PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
90. 7 bulanan


__ADS_3

Keputusan bulat telah diambil. Yeri dan Altez kini tengah berada di kediaman keluarga Ardi. Yaps, Ayah ardi sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi keputusannya. Acara tenagh digelar dan para tamu pun hadir.


"Ya ampun!" Seru tante Annisa yang dahulu menjodohkan kedua manusia ini. "Tante tidak menyangka jika kalian akan sampai ke tahap ini," ucapnya sembari melirik Altez yang tersenyum melihatnya.


"Maksud Tante karena aku playboy dahulunya?"


"Iya, tentu. Tante sangat ingin kalian bercerai dulu sewaktu mendengar berita perselingkuhan kamu dengan mantan model yang meninggal itu."


"Dulu Tante, sekarang tidak akan ada kabar seperti itu, Al janji," Altez menunjukkan kedua jarinya dengan wajah seriusnya.


"Janji?" tanya Tante Annisa memastikan dengan matanya yang menyipit menuntut kejujuran.


"Janji!" Altez menjawab dengan sangat yakin.


"Dia sedang berusaha untuk menjadi Ayah dan suami yang baik Tan," kata Yeri sambil tersenyum.


"Bagus lah kalau begitu. Kalau dia macam-macam, bilang sama tante, Tante punya banyak kenalan kolega yang pasti akan berebut jika kamu jadi janda," ujar tante Annisa yang seketika membuat Altez gelagapan.


"Tante kok gitu ngomongnya? Al janji Tante tidak akan seperti itu," Altez lagi-lagi meyakinkan.


"Iya, iya, Tante hanya bercanda Al," ucapnya yang kemudian membuat Altez tersenyum lega.


Yeri hanya bisa tertawa melihat reaksi Altez yang dengan seketika mengeluarkan argumennya dan tidak terima jika dibilang akan banyak yang merebutkan jandanya Yeri. Altez tidak akan tinggal diam jika hal itu terjadi sekalipun ia menjadi hantu.


Egois, memang. Memang lelaki adalah mahluk egois yang selalu ingin menunjukkan kekuatan dan kepemimpinannya terlepas itu salah atau benar, baik atau buruk. Begitulah pria dan wanita adalah mahluk yang dituntut untuk selalu mau menolerir dan mengerti akan keegoisan pria. Bukankah begitu kawan-kawan?


Sementara itu di sudut ruangan yang lainnya. Winda dan Bisma tengah duduk bersandingan. Mereka sama sekali tidak saling bicara dan terlihat seperti pasangan yang tengah bertengkar. Selesai acara pengajian kin disambung dengan acara makan malam.


Semua tamu dipersilahkan menikmati jamuan makan pada mejanya masing-masing. Altez terlihat sangat perhatian ia seolah tidak mengijinkan seekor nyamuk pun hinggap di tubuh sang istri. Ia selalu menanyakan apa yang Yeri butuhkan agar wanitanya tak harus berjalan kulu-kilir.


"Mau apa lagi? Aku ambilkan," kata Altez dengan menatap sayang penuh cinta, Iya, laki-laki playboy itu kini telah menjadi budak cinta dari wanita yang dahulu dia bully.


"Tidak usah sayang, aku sudah kenyang," kata Yeri yang memberikan senyuman terbaiknya bagi sang suami.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu sekarang giliran aku makan ya?"


"Makanlah Za, kenapa harus minta ijin?"


"Aku akan tenang menelan makanan ini jika anak dan istriku sudah kenyang," jawaban Altez selalu mengundang tatapan kagum dari istrinya. Bakat merayunya kini kembali bangkit dan hanya tertuju pada sang istri.


"Mama tidak menyangka dia akan menjadi anak dan suami yang sangat manis begini," kata Mama Alda sembari tersenyum menatap Yeri.


"Mama sangat berterima kasih sama kamu sayang. Kamu sudah membuat keluarga kami lebih baik," kata Mama Alda dengan matanya yang terasa panas dan mulai meneteskan air matanya.


"Ma, sudah. Jangan menangis lagi, Mama selalu mengatakan hal ini setiap kita bertemu. Sekarang, Mama hanya boleh tersenyum dan tertawa. jangan menangis lagi Ma, tidak ada hal menyedihkan di sini." Yeri mengusap punggung ibu mertuanya dan menatapnya teduh.


"Kak, bisa carikan satu untukku yang seperti kamu? Aku ingin memberikan cucu juga pada Mama," cetus Albi yang tiba-tiba menyambar.


"Bi, kalau soal itu kamu bisa temui tante Annisa. Itu orangnya ada di sana." Yeri menunjuk keberadaan Tante Annisa.


Buna Yusmi dan Ayah Ardi datang setelah menghampiri beberapa tamu undangan. Bersamaan dengan itu Altez juga kembali duduk di meja makannya tadi. Tatapan Ayah Ardi masih mengisyaratkan jika ia tidak suka dengan Altez.


Altez menunduk dan tak berani bicara apapun saat itu. Ia tidak mau Mamanya akan tahu jika ada permasalahan antara dia dengan mertuanya. Altez memilih diam. Beruntunglah dia sebab Yeri menguatkannya.


***


"Win, tolonglah berpura-pura manis denganku, sedari tadi Mama melihat kita," kata Bisma dengan sangat serius pada Winda alias Wiwin.


"Sudah ya Bisma, sudah cukup dri tadi aku sudah berakting dengan sangat baik termasuk memeluk lenganmu," jawab Wiwin dengan sangat kesal. Pasalnya Bisma terkesan memanfaatkan keadaan saat ini.


"Kita pulang saja, acaranya juga sudah selesai kan?" ucap Wiwin


"Tidak bisa, kamu lihat Mama." bisma menunjuk Mama Ana yang terlihat sangat senang dan berbincang dengan teman-temanya."


"Iya, Mamamu itu sedang memamerkan aku sebagai calon istrimu, dan kamu tahu apa? Aku tidak mau," ujar Wiwin dengan tegas.


"Win, Ayolah Mama sangat suka sama kamu. Tidak bisa kamu berpura-pura lebih lama lagi?"

__ADS_1


"Bisma, kita sudah berpura-pura semenjak 7 bulan yang lalu. Apa itu masih kurang?"


"Kurang Win, sangat kurang. Sebab aku," Bisma terdiam di tengah-tengah ucapannya.


"Kamu apa?" tanya Wiwin dengan tidak sabaran.


"Aku tidak akan menikah dnegan wanita yang tidak Mama sukai."


"Lalu, kamu akan menikah dengan wanita yang Mamamu sukai meskipun kamu tidak suka begitu?" Wiwin meneleng.


"Iya, aku akan menikah dengan wanita yang mamaku sukai dan itu kamu Win," Bisma terdengar menekankan kata kamu pada ujung kalimatnya.


"Untuk apa menikahi wanita yang tidak kamu sukai Bis? Percuma, pada ujungnya kamu akan bercerai."


"Tidak, kamu adalah wanita yang pas. Aku dan Mama, kami sama-sama menyukaimu."


Wiwin terkekeh geli di hadapan Bisma seolah meremehkannya. "Bisma, bercandamu tidak lucu. Ini sudah kelewatan."


"Aku serius Winda," kata Bisma meyakinkan sang target.


"Show me then!" ujar Winda seolah menantang.


"Jika aku menunjukkan keseriusanku apa kamu akan menerimaku 100%?" tanya Bisma.


"Course, i will!" jawab Winda yang sebenarnya hanya sekedar menantang sja dan berharap Bisma tidak akan benar-benar berani mewujudkannya.


Winda menantang orang yang salah. Bisma, ia segera berjalan menuju ke tempat sound dan meminta mic. Di tengah ramai para tamu, bisma meminta perhatian mereka. Winda melotot dengan seketika, ia tidak menyangka jika Bisma akan kembali bersikap nekat begini.


"Para hadirin sekalian, maaf saya mengganggu cara makan Anda semuanya. Saya berdiri di sini untuk memenuhi permintaan dari pacar saya," kata Bisma yang membuat wajah Winda seketika memerah menahan malu.


"Itu pacar saya, dia yang duduk di sudut sana." Bisma menunjuk tempat Winda duduk.


"Winda!" ia berseru memanggil nama Winda. "Winda, will you marry me?" tanya Bisma kemudian yang membuat riuh ramai para tamu undangan.

__ADS_1


'Mati sajalah aku kalau begini caranya,' batin Winda mendengus kesal namun memberikan senyuman lebar.


__ADS_2