PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
35.


__ADS_3

...~•~ ...



...~•~ ...


Silvi selesai dengan sesi tanya jawabnya bersama Yeri, Dia memutuskan untuk pulang setelah menilai bahwa apa yang tengah yeri alami adalah hal yang normal dan jug setelah memastikan tak ada tanda-tanda perlawanan ataupun pemberontakan saat hal anu itu terjadi, Silvi menyimpulkan bahwa kejadian ini terjadi atas dasar sama sama mau.


"Sudah, Jo..! antar saya pulang." Silvi mengajak Joana yang masih setia berdiri di depan pintu kamar utama.


"Sudah Dok? lalu apa terjadi sesuatu yang membahayakan?" Altez terlihat khawatir.


silvi menggeleng. "Tidak ada yang serius, dia hanya kaget saja karena hal ini yang pertama kali buatnya. Jangan terlalu banyak menyinggung soal ini jika ingin semuanya baik baik saja. Itu saran saya."


"I... iya Dok."


Altez mengantarkan kedua tamunya yang aneh itu sampai kedepan rumah. Dia kembali masuk ke kamar utama, tapi saat ia masuk, keadaan kamar sudah berubah. Tirai sudah terbuka dan Yeri sedang berada di dalam kamar mandi dengan suara keran air yang menyala.


"Yer, masih mandi?" Tanyanya sambil berdiri menunggu jawaban di depan pintu kamar mandi.


"Enggak, masih main catur." Ketusnya menyahuti.


"Oh, aman jika dia bicara seperti itu. Itu tandanya baik baik saja. Akan lebih berbahaya jika dia hanya diam saja." Altez mengusap dadanya lega.


Terkadang dalam rumah tangga bukan kesunyian atau ketenangan yang diharapkan, tetapi riuh ramai dari ucapan yang sling bersahutan itu lebih baik dari sekedar diam.


Altez berjalan pincang dan duduk di lantai. Dia berniat mencari plester untuk mengganti plester di kakinya yang terluka. tapi tangannya berhenti di atas nakas dan menemukan sebuah buku attan kecil.


^^^*Aku bisa seperti mereka, aku juga manusia yang sama seperti mereka. Aku percaya tidak semua orang bermulut jahat.* ^^^


^^^Isi dari lembar pertama buku catatan milik Yeri. ^^^


"Jangan dibaca!" Yeri berlari dari kamar mandi saat melihat Altez membuka bukunya. Tapi terlambat, satu lembar pertama sudah dibacanya.


Saat Yeri berlari, dia secara tidak sengaja menginjak jempol kaki suaminya hingga Altez kembali memekik kesakitan dan meringkuk di lantai.


"Aduh...!! Mampus!" Ucapnya mengerang kesakitan.


Darah kembali keluar dari luka goresan pedal gas tersebut. tidak ada yang bisa Altez lakukan selain menahan sakit yang rasanya setengah mampus.

__ADS_1


"Jangan dibaca! kamu ini susah banget dikasih tau. Kan sudah aku bilang, jangan sentuh milikku." Yeri mengulang ultimatum yang sama.


Altez tidak menjawab, tapi hanya memejamkan mata dan mengatur nafasnya untuk menahan rasa sakitnya.


Yeri, perhatiannya tersita manakala melihat ekspres Altez yang menunjukkan raut tersiksa.


"Lebay banget sih, orang cuman ga sengaja ke injek doang juga. Lagian salah siapa buka dan baca buku orang tanpa ijin?"


"sakit banget tau Yer..!" Altez mengeluh kesakitan.


"Mana coba aku liat?"


Yeri ikut duduk dan menyimpan buku catatannya di nakas yang berada tak jauh darinya.


"Astaga! ini sih harus di amputasi!" Yeri berbicara melebih lebihkan untuk menakuti suaminya.


Melihat wajah pucat Altez adalah kepuasan batin baginya. Sepertinya hal itu adalah misi utama.


"Yer!" Tegur Altez keras membuat Yeri semakin lancar dengan ide jahilnya.


"Serius ini sakit banget." Altez melihat kuku jempol kakinya yang nyaris lepas. "Aku takut...!" Ucapnya kemudian dengan mata yang nanar.


"Kemarin tidak separah ini, tapi tadi kamu injek jadi begini."


"ini kena apa?" Yeri mulai penasaran dan memegang betis Altez.


Tanpa sadari, mereka sudah bisa dekat dan bersikap layaknya pasangan pada umumnya.


"Kemarin itu kena pedal gas atau rem aku ga tau. Pokoknya udah gini aja." Altez mengadu dengan bibir yang mengerucut dan sesekali mendesis kesakitan.


"Iya ish, kalau cuma gara gara ke injek aku ga mungkin kan sampe begini. Aku kan langsing." Ucap yeri dengan raut mengejek di hadapan Altez.


"langsing apanya? Kamu tuh ga langsing tau."


"apa? mau bilang aku gendut? ga aku tolongin nih, biar aja kakinya busuk!" Yeri berdiri dengan kekesalannya.


"Jangan~~,"Altez bicara dengan mata mengiba dan membulat sempurna tangannya bergerak meraih pergelangan tangan Yeri. "Kamu tuh enggak langsing sayang. Kamu tuh bahenol, Ok?"


"Cih!" Yeri hanya berdecih dan kembali duduk. Ada rasa yang aneh saat Altez menyebutkan tentang fisiknya yang emang proporsional dan padat berisi tapi tidak gendut, yang mungkin juga merupakan satu tipe terbaru yang akan membuat Altez ketagihan.

__ADS_1


"Sekarang bantu aku ya cantik!" Kata Altez meminta pertolongan dengan wajah memelas.


"ok, kita ke Dokter aja."


"No!" Tolak Altez dengan serta merta.


"Za, ini butuh dokter biar di cabut kukunya."


"Enggak usah, di tempel aja pakai plester nanti juga sembuh." Tolaknya yang selalu mengandalkan plester.


Yeri menggeleng dan menyurai rambutnya geram. Dia tidak menyangka akan lebih menyulitkan saat menghadapi orang dewasa dengan pemikiran anak anak seperti ini. "Za, enggak semu luka itu sembuh pakai plester. ini butuh Dokter, apa kamu mau jempol mu ini busuk? mau huh?"


Altez menggeleng. "Tapi kamu mau temani aku kan?" Tanyanya dengan wajah sendu dan ketakutan. Pasti di kepalanya saat ini sudah muncul Dokter dengan segala alat medisnya yang menyeramkan.


"Iya akan aku temani." Kata Yeri yang kemudian memapah Altez untuk duduk di tepi ranjang. "Berarti dari kemarin kukunya cuma kamu pasang lai, kamu tempel pakai plester?"


Altez mengangguk perlahan mengakui kebodohnnya. Dan Yeri mengeluarkan semua jurus semprot anti gagal miliknya. Sementara yeri menceramahi sang suami sambil bersiap-siap, selama itu juga Altez malah tersenyum senang dan merasa diperhatikan.


"Kenapa malah senyum? Seneng kakinya luka?" Cecar Yeri yang sudah siap dengan bajunya yang teramat sederhana untuk standar CEO muda.


"Enggak, seneng aja akhirnya istriku peduli sama aku." Cetus Altez yang membuat Yeri seketika terdiam tidak bergerak sama sekali.


*Iya dia benar, kali ini aku tertangkap basah sedang memperdulikannya bahkan mengkhawatirkannya. Aku takut jatuh cinta pada si brengsek ini. Seharusnya aku tidak mengambil keputusan ini sebagai jalur memperbaiki diri.


Yer, aku tahu jika sebenarnya kamu itu sangat baik kepadaku. tapi kebencianmu membuatmu berlagak sok jahat pada aku yang kamu anggap musuh. Sumpah demi apapun Yeri, aku sama sekali tidak pernah membencimu sekalipun kamu di awal berpenampilan buruk dan menipuku*.


"Dih, siapa yang peduli? Ini cuma gerakan kemanusiaan aja ya. Jadi kamu jangan berpikiran yang aneh aneh."


"Iya sayang, iya." Altez mengalah dan pasrah.


"Jangan panggil sayang, Panggilan itu kan terkhusus untuk mantan mantan dan juga pacar pacar kamu. Aku tidak mau ya selevel dengan mereka yang menggilai Altezza Basman." Tolak Yeri dengan mata yang menyala mengamuk tidak suka.


"Terus, bidadariku ini mau di panggil apa? ibu dari anak anakku ini mau dipanggil apa, Hum?"


"Cih! Dasar buaya rawa, kerjanya hanya merayu saja." Ketus Yeri kesal dan kemudian berhenti di dekat motor matic Yeri.


"Mobilmu kemana?" Tanya Altez yang memindai teras dan sekitarnya.


"Mobil?" Ulang Yeri.

__ADS_1


__ADS_2