
"Maaf," kata Altez dengan tertunduk lesu dan duduk di tepi ranjang.
"Ya," jawab Yeri dengan singkat. Lebih tepatnya dia malas untuk membicarakan perkelahian antara Altez dan Bisma.
"Kamu sedang apa? Kenapa sibuk dengan ponselmu saja, tidak lihat suamimu ini kesakitan?"
"Lihat, tapi bagaimana lagi. Itu 'kan hobi barumu Za." ketus Yeri menyindirnya.
"Ayolah, jangan begitu. Aku tidak bisa terus kamu abaikan begini Yer," Altez merengek dan semakin mendekat pada Yeri.
"Sebentar Za, aku sedang membalas pesan Buna. Mama juga mengirimkan pesan," ujar Yeri dengan fokus yang hanya tertuju pada ponselnya.
Altez ikut melongok dan memperhatikan jemari lentik sang istri yang sedang mengetikkan pesan. "Buna mengundang kita untuk makan malam?" tanyanya.
"Hem," Yeri mengiyakan dengan deheman.
"Lalu Mama?" tanyanya lagi.
"Mama ingin kita datang membesuknya. Dia merindukanku," jawab Yeri yang kemudian melirik Altez.
"Merindukanmu? tapi dia tidak bilang merindukanku," gumam Altez.
"Dia malas, sebab kamu selalu membuat ulah. Aku juga kalau jadi Ibu, malas punya anak seperti kamu," cetus Yeri yang kemudian berbaring tetapi tetap dengan fokusnya yang mengarah pada layar ponselnya.
"Makanya itu, buka hatimu, beri aku kesempatan. Aku ingin mendidik anak-anakku agar tidak tumbuh sepertiku yang tanpa merasakan kasih sayang seorang ayah."
"Kesempatan? Bukankah sekarang ini adalah kesempatanmu? Bukan hanya padaku, tetapi juga pada orang tuaku dan juga anakmu," kata Yeri dengan acuhnya.
"Iya sayang, sekarang boleh peluk ya?" Altez tersenyum manis.
Yeri memutar bola matanya malas dan meletakkan ponselnya di atas nakas. "Sejak kapan kamu meminta izin sebelum melakukan sesuatu kepadaku? Sedangkan dia juga hasil dari pemaksaan mu," tutur Yeri mengungkit masa lalu dengan tangannya yang mengusap perutnya yang rata.
"Bukan memaksa sayang, aku hanya membantumu agar terbebas dari siksaan obat perangsang itu, siapa sangka kita dapatkan dia sebagai bonusnya," ucap Altez sambil terkik geli.
Altez kemudian membenamkan wajahnya kedalam dada Yeri. Ia menghirupnya dalam-dalam, menghirup aroma tubuh sang istri yang akhir-akhir ini menjadi kesukaannya. Altez semakin merasakan kenyamanan saat tangan sang istri membelai kepalanya.
__ADS_1
"Kamu ini sudah 30 tahun Za, itu bukan usia muda lagi. Seharusnya kamu tahu bagaimana harus bersikap," ujar Yeri.
"Iya sayang, iya. Aku memahami semua ini saat bersamamu. Aku juga ingin mengembalikan rasa percaya dirimu. Jangan selalu merendahkan dirimu sendiri, kamu itu sempurna," ucap Altez bersungguh-sungguh.
"Halah, gombal. Mulai aja mode buayamu Za," cibirnya.
"Aku serius, bukan sedang merayu." Altez meyakinkan Yeri bahwa ia tak main-main dalam hal ini.
"Demi rumah tangga kita, demi anak kita, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi suami yang baik," ujarnya.
Bertepatan dengan itu, ponsel Altez berdering heboh. Tertera nama Fredi di sana dan Altez memilih untuk mengabaikannya. Lalu kembali berdering dari Diko.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Yeri menaruh curiga.
Altez terlihat bingung dan gugup. Ia berkali membasahi kerongkongannya yang kering dengan salivanya. "Tidak usah, biarkan saja paling hanya mengajak nongkrong."
"Kamu yakin? Tidak menyesal? Sana pergi sana, teman-temanmu sudah mencarimu si ketua geng," sindir Yeri dengan sengaja.
"Tidak, aku tidak akan tergoda. Aku hanya akan berdiam diri di sini dan menemani istriku yang sedang hamil," jawab Altez sambil menggeleng dan tetap membenamkan wajahnya kedalam dada Yeri.
Yeri mengulum senyumnya, lucu saja baginya momen ini. Pasti suaminya itu sudah merasakan beberapa bagian tubuhnya berdenyut-denyut terutama kakinya yang ingin segera berlari menemui temannya lalu ke club bersama. Yeri sengaja menggoda Altez dengan berusaha melepaskan diri dari pelukan Altez.
Mendapatkan penolakan dari Yeri, Altez segera memencet tombol hijau yang berarti panggilan terhubung. Yeri melongo saat melihat Altez mengangkat panggilan lalu menempelkan di telinganya sementara ia kembali membenamkan wajahnya di dadanya. Apa maunya suami manja ini?
"I-iya, halo?" jawab Yeri terbata-bata.
"Altez sedang tidur," ucapnya lagi dengan pelan.
"Ya, malam," jawabnya lagi mengakhiri panggilan.
Ingin rasanya Yeri menggigit leher suaminya yang mengerjainya ini. Altez tentu tahu bagaimana tidak sukanya Yeri saat menerima panggilan dari orang asing. Dan tadi, dia malah sengaja memberikan panggilan dari temannya.
"Za," Yeri mengguncang perlahan tubuh Altez dengan maksud untuk mengembalikan ponselnya.
Terbelalak matanya saat tidak sengaja menyalakan ponsel sang suami. Mata Yeri menangkap foto pernikahan mereka berdua sebagai wallpaper. Yeri semakin penasaran dan semakin menjelajah ke dalam ponsel Altez yang tak terkunci atau lebih tepatnya tidak memiliki pengaman.
__ADS_1
Yeri tersenyum kala melihat galeri photo yang hanya berisikan foto pernikahan mereka. Selebihnya hanya berisi foto Altez bersama teman lelakinya dan keluarga. Yeri menatap sendu Altez, entah mengapa dia menjadi terenyuh dan haru.
'Apa kamu benar-benar mau berubah?' tanyanya dalam hati dengan mengamati wajah damai Altez.
***
Pagi hari, Altez sudah terbangun dan tersenyum menyambut sang istri. Yeri, ia masih setia bermimpi indah dan tenang dalam suasana redup kamar yang tirainya tidak terbuka sepenuhnya. Altez sengaja melakukannya, menunggu sampai sang istri membuka mata.
"Morning," sapanya saat Yeri membuka mata.
"Morning," jawab Yeri dengan menggeliatkan tubuhnya. Ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam selimut.
Tanpa basa-basi, Altez lalu merengkuhnya dan membawa sang istri ke dalam dekapannya. "Bagaimana, nyenyak tidurnya?" tanyanya tanpa membuka selimut.
"Iya," jawab Yeri singkat yang sebenarnya ia tersipu malu.
"Cepat sana mandi, pagi ini kita sarapan di rumah sakit bersama Mama. Dia ingin kita makan bersama," kata Yeri.
"Itukah caramu mengusirku sayang? Dek, lihat betapa jahatnya Mama kamu ini," adu Altez 0ada buah hatinya yang masih berbentuk janin.
"Sudahlah, jangan drama Za, kita harus segera ke sana. Aku juga ada rapat di kantor,"
"Kamu mau bekerja?" tanya Altez yang kemudian membuka selimut Yeri.
"Iya, ada rapat," jawab Yeri santai.
"Sayang, jangan. Kamu kan sedang hamil muda, jangan berkerja dulu," ucap Altez.
Yeri tahu mungkin Altez berkata seperti ini adalah karena ia khawatir terhadap kandungan Yeri. Tetapi ya tidak harus berlebihan juga dengan melarang sang istri untuk melakukan ini dan itu. Malah bisa-bisa Yeri menjadi stress.
"Za, aku kerjanya juga hanya duduk dan bicara, tidak memanggul beras atau pupuk urea. Aku hanya santai saja Za," kata Yeri.
"Sayang, tolonglah anggap aku ini sebagai suamimu. Jangan berangkat dulu ya?"
"Za, aku tidak mau kalah tender atau terkena pinalti nantinya. Sudahlah jangan berlebihan, aku janji akan bekerja dengan santai. Biar nanti Joana yang menghandle sisanya," ucap Yeri menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu tidak membohongiku 'kan?" tanya Altez.
"Tidak Za," kata Yeri meyakinkan.