
...~•~...
...~•~...
"Duh, lumayan nyeri juga ni jempol kaki." Altez merasakan kakinya yang terluka saat tabrakan kemarin mulai berdenyut. Dia menikmati sensasinya alih alih pergi ke Dokter untuk mengobatinya. Andalannya setiap kali terluka adalah plester dan revanol. Dua benda itu sudah seperti barang paling mujarab di muka bumi baginya.
Tok...!
Tok...!
"Ah itu mungkin mereka sudah datang."
Altez berjalan pincang dan membukakan pintu. Berdiri lah dua orang yang menatapnya tak suka secara bersamaan. Mereka adalah Joana dan dokter Silvi (Dokter yang menangani kejiwaan Yeri atau lebih biasa di kenal sebagai psikolog).
"Masuk..!" Altez menyambut dengan gugup. Pasalnya kedua wanita ini berwajah tegas dan ta ada senyum sama sekali.
Berbekal dari nomor yang sengaja di ambilnya tnpa seijin Yeri, Altez berhasil memanggil Joana dan Silvi.
"Dimana Bu Yeri?" Tanya Joana to the point.
"Dia di kamar." Jawab Altez datar dan kemudian mulai mengarahkan mereka menuju ke kamar utama.
Dokter Silvi masuk tetapi Joana tau apa tugasnya. Di berhenti dan berdiri di pintu menghadang Altez yang juga ingin ikut masuk.
"Kenapa melarangku? Ini rumahku dan dia istriku." Ketusnya terhadap Joana.
"Maaf Pak, selama proses mediasi anda tidak di perbolehkan mengganggu Bu Yeri. Beliau harus dalam keadaan tenang."
Altez memutar tubuhnya dia berjalan sambil menggerutu. "Dasar, tidak atasan tidak bawahan sama saja." Cibirnya yang ternyata di dengar oleh Joana.
"Thats right, because we are one set." Kata Joana lirih tapi mendapatkan lirikan tajam dari Altez.
Ponsel Altez berdering, kali ini merupakan panggilan yang agaknya bisa meringankan sedikit ganjalan di otaknya.
"Ada apa Diko menelfon?" Ia mengerutkan alisnya.
"hai Bro! ga kangen lu sama gue?"
__ADS_1
"Ngapain lo telfon udh balik lo?"
"ya udah lah, Eh entar malem kita nongki yuk! sekalian merayakan hari bubaran gue sama Diana."
"Lu putus sama Diana?"
"Kenapa, mau lu pake bekas gue? Biasanya lu belum jadi beks aja udah lu serobot, kayak pacar adik lo itu."
Altez menelan ludahnya dengan susah payah. "Enak aja, ogah ah gue bekas elu entar beracun." Sindirnya.
"hahahaha sok bersih banget lu kunyang! biasanya juga apa apa lu embat. Kalo aja waktu itu kakak gue jadi cerai, yakin gue pasti bakalan lu embat juga." Diko mulai berceloteh dan meleber kemana mana.
"Ga separah itu juga kali gue." Altez membela dirinya.
Tidak separah itu? perlu di garis bawahi disini bahwa Altez lebih parah dari itu. Bahkan demi lancarnya skripsi, dia juga sempat menjadi penghangat ranjang dari dosen pembimbing yang kesepian setelah menjanda bertahun tahun lamanya.
"Halah, tau kali gue siapa elu." Cetus Diko yang memang benar dia mengetahui semua rahasia Altez tentang wanita.
"Ah, udah ah ada perlu apa nelpon gue?" tanyanya lagi.
"Nongkrong lah, apalagi? bosen banget gue di pingit gini sebelum merrid lah, gue harus puas puasin. apa kita perlu mengadakan pesta bujang?"
"What? sejak kapan lu perhatian ama bini lu yang burik itu?"
"Jangan hina Bini gue ya, bini gue cakep banget lu tau. Awas aja lu kalo sampe gue denger lu hina bini gue."
"Kayaknya lu butuh operasi mata deh, lu butuh lasik kali Al, eh gue masih inget ya gimana ga sukanya elu sama bini lu pas pesta pernikahan. Sekarang bisa bisanya perhatian gini. Ada apa lu? kesambet atau apa?"
"Udah ah kalo ga penting mending ga usah telfon gue."
Altez mematikan ponselnya sepihak dengan kesal. Semua percakapan tadi tak luput dari pantauan Joana.
Benar, dari pengamatanku Altez memang sedang jatuh cinta pada Bu Yeri. Bisma, kamu harus cepat..Joana membatin dan memikirkan strategi baru agar sepupunya tidak tersalip lagi.
Didalam kamar utama.
"Bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Silvi memulai sesi tanya jawab dengan membawa pena dan bukunya. Buku yang mengumpulkan tentang semua perubahan dan perkembangan Yeri.
Yeri hanya menunduk lesu.
__ADS_1
"Yeri, katakan ada apa? biar kita bisa mencari solusinya bersama sama." Silvi membujuknya dengan lembut.
Yang Silvi takutkan adalah kembalinya pemikiran Yeri terhdap masa kecilnya. Akan sangat susah untuk diurai jika yeri terbukti benar kembali pada masa menyakitkan itu.
"Dia mencuri anuku." Kata Yeri di awal pembuka.
"Anu?" silvi tak mengerti akan Anu yang di maksud pasiennya.
"Iya Dia telah mencuri anuku dan itu sakit sekali. aku tidak bisa merelakannya bahkan sekarang aku jadi semkin membencinya."
"Bisa jelaskan dengan spesifik, anu apa yang kamu maksud?"
Yeri mengambil posisi tertelungkup dan berteriak dalam himpitan bantal dan kasur. "Aku sudah tidak prawan lagi dan itu karena dia!!"
Silvi mengangguk paham. Akhirnya yang harus terjadi tetap terjadi. "Kamu sudah melakukan itu dengannya? Apa kamu sadar satu hal?" Silvi bertanya pada Yeri yang masih menangis tertelungkup.
"kamu," Silvi mengusap perlahan surai hitam Yeri untuk memberikan rasa nyaman dan percaya. "Kamu sudah banyak mengalami perubahan besar pada titik ini. Mungkin kamu tidak sadar jika kamu sudah hampir mendekati normal pada fase pergaulan sosial."
"Normal?" Yeri terduduk. Baginya semua ini aneh dan bagaimana bisa justru di katakan normal dalam sisi psikologis?
Silvi mengangguk lalu memberikan tisu pada Yeri. "Iya, kamu sudah bisa melakukannya. dalam hal ini, ini berarti kamu sudah memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri dan juga lawanmu."
"Kamu sudah mau memberikan hal yang paling berharga dan mempercayakannya pada seseorang yang memang seharusnya mendapatkannya, dalam hal ini adalah Altez suamimu."
"Apa seperti itu konsepnya?" Tanya Yeri yang terdiam dari tangisnya, Otaknya benar benar sedang bekerja keras memahami setiap apa yang Silvi katakan.
"Coba ingat lagi semalam saat melakukannya."
Yeri kembali menerawang kegiatan tidak senonoh yang semalam dilakukannya berdua bersama Altez. Ia Dia melakukannya secara sadar, bahkan Dia juga yang memohon bantuan Altez tanpa malu.
Yeri menggeleng berkali kali mengusir bayangan yang sangat erotis semalam.
"Kamu atau dia dulu yang meminta?" Silvi mulai mengorek yang seharusnya ia pantau.
Yeri menunduk malu. "Aku. Aku dulu yang meminta dan dia hanya membantuku. Tapi tetap saja aku membencinya!"
Silvi tertawa. "Itu bukan rasa benci, tapi kamu hanya malu dan tak ingin mengakui."
"Tak apa apa, tidak ada yang serius dan justru ini perkembangan yang sangat bagus. Kamu mulai percaya diri."
__ADS_1
Apa iya aku sangat percaya diri? Jika di ingat lagi..., memang benar sih semalam aku show up. Aku bahkan berada di atasnya dan bermain liar. Argh...! sumpah aku sudah mulai gila...!