PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
49.


__ADS_3

...~•~...


Altez, semalaman ia tidak pulang setelah pertengkarannya dengan Yeri. Altez memilih menginap di kantornya.


Pagi hari saat Yeri terbangun, ia mendapati suaminya sudah tidak berada di rumah. Bahkan Yeri sampai mengecek setiap sudut ruangan untuk memastikan keberadaan Altez.


Ia merasakan ada sesuatu yang membuatnya terusik setelah pertengkaran semalam. Ia juga merasa tidak tenang. belum selesai dengan pemikirannya, suara bel di pintu utama sudah membuatnya kesal. Pasalnya si pemencet bel terdengar sangat tidak sabaran.


Joana yang baru saja selesai bersiap dengan setelan jasnya, cepat-cepat keluar dan melihat siapa yang bertamu tanpa tau adab itu.


Jeglek...!


Pintu terbuka.


"Altez! dimana kamu?" Seru Nella yang tidak tahu malu.


Yeri telinganya merasa terusik setelah mendengar seruan Nella yang mencari keberadaan suaminya. Tapi disisi lain, ia merasa tenang. Jika Nella datang mencari, sudah pasti semalam mereka tidak bersama kan?


"Kenapa kamu kemari? berisik sekali! mengganggu ketenangan orang lain saja!" Joana memarahi Nella si pembuat onar.


Yeri mendekat ke sumber keributan. "Jo, usir dia. jangan sampai dia membuat keributan disini."


Bersama dengan keributan itu, Altez baru saja datang. Ia berniat untuk berganti baju kerja setelah semalaman tidur di kantornya.


"Nella." Ucapnya.


"Ouh....! Daddy, lihat sayang daddy mu sudah pulang." Ucap Nella tanpa tau malunya menyebut suami orang dengan sebutan Daddy di hadapan istrinya sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Yeri hanya memberikan respon datar. Ia bahkan menatap jengah Nella. Ia berdiri dengan memakai stelan baju tidurnya dan tangan yang masih terlipat di dada menatap tidak suka Nella si tamu kurang ajar.


"Daddy, daddy!" ketus Altez menyahuti Nella dengan suara yang meninggi dan hampir membentak. "Jaga mulutmu itu, kita tidak ada hubungan jadi jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu."


"Tapi aku tengah mengandung anakmu Al!" Nella tetap pada pendiriannya.


Altez geram, ia naik pitam dan mencengkeram rahang Nella dengan kasarnya. "Jangan pernah sebut aku adalah ayah dari anak yang kamu kandung selama kamu belum bisa memberikan bukti konkrit!" Ucapnya dengan rahang yang mengeras dan semua urat lehernya terlihat tegas.

__ADS_1


Yeri, entah mengapa dia tidak suka melihat adegan kasar itu. Ia kembali teringat kala dulu Altez juga pernah melakukan hal yang sama terhadapnya.


"Bukti? Bukti apa lagi? Apa kamu ingin aku merekamnya saat kita membuatnya?" Pekik Nella dengan nada bicara yang naik dua oktaf lebih tinggi dan nyaris menjerit.


Tangan Altez sudah terangkat di udara dan siap melayang menyapa kasar pipi mulus Nella.


"Za!" Yeri dengan segera menahan tangan Altez agar tak melakukan kekerasan lagi.


"Jo! bawa dia pergi aku tidak mau ada kekerasan di rumahku ini!" Titah Yeri yang kemudian menarik Altez untuk masuk.


"Siap Bu!" JAwab Joana yang dengan segera menarik Nella untuk membawanya pergi.


"Al...! aku hamil anakmu Al! ini anakmu!!" Nella berteriak sambil meronta meminta agar Joana melepaskannya.


Altez masih sempat menatap tajam Nella dan pada akhirnya kejadian itu terputus oleh pintu yang tertutup.


"Kamu apa-apaan sih Za, kasar begitu sama perempuan?"


"Yer, dia itu perempuan ular, dia cuma ingin menghancurkanku."


Yeri kemudian duduk di kursi meja makan dan mulai mengoleskan selai stroberi, ia melahapnya seolah nafsu makannya sama sekali tidak terganggu dengan kejadian buruk ini.


Altez mendekat dan berlutut di hadapan Yeri. Ia menundukkan kepalanya dan tak berani menatap sang istri. tangannya terulur menggapai satu tangan Yeri yang berada di atas pangkuannya.


"Yer, aku mohon percaya padaku. Aku serius tidak melakukan apapun padanya."


"Jika tidak di lakukan, tidak mungkin dia bisa hamil. Sudahlah nikahi saja dia aku tidak apa-apa. Aku tidak akan menghalangimu Za. Aku, tidak suka berebut dan berbagi milikku dengan orang lain. Jadi jika ada yang suka dan aku sudah tidak membutuhkannya, buat apa ku tahan lagi?"


Apa yang mampir di telinga Altez bukanlah serentetan kalimat yang panjang yang baru saja yeri ucapkan. Melainkan rungunya menangkap kata milikku.


Wait...! Dia bilang milikku? apa ini artinya benar jika ku sudah memiliki sedikit ruang di hatinya?


Altez dengan segera memeluk Yeri, dia benar-benar bahagia sekarang. Perlahan tapi pasti Yeri secara tidak sengaja mengakui jika Altez adalah suaminya.


"Tidak, aku tidak akan menikahinya. Aku yakin itu bukan anakku."

__ADS_1


"Dasar tidak bertanggungjawab." Cibir yeri menatap jengah kepala Altez yang kini berada lurus tepat di perutnya.


"Aku bertanggung jawab sayang, Aku hanya sedang menunggu bukti, itu saja." Altez menyatakan tujuannya.


"Lalu selama buktimu itu belum ada, kamu mau apa? mau menelantarkan dia?"


"Tidak, aku akan menjalankan rencanaku sendiri. Tapi aku mohon, percayalah padaku ya?" Altez memohon dan kini ia menatap lekat wajah Yeri.


Entah mengapa, tangan Yeri yang semula ingin menghajar lelaki brengsek itu kini justru membelainya lembut tepat pada surai yang berantakan tadi.


"Aku tahu, kamu melakukan ini demi Mama. Kamu mau mempertahankan pernikahan ini demi kesehatan Mama." Kata Yeri yang berbicara dengan sendu.


"Bukan demi aku ataupun pernikahan kita." Yeri menjauhkan Altez dari drinya. ia berdiri dan membelakangi Altez.


"Satu yang aku sadari, kita hanya saling menyakiti. Jadi ada baiknya jika kamu pergi."


Altez menggeleng. "Tidak! pada awalnya memang semua ku lakukan demi menebus kesalahanku pada Mama. Tapi Yer, perlahan aku mulai menyadari sesuatu. Bahwa aku mencintaimu."


What? mencintaiku dia bilang? Dia saja baru putus dengan Nella dan Vivi beberapa bulan lalu dan sekarang berkata cinta padaku? Ah~~~, aku rasa dia hanya ingin menggapai sesuatu keuntungan yang lain. Aku tidak percaya ini, mengapa tiba iba ada pengakuan cinta ditengah prahara?


Yeri menjadi merinding saat mendengarkan pengakuan cinta dari suaminya sendiri. Pengakuan yang terlontar saat keadaan sedang kacau.


"i love you!" Altez mengucapkannya lagi dan kini ia memeluk Yeri dari belakang.


Ada gelanyar aneh yang Yeri rasakan. sesuatu yang ingin memuncak dan meminta pelepasan nikmat. Yeri sebisa mungkin menahan gejolak rasa yang meledak dalam dirinya. Ia bahkan memejamkan matanya dan meresapi apa yang sebenarnya tengah ia alami saat ini.


Kenapa aku ingin tangannya sesuatu milikku? kenapa aku jadi sangat menginginkannya saat ini?


Tubuh dan otak Yeri kini saling bentrok. Keduanya menginginkan hal yang berbeda. Tubuhnya mendambakan belaian lembut dan dekapan hangat yang menjurus pada satu liang. Sedangkan otaknya bersikeras menolaknya.


"Eungh...!" Bibir Yeri tidak bisa dikondisikan. Seharusnya ia mengunci rapat mulutnya agar tidak mendesah saat tangan Altez bergerilya di atas dua bukit miliknya.


Dia mendesah, apa ini berarti aku boleh melakukannya? apa dia akan menerima cintaku?


Altez bertanya ragu pada hatinya.

__ADS_1


__ADS_2