
...-----🐣🐣----- ...
Gelap dingin dan semakin berat untuk bergerak. Keduanya semakin terjerembab dalam pusaran air. Altez semaki kehabisan nafasnya dan Yeri juga semakin menipis oksigen yang ia miliki.
Klik..!
terdengar seperti sebuah ranting yang patah, tapi suara itu pula yang melegakan bagi keduanya. Yeri segera menarik Altez dan membawanya kepermukaan dengan susah payah.
Keduanya terengah dan terbatuk-batuk beberapa kali. Keduanya terdampar di tepi danau buatan yang kemiringannya sedikit banyak membuat pasangan suami istri itu kesusahan untuk mendaki.
"Yer, kamu baik-baik saja?" Altez bertanya meski keadaanya masih sangat lemah dan lemas.
"Uhuk...! Uhuk...!" Ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Yeri yakin, sudah ada beberapa air juga yang memasuki paru-parunya.
"Diamlah! jangan banyak bicara. Simpan tenagamu untuk kit berjalan pulang nanti." Ujar Yeri yang juga berbicara dengan terengah engah.
Altez lagi-lagi terbatuk. "Uhuk...! Uhuk...! aku masih punya uang." Ia mengambil uang kertas yang sudah lembek dan basah berwarna kemerahan.
Keduanya saling tatap dan tertawa bersama. Mereka jarang sekali menggunakan uang kertas dan kali ini harus menggunakannya dalam keadaan basah. Hal itu sontak saja membuat mereka berpikir apakah sopir taksi mau menerima uang basah itu?
Wuzzz...! Angin bertiup kencang, membuat Yeri menggigil kedinginan.
"hachu...! hih....! Dingin Za." Yeri mengeluh kedinginan. lalu apa yang bisa Altez lakukan? Keadaanya pun tak ada beda dengan sang istri. tapi, ia rela melepas kemeja yang ia kenakan karena tubuh sang istri terlihat sangat jelas di balik balutan kain merah yang basah.
"Pakai ini. Aku tidak mau lelaki lain menelanjangi istriku dengan matanya." Ucap Altez yang kemudian meringkuk kedinginan karena sapuan angin.
"Dih, sok kuat. Sini kita barengan Za."Yeri menawarkan Altez untuk masuk kedalam pelukannya.
"Tanganmu dingin." Kata Yeri.
" Tanganmu juga." Ucap Altez yang sudah menggenggam tangan yeri dan meniupkan udara hangat.
"Woy!! siapa itu berduaan di sana!" Seru seorang satpam yang menegur sepasang suami istri itu.
"Wah, kalian sangat tidak tau tempat dan tidak tau adab ya. Melakukan hal seperti itu di pinggir danau." Ocehnya.
"Pak, kami terlibat kecelakaan. Mobil kami tercebur ke dalam danau." Yeri memberikan penjelasan yang malah di tampik oleh satpam yang kerempeng itu.
__ADS_1
"Mengarang saja, mana ada mobil bisa sampai ke Danau. Danau ini sudah di pagar!" Ujarnya dengan anda tinggi sebelum dia memeriksa pagar yang sudah jebol di tabrak Altez.
Atez mengepalkan tangannya. Berdiri saja kepalnya pusing dan sekarang harus beradu argumentasi dengan satpam cungkring? Wah...! Altez sudah sangat ingin dan akan meninjunya.
"Buka matamu! apa kamu buta pak tua!!" Altez berteriak dengan tenaganya yang tersisa walaupun setelahnya tubuhnya kembali gemetaran lemas dan kedinginan.
Yeri mengusap punggung Altez untu menenangkannya. Seketika itu juga perangai Altez berubah. "Aku kesal ya, bukannya membantu malah memarahi kita." Ucapnya mengadu dengan suaranya yang pelan.
"Iya, aku tahu, cukup di jelaskan saja. Tidak usah berteriak seperti itu. Simpan tenagamu." Yeri bersikap tenang dan anteng.
Satpam yang salah paham tadi akhirnya mengerti jika keduanya tidak berbohong. Kemudian sejumlah polisi dan alat berat juga Joana dan Firman juga datang ke lokasi kejadian.
Polisi berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dan semua itu atas permintaan Altez. Altez merasa ada yang janggal saat truk tadi tiba-tiba hilang kendali dan kembai baik setelahnya tanpa meninggalkan jejak.
"Firman, pokoknya aku mau kamu periiksa semua CCTV yang ada di sekitar sini!" Ucap Altez dengan bibir yang bergetar kedinginan. "Mana istriku?" Ia bertanya dengan amata yang memindai ke segala penjuru yang ada.
Firman sedikit membungkuk. "Ada di mobil Bu Joana." Tunjuknya dengan ibu jarinya tanda sopan.
Terdengar dari luar mobil Yeri bersin-bersin. "Hachu...! Hachu...!"
"Ini aneh sekali Yer, baru tadi pagi kantor kita terkena fitnah, dan malam harinya kamu hampir meninggal. Aku harus mengusut tuntas semua ini." Kata Joana.
Author dalangnya 🤣🤣🤭.
Altez yang menguping justru memiliki asumsinya sendiri. Apa Bisma yang melakukan ini? Atau si gila Nella? Gumamnya menaruh curiga.
"Yer!" Altez berseru tapi jig dengan tangan yang bergerak membuka pintu mobil.
"Za!! untung ja pintunya ku kunci. Sembarangan aja sih, Aku lagi ganti baju!" Yeri berbicara dengan nada kesal.
Altez membuatkan matanya lalu terkikik sendirian dan sejurus kemudian ia melongo. "Kamu ganti baju sama Joana?"
"Iya kenapa?" Ketus Yeri menjawabnya.
"Jangan sayang, aku ga mau ya dia menang banyak. Aku aja cuma sekali. Jo! keluar saja kamu." Altez menyuarakan kegelisahan hatinya selama ini.
Jona tertawa. "Pak Altez yang baik dan budiman, sebelum sama bapak, saya inilah yang pertama."
__ADS_1
"What?" Altez memekik tajam. "Kalian berdua...?" Ia menggantungkan opininya.
Yeri mengerucutkan bibirnya. "Jo! kmu bicara ngawur lagi saya hanguskan gaji kamu bulan ini. Mau?" Ancamnya keras.
Berurusan dengan potong gaji, Joana paling anti. Ia tak mau ada kerugian dalam soal uang. "Baik bu, siap!" Ucapnya yang bersiap meralat ucapannya.
"Saya ralat pak, saya tidak sedang melihat apa-apa. Ini saja saya bicara sambil menutup mata." Bohongnya.
"Kamu itu kalau sama dia jangan suka bicara ngawur. Semenjak malam itu, sikapnya jadi aneh dan berlebihan padaku. bahkan dia memintaku uuntuk tampil jelek dihadapan teman-temanya."Yeri berbisik pada Joana.
"Apa dia benar-benar sudah berubah?" Tanya Joana lagi dengan berbisik.
Yeri menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi aku merasa di melakukan semua kebaikan ini tulus. hanya saja apa yang mendasarinya aku tidak tahu."
"Yer!" Seru Altez lagi. "Buka, di luar dingin sekali." Keluhnya dengan merapatkan selimut yang ia pakai.
"Buka sja buka, sebelum dia berteriak teriak dan membuatku malu." Yeri berbicara lirih sambil mendorong tubuh Joana agar membukakan pintu.
Joana menurut dan membuka pintunya
"Silahkan masuk bapak!" Joana mempersilahkan dengan senyuman yang ia paksakan.
"kalau tidak ikhlas senyum, tidak usah, nanti sariawan."Cetus Altez menyindir senyuman tidak ikhlas Joana.
Altez mengabaikan joana sebelum Joana menjawabnya. Ia kemudian masuk dan langsung menyergap Yeri. "Hiiih...! dingin banget Yer..." Tubuhnya bergidik kedinginan.
"Bagi selimutnya, emangnya kamu saja yang dingin." Ucap Yeri yang tanpa ijin sudah masuk kedalam selimut Altez.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku." Ucap Yeri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingat bagaimana tadi Altez lebih mendahulukan dirinya daripada dirinya sendiri.
"Aku yang seharunya berterimakasih sayang." Kata Altez yang kemudian tersenyum mengusap air mata istrinya.
Eung...! co cweett🌛🌛
Jangan lup sedekah likenya.
penghibur katanya di kolom komentar. Syukur syukur mau kasih vote.
__ADS_1
Masukkan juga ke favorit ya, oh iya sama satu lagi. kasih rating bintang 5 ya. Awas kalo enggak, bintitan.
canda🤣🤣🙏.