
...-----🌼🌼------ ...
Altez, setelah perdebatan dengan istrinya tadi membuatnya kesal tapi sama sekali tidak berani membentak ataupun berlaku kasar terhadapnya. Ia hanya menahan amarahnya dan kini tengah duduk di dekat kolam mini yang berisikan ikan koi di belakang kamar mereka.
"Kamu, ikan-ikan. Bu bos mu itu sangat... Ah entah bagaimana aku harus menyebutnya. Tapi dia sangat keras kepala. Dia menolak uang pemberianku." Kata Altez yang berbicara pada piu piu.
Masih ingat dengan piu piu kan? Iya mereka adalah sekumpulan ikan mas koi yang Yeri beri nama piu piu. Semua ikan yang berada di dalam kolam itu bernama piu piu.
Yeri datang dengan membawa dua cangkir kopi. Terlihat asap masih mengebul dari kedua cangkir tersebut. Lalu ada juga potongan kue yang terlihat menggoda dalam sebuah piring kecil.
"Jangan kamu racuni pikiran mereka. Piu piu masih lugu." Yeri berbicara dengan Altez tetapi sama sekali tidak mau melihatnya. Ia sibuk menurunkan kue dan kopi di meja yang terletak di bawah pohon.
Altez tercenung saat istrinya mengatakan tidak boleh meracuni pikiran ikan-ikan tersebut, Apa Yeri pikir ikan-ikan itu bisa memiliki pemikiran seperti itu? aneh!
"Meracuni pikiran apa? aku hanya memberikan mereka makan. Apa tadi kamu panggil mereka piu piu? Yang mana yang memiliki nama piu piu?" Altez mengamati ikan-ikan yang sedang berenang dengan cantiknya.
Yeri ikut duduk berjongkok di samping Altez. "Semua, semua ikan ini namanya piu piu." Jawabnya polos.
Altez mengamati wajah Yeri. Istrinya jeleknya itu yang terlihat menawan di bawah terpaan sinar matahari pagi yang menguning. Yeri terlihat cantik meski dalam balutan daster kebanggaan miliknya yang terlihat tak lagi terlihat seperti baru.
"Jangan melihatku seperti itu~~" Ucap Yeri tanpa melihat Altez.
"Kenapa tidak boleh? Aku kan sedang mengamati karya indah ciptaan Tuhan." Altez menjawabnya dengan santai.
Yeri kembali bangkit dan berdiri menuju ke bangku panjang yang lengkap dengan meja yang mana sudah siap dengan kopi panas dan kue yang menanti untuk dinikmati.
"Mulai, keluar semua rayuan gombal mu itu. Hhhh.... Dasar buaya!" Yeri menggeleng sebelum menikmati kopi pahit miliknya.
Altez terduduk di sebelahnya. "Aku merayu istriku sendiri, apa salahnya?"
Yeri hanya menggeleng dan kemudian sibuk membuka buku bacaannya. Altez kemudian tersenyum setelah mengamati ada dua cangkir di atas meja.
Dia membuatkan aku juga? Apa dia mulai perhatian terhadapku?
__ADS_1
"Di minum, jangan hanya di lihat saja!" Ucap Yeri yang masih memberikan atensi penuh pada buku bacaannya.
Altez mengulum senyumnya senang. Hatinya berbunga-bunga sekarang, hanya dengan satu cangkir kopi dia bisa sesenang ini? Dahulunya yang membuatnya senang adalah tarian erotis yang ia lihat di club malam. Tapi sekarang? hanya secangkir kopi.
"Iya sayang, akan aku minum meskipun pahit." Ucapnya sebelum merasakan kopi buatan istrinya.
Yeri hanya diam tak merespon. Ia tetap fokus dan tenang pada buku bacaannya.
Mata Altez berbinar indah saat Indra pengecapan miliknya bersentuhan dan merasakan nikmat kopi buatan sang istri. Ia semakin bahagia saat ini.
Bukan kopi pahit? Ini kopi gula aren kesukaanku. Apa perlahan dia mulai memperhatikan apa yang menjadi kesukaanku?
...Altez tersenyum setiap kali mengecap rasa nikmat dari kopi buatan sang istri. Sementara Yeri, dia tetap acuh pada suaminya. Ia bersikap dingin. ...
"Hari ini lumayan cerah, bagaimana kalau kita jalan-jalan. Shopping misalnya. Berbelanja kebutuhan rumah ini atau... kamu mau membeli tas, perhiasan, atau baju mungkin?" Altez membuka obrolan dan menawarkan.
"Aku bukan orang yang konsumtif Altez, aku lebih senang bersantai dan menyendiri seperti ini." Yeri tetap acuh. "Belanja apapun itu bisa kulakukan secara online, dan untuk kebutuhan bulanan, kamu terlambat." Ucapannya membuat Altez menatapnya penuh dengan tanya.
Altez mengernyitkan dahinya. "Terlambat bagaimana?"
"Sayang, sebenarnya aku ingin bertanya ini sedari lama. Kenapa kamu dulu bisa hitam begitu? dan juga keriting?"
Yeri menutup bukunya dan menatap serius Altez. "Aku dulu seperti itu karena baru saja pulang dari kampung nenek yang berada di pantai."
Yeri bercerita sambil mengenang masa kecilnya. "Saat itu adalah hari pertama kita masuk sekolah setelah libur semester. Aku yang selama satu bulan berada di pantai dan tak kenal waktu bermain jadi seperti itu." Yeri menyesap kopinya.
"Kulitku ini sensitif, cepat memberikan reaksi terhadap sinar matahari dan waktu itu aku mana kenal dengan sunscreen? Jadilah aku hitam, dan rambut keriting ku adalah ulah Tante Anisa."
"Dia dulu sedang berada pada masa remaja yang suka bereksperimen. Rambutku yang panjang di buat jadi keriting sama dia hingga sekarang sepertinya rambutku berubah kasar. Padahal aslinya rambutku sama dengan rambut Ayah."
Tanpa Yeri sadari, ia mulai terbuka dan mau berbagi cerita tentang masa lalunya dengan suaminya. Kecil nan mungil rasa percaya itu perlahan hadir. Sebuah perasaan awal yang tumbuh sebagai permulaan dari rasa sayang.
Yeri tak lagi begitu membenci Altez, terlebih setelah ia melihat ketulusan dan keseriusan Altez saat kecelakaan terjadi.
__ADS_1
Ting!
Tung!
Ting!
Tung!
Suara bel pintu berbunyi berkali-kali.
"Apa kamu sudah membuat janji dengan tamu?" Tanyanya pada Altez.
Altez menggeleng.
"Hhh... sudah aku saja yang buka!" Yeri bangkit meski sebelumnya ia sempat mendengus kesal.
Seseorang yang datang dengan wajah kusut itu berdiri di ambang pintu dan seketika menerobos masuk saya pintu terbuka. Yeri membiarkan saja apa kemauan dari Nella ini.
"Mana suamimu?" Tanyanya yang baru saja selesai memindai seluruh isi ruangan dan tidak ada Altez di dalamnya.
Yeri acuh dan kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Nella yang clingukan mencari keberadaan Altez. "Yeri! aku bertanya!" Ia berseru.
Yeri berdiri di hadapan Altez dan melipat kedua tangannya ke dada. "Za, temui sana ibu dari anakmu! Dia mencari mu."
Wajah Altez seketika berubah air mukanya. Ia terlihat sangat tidak suka dengan perkataan istrinya. "Ibu dari anakku itu kamu, bukan dia!" Ucapnya dengan nada kesal.
"Tapi faktanya dia hamil anakmu juga!" Yeri menyindirnya.
Altez dengan segera memeluk dan tak memberikan celah untuk Yeri bergerak ataupun memberontak. Secepat mungkin Altez menggiring Yeri ke ranjang. Altez sudah mengungkungnya di atas ranjang. Dengan kasarnya ia meluma* bibir mungil sang istri.
Altez menghentikan aksinya saat melihat Yeri yang terengah-engah kehabisan oksigen. Kini Altez mengunci pergerakan Yeri dengan mengungkung pinggang sang istri. Ya, Altez menekuk kakinya hingga ia seperti sedang naik kuda-kudaan tepat di atas kemal*an sang istri.
Benda keramat mereka bertemu meski berbatasan dengan kain yang masing-masing mereka kenakan. Yeri merasakan darahnya berdesir saat sesuatu miliknya merasakan sebuah tonjolan yang mengganjal tepat di tengahnya.
__ADS_1
Jika ia merasakannya, otomatis Altez juga. Tatapan mata yang berkabut gairah dari lelaki yang lama tak terjamah itu seolah melumpuhkan segala daya dan upaya Yeri untuk memberikan perlawanan. Sekarang sesuatu miliknya pun serasa berkedut dan menginginkan sesuatu yang lebih.
Tidak, jangan. Kenapa aku jadi begitu terang5ang dengan posisi yang seperti ini. Dan miliknya pun sudah mengeras? Dia... kami... sudah hallal, Bolehkah?