
...~•~...
...~•~...
Saling diam dan tak bertegur sapa, itulah mereka kini yang hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Yeri fokus menatap jalanan yang ramai pengguna jalan, sedangkan Altez si pria yang baru saja terbongkar aibnya karena takut jarum itu hanya menatap keluar jendela.
Ia seolah sedang menyimpan kemarahan untuk Yeri yang tadi sengaja membawanya untuk menemui Dokter.
Saat keduanya sampai di rumah pun, hanya saling diam. Yeri merasa perlu menyampaikan sesuatu pada suami yang tak diharapkannya ini.
"Za, ini diminum dulu obatnya." Ia meletakkan obat milik Altez diatas meja makan.
"Hem!" Deheman, hanya itu tanpa ada sambungan kata ataupun tatapan mata balik.
Altez langsung masuk kedalam kamar tamu tanpa banyak babibu.
Eh, kenapa? Dia marah sekali? Yeri menatap Altez yang masuk kedalam kamar tanpa menghiraukan perkataannya.
Yeri menyusul Altez yang meninggalkannya begitu saja di ruang tamu. Perlahan Yeri mengendap, melihat dan memastikan akan apa yang tengah suaminya lakukan. Altez langsung merebahkan tubuhnya dan membungkusnya rapat dengan selimut tanpa membuka jas maupun sepatu yang ia kenakan.
"Za, kalau mau tidur ganti baju dulu. Buka dulu sepatunya." Ucap Yeri yang kemudian duduk di tepi ranjang dan melihat bagaimana suaminya itu membungkus tubuhnya.
Tubuhnya bergeming. "Apa pedulimu? bukannya kamu hanya senang saat melihatku kesusahan?" Celetuknya tanpa membuka selimut.
Bahu lelaki yang menyebalkan itu bergetar dengan suaranya yang tercekat tertahan.
"Za, Maaf. Tapi bukan itu tujuanku, tadi tubuhmu panas dan itu karena infeksi lukamu jadi tidak ada pilihan lain selain membawamu ke Dokter."
"Tapi aku tidak suka Dokter Yeri, aku takut dengan mereka!" Sahutnya dengan suara yang naik satu oktaf lebih tinggi tanda jika ia sedang menahan gejolak emosional.
Tangan Yeri terulur dan mengusap lembut lengan Altez, menyalurkan dan memberikan rasa aman dan nyaman. "Iya, Maaf. Tapi semuanya sudah berhasil kamu lalui, Kamu takut dengan Dokter, tapi kamu juga harus menghadapinya." Yeri menjeda ucapannya "Dan , lihat tadi kamu bisa kan?" Wanita penyabar ini sedang meyakinkan dan membesarkan hati lelaki yang masih ketakutan dengan perasaannya sendiri.
"Jangan sentuh aku! Aku ingin sendiri." Ujarnya dengan menggidikan kedua bahunya saat Yeri menyentuhnya.
Yeri bangkit "Yasudah kalau mau sendiri, tapi jangan lupa diminum obatnya biar tidak demam lagi."
__ADS_1
Yeri pergi kembali ke kamarnya.
Ada secuil rasa bersalah disini, dimana tadi dia begitu bersemangat saat melihat Altez yang begitu ketakutan menghadapi Dokter dan jarum kini berganti dengan rasa getir penyesalan.
"Apa aku sudah sangat keterlaluan?" Ia menggumam sembari melepaskan gaunnya.
"Tapi, itu Dokter. Semua orang membutuhkan jasa Dokter, lalu jika dia ketakutan seperti itu... lukanya yang kemarin siapa yang menangani? atau jangan-jangan dia sama sekali belum memeriksakan tubuhnya sama sekali ke Dokter." Yeri menerka.
Dia menjadi gusar sekarang, pikirannya mulai bercabang kemana-mana. Lukanya sampai infeksi dan Mamanya juga selalu bertanya apakah putranya baik-baik saja seolah memastikan bahwa sang putra telah melakukan pengobatan. Yeri tak tahan dengan pemikirannya, Dia memutuskan untuk kembali ke kamar tamu.
Terlihat, Altez belum bergeser dari posisinya. Bahunya turun naik dengan suara isakan. Sangat khas seperti anak SD yang menangis setelah di marahi ibunya.
"Za!" Yeri menyingkap selimut yang Altez kenakan. "Kamu kenapa?" Tanyanya.
Altez tetap mengunci mulutnya dan dia bahkan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, seolah ia sangat ketakutan.
Yeri naik ke atas ranjang dan memeluk suaminya dengan perasaan bersalah. Ia dahulu juga pernah mengalami ketakutan seperti ini. Ia memang berniat ingin membuat Altez menderita selama pernikahan, tapi nyatanya..?
Lihatlah bagaimana Tuhan bekerja dan mengubah hati manusia. Benci,dan peduli itu sangat tipis birainya. Yeri kini sendiri tak tahu apakah ia masih membenci, ataukah perlahan lahan mulai peduli.
Perlahan, satu persatu sepatu yang Altez kenakan, dibukanya. Begitu pula dengan jasnya. Yeri dengan sangat telaten meladeni suaminya yang menyebalkan baginya.
Altez benar-benar sedang berada dalam ketakutan yang teramat sangat. Ia sampai tak berani membuka mulutnya lagi bahkan hanya sekedar untuk bercakap.
Malu pun hadir dan membuatnya harus mengakui satu hal disini. Dalam hatinya, Altez mulai mengangumi istrinya. Wanita yang selalu berbicara dengan tenang dan bisa melemahkan egonya.
Wanita yang bisa bersikap bijak meskipun sebenarnya bukan itu yang ia ingin lakukan.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Altez yang membuka bantal dari wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Yeri mengangguk perlahan dan memberikan senyuman terbaiknya. Mereka berpelukan, Altez menyembunyikan kepalanya diantara perpotongan leher sang istri. Tangan Yeri terus menepuk-nepuk lembut punggung Altez hingga keduanya terlelap bersama.
Pagi harinya.
Seorang pria tengah mengamati wajah istrinya. Yeri tertidur tanpa sempat menghapus makeup. Altez mengamati setiap inci dari ciptaan Tuhan yang kini menjadi miliknya seutuhnya ini.
Dikepalanya masih berpikir, Bagaimana bisa wanita yang dulu ia bully, wanita yang selama ini ia cari untuk mendapatkan maafnya, ternyata datang begitu saja tanpa ia banyak berusaha.
__ADS_1
"Eungh....!" Suara lengkuhan dari Yeri terdengar begitu manis di telinga Altez. Ia mengulum senyumnya sebelum akhirnya memberikan satu kecupan singkat di pipi kanan sag istri.
CUP!
Yeri melongo melihat wajah Altez. Nyaris saja dia menampar lelaki di depannya ini saat kerja otaknya belum maksimal dan mengingat posisi apa yang kini dimiliki oleh lelaki bermata coklat ini.
"Eh, berani cium cium!" Ketus Yeri dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Altez.
Altez terkikik. "Kenapa tidak? aku sudah bilang kan, ingin memperbaiki semuanya. Lalu apa salah jika aku bersikap manis pada istriku sendiri?" Ia berbicara dengan menaikkan alisnya.
Yeri menyeka bekas dimana Altez menciumnya. Altez memicingkan matanya melihat itu dan dia mengulang lagi aksinya mencium Yeri di tempat yang sama. Terasa panas dan lembut sebab Altez belum turun demamnya.
"Za, apa benar kamu berniat untuk memperbaiki semuanya?" Tanya Yeri saat Altez kembali menciumnya.
Altez mengangguk.
"Tapi Maaf, aku sama sekali tidak bisa mempercayainya. Aku tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain sampai pada level hidup bersama dengan komitmen yang jelas." Kata Yeri.
Altez mengerutkan keningnya. " Lalu, pernikahan kita? Kamu menerima perjodohan ini untuk apa Yeri?" ia tak paham dengan maksud Yeri.
"Aku... menikah denganmu, hanya ingin mengobati rasa traumaku yang tumbuh sedari aku kecil. Tapi, aku juga tetap tak bisa menumbuhkan rasa percaya terhadap orang lain. Sama sekali tidak, aku sudah kehilangan itu semua."
"Aku menikah bukan untuk apa apa. Aku juga hanya ingin melihat dirimu tersiksa bersamaku." Ujarnya jujur yang membuat Altez tercengang.
"Kapan jadwalmu bertemu dengan psikiater?" Tanya Altez tiba-tiba.
Yeri pikir dengan ia bercerita yang sesungguhnya, maka Altez akan membencinya dan bersedia menceraikannya.
Aku tidak akan menyerah sebelum aku bisa menaklukkan hatimu. Tidak ada kata ditolak dalam kamusku. Aku akan membuatmu mempercayai hubungan kita ini. Aku yang akan membuatmu kembali memiliki rasa percaya itu.
"Ceraikan aku saja Za, hubungan kita tidak baik. Aku mau menikah hanya karena ingin membalaskan rasa sakit hatiku. Aku membencimu." Kata Yeri.
"Benarkah? tapi... benci dan peduli itu sangat sedikit perbedaannya Sayang. Lihat kamu semalam sangat perduli denganku bahkan kamu tidur sambil memelukku." Ucapnya menyindir kejadian semalam.
BLUSH...!!
Pipi Yeri merona seketika. "I... itu hanya rasa kemanusiaan saja. Tidak lebih." Sanggahnya yang kemudian bangkit dan berlari pergi.
__ADS_1
Aku menjadi semakin tertantang untuk menaklukkan istriku sendiri, hanya dia yang terang terangan menolak, memaki, dan membenciku. Yeri... sampai mati pun, aku tidak akan melepaskanmu.