PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
87. Perlahan-lahan


__ADS_3

...~•~...


...Tiada yang lebih berharga daripada ketulusan cinta....


...~•~...


"Za, pelan saja. Kenapa harus ngebut begini sih?" tanya Yeri dengan tangan yang menggenggam hand grip. Ia serasa sedang berada di arena balap sekarang.


"Santai saja sayang, aku handal dalam balapan. Dahulu aku sering melakukannya saat SMA dan mendapatkan gadis sebagai hadiah utama," ucap Altez tanpa sadar dan masih fokus ke jalanan.


"Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayi." Yeri mengusap perutnya. "Jangan ditiru ya Dek, jangan sampai nanti kamu seperti Papamu ini. Kalau sampai kamu seperti dia kelakuannya, Mama yang akan membuangmu ke rawa-rawa." sarkas Yeri berbicara.


Altez menyadari sesuatu, ucapannya terasa aneh dan membuat sang istri meradang. Ia kemudian menurunkan laju kendaraannya dan menatap Yeri sekilas. Yeri pun balas menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Jangan tiru Papa ya Nak, Papa dulu begitu karena tidak ada yang menasihati. Nenekmu hampir tidak punya waktu, ia selalu bekerja dan bekerja. Sementara Papa, hanya mencari kehidupan Papa sendiri."


Tangan Altez terulur mengusap perut sang istri. Ia merasakan kehangatan dan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa menyesal karena menghabiskan masa muda dengan hal negatif, rasa benci pada diri sendiri karena salah jalur dalam bergaul. Semua itu memberikan tamparan keras baginya.


"Tidak, dia tidak akan menirumu selama aku masih hidup. Tapi untuk sikapmu yang playboy itu, aku tidak yakin. Entah dia perempuan ataupun laki-laki, dia pasti mewarisi sifat itu dari kamu, ataupun dari Kakeknya."


Altez menunduk. "Kita harus melimpahkan kasih sayang kepadanya supaya dia tidak kehausan dan mencarinya dari berbagai sumber yang lainnya sayang," kata Altez yang kemudian berakhir dengan dia yang mengecup punggung tangan sang istri.


"Ah, kenapa suasananya jadi sedih begini?" gumamnya sembari mengusap air matanya.


"Kamu menangis Za?" Yeri memiringkan kepalanya dan menatap Altez yang menyembunyikan wajahnya.


"Tidak, siapa yang menangis? aku lelaki tampan gagah dan berani ini tidak mungkin menangis," kilahnya sambil memasang wajah belagu.


"Za, jangan sok kuat di hadapanku. Aku sudah sering melihat air matamu," kata Yeri sembari mengusap kepala bagian belakang sang suami.


Alih-alih segera melanjutkan perjalanan, Altez lebih memilih untuk berhenti dan menepi di pinggir jalan. Ia melepas sabuk pengaman, dan kemudian menggenggam hangat tangan Yeri. Ia menatapnya teduh dengan sedikit sendu yang tertinggal.


"Yer, terima kasih sudah mau bertahan dan menjadi pendampingku. Aku tidak tahu jika orang yang dari dulu ku cari, orang yang ingin ku mintai maafnya ternyata adalah penyembuh terbaik bagiku. Terima kasih sayang," ucapnya kemudian mengecup telapak tangan sang istri dan menempatkannya di pipinya.

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu dan Yeri membalas lembut tatapan tersebut. Ia tersenyum kemudian mengusap cincin pernikahan yang melingkar di jari manis sang suami. Penuh arti dan penuh tanya.


"Za, aku juga tidak tahu jika aku akan bertahan sampai sejauh ini di sampingmu. Kita saling menyembuhkan Za. Perlahan, aku sudah tidak lagi mengunjungi Silvi semenjak kita berbaikan. Aku juga sudah tidak mengalami kepanikan saat tidur di sampingmu," kata Yeri dengan tatapan penuh makna.


"Tapi Za, aku katakan kepadamu. Jika suatu hari, sekali saja kamu mengulangi kebiasaanmu dalam bermain wanita. Aku tidak akan banyak bicara, aku hanya akan langsung pergi dan mengurus perceraian kita."


Jleb!


Baru saja berbunga-bunga dan merasakan kebahagiaan yang membuncah kini harus terbantah dengan satu fakta di mana masih ada rasa takut dalam diri Yeri. Ia takut bila suaminya akan melukainya lagi. Sementara Altez, ia mengangguk dan menatap penuh keyakinan pada sang istri.


Ia yakin bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. "Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Hidupku sepenuhnya untuk keluarga kecilku."


"Janji?" tanya Yeri tidak yakin. Ia meragukan janji sang suami.


Altez tidak menjawabnya melalui kata-kata. Ia hanya menatap lekat kedua manik sang istri lalu memberikan kecupan hangat di kening. Perlahan-lahan dengan sinaran mata yang semakin mengendur dan sayu, ia ******* bibir Yeri.


Yeri pun tak mau kalah, keduanya tengah terbawa suasana. Keduanya saling mengecap dan bertukar saliva. Degup jantung Yeri semakin kencang kala sang suami mulai memainkan tangannya menjelajah ke sembarang arah.


Tok!


Tok!


"Permisi, tolong buka kacanya sebentar," ucap seseorang berseragam polisi yang berdiri mengetuk kaca jendela mobil Altez.


Altez membelo, ia sangat terkejut melihat polisi yang berdiri dan terlihat bersiap untuk mengintrogasi. "Selamat sore bapak, ibu, bisa buka kaca mobilnya sebentar," ucapnya.


Yeri terlihat gugup juga panik ia tahu bahwa kesalahannya adalah berhenti terlalu lama di bahu jalan.


"Za, bagaimana ini?"


"Apa? santai saja sayang. Kita sudah sah, tidak usah takut," ucap Altez seenaknya.


Altez membuka kaca mobilnya. Ia langsung turun dan memberikan keterangan mengapa berhenti di pinggir jalan. Tak lama hanya beberapa menit dan setelahnya ia kembali masuk sambil tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Kamu kenapa Za, kenapa malah senyum-senyum sendiri?" todong Yeri.


"Aku? tidak apa-apa."


"Tadi polisinya tanya apa?"


"Em, dia cuma tanya, surat-surat kendaraan sama bukti pernikahan kita," jawab Altez yang kemudian kembali melajukan mobilnya.


"Bukti pernikahan?" Yeri terheran ia bertanya dengan kening yang berkerut indah.


Altez tertawa kecil lalu mengusap pipi snag istri dan mencubitnya gemas. "Iya sayang, dia tadi tanya bukti pernikahan kita. Mungkin dikiranya aku ini om ganteng yang suka jajan cabe-cabean kali," selorohnya.


"Dih! amit-amit Za. Itu mulut kalau ngomong ya, itu tanda Za kalau aura playboy mu belum sepenuhnya luntur," cibir Yeri kesal.


"Ehem! Cemburu nih," ucap Altez meledeknya. "Kamu tidak penasaran sama bukti apa yang aku kasih sama polisi tadi tentang pernikahan kita?"


Pertanyaan Altez seketika menyita perhatian Yeri. Benar sekali, bukti apa yang begitu kuat hingga si polisi langsung pergi begitu saja? Yeri menatap Altez penuh tanya.


"Kamu kasih bukti apa Za?" tanya Yeri.


"Nih, buka saja galeri photo ku," ucapnya sembari memberikan ponselnya.


Tangan Yeri lincah membuka galeri, tidak lama hanya beberapa menit matanya mulai berkaca-kaca dan merembes. Pelupuknya penuh menampung air matanya. Ia menatap sendu sang suami lalu kembali menatap layar ponselnya. Menggesernya perlahan-lahan, satu demi satu.


"Kamu menyimpan semuanya?" tanyanya.


"Iya, aku menyimpan semuanya sayang. Semenjak aku sadar kamu wanita terbaik yang Tuhan berikan untukku. Aku mengabadikan setiap kebersamaan kita yang ku anggap penting."


"Za," lirih Yeri menyebut namanya dengan tangannya yang sibuk menghadang air mata kebahagiaanya.


"Ya?" Altez menoleh melihat bagaimana sendunya sang istri yang telah luluh padanya. "Hei, jangan menangis sayang, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membuatmu menangis," kata Altez yang satu tangannya kemudian mengusap surai sang istri.


"Biarkan Za, ini air mata bahagia."

__ADS_1


Altez merasakan getaran dalam dadanya. Ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari banyaknya wanita yang pernah dijajakinya. Perlahan-lahan mata hatinya terbuka dan menerima semua yang Tuhan berikan padanya. Merubah keburukan menjadi kebaikan.


__ADS_2