PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
54.


__ADS_3

...-----**----...



...-----**-----...


Hai!


Annyeong!! semoga sehat semua dan i love you πŸ’•πŸ’•πŸ’•!


Kali ini ada adegan begini ya, mereka lagi curhat tentang masa kecil mereka berdua nih. Kira-kira, semakin kesini Yania akan tetap pada misinya, atau malah luluh sama Altez yang bucin?


Check this out 😘!


Yeri masuk ke kamarnya ia menuruti kemauan suaminya untuk mengganti pakaiannya.


"Apa-apaan, begini saja harus ganti pakaian, dan apa katanya tadi? Aku harus tampil jelek? Ouh....!" Yeri bermonolog di depan cermin.


"Ah~~~! ini waktuku untuk menampilkan pertunjukan terbaik. Kita tes, seperti apa reaksinya jika melihatku cantik maksimal?" Yeri terkikik setelah menemukan ide terbaiknya.


Di ruang tamu.


"Ada apa kalian kemari? berisik!" Altez bertanya dengan bersungut-sungut. Dia kesal saja, usahanya mendekatkan diri dengan istrinya harus berakhir rusuh karena kedatangan dua cecunguk itu.


Diko dan Fredi terkikik geli dan melihat sekitar. " Kenapa, kesel banget kita datengin? Lagi ada proyek pengembang biakan keturunan lu ya?" Celetuk Diko.


"Jelas lah, liat aja mukanya kayak enggak seneng gitu kita datengin. Kagok lu ye, masih nangkring kita gangguin?" Diko menggoda dengan menaik turunkan alisnya.


Altez memutar badannya dan berjalan mendahului tamunya dengan menyembunyikan kekesalannya. "Si4l!" Umpatnya tanpa suara.


"Mana bini lu?" Tanya Diko setelah mereka duduk.


"Ngapain tanya-tanya bini gue? Ada perlu apa lu?" Altez menodongnya curiga.


"Wiuzz! santai bro, kita cuma ada perlu sedikit. Kita mau tanya jawab sama dia soal wanita. Tadinya kita mau tanya sama dokter kandungan, cumankan enggak lucu ya, kita belum nikah tapi konsultasi dengan dokter kandungan. Kandungan siapa yang mau kita bahas? Calon gue aja kayaknya masih berupa embrio." Celetuk Diko ngawur.


"Emang lu pikir bini gue Dokter kandungan?"


"Ya tapikan setidaknya dia lebih tau daripada kita. Ya gak Fred?" Ucap Diko.


"Em... bener banget." Fredi mengangguk.


Saat mereka tengah berbincang...


"Eh, ada tamu!" Yeri berseru di ambang pintu saat baru keluar dari kamarnya.


Ia menggunakan dress selutut dengan perpotongan leher yang ter- ekspos indah. Ia sengaja menggelung rambut panjangnya agar leher jenjangnya terlihat menggoda. Belum lagi dengan sedikit anak rambut yang bergerak indah di atas kulit mulusnya.


"Temannya Mas Eza ya? Kenalkan saya istrinya mas Eza. Maaf waktu resepsi tidak ngobrol lama, jadi belum paham sama teman-teman mas Eza. Pada mau minum apa?" Yeri bertanya dengan sangat ramahnya. Senyum manisnya sama sekali tidak pernah luntur.


Diko dan Fredi memandang takjub mahluk cantik yang ada di hadapannya ini. Sementara Altez, ia menatap tajam pada Yeri. Tatapan yang seolah meminta istrinya untuk menutup dua pundak mulusnya.


"Apa aja deh, kalau yang buat orang cantik, rasanya bakalan tetep enak kan?" Diko mengeluarkan jurus jitu buaya rawannya.

__ADS_1


Altez mengernyitkan dahinya menatap teman dan istrinya secara bergantian. Pada sengaja manasin gue apa gimana sih?


"Oh, iya. Silahkan di lanjutkan ngobrolnya. Saya tinggal buatkan minum dulu." Kata Yeri yang kemudian pergi ke dapur dan disusul oleh Altez.


"Mau kemana lu?" Tanya Fredi sambil memegang tangan Altez yang tiba-tiba beranjak dari duduknya.


"Mau ke dapur sebentar, mau ambil cemilan." Kata Altez datar.


"Lu, enggak mau uh ah uh ah di dapur kan? Secara bini lu cantik mulus menggoda begitu." Ucap Diko.


"Lu ngomongin bini gue lagi, gue usir Lo ya!" Ketua Altez geram.


Diko tertawa terbahak-bahak. "Astaga Mr. Bucin! posesif amat bung?"


"Dik, jaga mulut lu! hargai istri teman kita." Fredi ikut gemas dan menegurnya.


"Iya, iya gue diem. Abisnya dia dapat barang bagus sob, gue jadi iri." Tutur Diko blak-blakan.


Altez meninggalkan keduanya lalu menemui Yeri di dapur. Antara ruang tamu dan dapur sudah berbeda ruangan, sudah tentu tamunya tidak akan tahu apa yang sedang di lakukan oleh tuan rumah di dalam dapur.


"Yer, kamu kenapa malah pakai baju ini sih?" Altez menegur Yeri.


Yeri masih membuatkan teh hangat dan juga memotong roti untuk tamunya. "Za, apalagi sih? ini udah tertutup kan?"


"Tertutup, tertutup, ini apa?" Altez memegang pundak Yeri lalu menarik lengan baju yang berkerut itu naik menutupi pundaknya.


"Ih, jelek tau Za. Pakainya enggak gitu!" Yeri menurunkan lagi lengan bajunya hingga rata sebatas dada.


"Ah, enggak! ini jelek!" Yeri menolaknya dan melepas lap tersebut.


"Yeri! jangan buat aku marah ya!" Altez sedikit meninggikan suaranya. Ia lalu melepaskan kaus yang ia kenakan dan memakaikannya pada Yeri.


"Pakai ini atau tidak udah ikut kami ngobrol!" Altez berbicara dengan tegas.


Dia posesif sekali padaku. Ini hanya pundak, bukan yang lainnya. Ternyata ia begitu menjaga apa yang ia miliki. Tapi.... apa dia juga begini pada setiap wanitanya?


"Oke!" Yeri mengalah. " Terus kamu pakai apa?" Tanyanya pada Altez yang bertelanjang dada.


Altez pergi dan menuju ke ruang cuci baju lalu memakai baju yang belum di setrika.


Mereka keluar berdua dari dapur dan langsung mendapatkan sorotan dari Fredi Dan Diko yang menahan tawanya. Mereka tidak tahu jika Altez sampai se- posesif ini.


"Silahkan diminum." Kata Yeri yang kemudian duduk dengan anggunnya di samping Altez.


"Loh, mana camilannya?" Celetuk Diko setelah mengamati apa yang Yeri suguhkan hanya teh dan kue sarang semut.


"Ini apa? ga kelihatan? apa mau ku colok dulu matanya biar lihat?" Ketua Altez.


"Ampun Al, gue cuma muji kecantikan bini lu doang, lu jadi gini banget sama gue. Dulu aja lu, waktu sama Nella. Dia beradegan mesra sama cowok lu ga gimana-gimana. Sekarang gue cuman muji bini lu cantik aja salah." Ujar Diko.


Fredi menyenggol lengan Diko agar sahabatnya itu diam. Tapi Diko malah semakin menjadi. "Kenapa lu senggol- senggol gue? kenyataannya emang begitu kan?"


Fredi hanya tertunduk malu.

__ADS_1


"To the point aja, ada perlu apa lu kemari?" Altez langsung bertanya pada inti.


Diko memberikan sebuah foto pada Altez. Foto Nella yang sedang berada di sebuah bar dan diambil dalam waktu dekat.


"Ini, wanita hamil tapi kok minum beginian?" Ucap Diko dengan mulut yang penuh dengan kue.


"Memang boleh ya?" Diko bertanya pada Yeri.


Yeri terdiam melihat foto Nella. "Tidak boleh. Minuman bersoda saja akan memberikan efek buruk bagi janin. Caffein berlebih juga tidak boleh, apalagi ini."


"Nah, itu. Terus Al, lu tau udah berapa bulan dia hamil? Maaf ya Yer sebelumnya, tapi kita butuh keterangan jelas."


Altez terdiam beberapa saat seolah tengah mengingat semuanya. "Entah, aku juga mana paham hal seperti itu. Tapi seingatku kami selalu memakai pengamanan dan dia juga memakai obat kontrasepsi."


"Dasar! cuma mau enaknya aja. Kalau begini tanggung jawab dong!" Celetuk Yeri kesal, ia melirik tajam Altez.


"Yer, ayolah. Bukan begitu sayang, tapi saat kami melakukannya pun dia tidak mau hamil. Dia pernah dengan sengaja menggugurkan kandungannya. Anak kami." Kata Altez.


Yeri ternganga sampai memegangi mulutnya yang menganga. "Kalian?"


Altez mengangguk.


Satu kebenaran kembali terkuak di mana ternyata hubungan Altez dan Nella sudah pernah mencapai titik terdalam.


...🌼🌼🌼...


Diko dan Fredi pulang setelah mereka menyerahkan secuil bukti.


Altez terlelap setelah meminum obatnya dan Yeri tengah sibuk menggarap laporan dari para pegawainya.


Yeri duduk diruang tamu dengan laptop di pangkuannya. Altez tiba-tiba berjalan dan berbaring di pangkuannya.



"Usap kepalaku." Altez berbicara dengan tangannya yang menempatkan tangan Yeri di atas kepalanya.


"Males amat, kerjaanku banyak. Awas ah!" Yeri bergerak hendak kabur tapi Altez menahannya.


"Yer, sini aja." Ucapnya. "Yer apa kamu tahu setelah kejadian hari itu?"


"Kejadian apa?" Tanya Yeri yang acuh dan tetap memperhatikan laptopnya." Banyak kejadian buruk setelah kita menikah Za." Cetusnya.


"Dulu sewaktu SD itu, setelah aku bully kamu. Aku cari kamu tahu, aku mau minta maaf. Tapi kamu udah ga pernah sekolah lagi. Kenapa?"


Yeri meletakkan laptopnya. " Kenapa? kenapa kamu tanya? Gara gara kamu semuanya!"


"Iya sih, jangan marah, katanya udah maafin." Altez memeluk Yeri dengan dengan menepatkan kepalanya menghadap ke perut Yeri lalu memeluknya erat.


"Maafin, tapi aku ga bakalan lupa ya! Gara gara kamu aku jadi begini, tumbuh ga punya temen."


"Iya iya... iya maaf sayang. Kalau mau pukul, pukul aja sekarang." Kata Altez agar Yeri puas melampiaskan kekesalannya.


"Apanya yang mau di pukul? semuanya sudah babak belur!" Yeri berbicara dengan tangannya yang bergerak menjitak kepala Altez.

__ADS_1


__ADS_2