tim penasihat hukum kita?" Joana menunggu jawaban sang atasan.


Yeri mengangguk di sela-sela membaca beberapa dokumen dan juga berita yang dengan cepat tersebar di media massa online. Ayah Ardi pun dnegan cepat mengetahuinya meski ia tengah liburan di Lombok.


"Bu, ada polisi dan suami ibu di depan." Kata Joana yang baru saja kembali dari ruangannya yang tak sengaja ia melihat kedatangan Altez melalui monitor CCTV di tabletnya.


Kenapa dia kesini? Batin Yeri.


"Polisi?" Yeri tak mengerti mengapa harus membawa polisi dalam hal ini?


"Iya, seharusnya kita memanggilnya dari tadi. Tapi saya pikir mereka masih mau berdiskusi dan menyelesaikan secara kekeluargaan." Kata Joana.


Yeri memijat keningnya. Ia tertunduk lesu menatap meja kerjanya.


Yeri mendesah lirih. "Hhhh....!" Ia menatap datar para manager. "Aku bisa menyelesaikan ini tanpa campur tangan polisi. Mereka hanya ibu-ibu kalangan menengah kebawah." Kata Yeri.


"Darimana ibu tau? Bagaimana jika diantara mereka ada orang yang berpengaruh?"


"Berpengaruh apanya? Aku tadi sempat memperhatikan, kulit mereka saja kurang perawatan."


Joana menepuk keningnya. Bisa-bisanya atasnya ini sampai memperhatikan dengan teliti kulit dari para pendemo.


"Produk kita itu menyasar pasar kelas menengah kebawah, jadi sudah bisa di pastikan mereka bukan dari kalangan atas."


Oh, ia benar juga. Batin Joana.


"Benar, mana ada sultan mau pakai produk seharga dengan sekilo telur?" Sambung si manager pemasaran.


"Yer! kamu tidak apa-apa sayang?" Altez masuk dengan tergesa-gesa dan kakinya yang juga masih pincang. Ia langsung menghampiri Yeri dan memegang kedua pundaknya, memperhatikan dari atas sampai bawah anggota tubuh istrinya.


Yeri merasa risih dan tidak enak pada para manager yang sedang mengadakan rapat dadakan. "Za, aku tidak apa-apa. Udahlah jangan begini, aku malu." Lirihnya berbisik di telinga Altez. Ia berbicara dengan mulut yang sedikit terbuka karena menahan suaranya.


Altez tersenyum. "Kenapa? aku begini dengan istriku sendiri. Apa ini salah?" Altez bertanya pada anggota rapat.


"Tidak Pak!" Jawab mereka serempak.


"Nah, benar kan? Aku hanya mengkhawatirkan keadaan istriku saja." Altez lalu berdiri di belakang kursi kerja Yeri.


Yeri mengacuhkannya. Saat ini tidak ada yang lebih penting dari menyelesaikan masalah yang sedang ramai disiarkan secara langsung ini.


Tak lama terdengar suara pintu terketuk.

__ADS_1


"Masuk!" Yeri berseru.


Masuklah beberapa orang polisi dengan membawa perwakilan pendemo. Mereka membawa dua orang ibu-ibu yang di tunjuk sebagai perwakilan untuk berunding.


"Silahkan duduk." Yeri mempersilahkan.


"To the point saja! Kalian membeli produk dengan merek Sekar dimana? lalu, mana barangnya biar kami jadikan bukti." Seru Altez yang langsung berbicara tanpa banyak basa-basi.


Sedari tadi hanya duduk dan memantau lewat siaran langsung cukup membuatnya kehilangan kesabaran. "Ini barangnya, kami membeli di outlet yang berada di jalan xxxx dekat SPBU dan wajah kami jadi rusak semuanya!" Ibu-ibu tak kalah lantang menjawabnya dengan emosinya.


"Dimana tadi ibu membelinya? Siapa agen reseller-nya?" Tanya Yeri dengan tenang.


"Toko itu baru, dan kami juga belum terlalu paham siapa penjualannya. Tapi aku masih ingat namanya."


"Katakan siapa bu?"


"Nama penjualan Ani Fajarini." Jawab Si ibu-ibu.


"Pak, tolong di cek! apa kita punya cabang outlet di tempat yang ibu ini sebutkan dan juga nama agen reseller-nya." Kata Yeri memberikan perintah.


"Baik bu!" Manager pemasaran segera memeriksa datanya.


"Di jalan itu tidak ada outlet atas merek yang di produksi oleh perusahaan istri saya. Saya baru saja melintas di jalan tersebut. Hanya ada ruko kosong banner dan plang atau apapun itu sama sekali tidak ada." Altez lagi-lagi menimpali.


Yeri menengadah dan menatapnya heran.


"Maaf tapi nama tempat dan juga agen reseller resmi yang Ibu sebutkan tadi tidak tercantum pada nama agen resmi kami. Sekarang, boleh kami lihat produk yang ibu beli?" Kata manager pemasaran.


"Sudah saya bilang tadi, bahkan tokonya saja tidak ada. Apa ibu sengaja ingin membuat sensasi dan menjatuhkan istri saya?" Altez menatapnya tajam.


Dua ibu-ibu tadi hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Tangan dan juga tatapan mata mereka bergeming.


"Mana produknya?" Yeri kali ini meminta sendiri pada si ibu-ibu biang rusuh.


Dengan tangan yang bergetar, ibu itu memberikan produk yang ia maksud. "Ini." Ucapnya tak sekeras awal bicara tadi.


"Bawa ke lab sekarang!" Pak manager produksi memberikan produk tersebut pada Joana. "Bapak boleh mengikutinya untuk menguji keaslian produk ini, supaya ada saksi. Ibu ini juga silahkan mengikuti tes tersebut." Kata Manager produksi.


Mereka semua pergi meninggalkan Altez bersama Yeri dan seorang ibu-ibu pendemo dan juga dua orang polisi.


"Saya yakin, istri saya tidak bersalah pak." Ucap Altez.


"Tenang pak, biar kita tunggu dulu hasil lab. Apa-apa saja kandungan kimia dalam produk tadi." Jawab pak Polisi yang menenangkan Altez yang terlihat sangat marah dan beberapa kali ia mengeratkan rahangnya menahan emosi.


...-----🐣🐣🐣-----...



"Za, kamu bisa tidak sih apa-apa tidak marah marah seperti tadi?" Yeri bertanya dengan lembutnya. Tangannya kini sudah terperangkap dalam genggaman Altez yang sama sekali tidak bersedia melepaskannya. Pasalnya tadi Altez mengamuk di ruangan Yeri. Ia marah kepada dua ibu-ibu yang membuat onar.


Altez menatap ke arah lainnya. "Aku tidak bisa bersabar saja menghadapi para pembohong tadi. Aku yakin ada yang membayar mereka tapi siapa?"


"Entahlah, yang penting semuanya sudah selesai dengan baik." Yeri lebih tenang dan meredakan emosi Altez.


"Kamu terlalu baik sayang." Kata Altez.


"Iya, dan kamu yang pemarah." Ucap Yeri yang membuat Altez tersinggung. Ia seketika menghadapkan wajahnya pada sang istri lalu mengecup tangan yang digenggamnya dan membubuhkan senyum lebarnya seperti keledai.


"Hehehehe! aku pemarah ya?" Tanya Altez sambil nyengir kuda.

__ADS_1


__ADS_2