
"Salah apa? Apanya yang salah?" tanya Vito tidak mengerti.
"Ku ceritakan juga kamu tidak akan paham bagaimana situasiku. Aku, a-ku, bisa kamu peluk aku? Sebentar saja," ucap Yeri dengan nada memohon.
Vito mengangguk dan berdiri dengan segera. Ia merentangkan kedua tangannya seolah bersiap untuk mengepakkan sayapnya. Ia bersiap menerima Yeri ke dalam pelukan hangatnya.
"Kemari, Kakakku yang cantik, kemari dan peluk aku sepuasmu," kata Vito dengan kedua tangan yang masih merentang terbuka lebar.
Yeri memeluk Vito tanpa berdiri, ia tetap duduk di bangku dengan dirinya yang menyembunyikan wajahnya di perut rata Vito. Berkali-kali ia sesenggukan dan menyedot ingusnya membuat Vito terkekeh geli. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia mendapatkan perlakuan manja dari wanita seperti ini.
Aku pusing memikirkan hal ini. Seharusnya ini tidak terjadi. Aku sangat tidak suka ketika tadi melihat Altez sedang berada di acara pemakaman Nella. Bukankah itu artinya dia masih memiliki rasa terhadap mantan kekasihnya?
"Aku hanya sedang ingin menangis saja. Moodku sedang berantakan, kamu temani aku jalan-jalan dan makan eskrim ya? mau 'kan?" Yeri berbicara dengan wajah memelas yang menengadah menatap Vito.
Vito menatapnya dengan menunduk, lalu mengangguk setelahnya. "Iya," jawabnya sembari tersenyum.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Singapura?" tanyanya tiba-tiba dengan penuh harap.
Vito tergelak dan mengulum senyumnya. "Astaga! ke Singapura? aku tidak akan sempat Kak, hanya tinggal hari ini dan besok pagi-pagi sekali aku sudah harus pulang untuk mengurus semuanya," kata Vito.
"Sayang sekali, waktu kita berbenturan," ucap Yeri dengan mulut yang meruncing manyun. Ia kemudian melepaskan pelukannya.
Vito menghela nafasnya sebelum dia duduk dan mengamati perubahan mimik wajah Yeri. *D*ia pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?
"Ada apa Kak? Kamu terlihat aneh," tanya Vito dengan suara lembutnya.
"Tidak!" Yeri berdiri dan kemudian kembali memasang wajah tersenyum seolah tidak ada apa-apa yang sedang menimpanya.
Yeri semenjak melihat bagaimana reaksi Altez yang begitu bersedih setelah mendengar kabar duka atas meninggalnya Nella, membuat yeri membangun satu opini baru. Baginya saat ini Altez masih mencintai Nella bahkan sangat mencintai Nella. Hal ini membuatnya menyesal setelah melakukan penyatuan pada malam itu.
__ADS_1
Yeri merasa menjadi manusia bodoh saat setelah kepergian Altez ia merasakan mual-mual dan kemudian memeriksakan dirinya. Yeri dinyatakan hamil tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya termasuk Joana dan orang tuanya. yeri masih ragu akan keputusan apa yang harus diambilnya.
Kini ia merasakan seolah kuasa Tuhan tengah menegurnya setelah ia beberapa waktu yang lalu melakukan sebuah dosa dengan mempermainkan pernikahan. Yeri menyesali segala keputusan yang ia ambil. Entah karena pengaruh hormon krena sedang hamil, atau memang dia tengah banyak pikiran, Yeri yang masih berdiri tiba-tiba saja terhuyung ke belakang.
Beruntung Vito cepat tanggap dan sigap. Ia segera menangkap tubuh wanita cantik yang kini telah menjadi keluarganya juga. Vito terlihat begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Yeri.
"Kak, baik-baik saj? apa kita harus ke dokter?"
"Tidak, ini hanya karena aku belum sarapan saja To," jawab yeri yang menolak untuk menemui dokter. Ia takut, keseringan mengunjungi dokter maka akan membuat Silvi mengetahuinya juga.
***
"Yer! Yeri!" seru Altez yang baru saja kembali ke hotel.
Yeri pergi begitu saja tanpa memberitahu resepsionis hotel. Ia bahkan sama sekali tidak mengabari Altez kemana ia pergi. Yeri terlalu patah hati untuk sekedar mengabari pun terasa amatlah sukar ia lakukan.
Altez mengecek seluruh ruangan dan tidak menemukan apapun. Yeri pergi tanpa jejak membuat Altez mulai merasa khawatir sekarang. Ingin menghubungi Ayah mertua, tapi ia masih sangat ingat bagaimana hubungan merek terakhir kalinya.
"Iya, hallo Pak, ada apa?" tanya Joana yang sebenarnya juga malas mengangkat panggilan Altez.
"Apa istriku sedang bersamamu?" tanya Altez.
"Iya, kami sedang melakukan meeting di Autralia. Tadi Bapak terlalu sibuk sampai tak ada waktu untuk berbicara dengan Ibu," kata Joana yang menyindir Altez yang pergi tanpa pesan dan mengabaikan istrinya begitu saja.
"Australia?"
"Iya Pak," jawab Joana sekenanya.
"Oh, oke," kata Altez yang kemudian menutup panggilan selulernya.
__ADS_1
"Mau mengajakku bermain rupanya kalian. Oke," gumam Altez dengan melampirkan senyuman tipis sejuta makna.
Altez segera menuju ke lokasi yang baru saja ia dapatkan dari pelacakan setelah melakukan panggilan dengan Joana. Altez memiliki keahlian dalam meretas situs maupun hal lain yang berbau IT. Altez melangkah dengan kaki lebar tanpa kesabaran.
Satu jam dan akhirnya ia sampai pada alamat yang ia tandai sebelumnya. Altez berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke Apartemen Yeri. Altez berdiri di depan pintu tepat di belakang joana yang sedang asyik menguping pembicaraan dua orang yang tengah berada dalam flat tersebut.
"Ada apa? Katakan, kalau ada masalah sebaiknya berbagi," kata Vito.
Altez iku menempelkan telinganya dan hal ini sama sekali belum di sadari oleh joana. Joana masih sangat penasaran ada apa dengan perubahan sikap dan keinginan Yeri yang begitu mendadak ini. Ia tak meu melewatkan kesempatan atau pun momen penting dalam pengumpulan data yang akan ia laporkan pada Tuan Ardi-Ayah Yeri.
"AKu hamil," kata Yeri.
Suara mereka jelas terdengar, karena saat ini mereka berada di depan rak sepatu yang berada di depan pintu masuk. Mereka baru berencana untuk pergi jalan jalan di sekitar pantai.
"A-apa? Ha-hamil?" tanya Vito dengan keterkejutannya. Suaranya setengah memekik dan membuat dua orang yang ada di balik pintu menampilkan ekspresi yang berbeda.
Belum sempat Vito menyambung katanya, sudah terbuka pintu dan menampilkan suami dari kakak angkatnya itu berdiri dan menatapnya dengan kemarahan tingkat tinggi. Tak dapat terelakkan, Altez seketika memberikan bogem mentah pada Vito. Joana segera bertindak dengan melerai keduanya.
Joana dengan keahlian beladiri yang ia miliki dalam hitungan menit sudah mampu memisah keduanya dengan caranya. Ia lalu mengapit leher keduanya dan membawanya duduk di sofa. Sementara Yeri, ia masih syok dan berdiri mematung di depan pintu.
"Yeri! urus suami dan adikmu ini," ketus Joana yang kini berbicara santai dnegan Yeri. Satu tanda jik ia sudah begini, itu artinya Joana gemas dengan keadaan yang ada.
"****! Adik? Adik apa? Yeri itu anak tunggal, kalian sekongkol 'kan di belakangku?"
"Sekongkol?" Joana menyahut ia masih terbawa emosi.
Vito hanya diam, dia menunduk dan merasakan sensasi perih panas dari luka di sudut bibirnya. Matanya melirik dan terlihat jika ia menyeringai terhadap Altez. Sementara Yeri masih berdiri layaknya juri.
"Ia kalian sekongkol untuk menutupi kehamilan Yeri dengan dia 'kan?" cecar Altez yang berbicara tanpa filter karena terbawa emosi.
__ADS_1
"Plak!!" nyaring suara tamparan mendarat di pipi.