PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
45.


__ADS_3

...~•~ ...



...~•~ ...


"Bu, semuanya sudah beres kita tinggal menunggu Pak Bisma saja." Kata Joana saat Yeri tengah membaca dokumen dari perjanjian kerjasama dengan Bisma.


Tak lama terdengar suara pintu terketuk dari luar.


"Selamat pagi menjelang siang Ibu Yeri." Bisma menyapanya dan duduk menyilang kan kakinya di sofa.


"Selamat siang Bis. Em sudah makan?" Yeri ikut duduk di sofa dan memijit keningnya.


"Kenapa, kamu terlihat pusing." Ucap Bisma yang memperhatikan mimik wajah Yeri yang terlihat lesu.


Yeri mendesah dan menyandarkan kepalanya di sofa. "Ah.... tidak apa-apa hanya kurang tidur saja."


Ada apa dengannya? dia terlihat sangat lelah. Batin Bisma mengamati Yeri yang terlihat gelisah.


Jelas saja dia gelisah, mau bagaimanapun juga kejadian tadi pagi cukup membuat moodnya berantakan. Yeri yang beru semalam berpikiran jika mungkin saja Altez memang bersungguh-sungguh akan berubah nyatanya pagi ini di suguhkan dengan fakta mengejutkan dimana suaminya menghamili selingkuhannya.


"Jo, tolong carikan makan siang untukku." Pinta Yeri pada Joana yang dengan setia berdiri di sampingnya.


"Mau makan apa Bu?" Tanya Joana yang belum mengetahui menu apa yang Yeri ingini.


Yeri mengusap keningnya perlahan, seolah ada beban berat yang sedang bergelayutan. "Em... apa saja terserah, samakan saja dengan pak Bisma." Ucapnya yang kemudian menatap Bisma yang juga menatapnya.


Bisma membelalakkan matanya. Tidak pernah sekalipun selama mereka bekerjasama Yeri mengajaknya makan hanya berdua di ruang kerjanya seperti ini. Biasanya mereka akan makan di restoran ataupun di tempat ramai yang tentu saja ada Ayah Ardi dan Joana yang mendampingi.


"Aku sedang ingin bebek bakar sepertinya enak." Ucap Bisma yang membayangkan bebek bakar di kepalanya.


"Ah iya itu saja. Minta sambalnya yang banyak." Ucap Yeri pada Joana.


Joana mengerutkan keningnya. "Tapi Bu, Ibu tidak bisa makan pedas." tuturnya.


Yeri menatapnya tajam. "Belikan saja apa susahnya?" Ucapnya dengan nada bicara yang lugas.


"Oh iya maaf." Joana segera melaksanakan perintah Yeri.


Aneh, dia punya sakit magh. Makanan pedas sangat tidak baik baginya. Apa sedang ada masalah? Tapi apa? Batin Joana dengan langkah kakinya yang lebar menuju ke restoran khas Jawa barat.


Di dalam ruangan kerjanya.

__ADS_1


Bisma dan Yeri masih membahas perihal iklan yang akan di tayangkan, keduanya sangat serius menentukan tema untuk penggarapan iklan produk selanjutnya.


Di saat itu juga terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Tok....!


Tok....!


"Masuk!" Ucap Yeri menyahuti.


"Permisi Bu, saya mengantar tamu, beliau bilang beliau adik Ibu." Kata Resepsionis yang berdiri di ambang pintu.


Bisma menatap heran setelah rungunya mendengar kata adik. Adik? adik yang mana, bukannya Yeri adalah anak tunggal? Batinnya.


"Ijinkan dia masuk." Ucap Yeri yang kemudian berdiri dan mendekat ke pintu.


Vito masuk dengan perlahan, ia begitu takjub melihat seisi ruangan Yeri.


"Apa kabar Dek?" Yeri bertanya tapi juga dengan gerak tubuh yang sudah menghambur memeluk erat Vito seolah ia membutuhkan tempat untuk bersandar dan mencurahkan segala keluh kesahnya.


Vito tersenyum menatapnya. "Baik Kak!" Jawabnya yang juga kemudian balas memeluk Yeri dengan erat seolah ia begitu merindui istri orang itu.


"Ehem!" Bisma berdehem dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana seakan sedang menunggu dirinya untuk di perkenalkan.


Vito dan Bism saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.


"Vito."


"Bisma."


"Kamu sudah makan Dek?" Tanya Yeri setelah menggiring dan menempatkan Vito untuk duduk di sebelahnya.


Vito hanya tersenyum canggung dan menggeleng.


"Bebek bakar mau?" Tanyanya degan meneleng menunggu jawaban dari adik angkatnya yang tampan itu.


Vito menjawabnya dengan anggukan. Dia masih malu malu dan duduk dengan posisi tegangnya. Yeri yang menyadari itu kemudian menepuk pundak Vito yang terduduk dengan tegaknya.


"Santai saja, jangan tegang begitu." Kata Yeri sambil tersenyum.


"Bis, kenalkan. Dia ini adalah adik angkatku." Kata Yeri menunjuk Vito dengan tangan kanannya.


Oh, jadi dia ini yang Joana ceritakan waktu itu. Dia sekarang jadi adik angkat Yeri, berarti.... sainganku tinggal Altez saja. Bisma bernafas lega.

__ADS_1


"Kata Bu Wiwin kamu sudah memilih universitas yang kamu inginkan." Yeri berbicara dengan santainya.


"Iya Kak, sudah dan kebetulan aku juga dapat beasiswa jadi...." Vito menggantungkan ucapannya sat Yeri menggerakkan telunjuknya di udara.


"Tidak. Nanti kita bicarakan nanti saja. aku sudah tau maksud kedatanganmu."


Vito menatap heran. Bagaimana bisa tahu, sedangkan ia sendiri belum mengucapkan.


"Yer, apa kamu sudah membaca berita gossip pagi ini?" Ucap Bisma.


"Apa, ada apa?" Tanya Yeri dengan ketidak tertarikannya.


Bisma menunjukkan Berita di laman Lambe ndomble dimana mereka mengusung berita terbaru tentang kehamilan Nella.


"Oh, itu aku sudah tahu sebelum beritanya tayang." Ucapnya malas.


Sudah tahu tapi reaksinya datar? Istri macam apa ini?


"Kamu tidak apa-apa suamimu begitu?" Tanya Bisma. "Jujur saja aku kasihan melihatmu di perlakukan seperti ini." Katanya yang terdengar tulus padahal modus.


"Aku tidak apa-apa, dengan adanya hal ini akan semakin mudah bagiku mengurus perceraian kami." Jawabnya tanpa pertimbangan.


Bisma membulatkan matanya. "What? kamu mau cerai. oh Come on! kalian baru menikah Yer."


"Ya, mau bagaimana lagi? Aku tidak suka berebut dan aku juga merasa tanpa dia hidupku akan tetap baik-baik saja. So, apa yang kutakutkan?"


Jawaban cuek Yeri membuat kedua pria yang duduk di sofa itu tercengang. Mereka sampai membeli beberapa detik.


"Kak, serius? Tapi..." Vito memastikan apa yang di dengarnya hanyalah suatu kekeliruan.


"Vito, sudahlah. Kamu fokus saja pada kuliahmu. Ini hanya Maslah sepele, tidak akan mempengaruhi hidupku." Kata Yeri.


Benar memang ia adalah wanita mandiri. Tapi siapa yang tahu jika di dalam hatinya ia tengah menanggung sakit yang bertubi-tubi? Baru saja menaruh harapan dan sudah hancur tergilas hingga tak berbekas.


Joana datang dengan membawa pesanan Yeri sebelumnya ia juga mengirim pesan pada Joana untuk menambahkan dua porsi.


"Ini Bu, makanannya." Joana meletakkan bungkusan makanan tersebut di meja.


"Ia Ayo sudah kita makan bersama-sama." Yeri juga menggiring Joana untuk duduk. "Ayo kita makan bersama, jarang-jarang kan kita bersama seperti ini?" Ucap Yeri sembari menyuguhkan senyum piasnya.


Vito dan semuanya mereka dapat merasakan hawa yang aneh di sana seolah Yeri tangah menutupi dan menyimpan sesuatu. Tapi, apa itu?


Yeri makan dengan sangat lahap, bahkan ia sampai mengeluarkan air mata karena sensasi pedas dari sambal terasi yang sedang ia makan.

__ADS_1


Memang dia tidak bisa makan pedas yang amat sangat, dan untuk level pedas ini sepertinya mampu membuat Yeri akan beristirahat beberapa hari di rumah sakit.


__ADS_2