
...------🌼🌼----- ...
"Bisma, apa kamu sudah melihat beritanya?" Tanya Buana yang baru saja datang ke kantor setelah terjebak macet.
Bisma memutar duduknya dan mengotak-atik laptopnya. Matanya fokus pada file dan email yang masuk. "Tentang Altez, lihat ini." Buana menyodorkan ponselnya.
Bisma seketika menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatan. "Apa ini benar?" Ia tak yakin.
"Benar! Beritanya muncul di mana-mana!" Buana menekankan ucapannya dengan wajah serius.
Bisma seketika berdiri dan meraih jasnya. "Aku pergi, kamu wakilkan aku dalam rapat rutin nanti!" Ucap Bisma memberikan perintah. Ia berjalan dengan tergesa-gesa dan wajah khawatirnya yang sangat kentara.
"Semoga Yeri ku baik-baik saja" Gumamnya berharap tidak ada suatu hal buruk apapun yang akan melukai wanita idamannya itu.
Bisma melesat menuju ke kediaman Yeri. Disaat yang bersamaan juga ia bertemu dengan Vito yang juga baru turun dari boncengan motor ojek online. "Makasih pak!" Ucapnya sembari tersenyum dan menepuk pundak si mamang ojek.
"Kamu adiknya Yeri kan?" Bisma menunjuk Vito.
"Iya Kak Bisma, saya adik angkat beliau." Vito mengiyakan sembari menyuguhkan senyum manisnya.
Keduanya kemudian berjalan beriringan dan mengetuk pintu rumah Yeri secara bergantian.
Joana yang kebetulan sedang bersiap setelah menjawab telepon dari bos-nya itu kemudian datang dan membukakan pintu.
"Jo!" Seru Bisma yang terkejut karena keberadaan Joana.
"Bu jo?" Vito juga ikut melongo.
"Ada perlu apa kalian kemari?" Tanya Joana dengan nada bicaranya yang lugas, padat dan jelas tanpa ada dayu mendayu.
"Bagaimana keadaan Yeri?" Tanya Bisma yang langsung menerobos masuk tanpa seijin Joana.
"Tidak sopan!" Ketus Joana.
__ADS_1
"Apa sih? sama elu aja sopan sopan segala." Ucap Bisma dengan bahasa yang tidak formal.
Joana memutar bola matanya malas, ia mendesah. "Hhhh...! mereka masih kelonan di kamar." Joana menunjuk pintu kamar Yeri yang masih tertutup rapat.
Bisma dan Vito membulatkan mata mereka bersamaan. Keduanya begitu terkejut, bukannya berantem setelah dihantam kabar miring, keduanya malah lengket seperti getah nangka.
"Bisa lu panggilkan?" Bisma seolah menguji kesabaran Joana.
"Mending lu pulang aja, kalau gue bilang mereka baik-baik saja berarti udah kan? sudah cukup." Kata Joana.
"Em... kak, aku minta tolong ya. Titip ini tolong berikan kepada kak Yeri. Katakan kalau tadi aku datang." Kata Vito yang malah terkesan lebih dewasa dan menghargai privasi orang lain ketimbang Bisma.
"Oke, nanti aku berikan kepadanya." Joana tersenyum pada Vito. Vito pun dengan segera berpamitan pada mereka berdua.
"See, dia lebih dewasa dan menghargai privasi orang daripada elu!" Joana membandingkan.
"Heh, cuma seperti itu dan kamu bilang dewasa? Gue kesini mau ketemu Yeri, bukan denger ocehan elu Jo."
"Iya tau gue, cuman tolonglah jangan ulur waktu gue. Lu mau ngapain, kalau orangnya masih pada kelonan? Udah ah, ayok keluar~~" Joana menarik paksa Bisma.
Bisma sangat kesal, misinya tidak berjalan dengan lancar. Semuanya berantakan dan kini hanya menyisakan kepedihan. Ternyata hubungan keduanya semakin erat. Apa mereka saling mencintai? Tapi Altez itu... ah... Yeri benar-benar buta. Apa dia tidak ingin berpisah setelah tau suaminya menghamili selingkuhannya? Kemarin dia bilang mau cerai, dan sekarang?
Di rumah sakit.
"Kemarin kakakmu kesini?" Mama Alda berbicara dengan lemah.
Albi membenarkan posisi duduk Mamanya. "Iya Ma, mereka kesini. Kak Yeri memberikanmu ini. Katanya ini baik untuk jantung jika di konsumsi secara rutin setiap hari satu potong." Albi mengambil sebuah dark coklat.
Mama Alda tersenyum melihat pemberian menantunya. "Tadinya, aku hanya ingin menikahkan mereka sementara saja untuk menyelamatkan perusahaan kita. Tapi, semakin kesini, aku semakin mencintai istri kakakmu itu lebih dari aku mencintai kakakmu."
Albi juga mengakui kebaikan dan perhatian Yeri. "Iya ma, dia bersikap bijaksana dan dewasa. Kemarin sewaktu mama terbaring lemah. Aku menghajar kak Altez." Pengaduan jujur Albi membuat Mama Alda yang tadinya tersenyum melihat coklat yang ada di tangannya seketika memberikannya atensi penuh pada Albi.
"Kamu menghajar kakakmu?" Mama Alda memindai tubuh putra bungsunya. "Tapi kamu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang habis berkelahi? Apa kakakmu tidak membalas?"
__ADS_1
Albi mengangguk. Tangan Mama Alda terulur mengusap rambut coklat sang anak. "Kakakmu itu sangat sayang sama kamu. Hanya saja dia gampang tergoda dengan wanita. Apa yang terjadi pada kalian dulu, Mama pastikan tidak akan pernah terjadi. Jadi bersikap baiklah dengannya."
Albi menatap teduh sang mama. Tatapan yang mengatakan Apakah pembohong seperti dia masih bisa mengemban kepercayaan?
"Aku tidak yakin ma, tapi aku juga menyesal telah memukulinya." Ucap Albi dengan jujur.
Mama Alda tersenyum pias dengan wajahnya yang pucat. "Itu artinya kamu juga menyayanginya. Kalian harus rukun, dan berhenti menyimpan dendam pada mendiang Ayah kalian. Bagaimanapun juga dia adalah Ayah kalian. Jika tidak ada dia, kalian juga tidak akan pernah ada."
Albi hanya menunduk dan mencerna segala nasihat dari mamanya.
Di sebuah villa.
"Apa kata Joana Yah?" Buna bertanya setelah panggilan terputus.
Ayah Ardi duduk dan mengusap lembut kucing kesayangannya yang ia bawa berlibur ke Lombok. "Joana bilang mereka baik-baik saja, dan malah sekarang tidur satu kamar."
"Buna merasa menyesal telah memberikan ramuan cinta pada putri kita."
Ramuan cinta adalah hal yang selama ini terjaga kerahasiaannya dengan teramat rapi. Hanya Buna yang tahu. Ayah Ardi sama sekali tidak ikut campur dalam hal ini
"Apa Buna memberikan itu pada Yeri?" Ayah Ardi langsung memekik tertahan.
Buna Yusmi mengangguk pelan. "Iya, karena aku ingin segera punya cucu. Yeri anak kita satu-satunya yah, aku ingin dia memberikan cucu yang banyak pada kita."
Ayah Ardi kini mulai menyesali perbuatannya. Ia menyesal karena mendukung keputusan sang anak untuk menjadikan pernikahan sebagai ajang balas dendam dan sebagai terapi penyembuhan.
"Buna, apa Buna tahu jika Altez adalah anak yang dulu membully Yeri? Dia adalah penyebab Yeri kehilangan rasa percaya diri dan minder seperti sekarang ini."
Buna Yusmi menutup mulutnya, ia terkejut bukan main. "Altez pelakunya? anak Alda?"
"Iya Bun, siapa lagi. Anak itulah pembuat masalahnya. Sebelum pernikahan ini, aku dan Yeri sudah bekerjasama untuk membuat Altez menikah dengan putri kita. Ini merupakan salah satu metode yang Silvi bilang paling cepat untuk menyembuhkan trauma yang Yeri hadapi."
"Jadi maksudnya Yeri dan Altez menikah agar Yeri bisa sembuh, begitu yah?"
__ADS_1
"Iya, memang begitu adanya. Tapi ... kamu sudah memberikan ramuan cinta itu kepada mereka. Jika Yeri hamil, lalu bagaimana nasib cucu kita kelak?"