
...~~~...
Yania pulang dengan menaiki mobilnya, seorang diri. Dia yang begitu terbiasa dengan kesendirian membuatnya tak begitu terpengaruh akan ada atau tidaknya orang lain di sisinya.
Membelah jalan kota di tengah ramai lalu lalang jalanan membuatnya sesekali mengamati ke sekitaran. Tepat di lampu merah ia berhenti mensejajarkan mobilnya dengan pengguna lain.
Pada saat berhenti, Yania melihat sesuatu yang begitu akrab di matanya. Seseorang yang membuka kaca jendelanya dan dengan santainya berbincang dengan wanita cantik yang duduk di sebelahnya dengan satu tangannya yang menggenggam tangan si wanita lalu menciumnya berkali-kali selama beberapa detik lampu merah menyala.
Dengan sengaja Yania membuka kaca jendela mobilnya lalu menekan klakson. Bukankah suara klakson di lampu merah itu wajar?
Wajar, memang sangat wajar dan pengendara yang lain juga melakukannya. Tapi yang membuat berbeda adalah Yania memainkan klakson mobilnya seolah membuat nada dari lagu yang di sukainya dan hal itu berhasil mendapatkan atensi dari Si pengemudi yang berada di sampingnya. Yaitu Altez suaminya.
Altez begitu terkejut kala melihat Yania, istrinya yang semenjak 3 hari lalu di abaikanya. Yania mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Wiwin.
Dan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, Altez mengira jika Yania akan mengirimkan fotonya bersama wanita lain kepada Mama Alda. Altez... Altez... sungguh rasa percaya dirimu itu dari dasar tanah sampai mencuat ke langit dan masih juga menembus langit ketujuh.
Yania hanya tersenyum mengejek Altez lalu kembali meletakkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Jangan lupakan cibiran mulutnya yang begitu meremehkan Altez.
Sia* dia pasti akan membuat Maslah lagi setelah ini. Awas saja jika sampai Mama tahu, ini semua pasti gara-gara si jelek itu. Altez bersungut-sungut dan mencengkeram kuat stir mobilnya.
"Sayang, kamu kenapa? kok jadi kesel begitu? ada apa?" Tanya Vivi yang melihat perubahan mimik wajah Altez yang seketika menjadi merah padam.
"Oh tidak Sayang, ini... hanya saja tanganku kesemutan." Ucap Altez beralasan. Tak lupa juga dia sajikan senyum manis tanpa pengawet buatan.
"Itu pacarnya yang nomor berapa ya? Mau maunya sama Altez. Apa dunia ini begitu krisis lelaki? sampai orang seperti Altez saja di perebutkan!" Yania mendengus kesal dan bermonolog sambil mengemudi.
Ketika sampai di rumah, Yania di kejutkan dengan sesuatu yang menyambutnya. Rumah yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan rapi, seketika menjadi berantakan terutama di dapur dan ruang makan.
Masakan yang dia siapkan sebelum berangkat kerja juga telah raib dan hanya menyisakan piring kotornya saja.
" Si... siapa yang makan semuanya? Semuanya di habiskan? padahal aku mau bagi sama tetangga juga." Ucap Yania yang meratapi raibnya masakanya.
Mata Yania tertuju pada kamar tamu yang telah terbuka padahal sebelumnya tidak. Otaknya langsung menyambung dan teringat akan seseorang yang menyebalkan baginya.
Altez, siapa lagi?
__ADS_1
"Oh, jadi tadi dia pulang lalu berangkat lagi? Aku tidak perduli dia mau pergi kemana, tapi tolonglah kalau masuk kedalam rumah sepatunya harap di lepas. jangan begini.....!" Yania berteriak di ujung Kalimatnya.
"Altez... ! kamu sengaja melakukan ini kan?" Yania menendang koper milik Altez sampai jatuh dan isinya berhamburan.
Sudah lelah badan, dan Samapi rumah masih harus mengerjakan pekerjaan rumah. Yania sepanjang dia bekerja mulutnya terus saja mendumel tak jelas, bahkan dia juga menyumpahi suaminya sendiri.
"Aku sumpahin Kamunya Altezza Basman, Suatau saat nanti kamu bakal jadi suami yang takut sama istrinya dan jadi tukang pel di rumahnya...!!"
Yania mengehela nafasnya dalam-dalam. " Argh…………………!"
"Altes pingin ku sentil ginjalmu!!" Yania berteriak semaunya.
...~~~...
Malam hari.
Yania sudah terlelap di dalam kamarnya. Dia terbangun tiba-tiba saat mendengar suara benda-benda bergerak dan bergeser di dalam rumahnya.
"Yaya!" Seseorang dengan suara yang keras memanggilnya dan itu adalah Altez. " Buka pintunya!! aku mau bicara!!" Teriak Altez membuat Yania terpaksa untuk bangun.
"Kamu tadi ngadu sama Mama ya? ngaku!"
"Ngadu? ngadu apa sih Za? enggaklah kan aku udah bilang, aku bukan tukang ngadu!" Yania berkata jujur dan membela dirinya.
"Halah, sok Sokan kamu. Kalau bukan kamu yang ngadu terus siapa? bisa-bisanya Mama tau aku tidak di rumah dan memintaku pulang." Altez berbicara dengan nada tinggi dan menujuk-nunjuk wajah Yania.
"Buat apa sekarang aku tanya. Buat apa? aku itu sangat bahagia kalau ga ada kamu disini. Hidupku tanpamu itu serasa di surga!!"
"Eh! Aku juga kalau bukan sayang sama hartaku, males juga nikah sama orang jelek, item, dekil kayak kamu!" Altez menghina keadaan fisik Yania.
"Oh, bagus dong! kalau gitu ngapain harus kesini? cepat pergi bawa barang-barang kamu! Ini rumah sama sekali tidak ada hak kamu di dalamnya!"
"Ada!" Bentak Altez dengan lantangnya.
" Apa? sertifikat rumah ini adalah atas namaku. Tidak ada sama sekali menggunakan uang ataupun nama kamu di dalamnya. sekarang peegi!!" Yania mengusir suaminya.
__ADS_1
"Tidak mau! ini rumah sebagai hadiah pernikahan kita. KITA!! jadi aku punya hak!" Keukeh Altez membela dirinya.
"terus mau kamu apa?"
" Aku mau, kamu tidak ikut campur atau mengadu sama mama."
"Eh, budeg!! aku tidak mengadu!! memang dasar kebusukanmu saja yang hampir terbongkar." Yania berbicara dengan nada sinis.
"Mana ponselmu? pasti ada gambarku siang tadi sama pacar ku kan?"
"Cih! PD sekali anda?" Yaniq mendecih dan menatap sinis Altez. " Eh najis mugholadoh ya aku simpen fotomu dan pacarmu bisa error yang ada hap ku."
" Mana?" Altez menerobos masuk kedalam kamar yania lalu mencari ponsel Yania dan membantingnya lalu menginjaknya.
Yaniq terbelalak melihat ponselnya remuk begitu saja.
" hahahaha impas!" Kata Altez yang kemudian berbaring di ranjang Yania.
Yania menarik kaki Altez sampai Altez terjungkal ke lantai dan dagunya beradu dengan lantai.
" No! Jagan pernah sentuh kasurku!!" Yania memberikan peringatan keras dengan wajahnya yang memerah marah.
"Aduh...! Kamu ini istri atau pegulat sih? Remuk semua badanku kamu banting terus." Altez mengaduh kesakitan di lantai yang tak di gubris oleh Yania.
"Keluar dari kamarku atau ku hajar kamu!" Ucap Yania mengusir suaminya sendiri dari kamar dengan begitu galaknya.
Altez yang telah kesakitan memilih untuk mengalah daripada nanti di banting lagi.
Setelah pertengkaran itu. Yania menangis dengan keras tanpa menimbulkan suara, sebab dia membekap mulutnya sendiri menggunakan bantal. Dia berteriak d mencurahkan segala rasa kesalnya.
"Aku benci Kamu!" Teriaknya dengan lantangnya tanpa ada satupun yang mendengarkan.
Sementara di kamar tamu, Altez menyeringai senang setelah membalas perbuatan Yania yang telah menghancurkan ponselnya terlebih dahulu.
"Kita impas sekarang." Altes menggumam dalam senyuman.
__ADS_1