PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
42.


__ADS_3

...~•~ ...



...~•~ ...


Di sebuah Apartemen.


"Mana Yeri?" Tanya Joana pada Silvi yang tengah memakan camilannya dan menonton Drama kesayangan.


Silvi melihat jam diding yang tergantung cantik di dekat pigura foto mereka bertiga. "Entahlah, seharusnya sudah datang. Coba kau hubungi." Ucapnya kemudian.


Joana mulai mengetikkan sesuatu diponselnya. Joana dan Silvi, mereka ditugaskan oleh Ayah Ardi untuk menjaga dan mengawasi sang putri semata wayang juga sekaligus berperan sebagai teman bagi Yeri. Lebih tepatnya teman sewaan yang setiap bulan mendapatkan bayaran dari Ayah Ardi tanpa sepengetahuan Yeri.


"Silvi, kemarin sebenarnya apa yang terjadi? kamu belum menjelaskannya padaku." Kata Joana yang meminta penjelasan dari Silvi.


"Penjelasan secara medis atau secara sederhana?"


"Sederhana saja." Pungkas Joana cepat.


Silvi menegakkan punggungnya dan menarik nafas. "Sederhananya, Yeri tanpa sadar sudah memiliki sedikit rasa percaya dirinya."


Joana mengerutkan kening, ia penasaran dan juga ingin tahu lebih dalam. " Maksudnya?"


"Maksudnya, cara bekerja otak Yeri sudah mengalami perubahan. Perlahan ia mulai mandiri dan bisa beradaptasi dengan orang lain tanpa mengandalkan orang terdekatnya. Mudahnya ia sudah bisa menyatu em... membaur dengan keadaan sosial, situasi yang ramai dan semacamnya tanpa mengandalkan kita."


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan hal itu? sementara dia saja masih sering membutuhkan kita di sekitarnya untuk menjaga rasa percaya dirinya."


Silvi menggeleng. "Apa kamu tahu kenapa Altez kemarin sampai ketakutan dan kebingungan seperti itu?"


Joana menggeleng.


"Karena mereka telah melakukannya."


"Uhuk...! Uhuk...!" Yeri tersedak minumannya saat mendengarkan kejujuran silvi.


"Jadi kemarin kamu dipanggil hanya untuk tanya jawab setelah mereka anu anu?"


Silvi mengangguk. "Hal seperti itu tidak akan bisa terjadi secra lancar jika tidak ada kenyamanan dan rasa percaya diri. Atau setidaknya Yeri akan memberontak dan menghajar Altez." Tutur Silvi.

__ADS_1


"Secepat itu?" Gumam Joana. "Iya sih, kalau dia tidak mau mna mungkin bisa terjadi." Imbuh Joana.


"Apa itu bisa dikatakan Yeri sudah hampir sembuh?"


"Iya, Dia sudah hampir bisa menjadi wanita normal dan tidak takut akan keramaian lagi."Kata Silvi.


Joana menghela nafasnya lega. "Huhh...! akhirnya dia bisa sembuh juga. Setidaknya aku bisa mengajukan cuti tahunan tahun ini."


"Kasihan sekali temanku ini yang tidak pernah piknik dan selalu panik." Ujar Silvi dengan menepuk-nepuk pucuk kepala Jona dengan perlahan.


Joana dan Silvi, keduanya selalu siap siaga kapanpun dan di manapun berada. Pasalnya tiada hari libur bagi merea berdua yang selalu bertugas memantu keadaan Yeri. Kini keduanya bisa bernafas lega setelah mengetahui satu perubahan tersebut.


...~•~ ...


"Benar ini rumah Altez? sederhana sekali, tidak mencerminkan kalau penghuninya dua duanya CEO." Kata Diko yang mengomentari kediaman Altez dan Yeri. ia melongok mengamati tanpa membuka kaca jendela mobilnya. Keduanya sudah sangat mirip seperti detektif.


"Mungkin mereka ingin sesuatu yang simpel." Tutur Fredi yang tak terlalu ambil pusing dengan milik orang lain.


Saat mereka tengah memantau di hari yang hujan tersebut, Altez dan Yeri juga baru sampai dan keduanya terlihat bertengkar saat turun dari mobil dengan kondisi tubuh yang basah.


"Yer! Aku tidak suka ya, kamu membelikan mobil untuk orang lain tanpa seijinku!" Ucap Altez yang mengutarakan kekesalannya pada Yeri yang ketahuan membelikan mobil untuk Bisma dari Dealer tempat ia memperbaiki mobil. Sungguh kebetulan yang membawa kehancuran.


"Tapi aku sudah memasukkannya ke Dealer dan sudah hampir selesai. lalu kamu membelikan Dia mobil baru? Oh... Aku tidak percaya ini." Altez memijit kepalanya yang berdenyut.


"Yang sudah kamu perbaiki aku yang akan memakainya. Anggap saja aku bertukar mobil dengannya."


"Tidak! Aku tidak suka istriku memakai mobil pria lain. Biar aku jual saja mobil Bisma itu."


"Terserah! Sekarepmu!! Aku lelah dan ingin tidur." Kata Yeri mengakhiri pertengkaran di depan pintu rumah mereka.


"Jangan tidur dulu, buatkan aku makan malam!" Kata Altez marah.


"Kalian bertengkar? Masih pengantin baru juga? Eh tapi waktu itu istrimu bukan dia?" Celetuk Fredi yang tiba tiba nimbrung pertengkaran Altez dan Yeri.


Yeri hany diam memperhatikan dua orang asing yang sedang berada di teras rumahnya itu.


Sejurus kemudian Altez menampol kening Diko karena Dia memperhatikan sesuatu yang menonjol di balik kemeja putih yang berubah menjadi transparan karena efek basah air hujan.


"Jaga mata lu! Dia bini Gue!" Kata Altez yang geram dengan kebiasaan buruk Diko sahabatnya.

__ADS_1


Aneh, sungguh aneh. dahulu, Altez sama sekali tidak pernah mengomentari bagaimana cara Diko memandang wanitanya baik itu Nella yang suka berpakaian terbuka atau Vivi yang sengaja menggoda teman teman Altez.


"Yeri masuk! ganti baju!" Ketus Altez memerintahkan Yeri agar tak ternoda dengan tatapan dua sahabat suaminya.


Yeri tak menjawabnya namun segera masuk kedalam rumahnya. Dia seolah ingin mengabaikan kedatangan tamu tak diundang tersebut.


"Kita enggak disuruh masuk?" Tanya Diko.


"Ya udah ayo masuk, awas mata lu jelalatan sama bini gue. Gue colok Lu!" Altez menempatkan kedua jarinya di depan mata Diko yang dengan sigap memundurkan tubuhnya.


"Weis...! galaknya yang udah merried." Cibir diko sambil tertawa mencandai Altez yang tak seperti biasanya. "Dulu Lu biasa aja wakt kita main di pantai dengan Nella yang pakai baju renang nyaris telanjang. Gue liatin dia lama lama Lu juga ga protes." Kata Diko.


"Bed lah, Gue ga ada tanggung jawab sama dia. Gua cuma make aja, soalnya dia juga butuh sama punya gue. Kalo ini beda dia bini gue tanggungan gue dunia akhirat. Awas aja Lu berdua berani macem macem." Ucapnya sarat akan ancaman.


"Hahahaha! Best friend gue udah sadar. Udah sadar Bestie?" Fredi tertawa senang penuh makna seolah ia juga merasakan perubahan positif pada diri Altez yang lebih bertanggungjawab.


Altez mengacuhkannya dan menuju ke kamarnya. "Gue ganti baju dulu sebentar." Kata Altez sebelum memasuki kamar tamu.


Selesai dari ritual mandi dan berganti baju, Altez lalu kembali ke ruang tamu tempat dimana kedua sahabatnya duduk bersantai menikmati suguhan camilan.


"Mau makan?" Tanyanya yang kemudian di angguki oleh kedua sahabatnya.


"Kebetulan kita tadi habis lembur dan belum sempet makan malam." Kata Fredi.


Altez kemudian memesankan makan untuk mereka semua. tak lupa ia juga menyisihkan satu porsi lauk untuk Yeri.


"Tadi Lu mandi apa nguras sumur berisik amat bunyinya, emang ga pake shower?" Tanya Diko dengan mulut lemesnya.


Altez menggeleng. "Enggak ada fasilitas mewah dirumah ini. Lu liat kan enggak ada AC atau kolam renang."


"Ngenes amat nasib Lu Al, perasaan Lu ama istri lu CEO. tapi..."


"Istri Gue beda, Di suka sesuatu yang sederhana. Dia bukan wanita yang suka foya foya."


Fredi mengangguk sambil memakan makanannya. "Beda banget berarti ya sama mantan manatan Elu?"


"Banget Fer, tapi Gue ngerasa seneng aja walaupun sederhana gini. Gue jadi banyak belajar dari Dia."


"Bukan banyak belajar, yang gue cium sih bau bau orang jatuh cinta. Cepet banget lu jatuh cinta, perasaan kasus lu aja belum ilang dari laman Lambe ndomble."

__ADS_1


Jatuh cinta? Apa iya Gue mulai Cinta sama Yeri ya?


__ADS_2