
...ππΊπ...
...POV Yania....
"Sakit tau Ya," Keluhnya lagi yang masih berada di atas pahaku.
"Ya terus?" Tanyaku Padanya untuk menegaskan maksudku, jujur saja aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Mau di elus." Ujarnya begitu manja dengan suaranya yang tertahan.
Astaga, ini mau di elus sebelah mananya? kepalanya saja terluka, matanya yang kanan lebam sampai memerah begitu, terus mana yang mau ku pegang?
"Sebelah mananya? Kamu bilang aku jelek, item dekil, ga takut ketularan jelek kalau aku pegang?" Tanyaku yang senagaja mulai mengacaukan moodnya setelah memastikan bahwa dia baik-baik saja dan hanya luka ringan bukan luka berat seperti yang ku bayangkan.
"Ah, iya. Awas sana jauh jauh!" Dia lalu menurunkan kepalanya dan mendorongku.
Aku tersenyum menatapnya. "Ah, akhirnya aku terbebas.. aku masih banyak kerjaan soalnya. Si jelek ini adalah guru kesayangan di sekolah." Ucapku yang sengaja memberikan air muka mengejek kepadanya.
"Cih!" dia hanya berdecih dan menatapku jengah. Tak apa, asalkan harinya kacau sangat senang.
Aku lalu memutuskan untuk keluar setelah memastikan bahwa dia baik baik saja. Belum sempat kakiku menapak di ruang tamu, Sudah terdengar kegaduhan di depan pintu rumahku. Aku mengintipnya melalui kaca jendela, Dan itu adalah para wartawan dan juga Nella yang sudah berdiri di sana. Apakah ini aksi balas dendam dari Nella?
Hal ini memaksaku untuk kembali ke kamar tamu dan membangunkannya. Benar benar tidak mengenal wakti si pelakor ini. Ini sudah lewat jam makan malam dan dia malah membawa banyak wartawan. huh...! menyebalkan!!
"Mas, Altez! bangun, lihat itu di depan ada pacarmu. Dia datang membawa banyak orang."
"Siapa?" Tanyanya yang tengah asik meminum teh hangat dariku.
Aku memutar bola mataku mlas. Patutlah Dia bertanya SIAPA, sebab pacarnya ada banyak. Mengapa aku sampai lupa?
"Ratu iklan." Jawabku yang kemudian hendak melangkahkan kaki keluar. Tapi langkahku terhenti kala Dia kembali mengajakku bicara.
"Kamu tidak cemburu?" Tanyanya yang terdengar menggelitik di telingaku.
CEMBURU? Buat apa huh? mencemburui seorang PLAYBOY sepertimu. Buang buang waktu saja. Banyak pekerjaan di muka bumi ini yang lebih berfaedah daripada sekedar mencemburui seorang Altezza Basman yang PLAYBOY.
"No, Buat apa? Kan kamu sudah melarangku dari awal untuk tidak mencintaimu? Lalu buat apa aku harus cemburu?"
Sejujurnya kamu minta aku untuk mencintaimu pun aku belum tentu bisa. Dan apa itu cemburu? menjalin hubungan saja aku tidak pernah. dan semua ini kan gara gara kamu!
"Oh, begitu ya? Ya sudah, biarkan saja dia di luar. diam kan saja."
See! Kamu itu habis manis sepah dibuang Altez, Dahulu semanis apa kamu berjanji pada Nella? Dan sekarang mengabaikannya begitu saja, sungguh tidak berperikamnukan. Apa sudah lupa kemana saja burungmu itu bersarang sebelumnya?
"Urusi dulu pacarmu itu Mas, Aku tidak mau berita menyebar luas dan Papa marah. Kamu mau Pap marah dan memintamu untuk bercerai dariku? Siap hidup tanpa aku? Siap jatuh miskin?"
Sejujurnya aku sangat bertinggi hati dalam mengatakan hal ini. Aku sangat senang melihatnya menderita. Dia pasti sangat bingung sekarang. Setelah mendengarkan ocehanku, akhirnya Dia terbangun juga.
"Bantu aku sekali ini saja, bisa?" Ucapnya yang meminta bantuan dariku. Lebih tepatnya dia sedang menodongku dengan tatapan penuh paksaan.
"Minta tolong atau malak Mas?" Celetukku yang malas menanggapinya dan lebih memilih kembali ke kamarku.
__ADS_1
Dia mengejarku dengan segera. "aku minta tolong Yaya. Tolonglah sekali ini saja bantu aku. aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Apapun?" Ulangku dengan wajahku yang sumringah.
Dia mengangguk beberapa kali sambil memegangi kepalanya. "Apapun itu." Ucapnya meyakinkanku.
Boleh juga kita mainkan permainan baru ini, permainan yang mungkin akan semakin membuatmu tersiksa. Aku tersenyum licik menatapnya.
"Setelah aku membantumu menyelesaikan masalah ini, aku ingin kamu menjadi suamiku seutuhnya dalam satu bulan." Kataku dengan semirik yang menghiasi sudut bibirku.
"Satu bulan?" Dia terlihat seolah tengah berfikir dan mempertimbangkan lagi ucapannya. Mungkin Dia merasa menyesal telah meminta bantuan dariku?
Atensinya teralih pada seseorang yang tengah berteriak di depan pintu rumah kami
Itu suara kekasihnya yang merdu atau bahkan mantan kekasih.
"OK! ok aku kalah, aku akan menurut padamu selama satu bulan ini dan menjadi suamimu seutuhnya." Ujarnya mantap.
"Dan jika satu bulan ini Kamu berkhianat dan aku mengetahui kau mempunyai wanita lain, Maka aku akan meminta cerai dan membawa separuh saham yang kau pegang sebagai kompensasi."
"Iya, satu bulan saja kan? apa susahnya?" Katanya tanpa berpikir panjang.
"Sah!" Kataku yang kemudian menghentikan rekaman suara kami barusan dan mengirimkannya pada pengacaraku.
Di terperanjat dan tak menduga apa yang aku lakukan. "Catat semuanya sebagai salinan dan juga simpan rekaman suara ini sebagai bukti paling konkrit. Dan juga, kami melakukan perjanjian ini dalam keadaan sadar dan tanpa pengaruh apapun ataupun tekanan dari pihak manapun. Iyakan?"
"Apa maksudmu? Kau menggunakan pengacara dalam urusan remeh ini?" Tanyanya yang kemudian membuntutiku setelah aku berbicara dengan pengacara.
Mungkin saatnya bagiku untuk memberikan efek kejut pada jantungnya, aku juga akan membiasakan jantungnya untuk melihat sosok ku yang baru.
"Ayo keluar dan hadapi mereka." Ujarnya yang hendak menggeret tanganku tapi aku seketika menepisnya.
"Aku akan mandi terlebih dahulu, Kamu tunggu saja di ruang tamu."
Dia menurut dan keluar begitu saja. Sungguh Dia begitu penurut bagai kerbau yang di colok hidungnya. Aku pergi mandi dan bersiap pada sin yang berikutnya yang mungkin Dia akan melihatku dengan mulutnya yang menganga.
Setengah jam aku mandi dan bersiap dengan baju rumahan, Tak lupa juga aku menyemprotkan parfumku yang lama tersimpan di dalam lemari pakaian.
Inilah aku dalam sosok Yeri.
Benar saja, suamiku sampai terjatuh saat melihatku. Dia memindai tubuhku layaknya barcode pada sebuah barang, Dia mengamati setiap jengkal dari tubuhku.
"Kamu siapa?" Tanya dengan wajah bingung dan juga sesekali dia melihat ke arah kamar.
Aku tak menjawabnya dan lebih memilih untuk terus berjalan lalu membuka pintu rumah kami.
"Ada apa ya ini ribut ribut di rumah saya?" Tanyaku pada segerombolan orang yang sedang berkerumun di pelataran.
"Saya mencari Altez!" Seru Nella yang berbicara dengan luapan emosinya.
__ADS_1
"Ada apa malam malam mencari suami saya? Para wartawan seketika memberikn atensinya.
"Oh...., Ini rupanya wartawan?" Aku tertawa kecil dengan menutup mulutku.
"Bilang dong kalau bawa wartawan, setidaknya kan aku bisa berdandan lebih cantik dari ini."
Nella terlihat mengernyitkan dahinya dan menatapku penuh dengan tanda tanya. "Biasa saja melihatku, jangan seperti itu, iya aku ini istri Sahnya Altezza Basman. Ada apa?"
"Oh, apa kalian belum tahu jika aku ini adalah istri Altezza Basman? perkenalkan namaku Yania Iswari dan aku istri sah Altezza. Aku mengetahui hubungan antara suamiku dan Nella ini, Tapi aku percaya jika mereka ini hanya sebatas mantan yang sulit melupakan."
Aku tertawa lagi dan sama sekali tak menyiratkan kemarahan ataupun kesedihan, dan hal itu membuat para wartawan menyorotku.
"Jika anda sudah mengetahui pasal perselingkuhan suami anda, lalu apa tindakan anda selanjutnya?" Tanya seorang wartawan.
"Selingkuh? Saya rasa tidak. Selingkuh itu jika hanya sembunyi sembunyi dan saya, saya mengetahui semuanya dari awal. Bagaimana Nona Nella ini mengejar-ngejar suami saya, dan bagaimana suami saya selalu mengadukan ketidak nyamanannya. Bukan selingkuh, Tapi Nona ini saja yang terlalu terobsesi pada suami saya. Dan saya percaya seratus persen dengan suami saya." Jawabku dengan santai dan tenang hingga mereka hanya bisa menggeleng menerimanya.
"Yaya! Buka matamu, Dia ini bukan suami yang baik. Dia hanya mau menikah denganmu semata mata karena uang dan saham!"
"Em...maaf, tapi itu ranah pribadi kami Dan anda hanya orang asing yang tak berhak tau secuil pun atau pun setitik pun tentang urusan rumah tangga kami. Benar begitu kan sayang?"
Altez Dia baru keluar dari dalam rumah kami dengan berpenampilan layaknya orag yang baru bangun tidur.
Altez mengenakan kacamata hitam untuk menutupi luka dan lebam di matanya.
"Lihat itu, Dia sengaja memakai kaca mata hitam untuk menutupi luka bekas perkelahiannya kemarin dengan suami selingkuhannya." kata Nella yang menunjuk wajah Altez dengan afeksi yang terpancar,
"Perlu kalian ketahui, memang suamiku mendapatkan luka. Dan aku, sama sekali tidak perduli luka ini di dapatkan karena apa yang terpenting dia sudah kembali padaku dengan sempurna. Dan aku, sudah sangat bersyukur akan ha itu. Jadi semuanya sudah jelas?" Kataku dengan tenang dan santai.
"Istri seperti ini nih yang idaman dan langka di peradaban. Tidak terbakar gosip miring dan juga mempercayai suaminya. Woaahh!!" Ujar beberapa wartawan yang malah memuji kesabaran Yania dan sikap tenangnya dalam menghadapi serangan lawan.
"Sudah ya, silahkan bubar. Maaf kami harus menjalankan ibadah malam yang mungkin akan mengeluarkan suara suara yang...." Kataku sambil tersenyum pada Nella yang menatapku nyalang.
...~~~...
"Kamu tidak marah?" tanyanya yang kemudian duduk di sebelahku.
Aku sudah berganti baju dan memakai dasterku. Kini aku tidak lagi memakai cat pewarna kulit itu. Sebenarnya, kulitku juga mulai iritasi.
Aku menggeleng lalu melanjutkan kegiatanku menilai satu persatu tugas para muridku.
"Buat apa marah, kan aku sudah untung besar? Satu bulan membuatmu tunduk dan patuh itu bukan perkara mudah." Kataku dengan mata yang terus fokus pada layar monitor.
"Lalu kenapa harus menyamar di hadapanku?"
aku terdiam dan kemudian menatapnya dalam. "Apa kamu lupa padaku Za?"
Dahinya berkerut indah dan dia duduk lebih dekat lagi padaku dengan sesekali mengamati wajahku.
"Kamu sudah menikahi kerbau gendut, Kerbau yang dahulu kamu hina habis habisan dan sekarang aku kembali lagi di hadapanmu." Aku tertawa dan menatapnya.
"Yeri. Apa kau mengingatnya?"
__ADS_1
"YE... Ye... Yeri anak jelek, item, gendut itu?"