PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
33.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


"Maaf Yer, maafkan aku. Aku hanya ingin membantumu." Altez memulai aksinya dengan seijin Yeri yang mengangguk tanpa melepas pagutan mereka.


Benar dugaanku, istriku masih perawan. Altez merasakan sesuatu yang sempit menghimpit miliknya.


"Aku memaafkanmu jika kamu menolongku sekarang." Yeri berbisik lirih ditelinga Altez sebelum akhirnya milik Altez menerobos pertahanannya.


"Hiks....! hiks...!" Yeri meneteskan air matanya kala rasa sakit, perih, dan nyeri itu menjalari tubuhnya.


Sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sama sekali tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Sakit Za." Dia mengadu pada sang pelaku.


"Sebentar saja. Tapi aku tidak bisa melakukannya dengan perlahan." Altez menyahuti dengan memasukkan miliknya dan menariknya berulang kali tanpa ada kata santai.


Dia melakukannya dengan penuh semangat dan kobaran h4srat. Suara keclapan dan kecipak lirih menghiasi kamar utama.


Sementara itu ditempat lain, tepat di kamar tamu.


"Buna, ngapain senyum senyum sendiri?" Ayah Ardi menaruh curiga.


Buna Yusmi hanya terkikik kecil dan meliriknya sekilas. "Tidak apa-apa sayangku, hanya aku senang saja melihat rumah tangga anakku baik baik saja."


"Oh..." Sahut Ayah Ardi yang kemudian memejamkan matanya.


Semoga kalian suka dengan ramuan cinta buatan Buna. Batinnya senang.


...~•~...


Lemas dan remuk. Itulah yang Yeri rasakan sekarang. Dia meringkuk tertidur sembari memegangi bagian bawah perutnya yang terasa nyeri. Pasalnya semalam, Altez terus menggempurnya dan tak membiarkan Yeri mendapatkan jeda bermain.


Sementara Yeri, dia hanya bisa menangis dan pasrah. Menolak pun tidak ada gunanya sebab semua anggota tubuhnya serempak menginginkan hal senonoh itu.


Altez masih terlelap dengan dengkuran halusnya. Semalaman ia menunaikan kewajibannya tanpa ada rehat sejenak. Dia benar-benar memanfaatkan keadaan dengan menggunakan seluruh tenaganya tanpa sisa.


Terisak Yeri menangis saat kembali mengingat kejadian semalam. Bahunya turun naik dengan suara yang tercekat.

__ADS_1


Altez menyadari hal itu dan Dia bangun perlahan.


Perlahan-lahan dia membalik tubuh Yeri agar menghadap ke arahnya.


"Yer, maaf." Ucapnya dengan suara parau khas bangun tidur.


Yeri tidak bicara tapi dia menangis sambil memukuli dada telanjang Altez.


"Ya, pukuli saja aku semaumu agar kamu lega." Altez bersikap pasrah.


Dia tak bisa menyalahkan siapapun. Mertuanya? tidak... tidak mungkin dia berani menyalahkan mertuanya. Altez lebih memilih diam dan menjadi sasaran amuk Yeri.


"Kembalikan!!" Kata Yeri dengan wajah yang sembab dan rasa kesal yang memuncak.


Altez ingin tertawa, tetapi ia juga sadar bila saja tawanya ini akan berbuah malapetaka. Jadi ia mengurungkan dan menelan lagi tawanya. Pun dengan rasanya yang mulai memenuhi kepala. Jika saja wanitanya ini sudah memberikan ijin atas kesadaran pribadi, sudah pasti Altez akan mengungkungnya lagi dan lagi.


"Apanya?" Cetusnya yang memilih pura pura bodoh agar Yeri tak lebih heboh mengamuk.


"Anuku~~, kembalikan!" rengeknya sebelum akhirnya tangisnya pecah di dada bidang sang suami.


"Husstt...! sudah jangan menangis lagi. Lagian kita juga melakukannya secara halal, tidak ada dosa." Kata Altez yang terpotong dengan Yeri yang seketika memicingkan mata horor kepadanya.


Rasa ini.... Aku merasa lega dan nyaman dalam sekali waktu. tapi... tidak, dia tidak boleh tahu, aku harus bisa menyembunyikan ini darinya. Aku tak boleh percaya begitu saja dengan orang lain. Benar semalam dia membantuku, tapi dia juga mengambil keuntungan dari kejadian itu. Yeri meraba dalam dalam perasaanya.


Seandainya sedari awal aku tidak dengan kesombongan dan kebodohanku, mungkin semuanya akan lebih mudah dan tidak seperti ini. Jujur di dalam hatiku aku sangat membenci ayahku setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dan karena itu juga aku berjanji pada Mama untuk membuatnya bahagia. Maaf Yeri aku berubah bukan semata mata karena aku mencintaimu. Tapi.... Altez meraba hati dan pikirannya.


Memang seperti inilah manusia dimana selalu memiliki sisi hitam dan putih dalam jiwanya. Seperti Altez dan Yeri, keduanya memiliki masalah kehidupan baik secara psikologis maupun secara agamis.


"Yeri, jangan keras keras nanti Buna dengar."


Yeri melongo sesaat dan kemudian dia melanjutkan lagi marahnya dengan menggigit, mencubit dan menjambak Altez tentunya bukan ditempat Altez mendapatkan luka.


"Buna jahat sama aku!" Yeri menggerutu.


"Dia tidak jahat, mungkin dia hanya ingin cucu sama seperti Mama."Celetuk Altez tanpa menyadari sesuatu yang akan menimpanya.


Yeri menatapnya horor, seperti tatapan pemeran Almarhumah suzana saat melotot mengejar s bokir. "Kamu sekongkol dengan Mama dan Buna ya? Ngaku!" Yeri memelintir pinggang Altez.


"Aaaa...! Aduh....! Aduh....! ampun. Ampun...!" Dia meminta tolong dan meminta ampun, tapi apakah itu efektif?


Oh, tentu tidak, Yeri semakin menjadi bahkan Dia sekarang seperti serigala jadi jadian yang menggigit Altez.

__ADS_1


"Ampun Yer! sumpah aku tidak sekongkol, aku juga tidak tahu. Kalau aku sekongkol kenapa juga aku harus meminumnya?"


"Kenapa? ya tentu saja biar kamu punya alibi seperti ini. Ngaku!"


"Sumpah demi Tuhan. Tidak sama sekali sayang." Ucapnya dengan menekankan kata sayang.


"Jangan panggil aku sayang. Aku bukan sayangmu!" Ucap Yeri yang kemudian berhenti dan mencibikkan mulutnya lalu memutar kembali badannya.


Apakah drama ini selesai sampai disini? Oh tentu tidak.


Seharian Yeri sama sekali tidak bangun dari ranjang. Dia tidak bekerja, tidak makan, dan tidak mandi. Hal ini sangat membuat Altez kebingungan. Makanan yang ia berikan sama sekali tidak disentuhnya. bahkan Yeri melarang Altez membuka tirai kamarnya.


"Jangan dibuka!" Serunya saat telinganya mendengar suara reel gorden yang bergesekan.


"Kenapa? Kamu dari pagi seperti ini Yeri. Ayolah bangun, jangan membuat aku menjadi takut. ada apa?"


"Bukan urusanmu! hua....! hua....! hua...!" Yeri kembali menangis histeris setiap kali suaminya bertanya ada apa?


"Stop! semua menjadi urusanku karna kamu istriku."


"Tapi kamu sudah mencuri anuku, kembalikan!" Yeri berteriak menuntut miliknya yang telah jebol dan hilang untuk kembali. Yaelah mana bisa? dikira sulapan.


Altez duduk terdiam di taman belakang sebelum ia mendapatkan pencerahan.


Ini tidak bisa dibiarkan seperti ini. iya, aku harus mencarinya dan membawanya kesini apapun caranya. Tapi..., nomornya saja aku tidak punya. Namanya juga aku tidak tahu siapa.


Altez berdiri dan mendekati Yeri.


"Em... Yer, pinjam ponselmu, aku mau pesan makan tapi pulsaku habis, dataku juga." bohongnya.


"Ambil saja sendiri." Yeri tak menunjuk tapi terlihat jelas ponselnya tergeletak di atas nakas.


"Pin?"


Yeri duduk dan menahan selimutnya lalu menempelkan jarinya.


Altez menggunakan kesempatan itu untuk mengirim beberapa kontak nomor penting dari ponsel istrinya. Beberapa sat kemudian dia mengembalikan ponsel Yeri.


"ini sudah. Kamu makan ya nanti?" Kata Altez sebelum melenggang pergi meninggalkan Yeri di kamar seorang diri.


Hayoh, kira kira ni, siapa yang hubungi sama Altez?

__ADS_1


__ADS_2