
"Kakimu kenapa?" tanya Wiwin saat melihat Bisma yang terdiam dengan menunduk ke bawah seolah tanah basah selepas hujan lebih menarik daripada sosok chubby yang duduk di sebelahnya.
"Tidak apa-apa," jawab Bisma singkat tanpa mengangkat kepalanya. Ia enggan menunjukkan betapa berantakannya wajahnya saat ini.
Wajah tampan berkulit kuning langsat itu kini tengah tertunduk lesu memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi. Bisma merenung dan mengabaikan seseorang yang berada di sebelahnya hanya sekedar untuk mendengarkan penjelasannya tadi. Penjelasan tentang alasan Bisma menyebut Wiwin sebagai pacarnya.
"Ok, kalau tidak apa-apa. Berarti kamu sudah bisa menjelaskan apa maksudmu dong?"
"Soal?"
"Soal tadi. Kenapa kamu bilang aku adalah pacarmu? Bisa jelaskan?" Wiwin menodongnya.
Bisma menggigit bibir bawahnya ragu. "Em, aku minta maaf kepadamu. Sejak awal kita bertemu aku selalu membuat masalah." Bisma menghela nafasnya dan sekarang mengangkat kepalanya menatap datar Wiwin. "Apa kamu punya pacar?" tanyanya.
Wiwin menggeleng lalu tersenyum miring menatap remeh Bisma. "Huh, enteng sekali, aku bertanya dan jawabanmu tidak menjelaskan sama sekali poin yang ku maksud. Apa maksudnya?"
"Maksudnya aku ingin kita menjadi kekasih. Aku mau kita pacaran." Bisma berbicara dengan mengalihkan pandangannya.
Ini pengakuan atau hanya basa-basi?mengapa sama sekali tidak ada ekspresi dan datar begini. Bilang cinta ngajak jadian tapi dingin seperti orang ngajak meeting. Wiwin menggerutu dalam hatinya.
"Cari saja wanita lain, aku tidak mau!" tegas Wiwin berbicara lalu berdiri dan hendak pergi.
Bisma tersentak lantaran mendapatkan penolakan. Wanita pendek dan gendut itu menolaknya? Wah, sungguh suatu fenomena alam yang langka terjadi di muka Bumi. Bisma terhenyak dan berdiri dengan tangan yang mencekal pergelangan tangan Wiwin.
"Aku akan membayarmu," ucapnya tanpa tau malu. Membanggakan uang di atas segalanya.
Winda tersenyum miring, ia membagikan smirik-nya dan menggeleng perlahan. "Kenapa tidak kau bayar saja wanita yang lain? Uangmu adalah dewamu 'kan?" ketus Winda.
"Tidak bisa, aku sudah terlanjur mengatakan kepada Mamaku jika kamu adalah pacarku dan kita sedang bertengkar."
__ADS_1
"Oh ya? Bagus kalau begitu, katakan saja jika kita putus setelah bertengkar. Beres 'kan?" ucapnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
Mudah saja beginya berbicara seperti itu, Winda tidak pernah tahu bagaimana sikap Bisma yang manut terhadap kedua orang tuanya. Bisma adalah anak rumahan yang bisa dibilang polos. Tak seperti Altez yang dahulunya menggemari dunia malam, Bisma lebih banyak menghabiskan masa remajanya untuk belajar, dan masa dewasanya untuk bekerja.
"Aku mohon," Bisma berlutut dan mengusir segala egonya.
Winda terkejut, ia mundur beberapa langkah saat Bisma berlutut di hadapannya. Tidak pernah ia temukan sebelumnya lelaki yang mudah mengalah seperti ini bahkan sampai membuang harga dirinya demi memohon sesuatu yang tidak terlalu dia inginkan. Tak tega dengan Bisma yang berlutut, Winda kemudian kembali terduduk.
"Ok, kita bicara dulu. Apa maumu, apa tujuanmu, dan apa yang akan kamu lakukan kedepannya?" pungkasnya.
"Bangunlah," ucap Winda dingin.
Bisma berdiri dan duduk di sebelah Winda. "Semua demi Mama, untuk Mama, dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakannya." jawab Bisma.
"Ya, kalau begitu cukup kamu menyetujui perjodohan lalu menikah dengan wanita pilihan Mama-mu, mudah 'kan?"
"Tidak, aku tidak mau membuat Mama-ku kecewa kemudian hari karena wanita pilihannya yang tak sesuai dengan harapannya."
Bisma menghela nafasnya. "Dari semua wanita pilihan Mama, aku sudah mencari informasi tentang mereka. Anak-anak dari rekan yang ia jodohkan denganku semuanya rata-rata sudah dan sedang memiliki hubungan dengan pria. Aku tidak mau jika dari hal tersebut akan membuat Mama-ku kecewa dengan akhir dari perceraian anaknya."
Bukannya sama saja? Dengan Winda juga belum ada kepastian atau jaminan jika wanita chubby itu akan menjadi yang terbaik di akhir cerita. Winda tidak habis pikir dengan segala penjelasan Bisma. Aneh saja baginya ketika orang baru yang baru beberapa kali pertemuan sudah menaruh kepercayaan besar terhadapnya.
"Apa yang membuatmu yakin terhadapku?" tanya Winda yang sedari tadi sangat penasaran.
"Aku yakin, dan sangat yakin. Entah dari mana datangnya keyakinan ini, tapi aku sangat percaya padamu." jawab Bisma yang membuat Winda hanya bisa terdiam dan memikirkan hal yang begitu aneh ini.
Entah dari mana datangnya ide gila Winda, "tapi, aku bukan wanita yang suka berpacaran. Aku lebih suka kepastian, menikah lebih baik daripada pacaran," ucapnya asal.
Bisma menoleh menatapnya dan terdiam beberapa detik membuat Winda tersenyum dalam hatinya. 'Yes, dengan begini dia akan mundur sendiri aku tidak perlu repot-repot untuk berdebat lagi.' batin Winda.
__ADS_1
"Baik, kita menikah."
Bisma berbicara tanpa terbata, tanpa berkedip, dan tanpa meninggikan suaranya seolah memang begitu ringan baginya. Ia akan dengan senang hati menikah dengan Winda dan mengenyampingkan perasaannya. Masalah suka itu belakangan, lalu apa yang membuatnya begitu yakin dengan Winda?
Dua hari ia gunakan untuk mencari segala informasi tentang Winda. Bu guru chubby yang cantik dan polos ini. Bisma menjadi tertarik dengan sosok Winda. Adanya pertemuan dengan Altez dan dia menyatakan bahwa dia memiliki rasa dengan Yeri hanyalah semata-mata untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Sebenarnya rasanya terhadap Yeri telah memudar seiring waktu dan dengan banyaknya nasihat dari sang Mama membuatnya berpikir seribu kali untuk tidak mengganggu milik orang lain. Semuanya menjadi bocor dan tumpah di telinga Mama Ayu sebab Joana menceritakan semuanya. Joana, dia diam-diam menjalankan misinya dengan Silvi.
"Hari ini juga aku melamarmu, kamu mau jadi istriku?" tanya Bisma sambil berjongkok dan mengambil sebuah cincin di saku jasnya.
Winda terkejut, sangat terkejut. Mulutnya sampai menganga dan sulit terkatup. Mata orang-orang seketika menatapnya menjadikan dia bahan tontonan yang menarik dan tidak sedikit yang merekam momen romantis itu. Menolak? tentu tidak, mana bisa Winda menolak sedang dia paling anti membuat malu orang lain.
"Hahahaha, iya aku menerimanya," ucapnya kaku sambil tertawa kikuk menatap banyaknya kerumunan yang memperhatikannya seolah hal langka itu adalah sebuah fenomena unik dari alam semesta ini.
"Ayo bangun, jangan seperti ini," Winda berbicara tanpa membuka mulutnya dan menutupinya dengan senyuman palsu yang ia tampilkan pada para penonton. "Cepat pakaikan dan kita pergi dari sini," sambungnya lagi dengan mengulurkan jarinya.
Bisma berdiri dan membuat Winda mendongak menatapnya. "Terima kasih," ucap Bisma yang kemudian memeluk Winda.
Winda pun membalasnya dengan memberikan senyuman palsu juga tatapan bingung bercampur dengan rasa gugupnya. Jangan lupakan detakan jantung dan keringat dingin yang bisa di bilang berlebih saat ini. Winda merasa malu, sangat malu karena menjadi pusat perhatian.
Bahkan, telinganya tak sedikit menangkap rungu kalau orang-orang di sekitarnya tengah memuja pasangan yang jauh berbeda tinggi badan ini.
'Ouh, menggemaskan ya. Yang laki-laki tinggi gagah, yang perempuannya mungil.'
Mungil? mungil kata mereka. Pipi Winda merona seketika mendengarkan pujian itu. Untuk pertama kalinya ia dikatakan mungil. Tak berapa lama terdengar sorak Sorai dari para penonton.
'Cium! cium! cium!'
'Cium! cium! cium!'
__ADS_1
Mereka bersorak dan Bisma mengabulkannya. Cup! Sebuah kecupan mendarat di kening Winda membuat wanita itu semakin malu dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Bisma. 'Sumpah, kenapa jadi begini sih? kan niatnya biar dia kabur. Tapi kok malah jadi beneran?' Winda menangis dalam hatinya.