PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
22


__ADS_3

...🐦🐦🐦...


Yania, Dia baru saja sampai setelah berbelanja kebutuhan bulanan dan seperti apa yang Altez katakan, hari itu memang hujan. Yania tetap pulang meski dengan kondisi berbasah-basahan, dia sama sekali tidak menghiraukan nasihat dari suaminya.


Altez yang mulai menyesali segala perbuatannya di masa lalu, perlahan mulai memiliki niatan untuk memperbaiki semuanya Dia ingin menebus kesalahannya.


"Kamu sudah menolak uangku, jadi setidaknya terimalah bantuanku sebagai suamimu." Katanya yang terdengar manis di telingaku.


Dia ini salah makan atau bagaimana?


"Ganti bajumu, biar aku yang menata semua ini." Kata Altez memaksa dan merebut kantong belanjaan dari tangan istrinya.


Pemaksa sekali dia. Ada apa? kenapa tiba-tiba berubah jadi baik begini, kemana mulut kasarnya itu pergi?


"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri dan aku tidak mau merepotkan orang lain." Kata Yania yang kembali merebut kantong belanjaan dan kemudian menata belanjaannya sendiri.


Orang lain ya? Apa... aku tidak pantas dianggap sebagai suami? Atau ini memang salah mulutku yang dari awal melarangnya untuk bersikap serius dengan pernikahan ini?


"Yaya, aku ini bukan orang lain. Kita sudah menikah setidaknya kau harus bisa menghargaiku sebagai seorang suami." Kata Altez yang menatap nanar Yania yang masih sibuk menata belanjaannya.


Yania berbalik badan lalu mengamati wajah Altez dengan tenangnya. "Mas, bukannya sudah jelas dasar dari pernikahan kita ini hanyalah sebuah hubungan kerja sama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Jadi, keterlibatan perasaan memang tidak di haruskan begitukan? Aku tahu, itulah mengapa sedari awal pernikahan ini kamu selalu membicarakan tentang batasan antara kita." Ucapnya dan kemudian tersenyum manis lalu mendekati Altez.


"Apa kamu demam? bicaramu agak ngawur."Ujar Yania yang kemudian mengecek suhu tubuh Altez dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Altez. "Ouh, ternyata suamiku demam. Pantas saja bicaranya ngawur." Kata Yania.


"Istirahatlah sana Mas, setelah ini aku akan memasak dan membuatkan mu makanan. Kamu makan, dan minum obat, lalu beristirahat. Oke?" Kata Yania yang berbicara dengan santainya dan membuat Altez kebingungan, Istrinya ini selalu bisa menyikapi sesuatu dengan tenang dan santai. Tidak sepertinya yang selalu saja berapi-api dan tak ada rem jika sudah emosi.


...POV Altez....


Mengapa aku semakin hari, semakin kesini, semakin aku bersamanya, aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya? Aku sama sekali tak ada niatan untuk melawannya. Terlebih lagi, Dia begitu tenang dan santai dalam menyikapi ku.


Jujur saja, aku ingin berubah dan memperbaiki segala kesalahanku dimasa lalu terhadapmu Yaya. Fisikmu yang dulu sempat kuhina, sekarang menjadi kelemahanku. Harus ku akui, aku mulai menyukaimu sebagai Yeri. Tapi dengan semua kesalahan yang telah ku lakukan apa aku masih bisa memiliki kesempatan untuk menggapai hatimu Istriku?


Kulihat tadi bagiamana sorot matamu begitu hampa saat menatapku, tak ada sama sekali getaran ataupun sedikit rasa tersipu. Ahh~~~~ wanita di luaran sana sekali aku berkedip mata mereka akan nempel bagaikan terkena lem cina. Tapi istriku sendiri? Jangankan nempel, melirik saja pun tidak.

__ADS_1


Apa ini merupakan tanda dari Yang Maha Kuasa agar aku bertobat dan memperbaiki diri? Berhenti bermain wanita dan fokus beribadah dengan rumah tangga ku ini?


Jika benar yang di katakan oleh Mama mertuaku tadi jika kematian Papa" tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahanku waktu itu, melainkan karena dia yang lari dari pengejaran suami dari selingkuhannya, maka kasusnya tak jauh berbeda dengan aku yang babak belur di hajar suami Vivi.


Aku sudah beristri, Apakah memang seharusnya aku berhenti? Bagaimana jika Istriku juga melakukan hal yang sama, Bagaimana jika dia di luaran sana seperti aku? Oh... tidak, aku tidak suka milikku di sentuh orang lain mau bagus atau jelek, milikku tetap milikku saja.


Aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku sambil terus meraba hatiku. Mengingat kembali jika usiaku tak lagi muda, mengingat lagi jika usiaku semakin berkurang, Lalu kebahagiaan macam apa yang pernah kuberikan untuk Mama?


Mama, Dia sedari Papa meninggal, Dia membesarkan ku sendiri tanpa ada bantuan dari sanak saudara. Dia selalu mendidik ku dengan baik dan... tapi mengapa aku malah meniru Papa?


Lamunanku buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarku. Seseorang yang harus akui kecantikannya alami, Dia cantik walau tanpa make-up. Tapi mengapa Dia selalu menutupi dirinya dengan dandanan jelek sebagai Bu guru Yania? Dia semakin mendekat dan kulihat ada bercak merah di lehernya.


"Mas, makanannya sudah siap, Ayo makan dan minum obatmu." Ucapnya dengan kaki yang tak berhenti dan terus mendekati tirai jendela lalu membukanya perlahan.


Aku hanya diam dan menatapnya, ada ganjalan rasa bersalah saat ku melihat sikap baiknya ini. Dan inilah Dia, selalu tenang dan santai.


"Masih pusing?" Tanyanya yang kini beralih mendekatiku. Tampilannya di rumah, Dia hanya akan mengenakan Daster jumbo sungguh ini merupakan jauh dari tipeku. Tapi mau bagaimana lagi mungkin memang itu gayanya dan itu yang membuatnya merasa nyaman, maka aku tidak akan banyak buka suara.


Aku menggeleng tapi tetap enggan untuk berbalas kata. Aku masih setia mengamati gerak geriknya. Tiba-tiba saja, dia mendekatiku wajah kami semakin dekat bahkan sangat dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang menggelitik di leherku. Apa dia ingin aku menciumnya?


Dan apa yang ku dapatkan?


PLAK!!


Dia bukannya menerima kecupan dariku dengan rasa syukur, malah Dia menampol bibir seksi ku ini dengan kerasnya. "Kebiasaan banget nih Bibir!" Ketusnya menceramahiku.


"Kenapa ditabok sih Ya? apa salahnya coba cium istri sendiri?" Cicitku sambil memegangi bibirku.


"Kenapa, kenapa? ini pasti sudah mendarah daging dalam dirimu ya? Pasti kalau sama perempuan lain juga begitu. Iyakan?" Cecarnya terhadapku.


"Apasih, Ya enggaklah. Aku begini cuma sama istriku. Lagian apa salahnya sih mencium istri sendiri? bukannya pahalanya besar?" Dalihku yang tak ingin malu karena rupanya kebiasaan ku bisa di tebak secara lancar olehnya.


"Oh iyakah? Masa?" Dia balik bertanya dengan wajahnya yang meledek. "Pahala, sejak kapan mau mengurusi pahala? enakan juga maksiat kan pacaran sana sini selingkuh sana sini. Ngapain juga mikirin pahala. Kan masih muda, matinya juga masih lama." Sarkasnya berbicara seperti itu denganku yang notabene adalah suaminya. Ini antara menyinggung dan menceramahiku.

__ADS_1


Aku seketika menjadi gemas mendengar ucapannya. Telingaku seolah mendapatkan sentilan sentilan kecil saat dia menyindirku perihal tabiat burukku dimasa lalu. Aku seketika menarik pergelangan tangannya dan mengungkungnya. Aku sengaja mengunci pergerakannya dan menindihnya.


"Jangan berisik! Apa salahnya kalau aku ingin memperbaiki diri bersamamu yang sudah Halal bagiku." Kataku dengan tatapan mata yang tegas.


Dia hanya tersenyum. "Allahuma shalli ala Muhammad!" Ucapnya. "Ya syukur kalau kamu sudah dapat hidayah, tapi aku masih tidak percaya. Jangankan kamu, aku pun tidak punya rasa percaya terhadap diriku sendiri." Dia berbicara dengan tangannya yang menutupi mulutnya. Apa Dia takut aku akan menciumnya lagi?


Ah, jadi Dia benar-benar sudah kehilangan rasa percaya, baik pada dirinya sendiri maupun kepada orang lain? Dan ini semua gara-gara aku?


"Maaf." Kataku yang tiba-tiba saja rasa bersalah itu datang menusukku.


"Kita mulai semuanya dari nol ya?" Kataku dengan niatan Dia akan mau menerima niat baikku.


"Mas emang ini di SPBU? mulai dari nol ya Pak?" Ucapnya menirukan SPG di SPBU. Astaga aku semakin gemas di buatnya.


Sepersekian detik tawa kami pecah bersama tapi sejurus kemudian dia meronta dan berhasil melepaskan diri dari kungkunganku. "Aku tuh tadi mau lihat ini, sarung bantalmu kotor kena noda darah. Ini harus ku cuci kalau tidak maka akan susah hilangnya. Eh.... malah di terkam buaya rawa aku..." Cicitnya yang menggerutu sambil melepas sarung bantal dan juga seprei di kamar tamu yang ku tempati ini.


"Tidak usah repot-repot Ya, aku bisa mencucinya sendiri." Kataku yang hanya iseng saja dan berharap dia akan keukeh mencuci seprei dan sarung bantal ini.


Dia tersenyum dan meletakkan seprei dan juga sarung bantal di sudut ranjang. "Benarkah? Oh, ya sudah... ini cuci sendiri. Kebetulan aku juga lelah dan akan beristirahat." Ujarnya yang membuatku ternganga.


Apa yang bisa kulakukan saat dia sudah nyaman dengan dunianya? Dia seperti kura kura yang selalu bersembunyi di dalam tempurung. Dia bahkan tak mau menemaniku makan, Dia kembali masuk kedalam kamarnya setelah adegan di ranjang tadi.


Seperti Duda saja aku, makan sendiri dan mencuci sendiri. Kamarnya sangat sepi bahkan tidak ada pergerakan sama sekali. Dia sepertinya sedang tidur siang. Aku yang teramat penasaran memutuskan untuk memanjat pagar demi melihat apa yang tengah Dia lakukan di dalam kamarnya.


Iya, aku mengintipnya. Aku mengintip istriku sendiri.


"Sedang apa Dia?" Gumamku saat berhasil melongok dan melihat kamarnya.


"Si*l Dia menutup semua tirai kamarnya."


Selesai makan, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamarku dan memasang seprei sendiri yang sudah ada seprei cadangan di lemari. Aku kembali berbaring dan menatap layar ponselku.


Didalam geleriku masih banyak foto fotoku bersama para mantan dan, aku mulai berfikir bagaimana reaksi istriku jika melihatnya. Ah, kenapa sekarang aku jadi memperdulikan bagaimana perasannya terhadapku?

__ADS_1


Ramaikan ya..! mohon bantun dan dukungannya. Terimakasih kalia udah berkenan mampir.


I Love you!


__ADS_2