PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
88. Baby moon 2.


__ADS_3

Menerima apa yang seharusnya diterima, menjadikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan urutannya. Yeri (Yania Iswari) menerima segala pemberian suaminya tanpa mau menolaknya. Menolak pun percuma, Altez sudah terlanjur menjadi budak cinta dan tidak mengenal penolakan.


Mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai di sebuah rumah yang tergolong besar tetapi tidak sebesar rumah para sultan. Altez tau, apapun itu yang berlebihan pasti akan mendapatkan penolakan dari Yeri. Tidak terlalu besar dan bisa dikatakan sederhana untuk dua orang yang sama-sama bekerja dan memiliki penghasilan yang fantastis.


"Ini rumahnya? Besar sekali," tanya Yeri yang terdengar seperti sebuah protes.


Altez tersenyum, ia tahu pertanyaan itu akan meluncur dari mulut istrinya. Yeri tidak berubah, ia adalah orang kaya yang berjiwa sederhana. Hal seperti itulah yang memberikan poin lebih baginya di mata sang suami.


"Tidak, sebentar lagi rumah itu akan menjadi sempit setelah kita singgahi bersama," jawab Altez yang kemudian melepas sabuk pengamannya dan kemudian menatap lekat sang istri yang masih saja mengamati tampilan luar rumah tersebut.


"Tapi Za, ini besar sekali. Kamu kan tahu aku tidak suka menggunakan jasa pembantu, aku tidak suka jika ada orang asing di rumah."


Selain memiliki krisis kepercayaan diri, Yeri juga tidak terlalu menyukai keberadaan orang asing dalam area pribadinya seperti rumah atau sopir. Ia lebih suka melakukan segala aktivitasnya tanpa tertangkap mata orang lain. Yeri benar-benar mencintai kesendiriannya yang sekarang sudah beralih secara perlahan karena keberadaan Altez suaminya.


"Sayang, tenang. Ada aku, kita hanya pakai satu jasa pembantu. Dan, nantinya dia juga yang akan membantumu dalam mengasuh anak kita," kata Altez seraya melepaskan sabuk pengaman sang istri.


Raut wajah Yeri mulai berubah, dan kali ini terlihat tidak suka. Belum sempat turun saja sudah hampir pecah pertengkaran. Altez memilih untuk mengurangi resiko perdebatan dengan segera turun dari mobilnya.


Altez membukakan pintu dan menunggu sang istri untuk turun. Namun, Yeri nampak membuang muka dan menghindari kontak mata dengan sang suami. Tanpa basa-basi, Altez segera menggendong tubuh sang istri dan membawanya keluar.


Yeri memberontak. "Za, turunkan aku!" ia memekik dengan tatapan tajamnya yang menghunus tepat di jantung Altez.


"Ia nanti, di ranjang kita," jawab Altez dengan entengnya tanpa terpengaruh emosi yang tengah Yeri kobarkan. Ia justru tersenyum manis dengan mengerlingkan matanya.


"Lihat dulu ke dalam sayang, jangan marah-marah terus."


"Za, aku tuh ga suka ya tinggal di rumah yang besar. Harus melibatkan banyak orang, dan juga menambah biaya perawatan, ah pokoknya ribet Za," ujarnya dengan bibirnya yang mengerucut dan wajahnya yang masam.


"Iya," sahut Altez.


Hanya sepatah kata iya dan tanpa ada embel-embel apapun setelahnya. Sampai di halaman depan mereka langsung di sambut dengan kolam ikan mas koi. Mata Yeri seketika menangkap gambaran kolam ikan tersebut.

__ADS_1


"Apa itu piu-piu?" tanyanya dengan mata yang berbinar senang.


Altez mengangguk dan semakin membuatnya senang. Yeri kemudian meminta turun dari gendongan Altez. Altez membiarkannya, membiarkan wanita yang dicintainya menyapa hewan kesayangannya yang beberapa waktu lalu sempat terabaikan.


"Wah, kamu membawanya ke sini? sejak kapan?" Yeri bertanya tetapi tatapan matanya hanya fokus tertuju pada piu-piu si ikan mas koi.


"Hallow!!" suara burung beo Amazon yang berwarna hijau terletak di sudut taman kecil dekat kolam.


"Wah!" Yeri berdecak kagum melihat burung tersebut menyapanya.


"Hallow!" Lagi burung itu menyapanya.


"Halo juga!" jawabnya senang hati, alih-alih mengusap burung tersebut dia justru memeluk Altez yang berdiri di belakangnya.


Altez merasakan kebahagiaan sederhana. Bukan barang mewah atau tas mahal seperti kebanyakan wanita lainnya. Kebahagiaan istrinya jauh lebih sederhana, yakni dengan menatap indahnya ciptaan Tuhan yang maha esa.


"Kamu suka?" tanyanya dengan membalas pelukan sang istri dan Yeri mengangguk senang.


Altez mengusap lembut surai sang istri yang menengadah menatapnya. "Itu adalah hadiah dari temanku Ra, dia adalah pecinta burung. Kami lama tidak bertemu dan aku banyak bercerita tentangmu padanya. Ini hadiah, karena dulu dimasa sulitnya aku banyak membantunya secara finansial."


"Benarkah?" Yeri masih tidak percaya.


"Dek, kasih tahu Mama Nak, Papa ini nggak bohong." Altez bicara menunduk menatap perut rata sang istri.


Hati Yeri menghangat melihat perubahan sikap sang suami. Dia bukan lagi Altez yang dulu, yang pemarah. Bukan lagi Altez yang suka bermain wanita. Ia sekarang hanyalah Altez yang sederhana yang mengedepankan keluarga kecilnya.


"Makasih Za," ucap Yeri tiba-tiba diikuti dengan kecupan di pipi sang suami. Altez terbelalak dan menerbitkan senyuman tipisnya.


"Ini?" Altez memajukan bibirnya.


Yeri tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sikap manja sang suami membuatnya merasa geli. Bayangkan saja jika nanti antara Ayah dan anak akan berebut kasih sayang dan perhatian dari satu wanita.

__ADS_1


"Mandi dulu," tolak Yeri.


"Kita mandi bersama ya? Aku sudah lama ingin melakukannya," ucap Altez dengan senyuman manisnya.


"Aaaa! hati-hati Za, kamu mengagetkanku!" Yeri memekik kala tubuhnya serasa melayang di udara karena Altez menggendongnya lagi memasuki rumahnya.


***


Saling memagut, berbagi kehangatan dan bermain di bawah guyuran air shower yang hangat membuat keduanya terbuai. Altez begitu lembut memperlakukan wanitanya. Ia sangat tahu di mana celah untuk bisa membuat Yeri melayang menyapa kenikmatan.


"Sebut namaku sayang," desah Altez mengajukan permohonan. Bibirnya mulai meracau sebelum akhirnya mencapai puncak kenikmatan.


"Za," lirih Yeri mendesah tepat di samping telinga sang suami. "Pelan-pelan," gumamnya kemudian dengan tatapan berkabut gairah.


"Iya sayang," jawabnya mengabulkan permintaan sang istri dan kemudian menurunkan tempo hentakkan.


Lemas dan terbaring bersama dengan Yeri yang memainkan bulu-bulu halus di dada bidang sang suami. Matanya memejam tapi hanya sekedarnya. Rungunya masih bisa menangkap jelas sang suami yang terus mengajaknya bicara.


"Sayang, terima kasih sudah mau menerimaku," ucap Altez dengan lembutnya tepat berada di atas kepala Yeri.


"Ya, bagaimana ya? Soalnya aku sudah terlanjur mengandung anakmu sih, jadi kalau tidak diterima..."


Altez terbelalak mendengarkan omongan Yeri. Ia tidak percaya akan apa yang keluar dari mulut sang istri. Seketika ia memegang dagu Yeri untuk beradu pandang dengannya seolah ia tengah menanti kejujuran.


"Apa maksudmu Yer?"


Alih-alih takut, Yeri justru tertawa terpingkal-pingkal. "Kenapa? Mukamu tegang sekali Za," ujarnya sembari tertawa. "Aku hanya bercanda sayang," imbuhnya lagi.


Altez mengembangkan senyuman kala mendengar satu kata di ujung kalimat Yeri . Kata 'sayang' seakan menghipnotisnya dan sekejap mata memberikan dopamine yang membuatnya begitu bahagia. Baby moon di hunian baru dengan suasana sederhana cukup untuk membuatnya merasakan bahagia.


"Kamu panggil aku dengan sebutan sayang?" Altez berbinar menatap sang istri. "Aku suka," sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2