
"Ceri?" ucap Altez menyebut satu nama yang pernah singgah dalam hatinya dulu.
Ceri adalah salah satu wanita yang pergi dan putus dengannya setelah mengetahui akan perilaku buruk seorang Altezza Basman. Ia pergi setelah menangkap basah Altez yang sedang bermesraan dengan Nella di sebuah tempat wisata. Ceri adalah gadis baik-baik berkebangsaan asing.
Dia ke Indonesia hanya untuk urusan pekerjaan, tetapi siapa sangka jika hatinya justru terkait dengan seorang playboy yang tampan bernama Altez. Ceri menyesal telah memberikan keperawanannya kepada Altez. Sekarang ia tengah berbadan dua dan tadi apa katanya? Dia menyebut Altez sebagai Daddy.
"Hai, playboy!" Ceri menyapa Altez dengan senyuman miringnya. "Masih merokok kamu?" tanyanya kemudian.
"Ce-ceri? sedang apa kamu di sini?" Altez tergugup mengajukan pertanyaan.
Jantungnya saat ini sedang berdegup kencang dan tak beraturan. Berbagai macam pemikiran muncul di kepalanya. Belum lagi dengan keadaan ceri yang tengah hamil besar, tentu saja hal ini membuat Altez sempat berfikiran jika kedatangan ceri adalah untuk menuntut tanggung jawabnya.
Jika dikategorikan, mungkin Altez masuk ke dalam kategori playboy kelas kakap. Beberapa bulan lalu, sebelum takdir mempertemukan dia dengan Yeri, Altez bisa menjalin hubungan dengan 3-4 orang sekaligus. Kini kebodohan yang ia lakukan di masa lalu menjadi boomerang sendiri untuknya.
"Aku?" Ceri membelalakkan matanya sambil tertawa sinis. "Sudah tentu aku ingin bertemu dengan ayah dari jabang bayiku ini Al, menurutmu apalagi?" ceri menggidikkan bahunya.
"Ceri, apa kamu serius untuk hal ini?" tanya Altez dengan wajah pucatnya.
Jika ceri hamil dan sedang mengandung anaknya, lalu bagaimana dengan reaksi istri sahnya? Bagaimana hubungannya dengan Yeri? "Aku serius, menurutmu perut besarku ini apa isinya? semangka utuh? Ini bayi Al," ucapnya sambil tertawa remeh seolah ta mengerti akan maksud pertanyaan bodoh Altez.
"Ma- maksudku, a- a- apa benar yang ada di dalam perutmu itu adalah benihku?" tanyanya lagi.
Ceri tertawa kecut dan mengalihkan pandangannya. Kini, ia tengah sibuk menatap hijau pepohonan di taman depan Apartemen. Ia menarik nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Altez.
"11 bulan yang lalu kita bersama 'kan? Aku, dengan kamu si tukang selingkuh." Ceri menunduk sesaat dan kembali menarik nafasnya berat seolah apa yang akan ia katakan adalah suatu beban berat.
__ADS_1
"Dan, sekarang aku tengah hamil 8 bulan."
Altez sama sekali tidak paham, ia mengerutkan keningnya heran. "To the poin saja, dia ini anakku atau bukan?"
Ceri malah tertawa terbahak-bahak ia seolah tengah menertawai Altez dengan segunung kebodohannya. Bersamaan dengan itu, ada seorang wanita yang melihat kejadian ini dari kejauhan. Ia menhan tangis dan kembali masuk ke dalam flatnya.
"Pikirkan saja sendiri, kenapa kamu? Merasa bersalah? Atau..., ingin bertanggungjawab?" tanya Ceri meremehkan Altez.
Altez menelan ludahnya dengan susah payah. ia merasa tercekik sekarang, dan udara di sekitarnya terasa semakin menipis. Kenapa ujiannya terasa teramat berat di saat dia ingin berubah menjadi suami dan pribadi yang lebih baik?
***
Di dalam kamarnya, Yeri sudah menangis tergugu. Mengapa semuanya bisa terasa amat menyedihkan sekarang? Dia merasa terabaikan dan dicampakkan. Apa ini juga merupakan suatu tanda jika hatinya sudah terbuka lebar untuk Altez dan menganggapnya sebagai suami yang seutuhnya?
"Mengapa sakit begini saat mendengar mereka tak sengaja membicarakan soal bayi yang wanita itu kandung?" gumam Yeri yang meracau sembari terus mengusap air matanya yang lolos begitu saja.
Yeri menyeka air matanya, ia bangkit lalu berdiri dan mencoba untuk tersenyum. ia mencari kekuatan dan semangat untuk dirinya sendiri. Ia segera menuju dapur untuk sekedar membuat kopi pahit kesukaannya.
"Ah, iya. Caffein tidak baik untuk ibu hamil di jam begini." gumamnya kemudian meletakkan kembali kopi yang hampir saja ia seduh.
Altez kembali setelah perbincangan panjangnya dengan Ceri. Ia kembali dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Tak memanggil, Altez hanya mencari keberadaan Yeri dengan matanya. Ia memindai seluruh ruangan dengan langkah perlahan menyusuri keberadaan istrinya. Hingga langkahnya terhenti pada ruang baca yang terletak bersebelahan dengan dapur.
"Sayang, kamu di sini?" tanya dengan langkah yang kian mendekat dan memeluk sang istri dari belakang.
Yeri tak bicara ia hanya mendonggakkan kepalanya kemudian bersandar pada ceruk leher Altez. Ia seolah sedang ingin berbagi beban dan menumpukkan juga apa yang tengah ia rasakan dengan sang suami. Yeri kini menatap langit-langit ruang baca soleh tengah meresapi apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Hem," jawabnya berdehem, ia sangat malas untuk banyak berkata-kata lagi.
"Kenapa begitu? Ada apa lagi?" tanya Altez dengan tangan yang mengusap perut Yeri. "Apa kamu sedang mengidam sesuatu? katakan, biar aku carikan," kata Altez dengan lembutnya.
"Tidak ingin apa-apa hanya ingin tenang dan santai saja. Biarkan aku menikmati waktu seperti ini sebentar saja," ucapnya.
"Lama pun tidak apa-apa, seumur hidup juga aku mau," kata Altez.
Altez memeluk erat tubuh Yeri, dia menunduk dan menatap perut rata itu penuh arti. "Dede lagi males ya?" Ia kemudian kembali melirik wajah Yeri dan terlihat ada bulir bening yang jatuh dari sudutnya.
"Aku yang agi males, Za, apa dia akan mewarisi sifatmu juga?" tanya Yeri.
Altez tersenyum lalu memberikan ciuman manis di pipi sang istri secara bertubi-tubi. "Ada kita berdua, semoga dia mewarisi kepintaran Mamanya dan keceriaan Papanya."
"Iya benar kamu sangat ceria, apalagi setelah bertemu dengan mantan pacarmu yang sedang hamil. Kamu pasti tambah senang sebab sekarang kamu punya dua anak dari dua wanita yang berbeda. Pilih salah satu Za," kata Yeri.
Altez menghela nafasnya berat, ia seolah sedang ingin mengeluarkan semua ganjalan di hatinya. "Kamu melihat kami tadi? kamu juga pasti mendengarnya. Dia memang sedang hamil, dan aku ikut merasa senang."
Yeri seketika menegakkan punggungnya dan menarik jarak dari sang suami. Ia seolah sedang tak ingin disentuh oleh Altez. Wajahnya tertunduk dan hanya menyisakan tengkuk putih mulusnya yang ter-ekspos.
"Aku juga ikut senang za, tapi pilih salah satu dari kami. Aku tidak sekuat mereka yang diduakan. Aku," ucapannya terhenti kala Altez kembai menariknya dan membawanya ke dalam dekapannya.
Altez menumpukkan wajahnya pada tengkuk sang istri dengan bibirnya yang tidak berhenti untuk menciumi. Tangannya kembali mengusap perut rata Yeri. Yeri menjadi semakin tergugu karena perlakuan Altez sat ini.
"Dia sedang mengandung anakmu 'kan? sebentar lagi dia juga akan melahirkan. Dia butuh kamu Za," kata Yeri yang terdengar amat lesu seolah tak merelakan.
__ADS_1
"Kamu benar, dia butuh dampingan dan dorongan semangat saat ini. Bayi itu butuh sosok ayahnya, sepertinya aku...."