
...~•~ ...
...~•~ ...
"Iya iya aku bangun." Ucap Altez yang menggerutu dengan wajah yang tertekuk lesu.
Yeri seketika bangun dan merapikan bekas tempat tidurnya. "Minggir! awas!" Usirnya pada sang suami yang masih bermalas-malasan di atas matras.
"Pelan pelan kenapa Yer?" Altez menegurnya dengan nada rendah dan suara paraunya.
"Enggak bisa pelan, Aku satu jam lagi ada rapar dan sekarang semua masih berantakan dan juga belum ada sarapan." Yeri berkicau seperti burung pemakan padi di pagi hari.
Altez tersenyum. Mungkin ini merupakan suatu langkah awal yang baik untuk meluluhkan hatinya dengan memberikn perhatian?
"Ya sudah, kamu bersiap biar rumah dan sarapan aku yang urus." Katanya dengan maksud terselubung.
"Ya udah, ih! awas aja kalau tidak beres." Ucap Yeri yang kemudian berlalu pergi.
Pertma kali dalam hidupnya tanpa Yeri sadari, Dia mulai mempercayakan tanggung jawabnya kepada orang lain yang notabene adalah musuhnya sendiri. Ini merupakan suatu perubahan besar dimana rasa percaya itu mulai ada.
"masih pusing, tapi sudah harus beres beres rumah. Oh... kamera mana kamera?" Altez bercicit sebab ini pertama kali seumur hidupnya dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri secara pribadi.
Dulunya apapun itu pekerjaan rumah, Altez sama sekali tidak pernah mau menyentuhnya istilahnya, dia lebih memilih untuk membiarkan sampai lapuk dari pada harus membersihkan suatu kekacauan.
Ya, berbeda dengan adiknya Albie yang mandiri, Altez memanglah sangat manja dan paling mendominasi sifat dan sikap Ayahnya. Altez memanglah duplikat sang Ayah dan sang adik yang menuruni sifat dan sikap sang ibu.
30 menit berada di dalam kamar, Yeri akhirnya selesai dengan ritual mandinya. Dia sudah berpenampilan cantik dengan membawa kaca mata hitam yang dia gantungkan di kancing kemejanya yang paling atas.
"Kamu mau kemana?" tanya Altez dengan memaki celemek dan masih menggoreng telur.
"Kan sudah bilang tadi. Ada rapat dengan klien." Ucapnya yang juga tengah sibuk memakai jam tangannya.
Sungguh penampilan Yeri membuat Altez kagum. Istri yang sama sekali belum pernah ia garap itu mengenakan setelan kerja dan riasan tipis yang membuatnya look beauty in natural.
"Em..." Altez mencibikkan mulutnya tanda jika ia percaya tanpa ada penolakan yang berarti.
"Ini sarapannya?" Yeri menunjuk telur mata sapi .
Altez mengangguk dengan perlahan seperti meragu.
"makasih!" Ucap Yeri yang kemudian meminum susu almond dalam sekali teguk.
__ADS_1
Altez hanay melotot di buatnya. Wanita cantik tapi gaya makannya tidak elegan sama sekali.
"Aku berangkat!" Yeri segera berlarian keluar saat bersamaan datang sebuah mobil yang menjemputnya.
Mobil sedan kuning yang merupakan jelmaan Bumblebee. Altez menegekor dan mengintip dari jendela. ia hapal siapa pemilik mobil tersebut. Seketika Altez membanting spatula yang masih di pegangnya.
"Si4l!!" Umpatnya mengeram kesal.
"Kenapa bisa bisanya Bisma yang menjemput istriku? Apa tadi bilangnya rapat? Rapat apa?"
Altez benar-benar marah. Seseorang yang merupakan relasi istrinya ternyata merupakan saingan lamanya dalam berkarir dan juga bercinta. Bisma wiguna.
"Susul enggak, susul enggak, susul enggak? kalau aku menyusul, ilang setengah sahamku. kalau tidak, hancur harga diriku sebagai lelaki dan suami." Altez dilema.
"Argh....! aku harus menyusulnya." Final Dia bergegas mandi dan menyusul sang istri.
...~•~ ...
"Jo, kenapa pakai mobil Bisma?" Yeri bertanya sebab meras heran mengapa Joana memakai mobil orang lain dan bukan mobil milik Yeri yang dibawanya.
Joana dengan fokus mengemudi "tadinya sih pakai mobil kita sendiri Bu, tapi kata Pak BIsma suruh pakai mobil Dia saja karena sayang, mobil ini sudah dua tahun tidak di pakai."
"Oh, buat nambah KM doang?" Yeri menimpali.
"Iya, begitu kira kira."
Membelah jalanan kota dan menuju ke daerah tepian pantai. Rapat yang diadakan memang berada disebuah resort yang menghadap ke pantai dan itu juga tak jauh dari apartemen pribadi Yeri.
Sebuah rapat untuk membicarakan produk baru yang akan diluncurkan di pasaran. Produk kecantikan yang berbahan dasar alami yang mencegah masuknya sinar UV yang biasa kita sebut sebagai tabir surya.
Perusahaan Yeri sebagai pemilik produk dan Perusahaan Bisma sebagai Penyedia jasa layanan pembuatan iklan. Mengapa tidak memakai jasa periklanan milik suaminya sendiri?
Itu poin utama yang sengaja Yeri bangun. Yeri ingin Altez memohon dan merengek agar Dia tidak bekerja sama dengan orang lain dan beralih dengan Perusahaannya saja.
"Sekar cosmetics." Altez membaca alamat dari Perusahaan cosmetic milik sang istri. "Ah, iya ini benar alamatnya. Sudah tidak sabar aku ingin melabrakmu Yeri. Kamu sengaja ingin membuatku malu kan? sengaja memaka jasa iklan orang lain sedangkan aku sendiri punya."
Altez geram, sungguh geram. "Untuk apa? biar semua orang tau kalau rumah tangga kita ini tidak harmonis dan hanya sebatas urusan bisnis?" Altez terus berkicau dan memarahi stir mobil yang di pegangnya.
CIIIT!!
Bunyi decitan ban mobil yang beradu dengan aspal melengking di telinga menyit perhatian dari satpam penjaga yang berdiri di depan lobi perusahaan istrinya.
Altez keluar dan berjalan dengan amarah yang tertumpuk dan jangan lupakan rahang yang sudah mengeras dan siap memaki.
__ADS_1
Langkahnya terhenti mana kala satpam meminta kartu tanda pengenal. "Kartu identitasnya Pak." ucap si satpam mengulurkan tangannya.
Altez merogoh saku celananya, Nihil!
Dia kembali merogoh saku jaketnya, Nihil!
Altez mulai clingukan mencari benda berwarna hitam yang banyak terselip kartu kredit di dalamnya.
"Kartu tanda pengenal!" Ulang si satpam mengulurkan tangannya.
"Saya lupa tidak membawanya Pak. Tapi saya kesini untuk menemui istri saya. Saya ada urusan."
"Istri? Siapa istri bapak biar resepsionis yang panggilkan tapi Bapak tetap dilarang masuk dan tunggu saja disini."
"Istri saya Yania Iswari." Ucap Altez dengan yakin.
Satpam megulum tawanya dan nyaris pecah jika tidak segera menutup mulutnya. Yang ia tahu Bosnya yang jarang berinteraksi dengan para karyawan itu masih gadis.
"Istri dari Bu Yeri? bapak ini kalau mau mengada ada yang meyakinkan saya gitu loh pak. Bisa bisanya anda mengaku sebagai suami dari Bos disini sedangkan bapak saja penampilannya seperti ini."
Karena terlalu emosi, Altez datang mengenakan piyama disiang hari dan berbalut jaket. Meski warn piyamanya adalah hitam polos, tetap saja dari dekat orang akan tahu jika itu piyama.
"Tapi saya ini suaminya, biarkan saya masuk!" Altez bersikeras memaksa.
"Tapi saya juga satpam di sini, saya tidak boleh membiarkan orang sembarangan masuk!" Suara si satpam tak kalah lantang.
"Kalau saya tidak boleh masuk, saya akan pecat kamu!" Altez menunjuk batang hidung si satpam.
"Pecat? Siapa Bapak mau pecat saya?"
"Saya suami dari pemilik perusahaan ini!" Ujar Altez dengan memekik lantang dan urat urat lehernya sampai terlihat.
Banyak mata menyaksikan bagaimana di suasana siang yang terik kedua lelaki yang berbeda generasi itu saling berseteru. Keduanya saling tunjuk dan adu argumentasi.
Hingga,
WUZZ!!!
Mobil sedan kuning melintas di depan Perusahaan dengan kencangnya.
"Aku tandai kamu ya!" Altez mengakhiri perdebatan dengan membaca tag nama si satpam. "Udin marudin." Ucapnya membaca tag nama si satpam.
Altez segera menaiki mobilnya dan memburu sedan kuning dengan plat nomor kendaraan yang begitu terngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Awas aja kalau kalian ketangkep punya hubungan yang lebih..... Liat aja gue bakal ngapain elu Yeri....!" Altez mengemudi memburu mobil sedan kuning.
Hyoh loh Yer mau di apain sama laki lo?