
...🐦🐦🐦...
...POV Yania....
Satu bulan? Bukankah itu terlalu lama untuk aku tidak bisa menyiksanya secara perlahan? Bodoh sekali aku yang langsung mengiyakan, setidaknya membuat drama perpisahan dulu lah untuk merusak moodnya.
Baru saja aku mau menyusulnya, tapi sayup sayup aku mendengar dia berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon seluler.
Dari inti pembicaraannya yang aku tangkap, dia tertawa haha hihi dengan seorang wanita. Tapi entah itu siapa, Oh~~~~ ini bukan perjalanan bisnis, melainkan perjalanan perselingkuhan.
Siapa lagi kira-kira wanitanya ya? Ah, mengapa aku jadi kepo begini?
Bodo amat lah! terserah, lagian aku juga sama sekali tidak pernah di jamah olehnya. Apa ruginya aku? perasaan juga kami tidak ada kan? Jadi ya sudah, santai saja lah.
Satu bulan? Oh, ini akan ku gunakan untuk mengurus perusahaanku yang selama ini hanya di utus oleh orang kepercayaan ku.
"Ide yang baik." Gumamku lalu mulai berkemas dan menyiapkan segala kebutuhanku sebagai Yeri.
Selesai bersiap-siap, aku memasukkan koperku kedalam bagasi. Saat itu juga, entah darimana datangnya si pelakor ke 1 ini datang. Dia Nella dengan pakaian minimnya. dan juga kaca mata hitamnya berjalan angkuh dengan congkaknya.
"Heh! buluk!" Serunya menanyaiku. Aku tak menengok, sebab namaku bukan itu. Ku acuhkan dia dan aku mulai memanaskan mobil ku.
"Jelek!" Serunya lagi yang kali ini mentoel lenganku.
Berani juga dia, ga takut ku banting lagi?
"Namaku Yania Iswari, istri sah dari Altezza Basman. Kamu si pelakor ke 1 ada apa mencari istri sah selingkuhanmu?" Ketusku berbicara padanya.
Tidak seperti yang pertama kali kami bertemu, kali ini dia lebih menjaga jarak aman dariku. Dia juga terlihat selalu was was dengan pergerakanku.
"Kamu sembunyikan dimana Altez?"
"Buahahaha!" Aku menertawakannya. Sungguh dia terlihat sangat bodoh sekali. "Menyembunyikan? kamu pikir dia barang? Dia bebas pergi kemanapun ia mau! Dan asal kamu tahu, mau kemanapun ia pergi, i don't care!!"
Perdebatan sengit ini agaknya bisa menghancurkan moodku hari ini. Untuk itu aku harus bisa membalik keadaan dan membuatnya berantakan dalam sekali jentikan.
"Kenapa? sudah lama tidak terpakai ya? Duh, kasihannya pasti gatel gatel deh." Ujarku yang menatap remeh padanya.
Dan.....
lihatlah, itu berhasil. Dia langsung melepaskan kacamata hitamnya dan bersiap menunjukku.
"Eh, jaga mulutmu ya! Walaupun begitu kamu yang nantinya akan mendapatkan barang bekas dari ku. Hahaha apa gunanya status yang sah dimata hukum dan agama tapi tak pernah ada di mata suami? mengenaskan!"
DEG!!
Kata katanya seperti jurus jitu yang membuatku lumpuh layu. Benar ucapannya, Apa gunanya status tanpa keseriusan masa depan di dalamnya? Ah, aku tidak boleh terpengaruh.
"Lalu apa kamu pikir kamu satu satunya yang memakainya? Tidak!! jangan bermimpi!! Aku istrinya, dan aku paham seperti apa suamiku. Bukan hanya kamu Nella, masih ada dua wanita yang lainnya. Oh iya mereka sepertinya sedang berlibur bersama satu bulan lamanya. Apa kamu berminat bermain bertiga? Trisom* maybe?" Kataku meremehkannya.
__ADS_1
1
2
3
Dan.....
BUM!!
Meledak lah sudah amarahnya. Dia terpengaruh juga. Si otak dangkal ini rupanya sangat bodoh, hanya modal paras saja. Cih!
"Kemana mereka pergi?" Tanyanya yang bersungut-sungut dengan wajah yang memerah padam.
"I was told you, i don't know and I don't care at all!!" Ucapku yang kemudian pergi meninggalkannya yang hanya bisa mengerang tanpa berani mendekat kepadaku.
Kenapa mbak pelakor 1, takut di banting ya?
Hahaha lega sekali rasanya berhasil membuatnya kesal dan marah seperti tadi. Hhhmmh... ini waktunya untuk ku healing.
"My home, I'm coming!!" Seruku dalam mobilku yang melaju menuju ke rumah ku yang tersembunyi.
Joana, ku harap dia sudah bersiap menyambut kepulangan ku.
Satu jam mengemudi dan aku tiba di sebuah apartemen yang ku beli dengan hasil kerja kerasku. Apartemen yang nilainya fantastis dengan pemandangan yang sangat indah, menghampar menatap lautan lepas dengan pantai di bawahnya.
Joana, berkepribadian baik tegas dan juga pandai beladiri sama sepertiku, dia adalah orang terpilih dari Ayah untuk menjaga putri semata wayangnya ini.
Notif masuk, dan itu merupakan email yang sudah lama aku nantikan. Perjanjian kerja sama baru dengan sebuah perusahaan iklan milik suamiku.
"Hahahaha.... let's beginning Altezza Basman, Bagaimana reaksimu jika melihat wujud asliku?" Aku menyeringai membaca nama pemilik perusahaan yang tertera.
"Tapi ini belum waktunya kita untuk bertemu dan mengobrak abrik hatimu." Kataku yang sangat optimis jika dia akan jatuh hati kepada sosok asliku sebagai Yeri.
...~~~...
Aku menikmati matahari terbenam dengan duduk dan mengamati orang orang yang sedang bermain di tepian pantai, mereka terlihat sangat bahagia. Tapi.....
Itu.... itu seperti suamiku? dengan siapa? Aku mulai menajamkan resolusi kameraku. Tak puas dengan itu, aku mengambil teropong dari koperku dan segera melihat pemandangan antik ini.
"Oh, jadi begini? pamitnya kerja? Nella Nella seharusnya kamu ikut aku tadi biar bisa melihat pemandangan bagus ini." Gumamku sambil terus menyorot objek.
"Ah, iya!" Tiba-tiba saja muncul ide cemerlang di kepalaku.
"Ah, semua pasti akan menikmati drama ini." Kataku bersorak gembira.
Aku memang sangat ingin melihat pertengkaran antara Altez dan para wanitanya. Tapi bagaimana ya? Aku harus lebih bersabar agar tikus masuk ke dalam jebakan.
Seseorang mengetuk pintu flat ku, dan itu adalah orang yang lama ku tunggu juga. Tak munafik, aku juga memiliki sisi gelap ku sendiri.
__ADS_1
Dalam jiwaku yang kesepian, aku terkadang membutuhkan teman bicara. Tapi... aku tak mau berbicara dengan melihat wajah mereka. Jadi, setiap aku pulang ke apartemen ini, aku pasti akan menyewa seorang brondong. Ya, aku suka dengan mereka yang lebih muda.
Lebih gampang di atur dan menurut asalkan ada uang. Pemuda itu masuk dengan menenteng tasnya, dia memakai topeng sesuai dengan pesanan ku.
"Masuk! kemarilah!" Kataku, tapi pemuda itu bergeming.
"Masuk saja! tak usah sungkan!" Kataku dengan menyesap Vape milikku. Ini adalah pelarianku dari rasaku yang tak nyaman dalam diriku sendiri.
Aku tak mengenakan pewarna kulit lagi, ataupun kacamata tebal lagi, juga wig. Aku murni dengan fisikku yang sesungguhnya. Aku sebagai Yeri (Yania Iswari).
"Joana yang memesanmu kan? kemarilah, aku yang menyuruhnya. Duduk di sini, aku hanya butuh teman bicara." Kataku dan si pemuda bertopeng itu perlahan-lahan bergerak dan duduk di sebelahku yang hanya mengenakan chemise.
Bagi yang tidak tahu apa itu Chemise, itu adalah baju yang biasanya sangat tipis menerawang dengan tali satu jari yang menjaganya agar tetap menggantung. Chemise singkat kata adalah baju haram milik para istri solehot.
"Mau minum?" Aku menyodorkan bir padanya.
Dia menggeleng. dari penampilannya, dia terlihat masih seperti anak SMA. Tapi sudah bekerja seperti ini? menjadi pria panggilan yang biasa di pesan oleh Tante Tante arisan ataupun tante tante kesepian sepertiku.
"Ok, kalau tidak mau." Aku mengangguk mengerti dan kembali menyesap Vape milikku. "Pijat kakiku sweety, aku sungguh lelah." Kataku dengan manjanya yang kemudian menaikkan kedua kakiku pada pahanya.
Ah, nikmatnya. Aku merasa tenang dan damai saat tangannya yang halus mulai menyentuh setiap centi kulitku.
"Tenang, jangan takut sama Kakak! Kakak tidak akan merusak masa depanmu, aku hanya butuh di belai, dikecup, dan teman makan lalu bicara. Hanya itu." Kataku menjabarkan tugasnya selama bersamaku.
Dia hanya diam saja, aku tau dia gugup, bahkan tangannya sampai berkeringat. "Tidak usah gugup seperti itu sweety..." Kataku yang kemudian mengecup tangannya yang gemetaran.
Aih, gemas sekali pria muda ini. Ini pasti yang pertama kali, dia sampai gugup seperti ini.
...~~~...
Sumpah, saat menjadi Yeri, sisi kepercayaan diriku bisa berkali-kali lipat dan aku menjadi begitu agresif. Tapi, ketika menjadi Yania, aku bahkan malas untuk merespon hal hal yang berbau seksual.
Pria muda pesanku juga ku kurung selama satu bulan disini sampai aku pulang. Kurang enak apalagi? pekerjaannya hanya mengelusku dan menemaniku makan, lalu aku membayarnya 10 juta satu bulan.
Seperti malam ini, merupakan malam pertama kami. Aku memintanya untuk memelukku sampai aku tertidur. Dan dia melakukannya tanpa banyak bicara ini itu. Ah tidak, dari pertama datang, dia hanya diam.
"Peluk aku." Kataku yang kemudian melingkarkan tangannya di atas perutku yang memunggunginya.
"Jangan takut, jangan cemas, aku tidak akan merusak masa depanmu. Hanya temani aku saja sampai aku tertidur dan kau boleh pindah ke kamar sebelah." Kataku sembari memainkan jemarinya.
"Jarimu, tidak asing. Apa hanya kebetulan sama? Aku punya murid yang jari kelingkingnya sama sepertimu. Mungil dan imut begini. Aku suka." Kataku sambil tertawa kecil.
"Dia anak yang pintar dan berprestasi. Tapi sayangnya Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu dan itu semua membuat sulit keadaannya kini. Hhh.... kalau saja dia seumuran denganku, maka aku akan mengejarnya dan memaksanya untuk menjadi suamiku." Kataku lagi.
"Apa dia tampan?" Celetuk pemuda yang memelukku itu.
Apa telingaku salah rungu atau bagaimana? kenapa suaranya juga tidak asing bagiku? Aku terperanjat lalu terduduk dan melepaskan topengnya.
Mati aku!
__ADS_1