
...~•~...
...~•~...
"Insyaallah Janji Buna." Altez berucap dengan ragu.
Malam itu mereka berbincang hangat dalam ruang tamu. Mereka saling tertawa dan menceritakan masa kecil Yeri sebelum Yeri berubah karena perbuatan Altez.
Buna masih belum tau akan hal itu dan Ayah Ardi juga Yeri berusaha sekuat mungkin untuk tidak menyinggung soal masa lalu yang menyedihkan itu.
Selesai dengan cemilan dan juga susu hangat, mereka memutuskan untuk tidur dan disaat ini jugalah masalah mulai muncul dimana Buna dan Ayah Ardi akan menempati kamar tamu yang mana di dalamnya masih penuh dengan barang Altez.
"Buna tidur dimana?" Tanya Buna Yusmi yang sudah mengantuk.
"Em..., kalian tidur di kamar Yaya saja ya Buna. Kamar Yaya luas sedangkan kamar tamu itu sempit dan juga kami belum sempat membersihkan." Ucap Yeri beralasan.
"Iya Buna kamar tamu tidak ada AC-nya. Kalian di kamar kami saja." Altez menimpali dengan wajah kikuknya.
Buna Yusmi tersenyum. " Kalian kompak sekali, apa kalian sudah benar-benar saling memahami satu sama lain? Wah..., Buna tidak menyangka akan secepat ini kalian saling mengenal."
Altez dan Yeri hanya bisa tersenyum palsu untuk menutupinya. Keduanya harus bekerjasama seperti bagaimana saat Mama Alda datang berkunjung.
"Kami di kamar tamu saja. Ora iLok Tamu menempati kamar utama dari rumah yang di kunjunginya." Kata Ayah Ardi.
Yeri dan Altez kemudian memikirkan berbagai macam cara untuk menyingkirkan barang-barang Altez dari kamar tamu, terutama baju-bajunya yang belum tertata rapi.
"Ya sudah, saya bereskan sebentar ya Bun. kalian tunggu saja disini. Ayo sayang, bantu aku beres-beres." Altez memberikan kode dengan mengedipkan sebelah matanya pada Yeri.
"Kenapa kelilipan?" Celetuk Yeri yang tak paham.
Bodohnya istriku ini. Aku memberikan kode, bukan kelilipan.
"Oh tidak. Ayo sayang segera kita bereskan, aku sudah mengantuk. Hoamz....!" Altez berpura-pura menguap.
Altez menggerakkan bahu Yeri dan mendorongnya layaknya bermain kereta api. Mereka bergerak memasuki Kamar tamu.
Di dalam kamar tamu.
"Udah, tidak usah pegang-pegang lagi. Mereka sudah tidak lihat." Yeri segera menepis tangan Altez.
__ADS_1
Altez tak mau mengulur waktu. Ia segera memasukkan baju bajunya kedalam lemari dan menguncinya rapat-rapat. Beberapa barangnya yang ada di atas nakas kembali ia masukkan kedalam koper dan menyimpannya di bawah kolong.
Sementara itu Yeri segera mengganti seprei. Mereka sibuk sangat sibuk seolah tengah ada inspeksi dadakan.
"Huft...! sudah?" Tanya Yeri pada Altez yang tengah memasukkan obatnya kedalam kantong celana.
Altez mengangguk. "Sudah!" Jawabnya.
Saat mereka keluar dari kamar tamu Buna dan Ayah Ardi sedang berbincang dimana Buna ada di dapur membuat minuman dingin.
"Nah...., kalian pasti haus." Buna meletakkan jus jeruk di meja.
Terlihat menggiurkan dan segar.
Altez dan Yeri segera menenggak minuman tersebut sampai tandas tak bersisa. Altez bahkan sampai mengunyah es batu yang ada di dalamnya.
"Enak Buna." Ucapnya sambil tersenyum.
" Terimakasih." Jawab Buna.
Yeri meletakkan gelas kosongnya. " Tapi Ayah dan Buna kok tidak minum?" Tanyanya penasaran.
"Tidak, kami sudah tua. Malam malam minum minuman dingin bisa membuat kami bersin bersin." Ucapnya beralasan.
Altez dan Yeri mengangguk bersama. Terdengar masuk akal bukan?
Lampu rumah padam dan suasana hanya remang, saat dimana Yeri dan Altez memasuki kamar utama. Ada hawa panas yang terasa berbeda.
Altez sudah berada di lantai tanpa alas atupun karpet. Dia benar-benar berada di atas ubin yang dingin.
"Yer, bisa turunkan lagi suhunya? aku kepanasan." Altez mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Ouh...! panas sekali. Ku rasa ada yang salah dengan Ac-nya. Minta dibersihkan mungkin." Yeri memukul mukul remote AC dan memencetnya.
"Aku tidak tahan lagi!" Altez masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya.
Mendengar suara gemericik air, membuat Yeri yang kepanasan menjadi tergoda dan memikirkan hal yang sama, yaitu menyiram tubuhnya dengan air dingin.
Selesai dengan mandinya Altez keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang yang melilit pinggangnya. Yeri segera masuk dengan tergesa gesa dan mandi.
Keduanya merasakan detak jantung yang tak menentu, hawa gelisah dan panas bercampur dengan desiran hebat dalam aliran darahnya dan memberikan sengatan-sengatan yang sulit di deskripsikan.
__ADS_1
"Za...," Panggil yeti pada Altez yang tengah berdiri menghadap AC yang menyala.
"Hem?" Altez menoleh.
Ada sesuatu yang aneh saat mata mereka saling bertatapan. Sesuatu yang memburu dan menuntut pelepasan.
"Aku sudah mandi, tapi masih panas. Bisa kamu buka jendelanya, biarkan angin masuk." Kata Yeri dengan nafas yang tersengal-sengal. Dadanya terlihat turun naik mengatur nafasnya.
"Tidak, ini sudah malam. Aku tahu kita kenapa." Ucap Altez yang kemudian mendekati Yeri dengan kabut gairah yang tampak nyata menutupi wajahnya.
"Kenapa...h?" Yeri semakin mendekat pada Altez dengan tangannya yang perlahan membuka handuk yang melilit tubuhnya. " Panas sekali Za, jangan lihat aku.." Kata Yeti dengan nafas yang memburu dan setengah kesadaran yang tersisa.
Sebenarnya Altez sungguh tidak tahan dengan keadaan ini. Miliknya mengeras dan membuatnya berdenyut hebat. Kinerja otak dan batin saling bertentangan.
Ini adalah waktuku untuk membuktikan padanya jika aku benar-benar ingin berubah. Aku bukan lelaki brengsek seperti apa yang dia katakan.
"Tubuhmu panas Za. Za... kita minta tolong pada Ayah dan Buna saja." Dalam keadaan ini terlihat bagaimana Yeri masih terlihat begitu naif. Dia bahkan sampai tidak bisa menebak apa yang sebenarnya tengah merasuki tubuh dan pikirannya.
"Za .., bantu aku.." Yeri mendekat dengan tubuhnya yang tel4njang bulat.
Aktez justru kembali mengambil handuk dan melilitkannya di tubuh Yeri. "Pakai bajumu." Ucapnya dengan nafas yang memburu tanpa mampu melihat wajah Yeri.
"Panas Za..., aku tidak mau pakai baju." Ucap Yeri dengan kedua tangannya yang sudah melingkar di tengkuk sang suami.
Altez menatap penuh ha4srat pada Yeri. Keduanya saling bertatapan hingga tiada lagi yang bisa mencegah datangnya suatu kejadian.
Ciuman terjadi tanpa mampu terelakkan. Keduanya saling mem4gut dan bertukar saliva. Mengabsen jajaran gigi satu sama lainnya. Berpeluh dengan desiran hebat yang membuat gelora di jiwa.
Jemari nan lembut menari menjajaki setiap inci kulit dari dia yang telah menjadi hak diri. Nafas keduanya terengah-engah, Altez masih berusaha untuk mencegah kebencian yang semakin besar menimpanya setelah ini.
Namun.....
Ia tak tega kala melihat Yeri yang di dorongnya ke ranjang terlihat menggelinjang hebat dengan kabut gairah yang menguasainya.
"Za... aku Haus." Keluhnya lagi dengan nafas memburu dan mengerang lirih sekali waktu.
Aktez memberikan minuman padanya. Alih-alih menerima minuman tersebut, Yeri justru segera menautkan bibirnya dengan milik Altez bahkan ia sesekali menggigit kecil bibir sang suami.
Ea ea ea....! nungguin ya?
Nungguin yang lagi mo ehem ehem ya? Ketauan deh udah Ndak polos lagi🤣🤣.
__ADS_1