PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
81. Jengah


__ADS_3

Yeri dan Altez memutuskan sebuah kesepakatan dengan tetap pergi bekerja dengan Altez yang juga ikut mendampingi sang istri. Altez sangat protektif terhadap istrinya, tidak lagi bersikap dingin dan acuh seperti dulu. Ia benar-benar ingin membuktikan bahwa ia telah berubah dari segala sisi.


Wajah rupawan dan postur tubuh yang gagah berisi, membuat banyak mata menatapnya ketika ia berjalan dengan menggandeng tangan Yeri. Yeri hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan suaminya yang keras kepala ini. Walaupun begitu, Altez akan tetap tunduk dan patuh terhadap sang pawang.


"Sudah semuanya?" tanya Altez ketika sang istri memesan makanan di sebuah restoran untuk dibawa mengunjungi mertua.


"Iya sepertinya sudah, Mama juga harus hati-hati dengan pola makannya 'kan? Jadi kita beli secukupnya saja."


"Em, kamu benar. Kamu memang menantu idaman sayang," kata Altez sembari mengusuk pucuk kepala Yeri.


"Besok kita ke dokter kandungan ya? Aku ingin melihat sudah sebesar apa anakku ini. Kira-kira dia laki-laki atau perempuan?" tanya Altez yang membuat Yeri hanya bisa memberikan gelengan kepala.


Mana Yeri tahu sedangkan besar janin saja masih sebesar biji kedelai. Altez sungguh minim dalam pengalaman seperti ini. Seharusnya dia banyak membaca dari internet tentang kehamilan.


"Al?" seru seorang wanita berparas Ayu dengan perut buncitnya berjalan mendekati Yeri dan Altez.


Yeri menoleh dan memperhatikan sosok wanita tersebut yang tidak lain dan bukan merupakan mantan kekasih suaminya. Yeri hanya terdiam dan seolah acuh kala wanita itu bersikap sok akrab dengan Altez. Yeri mengunci mulutnya dan tidak berbicara apapun.


"Ini Bu, pesanannya," kata pelayan restoran menyerahkan beberapa bungkusan makanan.


"Iya, terima kasih." Yeri menerimanya dan segera bangkit dari duduknya meninggalkan Altez yang terpaku melihat kedatangan sosok wanita yang tengah berbadan dua di hadapannya.


"Al, apa kabarnya? Aku dengar kamu sudah menikah?" tanya si wanita tadi.


"A-aku baik. Iya aku sudah menikah," jawab Altez dengan terbata-bata dan nampak canggung. "Ini istriku," ucapnya yang kemudian baru menyadari bahwa Yeri sudah tidak berada di sampingnya.


Altez kebingungan mencari keberadaan istrinya yang pergi tanpa pamit. Apa mungkin Yeri cemburu? Atau dia merasa muak dengan janji-janji Altez. Baru beberapa hari lalu berjanji dan sekarang, malah ada wanita hamil yang mendekati. Siapa yang tahu jika wanita itu akan menuntut pertanggungjawaban dari Altez, begitu pikir Yeri.


"Maaf Vina, aku harus menyusul istriku," ujar Altez sambil berlari dan mengejar Yeri yang terlihat menaiki taksi.

__ADS_1


Altez segera tancap gas dan menyusul Yeri. Ia tidak mengerti mengapa istrinya pergi tanpa berkata-kata. Apa Yeri cemburu?


Yeri sampai di rumah sakit dan segera di sambut dengan Albi. "Hai Kak, selamat pagi!" sapanya. "Apa kabar?" tanyanya dengan begitu ramah.


"Pagi!" balas Yeri. "Aku baik, kamu?" tanya Yeri sembari memeluk sekilas adik iparnya itu.


"Aku baik," jawab Albi dengan senangnya.


"Dia baik-baik saja sayang. Kamu sehat 'kan? Janinmu juga sehat 'kan?"


"Ma, dari mana Mama tahu? Padahal aku ingin memberikan sebuah kejutan," kata Yeri yang seolah ia kesal lalu mencibikkan mulutnya.


"Suamimu yang memberi tahu pada Mama beberapa hari yang lalu. Akhirnya anak nakal itu berubah juga." Mama Alda berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Yeri yang merasa tersentuh kemudian memeluknya erat. Ia juga bisa merasakan bagaimana selama ini Mama Alda berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya. Yeri sungguh terharu dengan keadaan ini.


"Kamu mau menyuapi Mama sayang?"


"Iya, Ma. Orang tua suamiku adalah orang tuaku juga. Aku senang bisa dekat dan makan bersama dengan Mama. Aku suapi ya?"


Yeri mulai membukakan bungkusan yang di bawanya. "Bi, bantu aku membuka makanan ini. Kamu juga sekalian makan ya," ujar Yeri yang dengan sabarnya membuka bungkusan.


Mereka berkumpul bersama dan hendak makan. Suasana yang begitu hangat, tenang dan damai menyelimuti mereka. Hingga seseorang datang dengan senyuman yang melekat di bibirnya.


"Ma," sapa Altez yang kemudian mencium punggung tangan sang Mama. "Mama sudah baikan, kapan boleh pulang?" tanya Altez dengan nada bicara yang begitu lembut.


Baru kali ini dalam sejarah hidupnya, Altez berbicara dengan lembut kepada sang Mama. Albi saja sempat terpaku melihatnya tidak pernah sama sekali Altez begini sebelumnya. Sebelumnya, ia bersikap tidak baik dan cenderung kasar terhadap Mamanya.


"Kenapa datangnya tidak bersama dengan istrimu?" tanya Mama Alda dengan menepuk punggung Altez.

__ADS_1


"Tadi ada urusan sebentar Ma, dan dia sedang banyak urusan juga jadi kami...."


"Iya Ma, Mama jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kami, baik-baik saja Ma, hanya saja aku sedang banyak pekerjaan." Kilah Yeri.


Mama Alda menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya perlahan. "Yeri, kamu sedang hamil, kurangi kesibukanmu dan perbanyaklah waktu untuk mengurus dirimu sendiri,"


"Ma, aku sudah mengingatkannya, tetapi dia ini sangat susah untuk dinasihati," kata Altez yang berbicara dengan jujur.


Sejak tadi pergi, terlihat sekali Yeri selalu menghindari tatapan mata suaminya. Ia memilih memgerjakan sesuatu atau berpura-pura sibuk. Altez menangkap sesuatu yang mengusik ketenangan istrinya.


"Baiklah, aku akan beristirahat nanti setelah beberapa urusan selesai, kalian jangan menatapku seperti itu," ujar Yeri sembari bersiap untuk menyuapi sang Mama mertua.


"Mama senang melihat kalian akur begini, Mama harap kalian akan selalu berbahagia bersama sampai hari tua. Eza, kamu harus bisa membahagiakan anak dan istrimu. Jangan tiru Papamu, lihat Mama yang kesusahan sendirian membesarkan kalian berdua," ucap Mama Alda dengan bulir bening yang sudah menetes dari sudut matanya.


Sedih memang kala mengingat itu semua. Sedang berbadan dua dan malah ditampar keras oleh kenyataan di mana sang suami ditemukan meninggal bersama selingkuhannya. Akan tetapi, Mama Alda mampu membuktikan jika dia adalah wanita kuat yang tetap bertumpu pada kedua kakinya sendiri tanpa bantuan dari sosok imam yang baru.


Mama Alda menarik perlahan tangan Yeri lalu meletakkannya dan menggenggam tangan putranya dengan tangan sang menantu. Mama Alda seolah melakukan ritual sakral yaitu mengikat mereka berdua dengan benang tak kasat mata. Albi hanya bisa terdiam dan ikut menitikkan air mata harunya.


"Mama senang kalian bersama, selamanya seperti ini sampai hari senja." ucap Mama Alda yang tersenyum melihat tangan sang anak dan menantu yang bertindih.


"Ia, Ma," ucap Altez yang kemudian memeluk sang Mama. "Albi, kemarilah," katanya memanggil sang adik untuk bergabung dalam pelukan mereka bersama.


Terlihat indah dan saling menghangatkan, seolah tubuh mereka saling bertautan baik secara takdir ataupun ketidaksengajaan. Yeri hanya bisa mengikuti alur lantaran tidak mau membuat keadaan mertuanya kembali menurun. Sedangkan Altez dengan sengaja ingin menunjukkan perubahannya.


***


"Kamu kenapa tadi pergi meninggalkan aku? Kenapa tidak mau menatapku?" tanya Altez pada sang istri ketika mereka sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke kantor Yeri.


Yeri tidak memberikan jawaban dan hanya menatap jengah keluar jendela.

__ADS_1


__ADS_2