
...~•~...
...~•~...
Di sebuah bar.
"Bisma...! apa kabar sob?" Seseorang duduk di samping Bisma tanpa permisi.
Bisma tersenyum tipis dengan hanya mengangkat sedikit kurva di sudut bibirnya. "Baik bro!"
" Lo gue liatin lagi banyak beban dan derita. Ada apa?" Seloroh Buana, teman baik Bisma.
Bisma menyesap minumannya lalu meringis sesudahnya dan menggigit lemon slice, tau lah kalian Bisma minumnya apaan.
"Gila, one shot!" Buana menggeleng. "Itu kuat banget bro, tepar entar Lo!"
"Tepar, tepar lah Gue. Buntu kepala gue."
"Kenapa?"
Bisma bersandar dan memijit kepalanya yang mulai berdenyut. "Lo tau kan semenjak gue putus sama Angel gara gara Altez gue ga pernah sama sekali pacaran lagi?"
"Ehem..." Buana mengangguk perlahan.
Bisma menuangkan minumannya lagi Dia menenggaknya kemudian menggigit lemon slice. "Target gue, di embat lagi sama Altez Bon! Lo tau, gue kecolongan..., mereka udah nikah." Bisma meremas rambutnya frustasi.
"What? Altez lagi?" Buana berjingkat kaget. "Wah, apa perlu di hajar tuh anak. Kayaknya kita perlu kasih dia materi baru Bis. Hajar aja udah."
At dah kompor banget si Buana ini.
Bisma terkekeh kecil. "Hajar? segampang itu? Gue bahkan ga bisa menatap mata istrinya Bon. Entahlah kalau berhadapan dengan Yeri gue selalu tunduk. Terus Lo mau gue hajar suaminya? Mau di taruh mana muka gue Bon?"
Buana menggumam, dia menerawang. "Em... pakai cara halus bagaimana?" Ujarnya memberikan solusi.
"Cara halus?"
"Iya, cara halus? Ya lu baik baikin si Altez berengsek itu. Tar kalau ada kesempatan Lo tikung abis. Gimana?"
__ADS_1
Buana dan Bisma terdiam sesaat dan saling tatap seolah sedang mentransfer energi. Keduanya lalu mengangguk dan tertawa bersama. "Hahahaha! gue suka ide Lo bon!" Bisma menepuk pundak Buana.
Bisma dan Buana menghabiskan malam bersama, menyanyi tanpa nada dan berteriak memekakkan telinga. Keduanya kompak bercosplay menjadi orang gila.
"Eh, Lo mabuk benget Bis. Muka Lo merah." Buana menunjuk wajah Bisma dan memainkan pipinya, menepuk-nepuk layaknya ada nyamuk yang hinggap.
Bisma tertawa dengan matanya yang sendu berkabut dia terkekeh melihat wajah aneh teman baiknya. "Bona, Hahaha kenapa wajahmu jadi jelek dan berliuk-liuk?" Bisma berceloteh sambil menunjuk dan mencubit gemas pipi Buana.
...~•~ ...
Tok!
Tok..!
"Apa?" Yeri menyahut suara ketukan pintu meskipun dirinya tengah sibuk membaca laporan dari Joana.
"Yer, kepalaku pusing. Boleh aku tidur denganmu malam ini?" Altez berseru di balik pintu dengan wajah mengharap.
Yeri yang merasa gemas karena Altez pantang menyerah kemudian membuka pintu meski dengan malasnya.
"Ada apa lagi? tidur tinggal tidur kan?"
Altez menerobos masuk tanpa permisi. "Aku numpang tidur di kamar ini ya malam ini. Janji aku ga bakalan gangguin kamu." Kata Altez diiringi dengan kedua jari tangannya yang membentuk huruf V.
Altez menyeringai senang dan seketika naik ke ranjag. "Jangan sentuh apapun yang bukan milikmu Pak Altez!" Seru Yeri saat tangan Altez mulai ingin menyentuh sebuah buku kecil di atas meja.
ALtez mencibikkan bibirnya. Dia kesal, sekedar menyentuh saja tidak boleh.
Sekilas Yeri selalu memperhatikan suami menyebalkannya itu dari ujung matanya. Dia hanya melirik tanpa memberikan perhatian penuh.
"Jangan sentuh yang bukan milikmu Pak Altez!"
Lagi Yeri berseru saat Altez hendak mengambil boneka yang berada di atas headboard.
"Apa apa tidak boleh disentuh. Walaupun itu milikku." Protes Altez yang kemudian berbaring sambil menatap langit langit kamar.
Yeri tetp fokus pada layar monitor. "Mana ada aku pernah melarang menyentuh sesuatu yang memang kepunyaanmu pribadi? tidak pernah kan?" Ucapnya meneleng.
Altez kemudian duduk dan bersandar. "aku tidak menyangka jika istriku yang cantik ini ternyata bodoh tidak ketulungan." Celetuknya menyita perhatian Yeri.
__ADS_1
"Bodoh? aku bodoh?" Yeri berdiri dan menunjuk batang hidungnya. dia kesal saat orang lain menghinanya seperti itu. Seperti selama ini usaha orang tuanya untuk membuatnya pintar hanyalah sia sia saja.
"Katakan aku bodoh tentang apa?"
"Tentang kepunyaanku yang sah. Kau melarang aku menyentuh ini dan itu juga termasuk menyentuh kepunyaanku. Ap itu tidak bodoh namanya?"
"Punyamu silahkan saja mu kau sentuh, mau kamu jual! aku tidk perduli Za, asal jangan ganggu milikku." Ucapnya sembari melipat tangannya ke dada.
Altez tertawa terbahak bahak. "Hahahahaha! dia sangat bodoh!" Gumamnya. "Aduh...! aduh...!" Kembali kepalanya terasa berdenyut.
"Kalau begitu kemarilah, akan kuberi tahu kepunyaanku yang selalu kau tak bolehkan untuk aku menyentuhnya." Katanya melambaikan tangan pada Yeri.
Altez mengepalkan tangannya seolah olah sedang menyembunyikan sesuatu di dalam genggaman. dan Yeri menurut begitu saja Dia sama sekali belum paham akan taktik buaya Altez.
"Apa yang tak boleh ku sentuh selagi itu mlikmu?" tanyanya dengan setumpuk rasa ingin tahu.
"Kemari~~~!" Altez memnggilnya sambil tersenyum seolah hal yang ta boleh disentuh itu adalah hal yang teramat manis.
Yeri semakin mendekat hingg mereka duduk bersil berhadap hadapan. Altez lalu menggenggam tangan Yeri dan mentapnya penuh arti.
"Ini salah satu milikku yang tak boleh ku sentuh olehmu. Kenapa? Dia sah milikku secara negara dan agama kan? Tapi untuk menyentuhnya saja aku harus mengantongi ijin. Kenapa?"
Yeri merasa gugup dan seketika melepaskan genggaman tangan Altez dari tangannya. "Lepas!" Ucapnya yang kemudian berngsut dan berdiri.
"Aku mengijinkanmu untuk tidur di kamar ini mlam ini karena kasihan dengn keadaanmu. jadi jangan berusaha merayuku sebab aku tidak seperti wanitamu. Simpan saja rayuanmu." Ucap Yeri yang kemudian pergi meninggalkan Altez dengan membawa laptop dan buku kecil di atas nakas.
Wanita yang keras kepala. Tapi...., mengapa aku akhir akhir ini jadi semakin sering memikirkanmu? Apa aku sudah termakan karma atau semacamnya? Tuhan ampuni aku...
Yeri melanjutkan pekerjaanya di depan TV. seperti biasa, dia juga akan tertidur disana.
Tapi, ada sesuatu yang aneh pagi ini. Saat dia terbangun pertama kali, Ada sesuatu yang berat yang melingkar di atas prutnya. Sesuatu yang keras dan berurat.
Yeri beringsut dan saat itu juga wajahnya berhadapan langsung dengan Altez. Rupanya semalam suaminya menyusulnya untuk tidur bersama di depan TV.
"Za! bangun." Seru Yeri yang membangunkan Altez tanpa ada manis manisnya.
Dia berseru dan membuat penging telinga Altez.
"Ada apa istriku, kenapa teriak teriak pagi pagi?" Alteez berbicara dengan santainya tanpa membuka mata dan malah semkin mempererat pelukannya.
__ADS_1
Yeri mendengus kesal dan memutar bola matanya malas. Dia sunguh jengah dengan sikap manja Altez setelah mengetahui rupa cantiknya yang sesungguhnya.
"Bangun sekarang juga atau ku pelintir tanganmu ini?" Sarkasnya berbicara.