
"Jangan buat Mama kecewa sayang, Mama sudah cukup lelah dengan tudingan miring sekitar kita yang mengatakan bahwa kamu ini adalah kaum pelangi. Kamu paham kan apa maksud Mama?" tandas Mama Ayu penuh pengharapan.
Kalimat itu layaknya sumpah serapah untuk Bisma. Dia terngiang dan menjadi bimbang sekarang. Duduk termangu menatap hamparan laut dengan riak yang memutih membuatnya hanyut dalam buaian angan.
"Ah, andai saja Yeri belum menikah. Andai saja aku tidak terlalu lama berada di luar negeri," Bisma bermonolog dengan menggambar sesuatu di hamparan pasir yang dipijaknya.
"Andai apa lagi?" kata seseorang yang bertanya padanya. Suaranya tidak asing dan jujur saja membuatnya merinding.
"Yeri?" Bisma merapal nama yang sedari tadi ia andai- andaikan. Matanya membulat sempurna dan juga bibirnya yang masih kelu untuk beralih posisi.
"Iya, aku. Kamu sendirian?" tanya Yeri yang celingukan melihat ke sekeliling yang tidak ada orang lain lagi.
Wanita hamil itu tengah berjalan-jalan sore dengan sang suami, hanya saja Altez tengah mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam apartemen. Jenuh menunggu sang suami, Yeri memutuskan untuk berjalan-jalan barang sejenak. Siapa sangka jika ia justru akan bertemu dengan Bisma, saingan berat suaminya.
"Hemh," Bisma mengulum senyumnya. "Iya aku sendirian, sedang ingin menenangkan diri. Di mana suamimu? Joana bilang dia mengurungmu," tanya Bisma.
"Tadinya iya, tapi aku terus saja merengek. Kamu 'kan tahu Bis, aku paling tidak bisa terkekang dan berada dalam tekanan orang lain," kata Yeri.
"Ya, aku sangat paham itu. Kamu akan meledak layaknya kembang api dan kemudian membakar dirimu sendiri. Itu tidak baik," ucap Bisma yang mengulas kepribadian buruk Yeri yang suka menyalahkan dan menghancurkan dirinya sendiri.
"Hem," Yeri berdehem dengan pandangan yang tertunduk menatap ujung jari jempol kakinya. "Aku tahu, itu sebabnya aku ingin mencari udara segar," jawabnya sambil tersenyum cerah.
"Dengan sendiri, aku bisa mengisi lagi tenagaku Bis. Tapi jika berkumpul dengan banyak orang, aku merasa tenagaku akan tersedot habis." kata Yeri menjelaskan bagaimana dirinya yang selalu merasakan kelelahan setelah berkerumun dengan banyak orang.
"Walau begitu, aku senang. Saat di luar jam kerja kamu tetap mau menganggapku sebagai temanmu. Ya, walaupun bukan teman dekat seperti temanmu yang gendut itu," kata Bisma menyinggung soal Wiwin dan itu membuat Yeri memiringkan kepala menatapnya.
"Wiwin, Bis. Namanya Winda," belum selesai Yeri berbicara menjelaskan siapa Winda, Bisma sudah menyambarnya lagi.
"I know Yer. Kemarin beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya dengan cara yang buruk." kata Bisma yang membuka suara dan hendak menjelaskannya.
__ADS_1
"Em, begitu. Jika ingin begitu kamu berhadapan dengan orang yang salah. Wiwin itu dia memiliki kepribadian yang sama denganku bahkan dalam sisi yang lebih kuat. Jika aku si cengeng, maka dia adalah si kuat dan tahan banting. Kamu jangan main-main," kata Yeri memberikan wejangan.
Yeri berbicara dengan tangannya yang hendak menepuk pundak Bisma. Namun, belum sampai tangan itu mendarat empuk. Altez sudah terlebih dahulu menjimpit lengan baju Yeri dan ia gagal untuk mengusap pundak Bisma.
"Iya, jangan main-main apalagi dengan istriku!" kata Altez memberikan peringatan keras.
Baik Yeri maupun Bisma keduanya hanya memandang acuh Altez yang bersikap berlebihan. Bisma juga hanya menoleh sekilas lalu kembali pada hamparan pasir yang ada di depannya. Baru saja dia ingin mencari tahu soal Wiwin dan sudah muncul gangguan lain.
"Aku tidak selera dengan wanita hamil Altez," kata Bisma yang tak mencantumkan nada mengejek atau semacamnya.
"Baguslah," ucap Altez yang kemudian menyela dan duduk diantara Yeri dan Bisma. "Geser, jangan dekat-dekat dengan istriku. Aku tidak mau nanti wajah anakku mirip kamu," ujar Altez tanpa filter sama sekali dan membuat Yeri menepuk keras pundaknya.
Plak!
"Aduh!" kata Altez mengaduh saat tangan sang istri beradu dengan bagian pundaknya. "Sakit sayang," keluhnya dengan tatapan mengiba pada sang istri.
"Kamu dengar itu? Dia saja tidak terima jika anakku akan mirip kamu," ucap Altez yang ingin membuat Bisma terganggu dan pergi karena merasa risih.
"Dari mana jalurnya anak kalian akan mirip aku? Kalian ini sama-sama kekanakan," Ucap Bisma dengan sangat malas. Ia bahkan berbicara tanpa melihat wajah lawan bicaranya.
"Bis, aku..."
"Kamu apa?" tanya Bisma yang merasa ada hal penting yang ingin Altez sampaikan.
Altez menatap Yeri sesaat lalu menatap Bisma. Ia seolah tengah mengingat sesuatu, meraba sesuatu yang terendap lama dalam relung hatinya. Altez menarik nafasnya sebelum mulai berbicara.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih dan berbaur dengan deburan ombak. Suaranya tenggelam dan nyaris hilang.
"Apa?" tanya Bisma yang memang tidak terlalu jelas mendengar permintaan maaf dari Altez.
__ADS_1
Yeri hanya terdiam dan menyimak percakapan kedua insan yang memancarkan api perselisihan itu. Dia seolah tengah menikmati suguhan dari dua sinergi yang berbeda. Atmosfer yang aneh mulai melingkupi mereka.
"Ish! Aku minta maaf!" Altez berteriak tepat di sebelah telinga Bisma.
Bisma meliriknya dan terkekeh tak percaya. "Kamu minta maaf? Minta maaf untuk apa?" tanya Bisma dengan tatapan matanya yang meremehkan Altez.
"Untuk yang dulu, di saat aku merebut pacarmu." Altez berbicara dengan terang dan lantang tanpa ada ketakutan di sana, seolah dia siap jika Bisma akan kembali marah dan menghajarnya.
"Kamu sudah menghancurkanku dan merebut milikku beberapa tahun lalu dan baru sekarang kamu minta maaf?"
"Cih! Kenapa? Apa kamu takut jika aku akan membalasnya dengan merebut istri dan anakmu?" tukas Bisma tanpa takut.
Melihat kilatan amarah dari keduanya, membuat Yeri seketika bertugas sebagai pemisah. Ia dengan segera menarik lengan Altez dan memeluknya. Matanya tertuju pada Bisma yang tengah meliriknya tajam.
"Bisma! jaga bicaramu!" seru Altez meski Yeri sudah memeluknya.
"Za, sudah jangan bertengkar. Kamu mau minta maaf atau mau mematik perkelahian lagi?" desis Yeri yang tak habis pikir pada tingkah dua pria ini.
"Yer, bagaimana kalau kamu ceraikan dia dan menikahlah denganku. Aku ingin melihat seberapa hancurnya Dia," kata Bisma dengan gamblangnya.
"Bisma! kamu sudah keterlaluan!" Altez benar-benar marah sekarang. Niatnya untuk meminta maaf telah hangus di lahap kobaran amarah.
"Za, sudah. Ayo kita kembali ke apartemen saja. Tidak usah jalan-jalan segala," ucap Yeri kesal.
"Tidak enak 'kan jika sesuatu milikmu direbut orang lain?" tandas Bisma dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Berani kamu melakukan itu pada rumah tanggaku, ku pastikan nyawamu akan melayang di tanganku." kata Altez yang mengundang rasa tak percaya dari Yeri.
Ternyata sebesar itu dia mencintai aku dan keluarga kecil ini?
__ADS_1