
Altez dan Yeri tengah bersiap untuk acara makan malam bersama Buna Yusmi. Mereka sama sekali tidak tahu jika dalam makan malam itu Buna juga akan mengundang teman lamanya yaitu Mama Ayu. Yang Yeri tahu ini hanyalah acara makan malam biasa.
"Sayang, apa wajahku terlalu kelihatan habis berkelahi?" tanya Altez dengan dia yang sibuk memantas diri di depan cermin.
Yeri menatapnya sesaat lalu kembali merias wajahnya. "Nanti aku tutupi dengan makeup," ucapnya santai.
"Memang bisa?"
"Bisa, jangankan membuat terlihat baik dan cantik. Merubah tampilan jadi berantakan dan sangat jelek pun aku sanggup."
Altez terdiam, memang benar apa yang Yeri katakan. Hal itu membuat Altez kembali pada masa lalu dimana Yeri sebagai Ibu guru Yania yang jelek. Altez lantas mendekat dan mengusap surai sang istri.
"Iya, aku percaya," kata Altez menenangkan.
"Kemari," Yeri meminta sang suami untuk duduk berhadapan dengannya.
Altez menurut, "makanya, kalau mau bertindak sesuatu pikirkan dulu," kata Yeri.
"Iya sayang, aku janji. Sayang, nanti kalau di depan Buna, panggil aku dengan sebutan mesra ya?"
"Panggilan maksudnya?" tanya Yeri memperjelas.
"Iya, jangan sebut namaku saja. Itu, tidak sesuai dengan budaya kita Sayang," ucap Altez.
"Maunya dipanggil apa?" tanya Yeri yang tangannya sibuk mengoleskan makeup di wajah sang suami.
Kenapa dia jadi semakin tampan kalau ku poles begini? Batin Yeri mengagumi wajah suaminya.
Altez mengulum senyumnya, rupanya ia sangat memperhatikan air muka sang istri. "Tampan," ucap Altez sepotong.
Yeri mengerutkan keningnya. "Tampan?"
"Iya aku tampan 'kan? aku lihat tadi bagaimana sorot matamu ini mengagumi wajahku. Tenang saja, mata ini, rambut, dan tinggi badan akan ku wariskan pada anak lelakiku dan seluruh wajahku pada anak perempuanku," ucap Altez
__ADS_1
Yeri menenggak ludahnya perlahan dan menunduk kembali mengoleskan kuasnya pada palet makeup. "Iya, kamu akan mewariskan semua yang ada pada dirimu untuk anakmu. Za, kalau anak ini laki-laki sepertinya dia akan mewarisi sifat playboy Daddy-nya," kata Yeri yang memang ada benarnya.
"Aku akan menyayanginya dan mendidiknya agar tidak sepertiku. Bagaimana?"
"Harus, memang itu adalah tugasmu. Sebab dalam keluargaku tidak memiliki turunan seperti itu."
"Iya, iya aku akui aku salah. Ini adalah suatu perilaku menurun, jadi aku akan berusaha mengendalikannya. Sukses atau tidaknya terserah pada Tuhan."
"Dah," kata Yeri yang selesai dengan memoles wajah Altez.
"Aku tampan tidak?" tanya Altez sambil tersenyum menggoda.
Yeri menatapnya malas. "Iya" jawabnya malas.
"Nanti panggil aku dengan panggilan sayang ya, ya? ya? ya?" pintanya dengan spesifikasi memaksa.
"Iya sayang, suamiku yang tampan dan rupawan, puas?" Yeri mencubit perut Altez.
Altez terkikik riang menerima perlakuan manis sang istri. Ini berarti Yeri tidak lagi menumpuk dendam. Perlahan ia mulai mengurainya.
"Malam Buna!" ucap Yeri menyapa sang Ibunda yang sudah menunggunya di suatu restoran termahal di kotanya.
"Sayang, malam sayang," Buna Yusmi menyambut sang putri semata wayangnya dengan sumringah.
"Ayah, selamat malam," kata Altez yang kemudian mengulurkan tangannya untuk bertakzim.
"Hmm," sahut Ayah Ardi yang masih menaruh kebencian terhadap menantunya.
Yeri yang melihat itu kemudian bergantian mendekati Ayahnya. "Malam Ayah," ucapnya kemudian mengangkat tangan Ayahnya untuk menerima uluran tangan sang suami.
Karena bantuan Yeri, Altez bisa mencium punggung tangan Ayah menantunya. Hanya saja suasana masih mencekam dan mengerikan. Dalam hatinya, ia begitu was-was terhadap sang ayah mertua.
"Selamat malam sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Ayah Ardi yang dengan segera menarik tangannya dari genggaman Altez.
__ADS_1
Altez hanya mampu tersenyum kecut menatapnya. Melihat bagaimana sikap Ayah mertuanya membuatnya sadar betapa ia telah banyak melukai keluarga itu. Altez tau, semuanya tidak akan berjalan mudah setelah ia menorehkan luka.
"Ini acara apa Buna?" tanya Yeri yang bersiap untuk duduk dan Altez dengan sigap menarik bangku untuk sang istri.
Buna tersenyum melihat interaksi yang terjadi antara suami istri itu. Mereka terlihat harmonis dan serasi. Terlihat dengan bagaimana cara Altez bersikap pada sang istri.
"Acara makan malam dengan teman lama Buna. Dia teman terbaik Buna, sudah lama Buna cari kontaknya dan baru dapat kemarin. Nah! itu dia," Buna Yusmi melongok dan berdiri menyambut kedatangan teman lamanya.
"Bisma," lirih Yeri menyebutkan sebuah nama yang ternyata Buna Yusmi masih bisa mendengarnya.
Altez menggenggam tangannya yang tersimpan di atas meja. Ia menatap tidak suka kedatang Bisma. Masih hangat dalam ingatan bagaimana Bisma bicara ingin merebut istrinya.
Buna Yusmi menyambut baik kedatangan Mama Ayu dan Bisma juga sosok seorang perempuan yang berdiri di samping Bisma. Yeri semakin menatap aneh mereka.
Kenapa bersama dengan Wiwin, apa mereka benar-benar berpacaran? tapi mengapa terkesan begitu mendadak? batin Yeri menaruh curiga.
Altez hanya terduduk di tempatnya, tanpa menyambut atau memberikan senyuman. Keduanya malah seolah belum saling mengenal satu sama lain. Altez tidak berbicara barang sekecap pun.
Yeri yang melihat gelagat Altez kemudian menggenggam tangan sang suami yang singgah di atas pahanya. Yeri tidak bicara apapun selain memberikan tatapan teduhnya. Cukup dengan itu dan Altez menjadi lebih tenang dibuatnya.
"Om dengar perusahaanmu sekarang namanya tengah meroket ya? Itu bagus sekali, Om suka dengan teknologi baru yang kalian gunakan. Mengadopsi dari Korea Selatan 'kan? itu memang sedang ramai," puji Ayah Ardi pada Bisma tiba-tiba.
"Iya Om," jawab Bisma dengan sungkan dan sopan.
"Kalau punya menantu Om sih terakhir Om pantau sedang melakukan pengurangan karyawan, entah karena apa atau sedang ingin mengadopsi konteks yang baru?" ucapnya sengaja ingin merendahkan Altez.
Altez hanya diam dengan wajah datarnya. "Untuk itu nanti Yeri yang akan mengambil keputusan Yah, Altez telah memberikan perusahaanya untuk Yeri sebagai hadiah kehamilan," kata Yeri yang sanggup membungkam semuanya dan memberikan mereka pemandangan yang berbeda.
Altez memberikan semua miliknya pada Yeri? Itu sangat sulit dipercaya, suatu kejadian alam yang bisa dikatakan unik. Tidak terjadi dalam panjangnya sejarah.
"Dia memberikannya padamu? Apa tadi, kamu hamil?" ulang Ayah Ardi.
"Iya Ayah," sahut Yeri sambil tersenyum. Lagi-lagi tangannya bergerak mengusap perlahan punggung tangan sang suami.
__ADS_1
"Om dan Tante belum tahu? Wah kamu keterlaluan Yer, itu artinya aku ini adalah orang pertama?" tanya Wiwin.
"Iya kamu yang pertama, sengaja Win, untuk kejutan," jawab Yeri yang kemudian pembahasan berbelok arah dan membuat Altez terselamatkan dari perbandingan yang mungkin bisa membuatnya kembali meledak-ledak.